
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51246-metode-mempelajari-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mempelajari dari Yang Paling Dasar dan Paling Mudah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang memiliki semangat yang tinggi dalam mempelajari ilmu agama (ilmu syar’i). Ia pun memulai belajarnya dengan “kitab-kitab besar” seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mughni </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Ibnu Qudamah, </span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fataawa </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Ibnu Taimiyyah, atau </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Baari </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dia menyangka bahwa dengan membaca kitab-kitab tersebut dalam satu-dua bulan, dia akan dapat menjadi seseorang yang pandai dalam berbagai masalah agama. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, baru satu-dua hari dia membaca kitab tersebut, dia sudah mendapatkan istilah atau pembahasan yang sulit dia pahami dan tidak dapat menangkap maksudnya. Dia juga merasa tidak ada yang dia pahami dari apa yang telah dia baca. Akhirnya, dia meninggalkan belajar dan mungkin tidak ingin belajar lagi selamanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah kesalahan yang besar ketika seseorang itu hendak belajar. Dia ingin menjadi orang yang pandai dalam “sekali loncatan” saja. Padahal seharusnya, dia menapaki anak tangga satu demi satu, dari anak tangga yang paling dasar, kemudian meningkat lagi ke anak tangga di atasnya, dan akhirnya tentu dia akan sampai juga di anak tangga paling atas. Demikianlah, dia seharusnya belajar dari kitab-kitab kecil yang ringkas, kemudian berpindah ke kitab-kitab pertengahan, dan pada akhirnya dia akan sampai pada kitab-kitab yang besar. Barangsiapa yang tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum masanya, maka dia tidak akan pernah mendapatkannya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini sebagaimana perkataan para ulama,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ حَرَمَ الْأُصُوْل، حَرَمَ الْوُصُوْل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang tercegah dari mempelajari </span><i><span style="font-weight: 400;">ilmu ushul </span></i><span style="font-weight: 400;">(ilmu-ilmu dasar)</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> niscaya dia tidak akan pernah sampai (mendapatkan ilmu).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini perlu mendapat perhatian, karena terkadang kita dapati seseorang yang ingin langsung mendapatkan sesuatu yang besar. Dia memiliki semangat pada awal menuntut ilmu, bagaikan semangat untuk menghancurkan gunung dan membelah lautan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga ketika ditanya,</span><i><span style="font-weight: 400;"> “</span></i><span style="font-weight: 400;">Apa yang ingin engkau pelajari?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia menjawab,”Saya ingin menghafal </span><i><span style="font-weight: 400;">kutubus sittah.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><i> </i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau dia berkata, ”Kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Aqidah Al-Wasithiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu kitab yang ringkas, saya ingin menghapal kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tadmuriyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><i> </i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau dia berkata, ”Saya tidak ingin menghapal kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Bulughul Marom.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Bulughul Marom</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu terlalu ringan. Saya ingin menghafal kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Muntaqa Al-Akhbar,</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena di dalamnya terdapat 6000 hadits.”</span><i> </i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau yang semisal dengan perkataan tersebut misalnya, ”Aku tidak ingin menghapal kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Zaadul Mustaqni’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena kitab ini terlalu ringkas. Aku ingin menghapal ijma’ dan khilaf yang terdapat di kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Mughni.”</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29935-penyebab-tidak-berkahnya-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Penyebab Tidak Berkahnya Ilmu</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal-hal yang telah disebutkan di atas memang terjadi di sebagian generasi muda saat ini. Memang benar bahwa mereka harus memiliki semangat yang besar. Dan hendaknya mereka juga bersyukur karena dikaruniai semangat tersebut. Akan tetapi, semangat seperti ini tidaklah berlangsung terus-menerus, dan hanya sedikit saja yang bisa terus-menerus konsisten.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, salah satu sebab terputusnya seseorang dari jalan ilmu adalah seseorang memaksakan dirinya ketika sedang bersemangat dan merasa bahwa dia mampu mempelajari kitab-kitab yang sulit, padahal ketika itu dirinya sebenarnya tidak mampu karena belum memiliki dasar yang kuat. Semangat seperti itu justru menjadikan dirinya lemah dan menyebabkannya terputus dari menuntut ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap amal perbuatan memiliki masa-masa semangat, sebagaimana sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam hadits yang shahih,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya setiap amal ada masa-masa semangatnya. Dan dalam setiap semangat ada masa-masa kelelahan. Barangsiapa yang lelahnya untuk sunnahku, maka sungguh dia beruntung. Dan barangsiapa yang lelahnya untuk bermaksiat, maka dia merugi dan binasa.” </span><b>(HR. Ahmad no. 6764. Syaikh Syu’aib Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini </b><b><i>shahih </i></b><b>sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29242-derajat-mulia-penuntut-ilmu-agama-2.html" data-darkreader-inline-color="">Seperti Apa Derajat Mulia Penuntut Ilmu Agama?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap amal ada masa-masa semangat, sampai-sampai menuntut ilmu juga memiliki masa semangat, misalnya ketika masih muda. Seakan-akan dia ingin membaca ratusan jilid, menghapalnya, dan mengamalkannya. Akan tetapi, dalam semangat ini pasti ada masa-masa lelahnya. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya setiap amal ada masa-masa semangatnya”, </span></i><span style="font-weight: 400;">semangat itu misalnya karena masih muda dan kuat. Dan dalam setiap semangat ada masa-masa kelelahan, sampai-sampai ketika beribadah. Kita dapati diri seseorang yang rajin dan bersemangat, kita dapati dia serius beribadah, memperbanyak amal ketaatan, dan memperbanyak membaca Al Qur’an. Namun terkadang, kita dapati dia malas beramal. Maka, masa-masa lelah itu pasti ada. Akan tetapi, yang penting adalah janganlah masa-masa itu membawa kepada kemunduran. Setiap orang yang sedang bersemangat, maka memohonlah kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar Allah tidak membuat kita bersandar kepada diri kita sendiri meskipun hanya dalam sekejap mata. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana sebaiknya ketika kita mendapati diri kita sedang bersemangat? Pelajarilah maksimal apa yang kita mampu, dan jangan mengambil sesuatu yang hendaknya kita pelajari ketika sedang lelah atau malas. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, jika kita sedang semangat, hapalkanlah Al Qur’an, </span><i><span style="font-weight: 400;">Bulughul Maraam, </span></i><span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">’Umdatul Ahkaam </span></i><span style="font-weight: 400;">sesuai dengan yang mudah bagi kita. Jika merasa memiliki kemampuan, kita dapat menghafalkan </span><i><span style="font-weight: 400;">Kitab Tauhid, Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan semisalnya. Sedangkan ketika sedang merasa lelah, hafalkanlah misalnya matan hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">Arba’in An-Nawawiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika hal ini dapat kita raih di masa lelah dan di masa semangat, maka kita akan mendapatkan kebaikan yang besar. Kenyataannya, orang-orang yang semangat atau merasa masih mampu dan masih muda, tidaklah mereka mampu untuk menyelesaikan kitab-kitab tersebut kecuali hanya sedikit saja. Bahkan kitab-kitab yang menurut sebagian orang ringkas pun, mereka tidak mampu untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, hendaklah kita beramal sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24992-kelezatan-ilmu-syari-vs-konser-musik.html" data-darkreader-inline-color="">Kelezatan Ilmu Syar’i Vs. Konser Musik</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18863-gapai-surga-dengan-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Gapai Surga dengan Ilmu Agama</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah <em>Ta’ala</em> senantiasa memberikan kita taufik untuk kontinyu mempelajari ilmu agama.</span></p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 18 Dzulqa’dah 1440/15 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""> <a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 