
<p>Apakah ada orang yang berutang kepadamu? Berilah kemudahan untuknya.</p>
<blockquote><p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya)</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari no. 2076)</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Risalah ini kami tujukan kepada orang yang memiliki piutang pada orang lain. Ada sebagian saudara kita yang berutang pada kita mungkin sangat mudah sekali untuk melunasinya. Namun sebagian lain adalah orang-orang yang mungkin kesulitan. Sudah ditagih berkali-kali, mungkin belum juga dilunasi. Bagaimanakah kita menghadapi orang-orang semacam itu? Inilah yang akan kami jelaskan pada posting kali ini. Semoga bermanfaat.</span></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Keutamaan Orang yang Memberi Utang</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam shohih Muslim pada Bab ‘Keutamaan berkumpul untuk membaca Al Qur’an dan dzikir’, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim no. 2699)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keutamaan seseorang yang memberi utang terdapat dalam hadits yang mulia yaitu pada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: </span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tuhfatul Ahwadzi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (7/261) dijelaskan maksud hadits ini yaitu: “Memberi kemudahan pada orang miskin –baik mukmin maupun kafir- yang memiliki utang, dengan menangguhkan pelunasan utang atau membebaskan sebagian utang atau membebaskan seluruh utangnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh beruntung sekali seseorang yang memberikan kemudahan bagi saudaranya yang berada dalam kesulitan, dengan izin Allah orang seperti ini akan mendapatkan kemudahan di hari yang penuh kesulitan yaitu hari kiamat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/15502-berutang-itu-ketika-butuh-bukan-bergampang-gampangan-dalam-utang.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Berutang itu Ketika Butuh, Bukan Bergampang-Gampangan dalam Utang</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/12991-allah-akan-menolong-orang-yang-berutang.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Allah akan Menolong Orang yang Berutang</strong></span></a></li>
</ul>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Tagihlah Utang dengan Cara yang Baik</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Shohih Bukhari dibawakan Bab ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Memberi kemudahan dan kelapangan ketika membeli, menjual, dan siapa saja yang meminta haknya, maka mintalah dengan cara yang baik</span></i><span style="font-weight: 400;">’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya)</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari no. 2076)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">ketika menagih haknya (utangnya)</span></i><span style="font-weight: 400;">’ adalah meminta dipenuhi haknya dengan memberi kemudahan tanpa terus mendesak. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Bari</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/385)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat dorongan untuk memberi kelapangan dalam setiap muamalah, … dan dorongan untuk memberikan kelapangan ketika meminta hak dengan cara yang baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Sunan Ibnu Majah dibawakah Bab ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Meminta dan mengambil hak dengan cara yang baik</span></i><span style="font-weight: 400;">’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مَنْ طَلَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Siapa saja yang ingin meminta haknya, hendaklah dia meminta dengan cara yang baik baik pada orang yang mau menunaikan ataupun enggan menunaikannya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Ibnu Majah no. 1965. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda untuk orang yang memiliki hak pada orang lain,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>خُذْ حَقَّكَ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ambillah hakmu dengan cara yang baik pada orang yang mau menunaikannya ataupun enggan menunaikannya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ibnu Majah no. 1966. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/24375-membebaskan-utang-dengan-niat-menjadi-zakat.html">Membebaskan Orang Berutang dengan Niat Menjadi Zakat</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Berilah Tenggang Waktu bagi Orang yang Kesulitan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Baqarah: 280)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk bersabar terhadap orang yang berada dalam kesulitan, di mana orang tersebut belum bisa melunasi utang. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” Hal ini tidak seperti perlakuan orang jahiliyah dahulu. Orang jahiliyah tersebut mengatakan kepada orang yang berutang ketika tiba batas waktu pelunasan: “Kamu harus lunasi utangmu tersebut.  Jika tidak, kamu akan kena riba.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memberi tenggang waktu terhadap orang yang kesulitan adalah wajib. Selanjutnya jika ingin membebaskan utangnya, maka ini hukumnya sunnah (dianjurkan). Orang yang berhati baik seperti inilah (dengan membebaskan sebagian atau seluruh utang) yang akan mendapatkan kebaikan dan pahala yang melimpah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, pada tafsir surat Al Baqarah ayat 280)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula dalam beberapa hadits disebutkan mengenai keutamaan orang-orang yang memberi tenggang waktu bagi orang yang sulit melunasi utang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim no. 3006)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –Abul Yasar-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرِ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘azza wa jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah pula akhlaq yang mulia dari Abu Qotadah karena beliau pernah mendengar hadits serupa dengan di atas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dulu Abu Qotadah pernah memiliki piutang pada seseorang. Kemudian beliau mendatangi orang tersebut untuk menyelesaikan utang tersebut. Namun ternyata orang tersebut bersembunyi tidak mau menemuinya. Lalu suatu hari, kembali Abu Qotadah mendatanginya, kemudian yang keluar dari rumahnya adalah anak kecil. Abu Qotadah pun menanyakan pada anak tadi mengenai orang yang berutang tadi. Lalu anak tadi menjawab, “Iya, dia ada di rumah sedang makan khoziroh.” Lantas Abu Qotadah pun memanggilnya, “Wahai fulan, keluarlah. Aku dikabari bahwa engkau berada di situ.” Orang tersebut kemudian menemui Abu Qotadah. Abu Qotadah pun berkata padanya, “Mengapa engkau harus bersembunyi dariku?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tersebut mengatakan, “Sungguh, aku adalah orang yang berada dalam kesulitan dan aku tidak memiliki apa-apa.” Lantas Abu Qotadah pun bertanya, “Apakah betul engkau adalah orang yang kesulitan?” Orang tersebut berkata, “Iya betul.” Lantas dia menangis.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Qotadah pun mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مَنْ نَفَّسَ عَنْ غَرِيمِهِ أَوْ مَحَا عَنْهُ كَانَ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa memberi keringanan pada orang yang berutang padanya atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapatkan naungan ‘Arsy di hari kiamat</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Musnad Shohabah fil Kutubit Tis’ah dan Tafsir Al Qur’an Al Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada tafsir surat Al Baqarah ayat 280)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah keutamaan yang sangat besar bagi orang yang berhati mulia seperti Abu Qotadah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula disebutkan bahwa orang yang berbaik hati untuk memberi tenggang waktu bagi orang yang kesulitan, maka setiap harinya dia dinilai telah bersedekah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>من أنظر معسرًا فله بكل يوم صدقة قبل أن يحل الدين فإذا حل الدين فأنظره كان له بكل يوم مثلاه صدقة</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan,  dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">As Silsilah Ash Shohihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 86 mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula terdapat keutamaan lainnya. Orang yang berbaik hati dan bersabar menunggu untuk utangnya dilunasi, niscaya akan mendapatkan ampunan Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوا عَنْهُ ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا ، فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dulu ada seorang pedagang biasa memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ketika melihat ada yang kesulitan, dia berkata pada budaknya: Maafkanlah dia (artinya bebaskan utangnya). Semoga Allah memberi ampunan pada kita. Semoga Allah pun memberi ampunan padanya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Bukhari no. 2078)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah kemudahan yang sangat banyak bagi orang yang memberi kemudahan pada orang lain dalam masalah utang. Bahkan jika dapat membebaskan sebagian atau keseluruhan utang tersebut, maka itu lebih utama.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/3671-hukum-arisan-kurban-dan-berutang-untuk-kurban.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Arisan Kurban dan Berutang untuk Kurban</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/2568-berhaji-dalam-keadaan-berutang222.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Berhaji dalam Keadaan Berutang</strong></span></a></li>
</ul>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Beri Pula Kemudahan bagi Orang yang Mudah Melunasi Utang</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain memberi kemudahan  bagi orang yang kesulitan, berilah pula kemudahan bagi orang yang mudah melunasi utang. Perhatikanlah kisah dalam riwayat Ahmad berikut ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>يُؤْتَى بِرَجُلٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ انْظُرُوا فِى عَمَلِهِ. فَيَقُولُ رَبِّ مَا كُنْتُ أَعْمَلُ خَيْراً غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ لِى مَالٌ وَكُنْتُ أُخَالِطُ النَّاسَ فَمَنْ كَانَ مُوسِراً يَسَّرْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ مُعْسِراً أَنْظَرْتُهُ إِلَى مَيْسَرَةٍ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَحَقُّ مَنْ يَسَّرَ فَغَفَرَ لَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ada seseorang didatangkan pada hari kiamat. Allah berkata (yang artinya), “Lihatlah amalannya.” Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai Rabbku. Aku tidak memiliki amalan kebaikan selain satu amalan. Dulu aku memiliki harta, lalu aku sering meminjamkannya pada orang-orang. </span><b>Setiap orang yang sebenarnya mampu untuk melunasinya, aku beri kemudahan</b><span style="font-weight: 400;">. Begitu pula setiap orang yang berada dalam kesulitan, aku selalu memberinya tenggang waktu sampai dia mampu melunasinya.” Lantas Allah pun berkata (yang artinya), “Aku lebih berhak memberi kemudahan”. Orang ini pun akhirnya diampuni.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Bukhari pun membawakan sebuah bab dalam kitab shohihnya ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">memberi kemudahan bagi orang yang lapang dalam melunasi utang</span></i><span style="font-weight: 400;">’. Lalu setelah itu, beliau membawakan hadits yang hampir mirip dengan hadits di atas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>تَلَقَّتِ الْمَلاَئِكَةُ رُوحَ رَجُلٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ قَالُوا أَعَمِلْتَ مِنَ الْخَيْرِ شَيْئًا قَالَ كُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِى أَنْ يُنْظِرُوا وَيَتَجَاوَزُوا عَنِ الْمُوسِرِ قَالَ قَالَ فَتَجَاوَزُوا عَنْهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Beberapa malaikat menjumpai ruh orang sebelum kalian untuk mencabut nyawanya. Kemudian mereka mengatakan, “Apakah kamu memiliki sedikit dari amal kebajikan?” Kemudian dia mengatakan, “Dulu aku pernah memerintahkan pada budakku untuk memberikan tenggang waktu dan membebaskan utang bagi orang yang berada dalam kemudahan untuk melunasinya.” Lantas Allah pun memberi ampunan padanya.” (HR. Bukhari no. 2077)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana kita membedakan orang yang mudah dalam melunasi utang (</span><i><span style="font-weight: 400;">muwsir</span></i><span style="font-weight: 400;">) dan orang yang sulit melunasinya (</span><i><span style="font-weight: 400;">mu’sir</span></i><span style="font-weight: 400;">)?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama memang berselisih dalam mendefinisikan dua hal ini sebagaimana dapat dilihat di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Namun yang lebih tepat adalah kedua istilah ini dikembalikan pada </span><i><span style="font-weight: 400;">‘urf</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu kebiasaan masing-masing tempat karena syari’at tidak memberikan batasan mengenai hal ini. Jadi, jika di suatu tempat sudah dianggap bahwa orang yang memiliki harta 1 juta dan kadar utang sekian sudah dianggap sebagai </span><i><span style="font-weight: 400;">muwsir </span></i><span style="font-weight: 400;">(orang yang mudah melunasi utang), maka kita juga menganggapnya </span><i><span style="font-weight: 400;">muwsir</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah sedikit pembahasan mengenai keutamaan orang yang berutang, yang berhati baik untuk memberi tenggang waktu dalam pelunasan dan keutamaan orang yang membebaskan utang sebagian atau seluruhnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, yang kami tekankan pada akhir risalah ini bahwa tulisan ini ditujukan bagi orang yang memiliki piutang dan belum juga dilunasi, bukan ditujukan pada orang yang memiliki banyak utang. </span><b>Jadi jangan salah digunakan dalam berhujah</b><span style="font-weight: 400;">. Orang-orang yang memiliki banyak utang tidak boleh berdalil dengan dalil-dalil yang kami bawakan dalam risalah ini. Coba bayangkan jika orang yang memiliki banyak utang berdalil dengan dalil-dalil di atas, apa yang akan terjadi? Dia malah akan akan sering mengulur waktu dalam pelunasan utang. Untuk mengimbangi pembahasan kali ini, insya Allah pada kesempatan berikutnya kami akan membahas ‘bahaya banyak utang’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memudahkan kita untuk memiliki akhlaq mulia seperti ini. </span><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</span></i></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca pembahasan selanjutnya: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-hutangnya.html">Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Hutangnya</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<p><b>Rujukan:</b></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz</span></i><span style="font-weight: 400;">, Dr. Abdul ‘Azhim Al Badawiy, Dar Ibnu Rojab</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Fathul Bari</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Hajar, Mawqi’ Al Islam</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Jami’ul ‘Ulum wal Hikam</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Rajab Al Hambali, Mawqi’ Shoid Al Fawaidh</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Musnad Shohabah fil Kutubit Tis’ah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Asy Syamilah</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Shohih Bukhari,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Mawqi’ Wizarotul Awqof Al Mishriyah</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Shohih Muslim, </span></i><span style="font-weight: 400;">Muslim bin Al Hajjaj, Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqiy, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, Beirut</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Shohih Sunan Ibnu Majah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Asy Syamilah</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Sunan Ibnu Majah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Abu Abdillah Muhammad bin Yazid, Mawqi’ Wizarotul Awqof Al Mishriyah</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosy Ad Dimasqiy, Dar Thobi’ah Linnasyr wat Tawzi’</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Tuhfatul Ahwadzi </span></i><span style="font-weight: 400;">, Mawqi’ Al Islam</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Panggang, Gunung Kidul, 15 Muharram 1430 H</span></p>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
 