
<p>6. Pohon kurma disifatkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا. Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan dalam riwayat Al Haarits bin  Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan lafazh:</p>
<p class="arab" align="right">كُنَّا  عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ  إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ الشَجَرَةِ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ  أَتَدْرُوْنَ مَا هِيَ قَالُوا لاَ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ لَا تَسْقُطُ لَهَا  أَنْمُلُةٌ وَ لَا تَسْقُطُ لَمُؤْمِنٍ دَعْوَةٌ</p>
<p><em>Kami berada bersama Rasulullah</em><em> pada satu hari, lalu beliau  bersabda: “Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti permisalan pohon  yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa itu?” Mereka berkata: “Tidak”  Lalu beliau menjawab: “Ia adalah pohon kurma tidak gugur daunnya dan  seorang mukmin tidak gugur do’anya.” </em>(Lihat <em>Fathul Bari</em>, 1/145)</p>
<p><!--more--></p>
<p>Jadi jelaslah sisi persamaan antara keduanya. Telah dimaklumi doa telah  disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arab" align="right">وَقَالَ  رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ  عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>
<p><em>“Dan  Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.  Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk  neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” </em>(QS. 40:60)</p>
<p>Akan tetapi do’a akan dikabulkan dengan  kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Terkadang tidak dikabulkan  karena tidak sebagian syaratnya atau keberadaan sebagian penghalangnya. Adabnya  yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan terkabulnya do’a  dan tekad/azam dalam masalah tersebut. (lihat tentang  hal ini dalam <em>Jami’ Al Ulum wal Hikaam</em> hal. 368)</p>
<p>Ibnul Qayyim memberikan makna lain terhadap  hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan pohon kurma  menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur pada musim  dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten memakai  pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap rabbnya. (<em>Miftah Daris Sa’adah</em>, 1/116)</p>
<p>7. Pohon kurma disifatkan dalam ayat dengan  thoyiibah (baik). Ini meliputi baik dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga  meliputi baik dalam rasa, buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin  memiliki sifat baik dalam segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun  bathin. Oleh kerena itu ketika kaum mukminin masuk syurga langsung disambut  para malaikat penjaganya dengan menyatakan:</p>
<p class="arab" align="right">وَسِيقَ  الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا  وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ  فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang bertakwa kepada  Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka  sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada  mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu,  berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” </em>(QS.  Az-Zumar :73)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">الَّذِينَ  تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ  ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“(yaitu)  orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan  mengatakan (kepada mereka):”Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga  itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. </em>(QS. Al-Anfaal [16]: 32) serta  firman Allah:</p>
<p class="arab" align="right">إِنَّ  اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي  مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ  وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ  الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ</p>
<p><em>Sesungguhnya  Allah mamasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam  surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi  perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah  sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan  ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. </em>(QS. Al-Hajj: {22]: 23-24)<em> </em></p>
<p>8. Pohon kurma  disifatkan dengan sabda Rasulullah:</p>
<p class="arab" align="right">إِنَّ  مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ</p>
<p><em> “Sesungguhnya  permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu darinya,  niscaya bermanfaat bagimu.”</em> (Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam <em>Mu’jamul Kabir</em>, 12/ no.13514  dan Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan: “Sanadnya shohih”). Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian  juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak  menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah  baik, memberikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan  manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.</p>
<p>9. Pohon kurma memiliki perbedaan mencolok, satu  dengan lainnya. Perbedaan dalam bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak  hanya satu tingkat dalam kebagusan dan kualitas, sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arab" align="right">وَفِي  اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ  صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَآءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا  عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ</p>
<p><em>“Dan  di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur,  tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami  melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya  pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” </em>(QS.  Ar-Rad [13]: 4)</p>
<p>Demikianlah  pohon kurma berbeda dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari  sebagian yang lainnya.</p>
<p>Demikian  juga keadaan antar kaum mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya  dan tidak satu tingkat dalam iman. Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">ثُمَّ  أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ  ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ  بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ</p>
<p><em> “Kemudian Kitab itu Kami  wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di  antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada  yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat  kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” </em>(QS. Faathir [35]: 32)<em> </em></p>
<p>10. Pohon kurma  termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan terpaannya serta lainnya  dari badai angin. Terkadang menerpanya dan terkadang menggulungnya. Kebanyakan  tumbuhan tidak mampu sabar bertahan dari kekeringan air seperti kesabaran pohon  kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar dalam menghadapi bala, mala  petaka dan musibah. Berkumpul pada seorang mukmin kesabaran dengan ketiga  jenisnya, yaitu sabar dalam ketaatan Allah, sabar dari kemaksiatan dan sabar  menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ  بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ  وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ  قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ  صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ</p>
<p><em> “Dan sungguh akan Kami  berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,  jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang  sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa  lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan  keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang  yang mendapat petunjuk.” </em>(QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)<em> </em></p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">قُلْ  يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي  هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى  الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p><em> “Katakanlah: Hai  hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu. Orang-orang yang  berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya  hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” </em>(QS. Az-Zumar: [39]:10)</p>
<p>11. Pohon kurma semakin tua semakin bertambah  baik dan tinggi kualitasnya. Demikian juga seorang mukmin jika panjang usianya  maka bertambah kebaikan dan amal sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari  sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:</p>
<p class="arab" align="right">أَنَّ  أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ  عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ</p>
<p>Seorang a’robiy bertanya kepada Rasulullah: <em>“Wahai Rasulullah  siapakah orang yang terbaik?”</em> Rasulullah menjawab: <em>“Orang yang panjang  umur dan baik amalannya.”</em> (<em>Sunan Tirmidzi</em> 4/565 dan dishohihkan Al  Albaniy dalam <em>Shohih Sunan At Tirmidzi</em>, 2/271)</p>
<p>12. Pohon kurma tidak pernah berhenti memberi  manfaat walaupun gagal berbuah. Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan  serabutnya untuk kemanfaatan yang banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak  pernah lepas dari kebaikan. Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga dari  berbuat kejelekan, sebagaimana sabda Rasulullah:</p>
<p class="arab" align="right">أَلَا  أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ  ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا  بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ  شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ</p>
<p><em> “Maukah kalian aku  beritahu orang terbaik dari terjelek dari kalian?” </em>Lalu beliau mengulanginya  tiga kali. Lalu seorang bertanya: “Wahai Rasulullah beritahulah kami  tentang orang terbaik dari terjelek dari kami” Rasulullah menjawab: <em>“Orang  terbaik dari kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman dari  kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya  dan manusia tidak aman dari kejelekannya.”</em> (Diriwayatkan Imam At  Tirmidziy dalam sunannya no. 2263 dan Ahmad no. 8456 dan dishohihkan Al Albani  dalam <em>Shohih Al Jaami’</em>, no. 332)</p>
<p>Imam Ikrimah menafsirkan firman Allah: <a class="arab">كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ</a> dengan menyatakan: “Dialah pohon kurma yang  senantiasa memberi manfaat.” (disampaikan At Thobariy, 8/205)</p>
<p>Demikian juga seorang mukmin senantiasa memberi  manfaat sesuai dengan bagian dan kekuatan imannya.</p>
<p>13. Pohon kurma mudah memetik buahnya, karena  pohon kurma terkadang pendek sehingga mudah memetiknya dan terkadang tinggi  besar. Walaupun besar masih mudah memanjatnya dibanding memanjat pohon lain  yang setingginya, karena terdapat tangga dan tempat memijak sampai ke atas. Demikian  juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.</p>
<p>14. Buah kurma termasuk buah yang paling  bermanfaat, karena ruthabnya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma  yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan  darinya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai obat dan minuman.  Kemanfaatannya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin  memiliki keumuman manfaat dan keanekaragaman kebaikan dan kebagusannya.</p>
<p>Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan  iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang  memiliki iman yang benar. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:</p>
<p class="arab" align="right">ثَلَاثٌ  مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ  أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ  إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ  يُقْذَفَ فِي النَّارِ</p>
<p><em> “Tiga perkara, jika  seorang memilikinya niscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan Rasul-Nya  lebih dicintai dari yang lainnya dan mencintai seseorang hanya karena Allah  serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.”</em> (Mutafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: “Diibaratkan  dengan rasa manis dalam hadits ini, karena Allah menyerupakan iman dengan pohon  dalam firman-Nya:</p>
<p><strong></strong></p>
<p class="arab" align="right">أَلَمْ  تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ</p>
<p>Kalimat  di dalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya  adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan  yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan.” (Lihat <em>Fathul  Bari</em>, 1/60)</p>
<p>15. Kesamaan sifat pohon kurma dengan sifat  mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan: “Sebagian orang ada yang telah  menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat pohon kurma) dengan sifat muslim.  Mereka menjadikan setiap manfaat darinya dihadapkan dengan satu sifat muslim.  Ketika sampai pada duri pohon kurma, maka dihadapkan kepada sifat keras dan  tegas terhadap musuh Allah dan orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan  terhadap mereka  (para musuh tersebut)  seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap mukmin yang takwa  seperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">أَشِدَّآءُ  عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ</p>
<p><em>“Keras terhadap  orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. 48:29</em>) (<em>Miftah dari Sa’adah</em>, 1/120-121)</p>
<p>Oleh karena itu para ulama yang terkenal keras dan tegas dalam membantah  orang-orang batil dinamakan duri di leher mereka.</p>
<p>Demikianlah di antara kesamaan yang ada. Para pensyarah hadits ini  memberikan beberapa kesamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebagiannya  batil. Imam Ibnu Hajar telah meringkasnya di kitab <em>Fathul Bari</em> dengan  menyatakan: “Adapun orang yang menganggap letak persamaan antara muslim  dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong kepalanya ia akan mati, atau karena  pohon kurma tidak berbuah tanpa perkawinan, atau ia mati dengan ditenggelamkan,  atau bau putiksarinya seperti mani manusia atau ia minum dari bagian atasnya.  Semuanya ini lemah, karena sisi kesamaan tersebut juga untuk seluruh manusia  tidak khusus kepada muslim. Yang lebih lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon  kurma diciptakan dari tanah sisa penciptaan adam, karena hadits yang  menunjukkannya tidak shahih, <em>Wallahu A’laam</em>.” (Lihat 1/147)</p>
<p>Dengan demikian telah kita ketahui iman adalah pohon mubarakah yang  memiliki manfaat dan faedah besar serta buah hasil. Iman memiliki tempat khusus  penanaman dan siraman khusus, juga memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya  adalah hati seorang mukmin, siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun  iman yang enam. Sedangkan cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatan yang  beraneka ragam yang dilakukan seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan  dan kebahagiaan yang dirasakan seorang mukmin di dunia dan akherat. Inilah di antara  buah dan hasil iman. <em>Wallahu a’lam bis showaab</em>.</p>
<p><strong>Faedah yang Diambil dari Hadits</strong></p>
<p>Di antara faedah yang  diambil dari hadits ini adalah:</p>
<ul>
<li>Orang yang diberi teka-teki  hendaknya memperhatikan indikator yang menunjukkan jawabannya.</li>
<li>Ujian seorang alim terhadap santrinya tentang sesuatu  yang belum jelas dan menjelaskannya jika mereka belum paham.</li>
<li>Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhari membuat bab  untuk hadits ini bab <em>Fahm fil Ilmu</em>.</li>
<li>
<em>Dhorbul Amtsal dan asybah</em> (membuat contoh) untuk menambah pemahaman.</li>
<li>Tanya jawab.</li>
<li>Penggambaran makna untuk  mengokohkan pemahaman.</li>
<li>
<em>Tasybih</em> sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama  dalam setiap sisi.</li>
<li>Imam memberikan permasalahan  kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang dimiliki mereka. (Bukhari).</li>
<li>Ulama besar terkadang tidak  tahu sesuatu yang diketahui orang yang di bawahnya, karena ilmu itu pemberian  Allah.</li>
<li>Malu dianggap baik selama tidak  melepas maslahat yang ada.</li>
<li>
<em>Tauqiir</em> (menghormati) orang yang lebih tua.</li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
 