
<p>Ternyata Nabi Isa itu paling dicintai oleh Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan ada perintah bagi kaum Nashrani untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dan nanti akan dijelaskan pula bahwa agama para nabi itu satu, yaitu Islam dan Tauhid.</p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahullah </em>meriwayatkan di dalam shahihnya :</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="color: #800000; font-size: 21pt;"><strong>حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ</strong></span></p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Muhammad bin Sinan menuturkan kepada kami. Dia berkata; Fulaih bin Sulaiman menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hilal bin Ali menuturkan kepada kami dari Abdurrahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah –</span><em style="line-height: 1.5em;">radhiyallahu’anhu</em><span style="line-height: 1.5em;">-, dia berkata; Rasulullah </span><em style="line-height: 1.5em;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span style="line-height: 1.5em;"> bersabda, </span><em style="line-height: 1.5em;">“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.”</em><span style="line-height: 1.5em;"> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>Ahadits al-Anbiya’</em>, lihat Fath al-Bari [6/550]. Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Kitab al-Fadha’il dengan redaksi yang agak berbeda)</span></p>
<p><span style="line-height: 1.5em;">Hadits yang agung ini menyimpan pelajaran berharga bagi kita, antara lain :</span></p>
<ol>
<li>Ibnu Hajar mengatakan, “Makna hadits ini adalah pokok agama mereka -para nabi- adalah satu/sama yaitu tauhid, meskipun cabang-cabang syari’at mereka berbeda-beda…” (<em>Fath al-Bari</em> [6/549])</li>
<li>
<span style="line-height: 1.5em;">Hadits ini menunjukkan bahwa agama para nabi yang diutus oleh Allah di muka bumi ini adalah tauhid yaitu memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah semata.<br>
Hal itu sebagaimana firman Allah (yang artinya), </span><em style="line-height: 1.5em;">“Allah mensyari’atkan bagi kalian ajaran agama yang telah Allah wasiatkan kepada Nuh, dan sebagaimana juga Kami wahyukan kepadamu, dan yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu hendaknya kalian menegakkan agama dan tidak berpecah belah di dalamnya…”</em><span style="line-height: 1.5em;"> (QS. as-Syuura : 13).<br>
Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa agama yang diajarkan oleh segenap para nabi itu adalah beribadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, meskipun syari’at mereka berbeda-beda (lihat <em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [7/147]).<br>
Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah (yang artinya),</span><em style="line-height: 1.5em;">“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa; tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, oleh sebab itu sembahlah Aku.”</em><span style="line-height: 1.5em;"> (QS. al-Anbiyaa’ : 25).</span>
</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum atheis yang menolak agama.</span></li>
<li>
<span style="line-height: 1.5em;">Hadits ini juga merupakan bantahan bagi kaum Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi Isa </span><em style="line-height: 1.5em;">‘alaihis salam</em><span style="line-height: 1.5em;"> namun tidak mau tunduk kepada ajaran Muhammad </span><em style="line-height: 1.5em;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span style="line-height: 1.5em;">, dan ia juga menjadi bantahan bagi kaum Yahudi.<br>
Rasulullah </span><em style="line-height: 1.5em;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span style="line-height: 1.5em;"> bersabda, </span><em style="line-height: 1.5em;">“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku seorang di kalangan umat ini, Yahudi ataupun Nasrani lalu meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaranku melainkan dia pasti termasuk penghuni neraka.”</em><span style="line-height: 1.5em;"> (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu Hurairah </span><em style="line-height: 1.5em;">radhiyallahu’anhu</em><span style="line-height: 1.5em;">).</span>
</li>
<li>
<span style="line-height: 1.5em;">Hadits ini merupakan bantahan telak bagi kaum Liberal dan Pluralis (semacam JIL dan begundal-begundalnya) yang mengatakan bahwa semua agama itu benar; maksud mereka Yahudi, Nasrani dan Islam adalah dilandaskan pada monothesime (baca: tauhid) –oleh sebab itu ada di antara mereka yang menulis buku dengan judul ‘<em>Tiga agama satu tuhan</em>’ [?!}– dengan alasan bahwa semua agama itu adalah diturunkan oleh Ibrahim <em>‘alaihis salam</em>.<br>
Sungguh dangkal akal mereka, sepertinya mereka belum pernah membaca -atau pura-pura tidak tahu- ayat (yang artinya), </span><em style="line-height: 1.5em;">“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang bertauhid dan muslim, dan dia sekali-kali bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em><span style="line-height: 1.5em;"> (QS. Ali Imran : 67).<br>
Imam Ath-Thabari mengatakan : “Ini merupakan pengingkaran dari Allah</span><em style="line-height: 1.5em;">‘azza wa jalla</em><span style="line-height: 1.5em;"> terhadap klaim orang-orang yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan <em>millah</em>-nya dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim berada di atas <em>millah</em> (agama) yang mereka anut. Ayat ini menjadi penegas sikap berlepas dirinya Ibrahim dari perbuatan mereka. Allah menegaskan sesungguhnya mereka itulah -Yahudi dan Nasrani- yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Hal ini menjadi kata putus dari Allah</span><em style="line-height: 1.5em;"> ‘azza wa jalla</em><span style="line-height: 1.5em;"> bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad </span><em style="line-height: 1.5em;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><span style="line-height: 1.5em;"> yang menetapkan bahwa mereka itulah -umat Islam- orang-orang yang benar-benar menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan-jalan dan syariat yang beliau gariskan, dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk” (Lihat <em>Tafsir Ath Thabari</em>, Maktabah Syamilah).<br>
Allah juga berfirman (yang artinya), </span><em style="line-height: 1.5em;">“Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa al-Masih putra Maryam itu adalah Allah, sedangkan al-Masih sendiri mengatakan, ‘Hai bani Isra’il, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian, sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim itu.”</em><span style="line-height: 1.5em;"> (QS. al-Maa’idah : 72).<br>
Nah, demikianlah jadinya kalau seseorang belajar Islam kepada Orientalis, bukannya pinter malah jadi <em>keblinger</em>! </span><em style="line-height: 1.5em;">Hadahumullah</em>!</li>
</ol>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/agama-para-nabi-dan-rasul.html/">Ustadz Ari Wahyudi, SSi</a></strong></p>
<p><strong>Artikel </strong><a href="https://muslim.or.id"><strong>Muslim.Or.Id</strong></a></p>
 