
<p><strong>KEUTAMAAN  SEORANG YANG MENUNTUT ILMU SYAR’I</strong></p>
<p>Seseorang yang  mempelajari ilmu syar’i akan mendapatkan keutamaan yang tidak diperoleh oleh  orang yang tidak mempelajarinya. Oleh karena itu, Allah membedakan ‘nilai’  seorang hamba berdasarkan ilmu. Ada  banyak keutamaan yang dapat diperoleh oleh para penuntut ilmu syar’i, namun  penulis akan menguraikan beberapa keutamaan di antaranya adalah:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>Allah <em>Ta’ala</em> akan mengangkat derajatnya,  sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">… يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ  وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ … ۝</p>
<p>Artinya: <em>“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman  diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” </em>(Qs. Al-Mujadilah: 11)</p>
<p>Dalam ayat di  atas, Allah <em>Ta’ala</em> mengabarkan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang  yang berilmu dan beriman karena mereka berhak mendapatkannya. Huruf <em>al</em> (ال  ) dalam kata <em>al-‘ilm</em> (العلم  ) pada ayat di atas menunjukkan <em>ahdiyyah</em> atau pengkhususan terhadap satu jenis ilmu, bukan menunjukkan <em>jinsiyyah</em> atau keumuman atas semua jenis ilmu, karena yang mendapatkan hak untuk  dinaikkan derajatnya oleh Allah hanyalah orang yang memiliki ilmu syari’at yang  dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan bukan mencakup  pada semua jenis ilmu. [Lihat <em>Bahjatun Nazhirin</em> (II/462-463) dan <em>Syarah  Riyadhush Shalihin Terjemah</em> (IV/285)]</p>
<p>Disebutkan  pula bahwa pernah ada seseorang yang lehernya cacat, sehingga dia selalu  menjadi bahan ejekan orang-orang disekitarnya. Kemudian ibunya berkata  kepadanya, <em>“Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat  derajatmu.”</em></p>
<p>Lalu orang  tersebut menuntut ilmu syar’i sampai dia menjadi seorang yang ‘alim (pandai),  sehingga dia diangkat menjadi Hakim di Mekah selama 20 tahun. Dan jika ada  seseorang yang memiliki perkara duduk dihadapannya, gemetarlah seluruh tubuhnya  sampai dia berdiri. [Lihat <em>Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em> (hal. 26) dan <em>Menuntut  Ilmu Jalan Menuju Surga</em> (hal. 33)]</p>
<p><strong>Kedua,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan kebaikan untuknya,  sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ  خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ فِي الدِّيْنِ .</p>
<p>Artinya: <em>“Barang  siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti  tentang (urusan) agamanya.”</em> [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no.  71, 3116, 7312), Muslim (no. 1037), Ahmad (IV/92, 95, 96), Ibnu ‘Abdil Barr  dalam <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi </em>(I/122-123, no. 84), dari Mu’awiyah bin Abi  Sufyan <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Hadits di atas  menyebutkan tentang keutamaan mempelajari ilmu syar’i dibandingkan ilmu-ilmu  lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman  dalam agamanya adalah orang yang tidak dikehendaki kebaikannya oleh Allah. Sebaliknya orang yang dikehendaki kebaikannya oleh  Allah maka Dia memberikannya pemahaman dalam agamanya. [Lihat <em>Al-‘Ilmu  Fadhluhu wa Syarafuhu </em>(hal. 49), <em>Bahjatun Nazhirin</em> (II/463), <em>Menuntut  Ilmu Jalan Menuju Surga</em> (hal. 36) dan <em>Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah</em> (IV/ 286)]</p>
<p>Imam Sufyan  Ats-Tsauri <em>rahimahullah</em> pernah berkata, <em>“Kebaikan di dunia adalah  rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah Surga.”</em> [Lihat <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi</em> (I/230) dan <em>Menuntut Ilmu  Jalan Menuju Surga </em>(hal. 39)]</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> orang yang menuntut ilmu syar’i dan memiliki ilmu  syar’i dikecualikan dari laknat Allah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah  riwayat,</p>
<p class="arab">أَلاَ إِنَّ  الدُّنْيَـا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَـافِيْـهَـا إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا  وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَـلِّـمٌ .</p>
<p>Artinya: <em>“Ketahuilah,  sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya,  kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim, dan seorang  yang menuntut ilmu.”</em> (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 2322),  Ibnu Majah (no. 4112), Al-Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman</em> (no. 1708), Ibnu  Abi ‘Ashim dalam <em>Az-Zuhd</em> (no. 57), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <em>Jami’  Bayanil ‘Ilmi</em> (I/150, no. 135), dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Hadits di atas  menyebutkan tentang keutamaan ilmu syar’i, orang-orang yang berilmu, dan  orang-orang yang menuntutnya. Dalam proses menuntut ilmu syar’i, manusia  terbagi menjadi dua, yaitu orang yang ‘alim sebagai pengajar dan orang yang  menuntutnya (pelajar). Keduanya berada di atas jalan yang lurus dan selamat.  [Lihat <em>Bahjatun Nazhirin </em>(I/542-543) dan <em>Syarah Riyadhush Shalihin  Terjemah</em> (II/307)]</p>
<p><strong>Keempat, </strong>orang yang menuntut ilmu syar’i diibaratkan seperti  seorang yang berjihad di jalan Allah <em>Ta’ala</em>. Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ دَخَـلَ  مَـسْجِـدَنَا هَـذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْلِيُعَلِّمَهُ كَانَ  كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْل اللهِ، وَمَنْ دَخَـلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ  كَالنَّاظِرِ إِلَى مَالَيْسَ لَهُ .</p>
<p>Artinya: <em>“Barang  siapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan untuk  mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, dia ibarat seorang yang berjihad di  jalan Allah. Dan barang siapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, dia  ibarat orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.”</em> [Hadits  hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Majah (no. 227), Ibnu  Hibban (no. 87-<em>At-Ta’liqat</em>), Ibnu Abi Syaibah (no. 3306), dan Al-Hakim  (I/91), dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Abud Darda <em>radhiyallahu’anhu</em> pernah berkata, <em>“Barang siapa yang berpendapat bahwa perginya seseorang  untuk menuntut ilmu itu tidak termasuk jihad, sungguh, dia kurang akalnya.”</em> [Lihat <em>Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em> (hal. 145) dan <em>Menuntut Ilmu  Jalan Menuju Surga</em> (hal. 45)]</p>
<p>Berjihad  dengan <em>hujjah</em> (dalil) dan keterangan lebih didahulukan dari pada jihad  dengan pedang dan tombak. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> pernah memerintahkan  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar berjihad dengan Al-Qur’an  untuk melawan orang-orang kafir, seperti disebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">فَـلاَ تَطِعِ  الْكَـفِـرِيْنَ وَجَـهِـدْ هُمْ بِهِ جِهَـادًا كَبِيْرًا ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Maka  janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah kepada mereka  dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” </em>(Qs. Al-Furqan: 52)</p>
<p><strong>Kelima,</strong> orang yang menuntut ilmu syar’i akan dimudahkan  jalannya menuju Surga, dimohonkan ampun oleh penduduk langit dan bumi, serta  dinaungi oleh sayap-sayap para Malaikat. Sebagaimana disebutkan dalam sabda  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">مَنْ سَلَكَ  طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى  الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ  الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ  فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ .</p>
<p>Artinya: <em>“Barang  siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya  menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang  yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya  orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi,  bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.”</em> [Hadits shahih,  diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no.  223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – <em>Al-Ihsan</em> dan 80  – <em>Al-Mawarid</em>), Al-Baghawi dalam <em>Syarhus Sunnah</em> (I/275-276, no.  129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi</em> (I/174 ,no. 173), dan  Ath-Thahawi dalam <em>Musykilul Atsar</em> (I/429), dari Abud Darda’ <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Kalimat <em>“jalan  untuk menuntut ilmu”</em> mengandung dua makna, yaitu: <strong>pertama, </strong>menempuh  jalan untuk menuntut ilmu dalam artian yang sebenarnya, seperti berjalan kaki  menuju majelis-majelis ilmu. <strong>Kedua, </strong>menempuh jalan atau cara yang dapat  mengantarkan seseorang untuk memperoleh ilmu syar’i, seperti membaca,  menghapal, menela’ah, dan sebagainya.</p>
<p>Sedangkan  kalimat <em>“Allah memudahkan jalannya menuju Surga”</em> mengandung dua makna  juga, yaitu <strong>pertama, </strong>Allah akan memudahkan orang yang menuntut ilmu  semata-mata karena mencari keridhaan Allah, mengambil manfaat, dan  mengamalkannya, untuk memasuki Surga-Nya. Dan <strong>kedua,</strong> Allah akan  memudahkan jalan baginya menuju Surga ketika melewati titian <em>ash-shirathal  mustaqim</em> pada hari Kiamat dan memudahkannya dari berbagai kengerian pada  sebelum dan sesudahnya. [Lihat <em>Jami’ul ‘Ulum wal Hikam</em> (II/297, <em>Qawa’id  wa Fawa’id minal Arba’in An-Nawawiyyah</em> (hal. 316-317), dan <em>Menuntut Ilmu  Jalan Menuju Surga</em> (hal. 8-9)]</p>
<p>Jalan menuju  Surga yang diperuntukkan bagi para penuntut ilmu ini merupakan ganjaran dari  Allah akibat usaha yang pernah ditempuhnya selama di dunia untuk mencari ilmu  yang akan mengantarkannya kepada ridha Rabbnya. Sedangkan para Malaikat yang  membentangkan sayap-sayapnya merupakan suatu bentuk kerendahan hati,  penghormatan, dan pengagungan mereka kepada para penyandang dan para pencari  martabat pewaris kenabian ini.</p>
<p>Sementara  permohonan ampun yang dilakukan oleh para penghuni langit dan bumi untuk orang  yang berilmu, disebabkan karena upaya mereka untuk mengajarkan hak-hak makhluk  hidup yang telah diciptakan Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Dan upaya ini tidak  mungkin terwujud kecuali dengan ilmu. [Lihat <em>Bahjatun Nazhirin</em> (II/469-470) dan <em>Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah</em> (IV/301-302)]</p>
<p><strong>Keenam,</strong> seorang yang memiliki ilmu dan mengajarkannya akan  tetap mendapatkan pahala atas ilmu yang telah diajarkannya tersebut selama ilmu  itu diamalkan, meskipun dia telah meninggal dunia. Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda,</p>
<p class="arab">إِذَا مَاتَ  الْإِنْسَـانُ انْـقَـطَـعَ عَـمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ،  وَعِلْمٌ يُنْـتُفَـعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُولَهُ .</p>
<p>Artinya: <em>“Apabila  seorang manusia meninggal dunia, amalannya terputus, kecuali tiga hal (yaitu):  sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”</em> [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), Bukhari dalam <em>Al-Adabul  Mufrad </em>(no. 38), Ahmad (II/372), Abu Dawud (no. 2880), An-Nasa’i (VI/251),  Tirmidzi (no. 1376), Al-Baihaqi (VI/278), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <em>Jami’  Bayanil ‘Ilmi</em> (I/103 ,no. 52), dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Hadits ini  adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu juga besarnya buah  dari ilmu yang dimiliki seseorang. Karena pahala ilmu yang telah diajarkan  kepada orang lain, akan tetap diterima oleh pemiliknya selama ilmu tersebut  diamalkan oleh orang lain. Meskipun dia telah meninggal dunia dan seluruh  amalannya telah terputus, namun akibat ilmu yang diajarkannya kepada orang lain  membuatnya seolah-olah tetap hidup dan amalnya tidak terputus. Hal ini selain  menjadi kenangan dan sanjungan bagi pemilik ilmu tersebut, juga menjadi  kehidupan kedua baginya, karena dia tetap merasakan pahala yang mengalir  untuknya ketika semua pahala amal perbuatan telah terputus darinya. [Lihat <em>Al-‘Ilmu  Fadhluhu wa Syarafuhu</em> (hal. 242) dan <em>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga</em> (hal. 46)]</p>
<p><strong>KEUTAMAAN  SEORANG <em>‘ALIM </em>DIBANDING SEORANG <em>‘ABID</em></strong></p>
<p>Seorang yang  berilmu (<em>‘alim</em>) memiliki keutamaan yang lebih besar dari pada seorang  ahli ibadah (<em>‘abid</em>). Dan keutamaan yang diperolehnya ini semata-mata  karena ilmu yang dimilikinya. Sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">فَـضْلُ الْعِـلْمِ  خَيْرٌ مِنْ فَـضْلِ الْعِـبَادَةِ، وَخَيْرُ دِيْنَكُمُ الْوَرَعُ .</p>
<p>Artinya: <em>“Keutamaan  ilmu adalah lebih baik dari pada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian  adalah ketakwaan.”</em> [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam <em>Al-Ausath</em> (no. 3972) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <em>Jami’ Bayanil ‘Ilmi</em> (<em>ta’liq </em>hadits  no. 96 sebagai <em>syahid</em>), dari Hudzaifah bin Al-Yaman <em>radhiyallahu’anhu</em>]</p>
<p>Salah seorang  sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang juga menjadi  menantunya, yakni ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em> pernah berkata, <em>“Seorang  ‘alim mendapat ganjaran pahala yang lebih besar dari pada orang yang melakukan  puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah.”</em> [Lihat <em>Al-‘Ilmu Fadhluhu wa  Syarafuhu</em> (hal. 133) dan <em>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga</em> (hal. 38)]</p>
<p>Seorang yang  berilmu tidak hanya menjalin hubungan antar dirinya dengan Rabbnya, melainkan  dia juga menjalin hubungan dengan sesamanya melalui ilmunya, yakni dengan cara  menyampaikan ilmu yang dimilikinya. Lain halnya dengan seorang ahli ibadah,  yang dia mendirikan shalat, menjalankan puasa, dan semisalnya, hanya terjadi  antar dirinya dengan Rabbnya. Akan tetapi, seorang yang berilmu dan  menyampaikan ilmunya kepada orang lain, sesungguhnya dia tidak hanya membawa  manfaat untuk dirinya sendiri, tetapi dia juga memberikan manfaat untuk orang  lain.</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>Ilmu merupakan  amal shalih yang paling utama dan mulia karena ilmu termasuk ke dalam jihad <em>fi  sabilillah</em>. Karena sesungguhnya agama Allah tidak akan tegak dimuka bumi  ini melainkan dengan dua hal, yaitu <strong><em>pertama</em></strong>, dengan ilmu dan <em>bayan</em> (penjelasan), <strong><em>kedua</em></strong>, dengan pedang dan tombak (perang). Namun,  para Rasul <em>‘alaihimush shalatu wa salam</em> tidak pernah sekalipun menyerang  suatu kaum yang durhaka kepada Allah <em>Ta’ala</em> sebelum tegaknya <em>hujjah</em> (dalil) dan dakwah telah sampai kepada mereka terlebih dahulu.</p>
<p>Senada dengan  hal itu, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah <em>rahimahullah</em> pernah berkata, “<em>Jihad  dengan hujjah dan lisan (keterangan) lebih didahulukan dari pada jihad dengan  pedang dan tombak.”</em> [Lihat <em>Al-Kafiyah Asy-Syafiyah fil Intishari lil  Firqatin Najiyyah</em> (hal. 35) dan <em>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga</em> (hal. 46 dan 331)]</p>
<p>Islam pun  mendasari segala pelaksanaan syari’atnya atas dasar ilmu. Oleh karena itu,  seorang Muslim tidak akan mungkin dapat menjalankan syari’at yang menghimpun  ikhlas dan <em>ittiba’</em> (beramal sejalan dengan petunjuk Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>) kecuali dengan ilmu. Karena tanpa ilmu, tidak ada amal  yang akan diterima oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Dengan demikian, kita mengetahui  bahwa ilmu menempati kedudukan yang amat mulia, agung dan utama. Dan  sebaik-baik ilmu yang harus dipelajari dan dimiliki oleh manusia adalah ilmu  syar’i.</p>
<p>Syaikh Salim  bin ‘Ied Al-Hilali <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sebaik-baik ilmu adalah  memberikan perhatian penuh terhadap Kitabullah (yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah  sebagai pendampingnya), membacanya dan membacakannya (kepada orang lain),  belajar dan mengajarkannya, memahami dan merenungkan (kandungannya).”</em> [Lihat <em>Bahjatun Nazhirin </em>(I/221) dan <em>Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah</em> (I/581)]</p>
<p>Semoga Allah  menambahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua dan menjauhkan kita dari  ilmu yang tidak bermanfaat dan tercela.</p>
<p class="arab">وَقُـلْ رَّبِّ زِدْنِى  عـلْـمًا ۝</p>
<p>Artinya: <em>“Dan  katakanlah, ‘Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”</em> (Qs. Thaha: 14)</p>
<p class="arab">اللهُـمَّ  انْفَـعْـنِيْ بِمَـا عَـلَّمْتَنِيْ، وَعَـلِّمْنِيْ مَا يَنْـفَعُـنِيْ،  وَزِدْنِيْ عِـلْمًـا .</p>
<p>“Yaa Allah,  berikanlah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan  ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku. Dan tambahkanlah ilmu kepadaku.”</p>
<p class="arab">والله تعالى أعلم</p>
<p>سبحانك اللهم وبحمدك  أشهـد أن لا إله إلا أنت، استغـفـرك وأتوب إليك</p>
<p>***<br>
<a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br>
<strong>Penyusun:</strong> Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
<strong>Muraja’ah:</strong> Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<p><em>1. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu</em>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, <em>tahqiq </em>dan <em>takhrij</em>: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, cetakan Majmu’atut Tuhaf An-Nafa’is Ad-Dauliyyah.</p>
<p><em>2. Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhish Shalihin Jilid 1</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cetakan Daar Ibnul Jauzy, Riyadh.</p>
<p><em>3. Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf</em>, Imam Al-Hafizh Zainuddin Ibnu Rajab Al-Hanbali, cetakan Darul ‘Ammar, Yordania.</p>
<p><em>4. Hukmus Sihri wal Kahanah wa Ma Yata’allaq Biha</em>, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, cetakan Darul Qasim, Riyadh.</p>
<p><em>5. I’lamul Muwaqqi’in Jilid II</em>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cetakan Daar Ibnul Jauzy, Riyadh.</p>
<p><em>6. Jami’ Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi Jilid I</em>, Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdil Barr, cetakan Daar Ibnul Jauzi, Riyadh.</p>
<p><em>7. Juz Thuruqi Hadits Thalabul ‘Ilmi Faridhatun ‘Ala Kulli Muslim</em>, Imam Jalaluddin Abul Fadhl ‘Abdirrahman bin Kamaluddin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiq As-Suyuthi, cetakan Darul ‘Ammar, Yordania.</p>
<p><em>8. Kitab Al-‘Ilmi</em>, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Daar Ats-Tsurayya, Riyadh.</p>
<p><em>9. Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cetakan Pustaka At-Taqwa, Bogor.</p>
<p><em>10. Shahih Al-Bukhari</em>, Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, cetakan Darus Salam, Riyadh.</p>
<p><em>11. Syarah Riyadhush Shalihin (Terjemah Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhish Shalihin) Jilid 2 dan Jilid 4</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta</p>
<p><em>12. Syarah Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Daar Ats-Tsurayya, Riyadh.</p>
<p><em>13. Syarah Ushul min ‘Ilmil Ushul</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Daar Ibnu Haitsam, Kairo.</p>
<p><em>14. Syarhus Sunnah Jilid 1</em>, Imamul Hadits Al-Faqih Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, cetakan Al-Maktab Al-Islamiy, Beirut.</p>
<p><em>15. Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim Jilid 4</em>, Imam Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi, cetakan Daar Thayyibah, Riyadh.</p>
<p><em>16. Ushul Fiqih (Terjemah Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul)</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Media Hidayah, Yogyakarta</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 