
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. </span></i><span style="font-weight: 400;">Suatu saat kami menemukan dari salah satu blog perkataan semacam ini: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Bila kandungan isi hadits itu berhubungan dengan masalah ‘aqidah, misalnya tentang siksa kubur, maka kita tidak boleh menyakini adanya siksa kubur tersebut dengan keyakinan 100%. Sebab, derajat kebenaran yang dikandung oleh hadits ahad tidak sampai 100%.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah di antara aqidah menyimpang yang dimiliki sebuah kelompok yang terkenal selalu menggembar gemborkan khilafah. Mereka tidak meyakini adanya siksa kubur. Mereka beralasan bahwa riwayat mengenai siksa kubur hanya berasal dari hadits Ahad, sedangkan hadits Ahad hanya bersifat zhon (sangkaan semata). Padahal aqidah harus dibangun di atas dalil </span><i><span style="font-weight: 400;">qoth’i</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan harus berasal dari riwayat mutawatir. Itulah keyakinan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang yang kami pertanyakan, “Apakah betul riwayat mengenai siksa kubur tidak mutawatir dan hanya berasal dari hadits Ahad?” Juga yang kami tanyakan, “Apakah pembicaraan mengenai siksa kubur juga tidak ada dalam Al Qur’an?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada tulisan singkat kali ini, kami akan membuktikan bahwa pembicaraan mengenai siksa kubur sebenarnya disebutkan pula dalam Al Qur’an. Sehingga dengan sangat pasti kita dapat katakan bahwa pembicaraan mengenai siksa kubur adalah mutawatir karena riwayat Al Qur’an adalah mutawatir dan bukan Ahad.</span></p>

<h2><b>Ayat Pertama: Siksaan bagi Fir’aun dan Pengikutnya di Alam Kubur</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras</span></i><span style="font-weight: 400;">“.” (QS. Al Mu’min: 45-46)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mari kita perhatikan penjelasan para pakar tafsir mengenai potongan ayat ini:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Qurtubhi –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. … Pendapat inilah yang dipilih oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Maqotil, Muhammad bin Ka’ab. Mereka semua mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur di dunia.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Jaami’ Li Ahkamil Qur’an</span></i><span style="font-weight: 400;">, 15/319)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asy Syaukani –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang dimaksud dengan potongan dalam ayat tersebut adalah siksaan di alam barzakh (alam kubur). ” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Qodir</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/705)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fakhruddin Ar Rozi Asy Syafi’i –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama Syafi’iyyah berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa siksa neraka yang dihadapkan kepada mereka pagi dan siang (artinya sepanjang waktu) bukanlah pada hari kiamat nanti. Karena pada lanjutan ayat dikatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras</span></i><span style="font-weight: 400;">” [Berarti siksa neraka yang dinampakkan pada mereka adalah di alam kubur]. Tidak bisa juga kita katakan bahwa yang dimaksudkan adalah siksa di dunia. Karena dalam ayat tersebut dikatakan bahwa neraka dinampakkan pada mereka pagi dan siang, sedangkan siksa ini tidak mungkin terjadi pada mereka ketika di dunia. Jadi yang tepat adalah dinampakkannya neraka pagi dan siang di sini adalah setelah kematian (bukan di dunia) dan sebelum datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur bagi Fir’aun dan pengikutnya. Begitu pula siksa kubur ini akan diperoleh bagi yang lainnya sebagaimana mereka.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Mafaatihul Ghoib</span></i><span style="font-weight: 400;">, 27/64)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ayat ini adalah pokok aqidah terbesar yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengenai adanya adzab (siksa) kubur yaitu firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 7/146)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang</span></i><span style="font-weight: 400;">”, ini adalah siksaan di alam barzakh (di alam kubur). Sedangkan ayat (yang artinya), “</span><i><span style="font-weight: 400;">dan pada hari terjadinya Kiamat” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah ketika kiamat kubro (kiamat besar). (</span><i><span style="font-weight: 400;">At Tafsir Al Qoyyim</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 358)</span></p>
<h2><b>Ayat Lain yang Membicarakan Siksa Kubur</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta</span></i><span style="font-weight: 400;">“. (QS. Thahaa: 124)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim –rahimahullah- mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Bukan hanya satu orang salaf namun lebih dari itu, mereka berdalil dengan ayat ini tentang adanya siksa kubur.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">At Tafsir Al Qoyyim</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 358)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menyebutkan ayat-ayat lain yang menunjukkan adanya siksa kubur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita dapat melihat pula dalam surat Al An’am, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan </span></i><b><i>siksa yang sangat menghinakan</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Al An’am: 93)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun perkataan malaikat (yang artinya), “</span><i><span style="font-weight: 400;">Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Siksa yang sangat menghinakan di sini adalah siksa di alam barzakh (alam kubur) karena alam kubur adalah alam pertama setelah kematian. (</span><i><span style="font-weight: 400;">At Tafsir Al Qoyyim</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 358)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga yang serupa dengan surat Al An’am tadi adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) : “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Anfal: 50)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siksa yang dirasakan yang disebutkan dalam ayat ini adalah di alam barzakh karena alam barzakh adalah alam pertama setelah kematian. (</span><i><span style="font-weight: 400;">At Tafsir Al Qoyyim</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 358)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pula Ibnu Abil ‘Izz –rahimahullah- ketika menjelaskan perkataan Ath Thohawi mengenai aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang meyakini adanya siksa kubur, selain membawakan surat Al Mu’min sebagai dalil adanya siksa kubur, beliau –rahimahullah- juga membawakan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ (45) يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (46) وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (47)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. </span></i><b><i>Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu</i></b><i><span style="font-weight: 400;">. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Ath Thur: 45-47)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membawakan ayat ini, Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Ayat ini bisa bermakna siksa bagi mereka dengan dibunuh atau siksaan lainnya di dunia. Ayat ini juga bisa bermakna siksa bagi mereka di alam barzakh (alam kubur). Inilah pendapat yang lebih tepat. Karena kebanyakan dari mereka mati, namun tidak disiksa di dunia. Atau ayat ini bisa bermakna siksa secara umum.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, </span></i><span style="font-weight: 400;">2/604-605</span><i><span style="font-weight: 400;">)</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga dapat kita lihat dalam kitab Shahih (yaitu Shahih Muslim), terdapat hadits dari Al Baroo’ bin ‘Aazib –radhiyallahu ‘anhu-. Beliau membicarakan mengenai firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Ibrahim: 27)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Baroo’ bin ‘Aazib mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">نَزَلَتْ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ayat ini turun untuk menjelaskan adanya siksa kubur.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan Ibnul Qoyyim –rahimahullah-, ulama yang sudah diketahui keilmuannya mengatakan bahwa hadits yang menjelaskan mengenai siksa kubur adalah </span><span style="font-weight: 400;">hadits yang sampai derajat mutawatir</span><span style="font-weight: 400;">. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">At Tafsir Al Qoyyim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 359)</span></p>
<h2><b>Inilah Kekeliruan Mereka</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah di antara kekeliruan dan penyimpangan kelompok yang selalu menggembar gemborkan khilafah dalam setiap orasi mereka (dengan isyarat seperti ini mudah-mudahan kita tahu kelompok tersebut). Mereka menolak adanya siksa kubur karena beralasan bahwa riwayat yang menerangkan aqidah semacam ini adalah hadits ahad. Sedangkan hadits ahad tidak boleh dijadikan rujukan dalam masalah aqidah karena aqidah harus 100 % qoth’i, tidak boleh ada zhon (sangkaan) sedikit pun.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang kami tanyakan kepada mereka, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Bukankah Al Qur’an adalah mutawatir?! Lalu di mana kalian meletakkkan ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan mengenai siksa kubur [?] Padahal pakar tafsir telah menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan ayat-ayat yang kami sebutkan di atas adalah mengenai siksa kubur.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana dengan do’a berlindung dari adzab kubur yang dibaca ketika tasyahud akhir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika salah seorang di antara kalian selesai tasyahud akhir (sebelum salam), mintalah perlindungan pada Allah dari empat hal: [1] siksa neraka jahannam, [2] siksa kubur, [3] penyimpangan ketika hidup dan mati, [4] kejelekan Al Masih Ad Dajjal.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim). Do’a yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qobri, wa ‘adzabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarri fitnatil masihid dajjal [Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari </span></i><b><i>siksa kubur</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan Al Masih Ad Dajjal].</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau memang mereka mengamalkan do’a ini, bagaimana mungkin berbeda antara perkataan dan keyakinan[?] Sungguh sangat tidak masuk akal. Sesuatu boleh diamalkan namun tidak boleh diyakini[!] Ini mustahil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada saudara-saudara kami ini. Maksud tulisan ini bukanlah menjelak-jelekkan mereka. Namun maksud kami adalah agar mereka yang telah berpaham keliru ini sadar dan merujuk pada kebenaran. Itu saja yang kami inginkan dari lubuk hati kami yang paling dalam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. </span><i><span style="font-weight: 400;">Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i><b> </b></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><b>Rujukan:</b></span></p>
<ol>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;"> Al Jaami’ Li Ahkamil Qur’an</span></i><span style="font-weight: 400;">, Al Qurtubhi, Darul ‘Alim Al Kutub, Riyadh Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">At Tafsir Al Qoyyim</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;"> Fathul Qodir, Asy Syaukani, </span></i><span style="font-weight: 400;">Asy Syaukani</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;"> Mafatihul Ghoib,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Fakhruddin Ar Rozi Asy Syafi’i, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;"> Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Abil ‘Izz Ad Dimasyqi, Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, Muassasah Ar Risalah</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">6.</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Dar Thoyyibah lin Nasyr wat Tawzi’</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><b>Catatan:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ilmu hadits, para ulama telah membagi hadits berdasarkan banyaknya jalan yang sampai kepada kita menjadi dua macam yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mutawatir secara bahasa berarti berturut-turut (</span><i><span style="font-weight: 400;">tatabu’</span></i><span style="font-weight: 400;">). Secara istilah, hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan dari jalan yang sangat banyak sehingga mustahil untuk bersepakat dalam kedustaan karena mengingat banyak jumlahnya dan kesholihannya serta perbedaan tempat tinggal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada empat syarat disebut hadits mutawatir :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Diriwayatkan dari banyak jalan. Ada yang mengatakan sepuluh dan ada juga yang mengatakan lebih dari empat.</span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Jumlah yang banyak ini terdapat dalam setiap </span><i><span style="font-weight: 400;">thobaqot</span></i><span style="font-weight: 400;"> (tingkatan) sanad.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Mustahil bersepakat untuk berdusta dilihat dari </span><i><span style="font-weight: 400;">‘adat</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kebiasaan).</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Menyandarkan khobar (berita) dengan perkara indrawi seperti dengan kata ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">sami’na</span></i><span style="font-weight: 400;">’ (kami mendengar), dll.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahad secara bahasa berarti satu (</span><i><span style="font-weight: 400;">al wahid</span></i><span style="font-weight: 400;">). Secara istilah, hadits ahad adalah </span><b>hadits yang tidak memenuhi syarat mutawatir</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ahad ada tiga macam yaitu hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">masyhur</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span><i><span style="font-weight: 400;">aziz</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ghorib</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, hadits masyhur yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih namun belum mencapai derajat mutawatir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, hadits aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang, walaupun berada dalam satu </span><i><span style="font-weight: 400;">thobaqoh </span></i><span style="font-weight: 400;">(tingkatan)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga, hadits ghorib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rowi. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisir Mustholahul Hadits</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 19-20; </span><i><span style="font-weight: 400;">Muntahal Amaniy</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 82; </span><i><span style="font-weight: 400;">Min Athyabil Minnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 8-9)</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/1110-keutamaan-surat-al-mulk-mencegah-dari-siksa-kubur.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Surat Al Mulk, Mencegah dari Siksa Kubur</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/14599-doa-ziarah-kubur-dan-faedahnya.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Doa Ziarah Kubur dan Faedahnya</strong></span></a></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">****</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disusun di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul, 30 Rabi’ul Akhir 1430 H</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel www.rumaysho.com</span></p>
 