
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Sebagaimana yang kita ketahui, proses produksi sebagian kecil vaksin (seperti vaksin polio, vaksin rotavirus, vaksin rabies, dan vaksin varicella), bersinggungan dengan bahan-bahan yang bersumber dari babi. Akan tetapi, bahan-bahan tersebut telah dimurnikan dan dihilangkan, sehingga tidak ditemukan lagi dalam produk akhir vaksin</span></span><span lang="nl-NL">[1. Silakan dilihat kembali pembahasan tentang vaksin polio sebelumnya, di tautan berikut ini: <a href="https://muslim.or.id/27615-hukum-vaksinasi-polio-1-prosesnya-bersinggungan-dengan-bahan-dari-babi.html" target="_blank">https://muslim.or.id/27615-hukum-vaksinasi-polio-1-prosesnya-bersinggungan-dengan-bahan-dari-babi.html</a>]. </span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL">Jika masih ada, berarti produk tersebut adalah produk gagal yang tidak boleh diedarkan. Dan telah kita ketahui pula, para ulama telah menjelaskan status vaksin-vaksin tersebut adalah mubah alias halal</span></span><span lang="nl-NL">[2. Silakan dicermati fatwa-fatwa tentang bolehnya vaksinasi berikut ini: <a href="https://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html" target="_blank">https://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html</a>].</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL">Namun, sebagian orang masih ragu dengan status halal vaksin tersebut karena mereka menilai bahwa proses pencucian najis babi harus dicampur dengan debu (tanah). Sehingga mereka menilai bahwa proses pencucian najis babi di perusahaan vaksin tidak (belum) sesuai dengan syariat Islam. </span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Perlu diketahui, sebagian kecil ulama memang berpendapat bahwa najis babi di-qiyas-kan dengan najis air liur anjing, sehingga harus dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah (debu). Adapun mayoritas (jumhur) ulama berpendapat bahwa najis babi tidaklah disamakan dengan najis air liur anjing. </span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Berkaitan dengan najis air liur anjing, Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">bersabda,</span></span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Sucinya wadah air seseorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah dengan dicuci sebanyak tujuh kali, permulaannya dicampur dengan tanah.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(HR. Muslim no. 279)</span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah An-Nawawi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">salah satu ulama besar madzhab Asy-Syafi’i</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Dan pendapat ini adalah pendapat resmi dalam madzhab Asy-Syafi’i. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Beliau </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menyatakan,</span></span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">وَمَا نَجُسَ بِمُلَاقَاةِ شَيْءٍ مِنْ كَلْبٍ غُسِلَ سَبْعًا إحْدَاهُنَّ بِتُرَابٍ وَالْأَظْهَرُ تَعَيُّنُ التُّرَابِ، وَ أَنَّ الْخِنْزِيرَ كَكَلْبٍ</span>.</p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Sesuatu yang menjadi najis karena terkena bagian dari anjing, maka dicuci sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL"><i>Yang tampak, harus dengan tanah (tidak boleh diganti dengan yang lain). </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL"><i><b>Dan babi sama seperti anjing</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL"><i>” </i></span></span><span lang="nl-NL">[3. Al-Minhaj 1/13, Maktabah Syamilah].</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL">Akan tetapi, qiyas semacam ini bertentangan dengan hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL">ketika beliau bertanya kepada Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL">tentang bolehnya menggunakan wadah (panci) bekas memasak babi milik ahli kitab. Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="nl-NL">menjawab,</span></span></p>
<p dir="rtl" lang="id-ID" align="center"><span lang="ar-SA">فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَلاَ تَأْكُلُوا فِيهَا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا وَكُلُوا فِيهَا</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Jika Engkau mendapatkan wadah lainnya, jangan makan menggunakan wadah tersebut. Jika Engkau tidak mendapatkan yang lainnya, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i><b>maka cucilah wadah tersebut,</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> dan makanlah dengan menggunakan wadah tersebut.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(HR. Bukhari no. 5478 dan Muslim no. 1930)</span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Berdasarkan hadits di atas, maka qiyas semacam ini sangat lemah dan tidak memiliki dasar yang kuat. Karena jika harus dicuci sebagaimana air liur anjing, tentu Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">akan menjelaskan kepada Abu Tsa’labah pada saat dia bertanya dan tidak menunda penjelasannya. Namun dalam hadits di atas, Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">hanya memerintahkan untuk mencuci sampai bersih, tanpa ada perintah secara spesifik untuk dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan debu (tanah).</span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Ketika menanggapi para ulama yang menyamakan najis kulit babi dengan air liur anjing, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">berkata,</span></span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span lang="ar-SA">وهذا قياس ضعيف ؛ لأن الخنزير مذكور في القرآن ، وموجود في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، ولم يرد إلحاقه بالكلب ، فالصحيح أن نجاسته كنجاسة غيره ، لا يغسل سبع مرات إحداها بالتراب</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>(</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Menyamakan kulit babi dengan </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>air liur </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>anjing</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>)</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> adalah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qiyas (</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>analogi</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>)</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> yang lemah. Karena babi telah disebutkan dalam Al-Quran dan sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tidak terdapat keterangan yang menyamakan babi dengan anjing. Oleh karena itu, yang tepat, status najis babi adalah sama dengan benda najis lainnya. Tidak perlu dicuci sampai tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah” </i></span></span><span lang="id-ID">[4. <em>Asy-Syarhul Mumthi’</em>, 1/356].</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata ketika menjelaskan hadits tentang tata cara membersihkan najis air liur anjing di atas,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>”Berbilangnya pencucian (sampai tujuh kali) hanya khusus untuk najis anjing dan tidak bisa di-qiyas-kan dengan najis lainnya, seperti babi. Karena ibadah bersifat tauqifiyyah (berdasarkan dalil dari Al-Qur’an atau As-Sunnah). Ini adalah masalah yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan qiyas. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Tidak terdapat keterangan pada selain najis anjing, berbilangnya proses pencucian. Babi telah disebutkan di dalam Al-Qur’an </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>dan sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tidak terdapat keterangan yang menyamakannya (dengan anjing). Oleh karena itu, status najis babi adalah sama seperti najis lainnya.</i></span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Adapun najis lainnya (selain anjing), maka yang wajib adalah dicuci sekali yang menghilangkan dzat najis dan bekasnya. Jika belum hilang, maka bisa diulangi, sampai hilang bekasnya, meskipun sampai lebih dari tujuh kali. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Baik yang dicuci tersebut adalah tanah, pakaian, alas tidur, dan wadah. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i><b>Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama).</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i> Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></span></span></p>
<p align="center"><span lang="ar-SA">إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَاكُنَّ الدَّمُ مِنَ الحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ، ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍ، ثُمَّ لِتُصَلِّي فِيهِ</span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;">‘</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Jika (pakaian) salah seorang di antara kalian terkena darah haid, maka percikilah dengan air, lalu dicuci, setelah itu silakan gunakan untuk shalat.’ </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(HR. Bukhari no. 277 dan Muslim no. 291).</span></span></p>
<p class="western" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk dicuci dengan bilangan tertentu. Jika beliau menghendakinya, tentu akan beliau sebutkan sebagaimana dalam hadits air liur anjing. Karena tujuannya adalah hilangnya najis, maka jika najis hilang, hilang pula status (hukum) najisnya” </i></span></span><span lang="en-US">[5. <em>Minhatul ‘Allaam fi Syarhi Bulughil Maraam</em>, 1/55].</span></p>
<p class="western" lang="en-US" align="justify"><b>Kesimpulan dalam masalah ini:</b></p>
<ol>
<li>
<p align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Membersihkan najis karena babi cukup dicuci sekali sampai bersih. Tidak ada ketentuan dicuci sebanyak bilangan tertentu. Jika najisnya hilang, maka sudah cukup. Ini adalah pendapat mayoritas (jumhur) ulama dan inilah pendapat yang lebih kuat </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>(rajih).</i></span></span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Sebagian kecil ulama, di antara para ulama madzhab Asy-Syafi’i, menyamakan cara membersihkan babi dengan air liur anjing, yaitu dicuci sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur tanah. Pendapat (qiyas) ini lemah dan bertentangan dengan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu.</i></span></span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Oleh karena itu, proses pencucian najis babi dalam proses produksi vaksin sudah sesuai dengan petunjuk syariat. Sehingga tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk mengatakan bahwa vaksin (tertentu) adalah benda najis yang haram dikonsumsi. </span></span><span style="color: #141823;"><span lang="id-ID"><i>Wallahu </i></span></span><span style="color: #141823;"><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #141823;"><span lang="id-ID"><i>a’lam.</i></span></span></p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><span style="color: #141823;"><span lang="en-US">Semoga penjelasan ini bermanfaat untuk kaum muslimin</span></span><span lang="en-US">[6. Tulisan ini merupakan salah satu bab pembahasan yang terdapat di buku kami, “<em>Islam, Sains, dan Imunisasi: Mengungkap Fakta di Balik Vaksin Alami</em>”. Buku tersebut saat ini masih berupa <em>draft</em> yang kami susun bersama tim penulis yang lain. Semoga Allah Ta’ala memudahkan penyelesaiannya].</span></p>
<p lang="en-US" align="justify">***</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Selesai disempurnakan </span><span lang="en-US">di malam hari</span><span lang="id-ID">, Sint-Jobskade Rotterdam, 23 Jumadil Awwal 1437</span></p>
<p class="western" lang="id-ID" align="left">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="justify"><span lang="id-ID">Penulis: </span><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p align="justify">Artikel Muslim.or.id</p>
<p align="justify">___</p>
<p class="western" lang="id-ID">
 </p>
