
<p style="text-align: left;" align="CENTER">Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa perbuatan dosa seseorang dapat menahan rezeki Allah kepadanya dan ketakwaan dapat melancarkannya. <span style="color: #000000;">Allah <em>Subhaanahu wa Ta’ala</em> berfirman dalam Al Qur’an:<br>
</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ </span><span style="color: #000000;">(45) </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Al-‘Ankabuut: 45)</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><b><span style="color: #ff0000;">Tafsir Ringkas</span><br>
</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<b>Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an),” </b></span><span style="color: #000000;">Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala</i></span><span style="color: #000000;"> memerintahkan kepada kita untuk membaca wahyunya, yaitu Al-Qur’an. Arti dari membacanya adalah mengikuti semua yang terkandung di dalamnya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, berjalan di atas petunjuk-Nya, membenarkan seluruh pengabaran-Nya, merenungi makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan membaca lafaz-lafaznya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Maksud dari penyebutan </span><span style="color: #000000;"><b>“bacalah”</b></span><span style="color: #000000;"> dalam ayat ini hanyalah penyebutan sebagian makna untuk mewakili makna yang lain. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa arti perkataan </span><span style="color: #000000;"><b>“bacalah”</b></span><span style="color: #000000;"> adalah menjalankan agama seluruhnya. Sehingga perintah berikutnya, yaitu </span><span style="color: #000000;"><b>“dan dirikanlah </b></span><span style="color: #000000;"><i><b>shalat</b></i></span><span style="color: #000000;"><b>!”</b></span><span style="color: #000000;"> hanyalah penyebutan sebagian hal dari keumuman perintah untuk menjalankan seluruh agama.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Di dalam ayat ini terdapat perintah khusus untuk mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">, karena </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> memiliki banyak keutamaan, kemuliaan dan akibat-akibat yang sangat indah, di antaranya (disebutkan pada ayat ini) </span><span style="color: #000000;"><b>“Sesungguhnya </b></span><span style="color: #000000;"><i><b>shalat</b></i></span><span style="color: #000000;"><b> itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><i>Al-Fahsyaa’</i></span><span style="color: #000000;"> (perbuatan-perbuatan keji) artinya seluruh dosa yang dianggap besar dan sangat buruk dan jiwa terpancing untuk melakukannya. </span><span style="color: #000000;"><i>Al-Munkar</i></span><span style="color: #000000;"> adalah setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah manusia. Mengapa </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Ini dikarenakan seorang hamba jika mengerjakannya dengan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syarat </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> serta memperhatikan ke-</span><span style="color: #000000;"><i>khusyuu</i></span><span style="color: #000000;">’-annya, maka hal tersebut dapat menerangi dan membersihkan hatinya, menambah keimanannya, semakin kuat keinginannya untuk berbuat baik dan semakin sedikit atau bahkan tidak ada keinginan untuk melakukan keburukan.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Oleh karena itu, dengan selalu mengerjakan dan menjaga </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> dengan sifat yang telah disebutkan, </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> akan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang keji dan mungkar. Dan ini termasuk tujuan dan hasil dari </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">. </span><span style="color: #000000;"><i>Dzikir</i></span><span style="color: #000000;"> di dalam </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> mencakup </span><span style="color: #000000;"><i>dzikir </i></span><span style="color: #000000;"> di dalam hati, lisan dan badan. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia hanyalah untuk beribadah kepadanya. Dan ibadah yang paling </span><span style="color: #000000;"><i>afdhal</i></span><span style="color: #000000;"> yang dilakukan oleh manusia adalah </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">. Di dalam </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> terdapat ibadah dengan menggunakan seluruh tubuh, yang tidak terdapat pada ibadah selainnya. Oleh karena itu, Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala</i></span><span style="color: #000000;"> mengatakan, “Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<b>Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan,”</b></span><span style="color: #000000;"> baik hal-hal yang baik maupun yang buruk. Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala</i></span><span style="color: #000000;"> akan membalas dengan balasan yang sesuai.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><b><span style="color: #ff0000;">Penjabaran Ayat</span><br>
</b></span></h4>
<p class="arab" align="CENTER"><strong>وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ</strong></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;">“<b>Dan dirikanlah </b></span><span style="color: #000000;"><i><b>shalat</b></i></span><span style="color: #000000;"><b>! Sesungguhnya </b></span><span style="color: #000000;"><i><b>shalat</b></i></span><span style="color: #000000;"><b> itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">memerintahkan hamba-Nya untuk mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">. </span><span style="color: #000000;"><i>Shalat</i></span><span style="color: #000000;"> memiliki berbagai macam manfaat. Di antara manfaat </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> adalah seseorang akan terhalangi untuk mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Diriwayatkan dari Abu Hurairah </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallaahu ‘anhu</i></span><span style="color: #000000;"> bahwasanya dia berkata:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّي بِاللَّيْلِ، فَإِذَا أَصْبَحَ سَرَقَ. قَالَ: (( إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا تَقُولُ.))</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Sesungguhnya si Fulan shalat di malam hari, tetapi di waktu pagi dia mencuri.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya shalatnya tersebut akan menahan dirinya untuk melakukan seperti yang engkau katakan</i></span><span style="color: #000000;">.’.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Ibnu Mas’uud dan Ibnu ‘Abbas </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallaahu ‘anhumaa</i></span><span style="color: #000000;"> berkata:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">في الصلاة منتهى ومزدجر عن معاصي الله، فمن لم تأمره صلاته بالمعروف، ولم تنهه عن المنكر، لم يزدد بصلاته من الله إلا بعدًا.</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"> “Di dalam </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> terdapat sesuatu yang dapat menahan dan mencegah seseorang dari mengerjakan perbuatan maksiat kepada Allah. Barang siapa yang </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">nya tidak menyuruhnya untuk melakukan perbuatan ma’ruuf (yang baik) dan tidak melarangnya dari perbuatan mungkar, maka dia hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah dengan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> tersebut.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Al-Qatadah dan Al-Hasan </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahumallaah</i></span><span style="color: #000000;"> berkata:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر فصلاته وبال عليه</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"> “Barang siapa yang </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">nya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan fahsyaa’ dan mungkar, maka </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">nya tersebut menjadi perusak dirinya.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p class="arab" align="CENTER"><strong>وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ</strong></p>
<p align="CENTER"><span style="color: #000000;"><b>Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Perkataan Allah “dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” ditafsirkan dengan berbagai macam tafsir berikut:</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY">Mengingat Allah lebih besar pengaruhnya untuk menahan seseorang dari melakukan perbuatan keji dan mungkar daripada shalat, karena shalat memang dapat mencegah seseorang untuk melakukan kemungkaran di dalam shalat, tetapi ketika di luar shalat pengaruhnya lebih kecil. Sedangkan ber-dzikir kepada Allah bisa menjadi pelindung darinya dari melakukan perbuatan mungkar setiap saat<span style="color: #000000;"><span style="font-size: small;">.<br>
</span>Ber-</span><span style="color: #000000;"><i>dzikir</i></span><span style="color: #000000;"> kepada Allah termasuk amalan yang paling afdhal. Di dalam riwayat Abud-Darda’ </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallaahu ‘anhu</i></span><span style="color: #000000;">, Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="color: #000000;"> bersabda kepada para sahabatnya: </span></p>
<p class="arab">(( أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَرْضَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَمِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ )) قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (( ذِكْرُ اللَّهِ.))</p>
<p><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Maukah saya kabarkan kepada kalian amalan yang paling baik dari amalan-amalan kalian, lebih di-ridha-i oleh Pemilik kalian, lebih meningggikan kalian dari derajat-derajat kalian, lebih baik daripada memberikan emas dan perak, serta lebih baik daripada kalian bertemu dengan musuh kalian, kalian penggal kepala-kepala mereka kemudian mereka memenggal kepala kalian?” Mereka pun berkata, “Apakah itu, ya Rasulullah!” Beliau berkata, “Dzikir kepada Allah</i></span><span style="color: #000000;">.”</span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">“Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya Dzikir Allah (di hadapan para malaikat kepada hamba-hambanya) lebih besar (daripada dzikir hamba kepada Allah). Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhaanahu wa ta’aala berkata:</p>
<p class="arab">مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ مِنَ النَّاسِ ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ.</p>
<p>“Barang siapa yang mengingatku di dalam dirinya maka aku akan mengingatnya di dalam diriku. Barang siapa yang mengingatku di sekelompok orang, maka Aku akan mengingatnya di sekelompok (makhluk) yang lebih banyak dan lebih baik dari itu.”<a href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc">5<br>
</a>‘Abdullah bin Rabi’ah <em>rahimahullaah </em>berkata, “Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui tafsir dari perkataan Allah ta’aalaa (وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ )?’ Saya pun mengatakan, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Apa tafsirnya?’ Saya menjawab, ‘Dia adalah bertasbih, bertahmid dan bertakbir di dalam shalat, begitu pula membaca Al-Qur’an dan yang sejenisnya.’ Beliau berkata, ‘Engkau telah mengatakan sesuatu perkataan yang mengherankan. Artinya tidak seperti itu, tetapi yang benar adalah Allah mengingat kalian ketika Allah memerintahkan dan melarang di saat kalian mengingatnya, lebih besar daripada ingat kalian kepada-Nya.</p>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<p align="JUSTIFY">“Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar” diterjemahkan dengan “Dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan shalat) adalah lebih besar (daripada mengingatnya di selain shalat). Hal ini sebagaimana terdapat pada ayat:</p>
<p class="arab">{فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ}</p>
<p>“Bersegeralah menuju dzikir (mengingat) Allah.” (QS Al-Jumu’ah: 9)<br>
Arti dzikir dalam ayat ini adalah shalat Jumat. Begitu pula dengan ayat dalam surat Al-‘Ankabuut ini, arti dzikir dalam ayat ini adalah shalat.</p>
</li>
</ol>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><i><b>Shalat</b></i><b> mencegah dari perbuatan keji dan mungkar</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><i>Shalat</i></span><span style="color: #000000;"> bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana disebutkan di dalam ayat ini. Begitu pula seperti apa yang dialami oleh Nabi Syu’aib </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihissalaam</i></span><span style="color: #000000;">. Kaum Nabi Su’aib </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihissalaam</i></span><span style="color: #000000;"> mencela Nabi Syu’aib dengan mengatakan:</span></p>
<p class="arab" align="RIGHT">قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Mereka berkata, ‘Ya Syu’aib apakah shalatmu yang memerintahkan kepadamu agar kami meninggalkan apa-apa yang bapak-bapak kami ibadahi atau kami melakukan pada harta-harta kami apapun yang kami inginkan</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS. Huud: 87).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Nabi Syu’aib </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihissalaam</i></span><span style="color: #000000;"> terkenal dengan kerajinannya dalam mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">, sehingga kaumnya pun terheran-heran ketika mereka disuruh untuk meninggalkan kesyirikan dan meninggalkan perbuatan haram mereka dalam mencari harta. Ini menunjukkan bahwa </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> berpengaruh terhadap ketaatan seseorang kepada Allah dan dapat menahan dirinya untuk mencari harta dari jalan yang diharamkan.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><i><b>Shalat</b></i><b> yang seperti apa yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Abul-‘Aliyah </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullaah</i></span><span style="color: #000000;"> mengatakan:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">إن الصلاة فيها ثلاث خصال فكل صلاة لا يكون فيها شيء من هذه الخلال فليست بصلاة: الإخلاص والخشية وذكر الله. فالإخلاص يأمره بالمعروف، والخشية تنهاه عن المنكر، وذكر القرآن يأمره وينهاه.</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“Sesungguhnya di dalam </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> terdapat tiga hal. Setiap </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> yang tidak terdapat satu hal saja dari ketiga hal ini maka dia bukanlah </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">, yaitu: keikhlasan, rasa takut dan mengingat Allah. Keikhlasan akan menyuruhnya untuk berbuat kema’ruufan, ketakutannya kepada Allah akan melarangnya dari perbuatan mungkar dan </span><span style="color: #000000;"><i>dzikir-</i></span><span style="color: #000000;">nya dengan membaca Al-Qur’an akan menyuruh dan melarangnya.”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Ibnu ‘Aun Al-Anshari </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullaah</i></span><span style="color: #000000;"> berkata:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">إذا كنت في صلاة فأنت في معروف، وقد حجزتك عن الفحشاء والمنكر</span><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“Apabila engkau sedang </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">, maka engkau berada di dalam hal yang </span><span style="color: #000000;"><i>ma’ruf</i></span><span style="color: #000000;"> (baik). Engkau telah menahan dirimu dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi </span><span style="color: #000000;"><i>hafidzhahullaah</i></span><span style="color: #000000;"> berkata, “Di dalam </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> hal pertama yang dilakukan adalah mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, kemudian hal kedua adalah menjaga kebersihan hati dari memalingkan ibadah kepada selain </span><span style="color: #000000;"><i>Rabb (Allah) ta’aalaa</i></span><span style="color: #000000;"> ketika mengerjakannya. Kemudian mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> pada waktu-waktunya di masjid-masjid, rumah Allah, dan bersama jamaah kaum muslimin, hamba-hamba Allah dan wali-walinya. Kemudian memperhatikan rukun-rukunnya, di antaranya: membaca Al-Fatihah, </span><span style="color: #000000;"><i>ruku’</i></span><span style="color: #000000;"> serta ber-</span><span style="color: #000000;"><i>thuma’ninah</i></span><span style="color: #000000;"> di dalamnya, bangkit dari </span><span style="color: #000000;"><i>ruku’</i></span><span style="color: #000000;"> serta ber-</span><span style="color: #000000;"><i>thuma’ninah</i></span><span style="color: #000000;"> di dalamnya, kemudian sujud di atas dahi dan hidung serta ber-</span><span style="color: #000000;"><i>thuma’ninah</i></span><span style="color: #000000;"> di dalamnya dan rukun terakhirnya adalah </span><span style="color: #000000;"><i>khusyuu’</i></span><span style="color: #000000;">, yaitu ketenangan, kelembutan hati dan meneteskan air mata. </span><span style="color: #000000;"><i>Shalat</i></span><span style="color: #000000;"> yang seperti inilah yang memunculkan cahaya energi yang dapat menghalangi seseorang dari menceburkan dirinya ke dalam syahwat dan dosa, serta mendatangi perbuatan keji dan mengerjakan perbuatan mungkar.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Pengaruh dosa pada rezeki seorang hamba</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Dosa yang dilakukan oleh seseorang dapat berpengaruh terhadap rezeki yang Allah berikan kepadanya. Allah menahan rezeki orang-orang yang berbuat maksiat. Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">berfirman:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Al-A’raf : 96)</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ </span><span style="color: #000000;">(65) </span><span style="color: #000000;">وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ </span><span style="color: #000000;">(66)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Al-Ma-idah: 65-66)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا </span><span style="color: #000000;">(2) </span><span style="color: #000000;">وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ </span><span style="color: #000000;">(3)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“(2) </span><span style="color: #000000;"><i>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Ayat-ayat di atas menunjukkan kaitan yang besar antara rezeki seseorang dengan ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang berbuat maksiat kepada Allah bukanlah orang yang bertakwa kepada-Nya.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Menjaga </b><i><b>shalat</b></i><b> dapat melancarkan rezeki seseorang</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Orang yang meninggalkan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> telah melakukan dosa yang sangat besar. Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Sesungguhnya pembeda antara seseorang dengan kesyirikan atau kekafiran adalah meninggalkan shalat</i></span><span style="color: #000000;">.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Orang yang meninggalkan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah. Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">menyebutkan kaitan yang erat antara </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> dan rezeki seseorang di dalam ayat berikut, Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">berfirman:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى </span><span style="color: #000000;">(131) </span><span style="color: #000000;">وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى </span><span style="color: #000000;">(132)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“(131) </span><span style="color: #000000;"><i>Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (132) Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Thaha: 131-132).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa orang yang mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> kemudian memiliki kesabaran yang kuat ketika mengerjakannya, maka dia akan diberikan rezeki oleh Allah tanpa bersusah payah mencarinya. Dan ini adalah ganjaran bagi orang yang bertakwa kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Di dalam kisah Nabi Syu’aib </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihissalaam</i></span><span style="color: #000000;">, Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">menyebutkan perkataan Nabi Syu’aib setelah kaumnya memahami bahwa </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">lah yang menahan diri beliau untuk melakukan perbuatan mungkar: </span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)</i></span><span style="color: #000000;">?” (QS Huud: 88).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Nabi Syu’aib </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihissalam</i></span><span style="color: #000000;"> menjelaskan kepada mereka bahwa dengan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> dan penjelasan yang nyata dari </span><span style="color: #000000;"><i>Rabb</i></span><span style="color: #000000;">-nya, maka Allah memberikan kepadanya rezeki yang baik dan halal. Berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Mereka sibuk mencari harta-harta haram.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Akan tetapi, sebagian orang tidak mempercayai adanya kaitan yang erat antara </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> dengan rezeki seseorang. Ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Syu’aib </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihissalaam</i></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY">قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"> “</span><span style="color: #000000;"><i>Wahai Syu’aib! Kami tidak paham banyak hal dari apa yang kamu katakan</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Huud: 91).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Hal ini dikarenakan terikatnya hati-hati mereka dengan dunia lebih besar daripada keterikatan mereka dengan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;">. </span></p>
<h4 align="JUSTIFY">
<span style="color: #ff0000;"><b>Bertaubat dari meninggalkan </b><i><b>shalat</b></i></span><b> </b>
</h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Orang-orang yang belum bisa mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> lima waktu sudah sepantasnya bertaubat kepada Allah dengan segera. Sesungguhnya Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">Maha Mengampuni hamba-hambanya yang bertaubat kepada-Nya. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Di antara hal-hal yang dapat meleburkan dosa adalah mengerjakan </span><span style="color: #000000;"><i>shalat</i></span><span style="color: #000000;"> lima waktu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah </span><span style="color: #000000;"><i>radhiallaahu ‘anhu</i></span><span style="color: #000000;"> bahwasnya dia mendengar Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="color: #000000;"> bersabda:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ ؟ قَالُوا </span><span style="color: #000000;">: </span><span style="color: #000000;">لاَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا</span><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><i>Bagaimana menurut kalian jika di depan pintu seorang di antara kalian terdapat sungai yang setiap hari dia mandi di dalamnya. Apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat menjawab, “Tidak tersisa kotoran sedikit pun di tubuhnya.” Beliau berkata, “Seperti itulah shalat lima waktu, Allah bisa menghapuskan dosa-dosa dengannya</i></span><span style="color: #000000;">.”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">menjanjikan rezeki yang berlimpah untuk orang-orang yang mau bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah </span><span style="color: #000000;"><i>subhaanahu wa ta’aala </i></span><span style="color: #000000;">berfirman:</span></p>
<p class="arab" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا </span><span style="color: #000000;">(10) </span><span style="color: #000000;">يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا </span><span style="color: #000000;">(11) </span><span style="color: #000000;">وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا </span><span style="color: #000000;">(12)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“(10) </span><span style="color: #000000;"><i>Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu! Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, (11). Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (12) Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai</i></span><span style="color: #000000;">.” (QS Nuuh: 10-12)</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Kesimpulan</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:</span></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY">Shalat dan Dzikir kepada Allah dapat menahan seseorang dari mengerjakan pekerjaan keji dan mungkar.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yang terpenuhi di dalamnya: rukun-rukun shalat, keikhlasan, kekusyu’an, ketakutan kepada Allah dan dzikir kepada Allah.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Perbuatan dosa seseorang dapat menahan rezeki Allah kepadanya dan ketakwaan dapat melancarkannya.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Shalat sangat berpengaruh kepada ketakwaan seseorang dan dapat menjadi sebab dibukakannya pintu rezeki yang halal dan baik.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa seseorang yang telah lalu.</p>
</li>
</ol>
<p>***</p>
<h5 align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><b>Daftar Pustaka</b><br>
</span></h5>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Aisarut-Tafaasiir li kalaam ‘Aliyil-Kabiir</em>. Jabir bin Musa Al-Jazairi. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Uluum wal-hikam</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Al-‘Ibaadaatu Asbaabun Ta</em>hmii minal-Mashaa-ib wa Tarfa’uhaa Bi-idznillah. Dr. Munirah Al-Muthlaq. Majallah Al-Buhuuts Al-Islaamiyah vol. 94. http://www.alifta.net.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Al-Jaami’ Li Ahkaamil-Qur’aan</em>. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Asbaabul-Barakah fir-Rizqi</em>. Khuthbatul-Jum’ah li Asy-Syaikh Abdul-‘Aziz Ali Asy-Syaikh. <em>www.sahab.net.</em></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>At-Ta</em>hriir wa At-Tanwiir. Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1997. Tunisia: Dar Sahnuun.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Ma’aalimut-tanziil</em>. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh:Daar Ath-Thaibah.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Adzhiim</em>. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><em>Taisiir Al-Kariim Ar-Ra</em>hmaan. Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.</p>
</li>
</ol>
<h5>Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> <span style="font-size: small;"> Tafsiir As-Sa’di hal. 632.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a> <span style="font-size: small;"> HR Ahmad no. 9778. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Isnad-nya shahiih rijaal-nya tsiqaat, rijaal Asy-Syaikhain.”</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> <span style="font-size: small;"> Lihat kedua atsar ini di dalam Tafsiir Ibni Katsiir VI/244.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a> <span style="font-size: small;"> Lihat Tafsiir Al-Qurthubi XIII/349, Tafsir Ibni Katsiir VI/283, At-Tahriir wa At-Tanwiir XX/179-180, Tafsiir As-Sa’di dan Aisarut-Tafaasiir III/209.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> <span style="font-size: small;"> HR Ahmad no. 8650. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Shahiih.”</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a> <span style="font-size: small;"> Lihat kedua atsar tersebut di dalam Tafsiir Ibni Katsiir VI/282.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a> <span style="font-size: small;"> Aisarut-Tafaasiir III/209.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a> <span style="font-size: small;"> HR Muslim no. 82/246.</span></p>
<p align="LEFT">—</p>
<p align="LEFT">Penulis: Ust. Sa’id Yai Ardiansyah, Lc., MA.</p>
<p align="LEFT">Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 