
<p><span style="font-weight: 400;">Saat ini, kita jumpai adanya semangat sebagian saudara-saudara kita untuk berobat dengan metode </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Tentu saja semangat ini layak untuk kita syukuri, karena menunjukkan komitmen dan kesungguhan mereka untuk melaksanakan sunnah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Namun, semangat saja tidaklah cukup dalam beragama, karena harus disertai dengan ilmu yang memadai. Sebagian orang salah paham tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan menganggap bahwa semua bentuk pengobatan herbal termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Pemahaman ini tentu kurang tepat. Oleh karena itu, dalam tulisan ini kami akan membahas tentang pengertian atau definisi </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/37761-herbal-berbeda-dengan-thibbun-nabawi.html" data-darkreader-inline-color="">Herbal Berbeda Dengan Thibbun Nabawi</a></strong></p>
<h2>
<b>Mengenal Pengertian </b><b><i>Thibb Nabawi</i></b>
</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الأدوية الحسية معروفة، وهي نوعان، منها ما تلقاه الناس من الشرع، ومنها ما تلقوه من التجارب، فمما تلقاه الناس من الشرع، التداوي بالعسل فإن ذلك دواء شرعي ، ودليله قوله عزوجل في النجل: (( يخرج من بطونها شراب مختلف ألوانه فيه شفاء للناس))، ومن ذلك الحبة السوداء فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إنها شفاء من كل داء إلا السام )) وهو الموت، ومنها الكمأ ( نوع من الفقع) قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم : (( الكمأة من المن وماؤها شفاء للعين))</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Metode pengobatan yang dapat kita saksikan itu ada dua jenis. Ada yang didapatkan melalui dalil syar’i dan ada yang didapatkan melalui penelitian (pengalaman). Adapun yang didapatkan melalui dari dalil syar’i contohnya adalah </span><b>madu.</b><span style="font-weight: 400;"> Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala tentang madu (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. </span></i><b><i>Di dalamnya terdapat obat</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> yang menyembuhkan bagi manusia.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl [16]: 68-69)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lainnya adalah </span><b><i>habbatus sauda,</i></b> <span style="font-weight: 400;">karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya habbatus sauda itu terdapat obat bagi segala penyakit, kecuali as-saam.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">as-saam</span></i><span style="font-weight: 400;">) adalah kematian.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44181-benarkah-air-hujan-bisa-digunakan-untuk-berobat.html" data-darkreader-inline-color="">Benarkah Air Hujan Bisa Digunakan untuk Berobat?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga </span><b><i>kam’ah</i></b><span style="font-weight: 400;"> (sejenis jamur tanah). Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span><i><span style="font-weight: 400;">”Kam’ah termasuk al-mann, airnya adalah obat untuk (penyakit) mata.” </span></i><b>(</b><b><i>Al-Irsyaad ila Thabiibil Muslim, </i></b><b>1: 4)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan penjelasan di atas, thibb nabawi adalah metode pengobatan yang bersumber dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><b>Dengan kata lain, sumber pengetahuan tentang metode </b><b><i>thibb nabawi</i></b><b> adalah wahyu (dalil syar’i), baik yang didapatkan dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.</b><span style="font-weight: 400;"> Ibnu Hajar Al-Asqalani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">طب النبي صلى الله عليه وسلم متيقن البرء لصدوره عن الوحي وطب غيره أكثره حدس أو تجربة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pengobatan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini mendatangkan kesembuhan </span></i><b><i>karena bersumber dari wahyu.</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> Sedangkan pengobatan lainnya, kebanyakan berdasarkan praduga atau eksperimen.” </span></i><b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>10: 170)</b><i> </i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">“thibb nabawi” </span></i><span style="font-weight: 400;">dimaksudkan untuk semua petunjuk valid dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang berkaitan dengan masalah pengobatan, dimana Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berobat dengannya atau beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">gambarkan (jelaskan) kepada orang lain, baik (bersumber dari) ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits yang mulia.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45745-menjaga-kesehatan-dengan-menjauhi-maksiat.html" data-darkreader-inline-color="">Menjaga Kesehatan dengan Menjauhi Maksiat</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal itu mencakup metode yang bersifat pencegahan (preventif) atau pengobatan (kuratif) yang dijelaskan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam; </span></i><span style="font-weight: 400;">atau yang beliau kabarkan; atau beliau memotivasi untuk berobat dengannya; atau wasiat-wasiat beliau yang berkaitan dengan kesehatan manusia dalam berbagai kondisi kehidupannya, baik berupa makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, pernikahan; dan mencakup pula ajaran syariat yang berkaitan dengan perkara pengobatan dan pencegahan penyakit, atau ruqyah syar’iyyah, atau adab berobat dan praktek pengobatan.” </span><b>(</b><b><i>Ath-Thibb Nabawi: Wahyun am Tajribat, </i></b><b>hal. 5-6)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena bersumber dari wahyu atau penjelasan dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka kita dapati tiga model penjelasan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">penjelasan melalui ucapan (dalam bentuk kalimat berita) atau perintah secara lisan. Misalnya, perkataan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tentang keutamaan habbatus sauda atau </span><i><span style="font-weight: 400;">kam’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">di atas. Atau perintah lisan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kepada saudara salah seorang sahabatnya yang sakit perut untuk meminum madu. </span><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/33992-tahnik-dan-manfaat-kesehatan-mitos-atau-fakta-02.html" data-darkreader-inline-color="">Tahnik dan Manfaat Kesehatan, Mitos atau Fakta?</a></strong></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">penjelasan berupa contoh tindakan atau praktik Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Misalnya, keterangan dari sahabat bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berbekam ketika sedang berpuasa atau pada saat melakukan ihram. </span></p>
<p><b>Ke tiga, </b><span style="font-weight: 400;">penjelasan berupa ucapan lisan dan praktik perbuatan (gabungan antara jenis pertama dan ke dua). Misalnya, selain melakukan bekam, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menjelaskan tentang keutamaan bekam dalam beberapa sabda beliau. </span><b>[2]</b></p>
<p><b>Ke empat, </b><span style="font-weight: 400;">penjelasan berupa persetujuan (taqrir) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> atas metode yang dilakukan oleh para sahabatnya. Misalnya, persetujuan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap tindakan sahabat yang meruqyah orang yang tersengat kalajengking dengan membacakan surat Al-Fatihah. Para sahabat melaporkan metode ruqyah tersebut kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan beliau menyetujuinya dan tidak mengingkarinya. </span><b>[3]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapati bahwa sumber utama thibb nabawi adalah wahyu, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun As Sunnah. Oleh karena itu, thibb nabawi tidaklah identik dengan pengobatan herbal saja, apalagi herbal dengan menggunakan bahan-bahan yang tidak terdapat penjelasannya dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Misalnya, obat-obatan herbal yang berasal dari daerah tertentu (Cina atau India) yang tidak berdalil dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ada seorang praktisi herbal meracik bahan-bahan tradisional tertentu, lalu dicampur dengan sedikit madu atau sedikit habbatus sauda, maka ramuan ini tentu tidak layak diklaim sebagai thibb nabawi. Apalagi jika klaim tersebut hanya bertujuan untuk menipu konsumen dan melariskan dagangan saja. Selain itu, kita juga tidak boleh beranggapan bahwa ramuan tersebut merupakan bagian dari ajaran agama Islam, sehingga apabila dipraktikkan akan mendapatkan pahala atau mendapatkan keberkahan. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27406-doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat-dan-kesehatan.html" data-darkreader-inline-color="">Doa Berlindung Dari Hilangnya Nikmat Dan Kesehatan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/8958-narkoba-dalam-pandangan-kesehatan.html" data-darkreader-inline-color="">Narkoba dalam Pandangan Kesehatan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<div class="post-meta"></div>
<p>Simak selengkapnya disini. Klik <a href="https://muslim.or.id/page/2?s=kesehatan">https://muslim.or.id/page/2?s=kesehatan</a></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Puri Gardenia, 26 Rajab 1440/2 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b> <span style="font-weight: 400;">Silakan disimak tulisan kami di sini: Thibb Nabawi: Pengobatan dengan Madu (01) </span></p>
<p><b>[2] </b> <span style="font-weight: 400;">Silakan disimak tulisan kami di sini: Menyikapi Metode Pengobatan Bekam (Hijamah) dengan Bijak (01) </span></p>
<p><b>[3]</b> <span style="font-weight: 400;">Silakan disimak tulisan kami di sini: Ruqyah vs. Operasi Caesar (01): Pengertian Ruqyah </span></p>
 