
<p><strong>Baca Pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47421-pengertian-thibb-nabawi-dan-cara-menyikapinya-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Pengertian Thibb Nabawi dan Cara Menyikapinya (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Syariat Nabi</b><b><i> shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></b><b>Murni Ibadah ataukah Ada Manfaat Kesehatan?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah dan mentauhidkan Allah Ta’ala merupakan tujuan penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” </span><b>(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di atas pondasi inilah, seluruh ajaran dan syariat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berpangkal, yaitu untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dan menjauhkan umatnya dari kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul untuk tiap-tiap umat (untuk menyerukan),’Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.’”</span> <b>(QS. An-Nahl [16]: 36)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga tujuan utama dari amal yang kita lakukan adalah beribadah dan mengharap pahala dari-Nya, bukan tujuan-tujuan rendah yang sifatnya duniawi semata, termasuk tujuan kesehatan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, berkaitan dengan syariat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan manfaat kesehatan</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">harus kita bedakan beberapa jenis ini:</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26259-cara-pengobatan-dari-pengaruh-sihir-dan-kesurupan-jin-3.html" data-darkreader-inline-color="">Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan Jin</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b><i>Pertama, murni ibadah atau mencari keberkahan (tabarruk).</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jenis pertama, yaitu syariat yang dicontohkan atau diperintahkan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena murni ibadah kepada Allah Ta’ala atau dalam rangka mencari berkah </span><i><span style="font-weight: 400;">(tabarruk). </span></i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada kaitannya dengan manfaat kesehatan tertentu. Ada atau tidak ada manfaat kesehatan yang diperoleh, amal tersebut hukumnya bisa jadi sunnah atau wajib.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh, tahnik bayi baru lahir. Hukum tahnik kepada bayi baru lahir adalah sunnah, dan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melakukannya dalam rangka </span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk </span></i><span style="font-weight: 400;">(mencari berkah dengan beribadah kepada Allah Ta’ala)</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Tidak ada kaitannya dengan manfaat kesehatan tertentu yang diterima oleh sang bayi. Oleh karena kita, kita pun melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tahnik </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala (bukan karena mencari berkah dari air liur pentahnik).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24285-mengapa-sangat-antipati-terhadap-pengobatan-medis-barat.html" data-darkreader-inline-color="">Mengapa Sangat Antipati Terhadap Pengobatan Medis Barat?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami jumpai beberapa pendapat yang mencoba menjelaskan manfaat tahnik bagi kesehatan bayi, misalnya untuk meningkatkan kadar glukosa darah bayi. Namun, tampaknya jauh sekali dan tidak didukung oleh pembuktian yang valid. Karena kuantitas lumatan kurma tentu sangat sedikit (minimal) sekali dan juga bervariasi antar individu pentahnik. Oleh karena itu, hendaknya kita mencukupkan diri dengan penjelasan ulama bahwa hikmah tahnik adalah agar yang pertama kali masuk ke perut bayi adalah sesuatu yang manis dan tidak perlu menghubung-hubungkan atau mencari-cari manfaat kesehatannya jika kita tidak memiliki bukti yang valid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh ke dua, yaitu perintah memanjangkan jenggot bagi kaum laki-laki. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">انْهَكُوا الشَّوَارِبَ، وَأَعْفُوا اللِّحَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pangkaslah kumis dan lebatkanlah jenggot.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5893 dan Muslim no. 259)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan perintah ini, memanjangkan jenggot hukumnya wajib. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak mengaitkannya dengan manfaat kesehatan tertentu. Oleh karena itu, kewajiban kita sebagai seorang muslim yang baik adalah melaksanakan perintah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">meskipun tidak ada manfaat kesehatan yang nyata bagi tubuh kita.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/3603-soal-107-pengobatan-jarak-jauh-sihir.html" data-darkreader-inline-color="">Pengobatan Jarak Jauh = Sihir?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;"><i>Ke dua, perbuatan yang beliau kerjakan karena ada manfaat kesehatan tertentu.</i></span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Contohnya adalah bekam. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mencontohkan bekam, dan beliau jelaskan bahwa ada manfaat kesehatan, bahkan beliau sebut sebagai sebaik-baik metode pengobatan. Terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah bekam itu sunnah atau mubah, maka jelas sekali bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengaitkan bekam dengan manfaat kesehatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, jika kita berbekam, kita bisa meniatkan untuk mengikuti (mencontoh) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">sehingga berpahala. Di samping kita juga menginginkan adanya manfaat langsung bekam tersebut untuk kesehatan tubuh kita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua hal ini hendaknya bisa dibedakan dan tidak dicampur-adukkan. Oleh karena itu, kita tidak boleh meng-klaim perbuatan yang dilakukan Nabi dalam rangka murni ibadah (jenis pertama), lalu kita katakan bahwa perbuatan tersebut memiliki manfaat kesehatan tertentu, tanpa ada dalil yang valid atau penjelasan para ulama terpercaya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45313-semangat-belajar-dan-meneliti-ilmu-kedokteran.html" data-darkreader-inline-color="">Semangat Belajar dan Meneliti Ilmu Kedokteran</a></strong></p>
<p><b>Perhatian Penting:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai sebuah metode pengobatan, </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak hanya berbicara tentang jenis teknik (misalnya bekam) atau bahan (misalnya madu) yang digunakan. Akan tetapi, </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah metode atau konsep yang kompleks, mencakup bagaimana mengetahui (mendiagnosis) penyakit, mengetahui dosis, indikasi, dan kontraindikasi suatu obat tertentu, dan sebagainya. Hal ini agar metode </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut menjadi metode pengobatan yang manjur (mujarab). Jika tidak terpenuhi, maka metode pengobatan tersebut, meskipun metode </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi,</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak akan memberikan kesembuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kompleksnya konsep metode </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">ini dapat kita ketahui dari penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">salah seorang ulama pakar </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi, </span></i><span style="font-weight: 400;">tentang syarat-syarat agar suatu metode pengobatan itu manjur (mujarab). Hal ini telah kami bahas di tulisan kami yang lain, sehingga silakan merujuk ke sana. </span><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45309-setiap-penyakit-ada-obat-bagaimana-dengan-aids-hiv.html" data-darkreader-inline-color="">Setiap Penyakit Ada Obat, Bagaimana dengan AIDS/HIV?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44586-rukyah-dengan-madu-habbatus-sauda-dan-minyak-zaitun.html" data-darkreader-inline-color="">Ruqyah dengan Madu, Habbatus Sauda dan Minyak Zaitun</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Puri Gardenia, 26 Rajab 1440/2 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b> Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya (02)</p>
 