
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47425-pengertian-thibb-nabawi-dan-cara-menyikapinya-bag-2.html" data-darkreader-inline-color=""> Pengertian Thibb Nabawi dan Cara Menyikapinya (Bag. 2)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dua Sikap Ekstrim dan Satu Sikap Pertengahan dalam Menyikapi </b><b><i>Thibb Nabawi</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam menyikapi pengobatan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi, </span></i><span style="font-weight: 400;">kita dapati sikap dua kelompok masyarakat yang kurang tepat. </span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">mereka yang belum mengenal bentuk-bentuk pengobatan seperti ini</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini merupakan sikap yang kurang tepat, karena secara tidak langsung menunjukkan kurangnya perhatian mereka dalam membaca dan menelaah hadits-hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Betapa banyak hadits-hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang membicarakan tentang jenis-jenis </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">dan bahkan sebagiannya tercantum dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Bukhari</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">? Oleh karena itu, jika ada sebagian di antara kita yang tidak mengenal </span><i><span style="font-weight: 400;">al-hijamah, habbatus sauda, </span></i><span style="font-weight: 400;">atau metode </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">lainnya, bisa jadi hal ini menunjukkan kurangnya perhatian mereka terhadap hadits-hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kondisi yang lebih parah adalah mereka yang mengenal </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun kemudian tidak beriman, tidak percaya, disertai sikap mencibir dan merendahkan pengobatan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini pun kurang tepat. Karena konsekuensinya, berarti mendustakan banyak hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menjelaskan hal ini.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28684-bolehkah-mempelajari-ilmu-kedokteran-dari-buku-orang-kafir.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Mempelajari Ilmu Kedokteran Dari Buku Orang Kafir?</a></strong></p>
<p><b>Ke dua,</b><span style="font-weight: 400;"> mereka yang berlebih-lebihan dalam mendudukkan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Bagi mereka, </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah satu-satunya bentuk pengobatan yang harus dipilih. Selain </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah pengobatan yang salah, tidak </span><i><span style="font-weight: 400;">“nyunnah”, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan tidak boleh ditempuh, apa pun dan bagaimana pun kondisi penyakit yang mereka derita. Atau menjadikan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai standar apakah seseorang itu termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">ahlus sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ataukah bukan. Yang berobat hanya dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">berarti </span><i><span style="font-weight: 400;">ahlus sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> tulen, sedangkan mereka yang berobat dengan pengobatan medis berarti kurang </span><i><span style="font-weight: 400;">“nyunnah” </span></i><span style="font-weight: 400;">atau diragukan ke-ahlus-sunnah-annya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara sikap dan perilaku yang muncul dari masyarakat kelompok ke dua ini antara lain:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Menganjurkan dilakukannya tindakan penyuntikan sari atau ekstrak </span><i><span style="font-weight: 400;">habbatus sauda </span></i><span style="font-weight: 400;">atau air </span><i><span style="font-weight: 400;">zam zam, </span></i><span style="font-weight: 400;">baik secara langsung melalui jarum suntik atau secara tidak langsung melalui cairan infus. Padahal, tindakan ini berbahaya dan dapat mengancam nyawa.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Lebih memilih </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">tanpa memperhatikan kondisi penyakit yang diderita. Padahal, penyakit tersebut memerlukan tindakan pembedahan segera (karena ada kelainan anatomis), atau memerlukan penggantian cairan tubuh secara darurat (misalnya dehidrasi berat karena diare), dan kondisi-kondisi lainnya. </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Mengklaim bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">dapat menggantikan fungsi vaksin. Cukup diberikan madu, kurma, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">habbatus sauda, </span></i><span style="font-weight: 400;">itu sudah berfungsi sebagai vaksin.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Menganggap tahnik pada bayi baru lahir adalah imunisasi alami, bahkan lebih jauh dari itu, dapat berfungsi sebagai media transfer kesalihan seseorang.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Mengklaim bahwa ibu-ibu yang akan melahirkan dan dalam kondisi gawat darurat dan harus dilakukan tindakan operasi sesar, bisa diganti dengan diruqyah dan tidak perlu dioperasi.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh-contoh di atas menunjukkan sikap berlebih-lebihan dalam menyikapi pengobatan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi, </span></i><span style="font-weight: 400;">apalagi hal ini kemudian dihubung-hubungkan dengan tingkat keimanan seseorang. Mereka yang hanya mau melakukan ruqyah dianggap paling tinggi imannya, sedangkan mereka yang menempuh pengobatan medis dianggap kurang rasa tawakkalnya kepada Allah Ta’ala.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24283-bolehkah-apoteker-memberi-obat-tanpa-resep-dokter.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Apoteker Memberi Obat Tanpa Resep Dokter?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sikap pertama dan ke dua di atas adalah sikap yang kurang tepat. </span></p>
<p><b>Ke tiga, </b><span style="font-weight: 400;">sikap yang terbaik adalah sikap pertengahan, yaitu tidak bersikap meremehkan (apalagi mendustakan) dan tidak pula bersikap berlebih-lebihan. Yaitu, kita beriman dengan hadits-hadits yang berbicara </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Namun, kita dudukkan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">secara proporsional. Artinya, kita juga menempuh pengobatan medis jika memang terbukti bermanfaat. Sebagaimana dulu Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga meminta tolong kepada tabib untuk mengobati sahabat beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">yang sedang sakit. Dan sikap ini pula yang dicontohkan oleh para ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana penjelasan selanjutnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/13068-soal-271-lebih-memilih-thibbun-nabawi-daripada-pengobatan-dokter.html" data-darkreader-inline-color="">Lebih Memilih Thibbun Nabawi daripada Pengobatan Dokter ?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Contoh Teladan Rasulullah </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></b><b>dan Para Ulama dalam Menyikapi Metode Pengobatan Orang Kafir</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengapa kita mengatakan bahwa sikap ke tiga, yaitu sikap pertengahan, merupakan sikap yang terbaik berkaitan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi? </span></i><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena kita dapati contoh teladan dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berkaitan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah sumber referensi utama kita dalam mengenal dan mempelajari </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi. </span></i><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ternyata juga bersikap terbuka dengan metode pengobatan atau praktik-praktik kesehatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jadamah binti Wahb</span><i><span style="font-weight: 400;"> radhiyallahu ‘anha, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata,</span><i><span style="font-weight: 400;">”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ، فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ، فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ، فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ شَيْئًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sungguh aku berkeinginan untuk melarang kalian dari melakukan ‘al-ghilah’ (yaitu, menyetubuhi istri ketika sedang menyusui anaknya). </span><b>Namun</b> <b>aku melihat (orang-orang) Romawi dan Persia, </b><span style="font-weight: 400;">mereka melakukan ‘al-ghilah’ terhadap anak mereka, dan tidak membahayakan (anak-anak) mereka sedikit pun.” </span><b>(HR. Muslim no. 1442)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak melarang perbuatan menyetubuhi istri ketika menyusui berdasarkan pengetahuan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> terhadap praktek dan pengalaman orang-orang Romawi dan Persia yang notabene adalah bangsa non-muslim.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/8237-haruskah-kedokteran-modern-dan-thibbun-nabawi-dipertentangkan.html" data-darkreader-inline-color="">Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits yang lain, dari Sa’ad </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَرِضْتُ مَرَضًا أَتَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ ثَدْيَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا عَلَى فُؤَادِي فَقَالَ: إِنَّكَ رَجُلٌ مَفْئُودٌ، ائْتِ الْحَارِثَ بْنَ كَلَدَةَ أَخَا ثَقِيفٍ فَإِنَّهُ رَجُلٌ يَتَطَبَّبُ فَلْيَأْخُذْ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِنْ عَجْوَةِ الْمَدِينَةِ فَلْيَجَأْهُنَّ بِنَوَاهُنَّ ثُمَّ لِيَلُدَّكَ بِهِنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pada suatu hari aku menderita sakit, kemudian Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjengukku. Beliau meletakkan tangannya di antara dua buah dadaku, sampai-sampai jantungku merasakan sejuknya tangan beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Engkau menderita penyakit jantung. </span><b>Temuilah Al-Harits bin Kalidah dari Bani Tsaqif, karena sesungguhnya ia adalah seorang tabib</b><span style="font-weight: 400;">. Dan hendaknya dia [Al-Harits bin Kalidah] mengambil tujuh buah kurma ajwah, ditumbuk beserta biji-bijinya, kemudian meminumkanmu dengannya.”</span><i> </i><b>(HR. Abu Dawud no. 3875) [1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun Rasulullah</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengetahui ramuan obat yang sebaiknya diminum, beliau tidak meracik dan mengobati sahabatnya sendiri. Beliau meminta sahabat Sa’ad </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> agar menemui ke Al-Harits bin Kalidah yang merupakan seorang tabib. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula teladan dari ibunda kaum muslimin, ‘Aisyah</span><i><span style="font-weight: 400;"> radhiyallahu ‘anha </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mempelajari berbagai jenis metode pengobatan. Hisyam bin ‘Urwah bertanya kepada ‘Aisyah</span><i><span style="font-weight: 400;"> radhiyallahu ‘anha,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أُمَّتَاهُ لَا أَعْجَبُ مِنْ فِقْهِكِ أَقُولُ زَوْجَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَابْنَةُ أَبِي بَكْرٍ وَلَا أَعْجَبُ مِنْ عِلْمِكِ بِالشِّعْرِ وَأَيَّامِ النَّاسِ أَقُولُ: ابْنَةُ أَبِي بَكْرٍ وَكَانَ أَعْلَمَ النَّاسِ وَلَكِنْ أَعْجَبُ مِنْ عِلْمِكِ بِالطِّبِّ كَيْفَ هُوَ؟ وَمِنْ أَيْنَ هُوَ؟ وَمَا هُوَ؟ قَالَ: فَضَرَبَتْ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَتْ: أَيْ عُرَيَّةُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْقَمُ فِي آخِرِ عُمُرِهِ فَكَانَتْ تَقْدُمُ عَلَيْهِ الْوُفُودُ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ فَتَنْعَتُ لَهُ فَكُنْتُ أُعَالِجُهُ فَمِنْ ثَمَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak heran ketika Engkau menguasai ilmu fiqh karena Engkau adalah istri Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak heran ketika Engkau pandai ilmu sya’ir dan sejarah manusia (Arab) karena Engkau adalah anak Abu Bakar dan Abu Bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan sejarah Arab, pen.).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28495-keutamaan-air-zam-zam.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Keutamaan Air Zam-Zam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, saya heran ketika Engkau mengusasi ilmu pengobatan (kedokteran), bagaimana dan dari mana Engkau mempelajarinya? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian ia menepuk kedua pundakku dan berkata, “Wahai Urwah yunior, setiap utusan kabilah </span><b>yang datang dari berbagai penjuru</b><span style="font-weight: 400;"> untuk mengobati sakit Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada akhir hayatnya, aku deskripsikan sakit yang diderita Nabi kepada dokter yang datang lantas aku yang menjelaskan resep yang diberikan dokter tersebut. Dengan hal ini aku menguasai ilmu kedokteran.” </span><b>(</b><b><i>Hilyatul Auliya’, </i></b><b>2: 50)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah di atas menguatkan bahwa ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha </span></i><span style="font-weight: 400;">juga mempelajari berbagai model pengobatan dari berbagai sumber, meskipun beliau sendiri adalah di antara sahabat yang paling dalam ilmunya terhadap sunnah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula sikap yang dicontohkan oleh para ulama kita </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Kita dapati perkataan yang masyhur dari Imam Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang memuji ilmu kedokteran Yahudi dan Nasrani. Padahal mereka adalah orang-orang kafir. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu tentang halal dan haram (yaitu ilmu agama, pen.)- yang lebih berharga daripada ilmu kedokteran. </span><b>Akan tetapi, ahli kitab telah mengalahkan kita.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Siyar A’laam An-Nubalaa’, </i></b><b>8: 528)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun menyesalkan kaum muslimin yang menyia-nyiakan dan lalai untuk belajar ilmu kedokteran. Beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mereka (umat Islam) telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu (yang beliau maksud adalah ilmu kedokteran, pen.) </span></i><b><i>dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.</i></b><i><span style="font-weight: 400;">”</span></i><b> (</b><b><i>Siyar A’laam An-Nubalaa’, </i></b><b>8: 528)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44584-hukum-meruqyah-dengan-air-zamzam.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Meruqyah dengan Air Zamzam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak kita ragukan bahwa Imam Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah ulama yang memahami hadits-hadits yang berkaitan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dan jika menurut beliau itu sudah cukup, lalu untuk apa beliau memuji ilmu kedokteran Yahudi dan Nasrani, dan bahkan menyesalkan kondisi kaum muslimin yang jauh tertinggal dalam bidang ilmu kedokteran dibandingkan mereka?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekali lagi dapat kita simpulkan bahwa sikap terbaik adalah sikap pertengahan. Yaitu kita beriman dengan keutamaan </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun dengan tetap bersikap proporsional. Di antaranya dengan bersikap terbuka terhadap metode pengobatan yang dikembangkan ilmu kedokteran medis saat ini, selama tidak menyelisihi hukum-hukum syariat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أرى أن يجمع الإنسان بين هذا وهذا ولا منافاة بأن يجمع بين الرقية الشرعية وكذلك الأدوية الحسية ولا مانع</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Saya berpendapat hendaknya manusia menggabungkan antara ini (ruqyah syar’iyyah, pen.) dan ini (ilmu pengobatan, pen.). </span><b>Tidak ada pertentangan dan penghalang dalam menggabungkan ruqyah syar’iyyah dan ilmu pengobatan.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Al-Irsyaad li Thabiibil Muslim, </i></b><b>hal. 14) [2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الأمراض النفسية كثيراً ما تستعصي على الأطباء إذا عالجوها بالأدوية الحسية، ولكن دواؤها بالرقية ناجع ومفيد ، وكذلك الأمراض العقلية، تنفع فيها الأدوية الشريعة وقد لا تنفع فيها الأدوية الحسية، لذلك أريد منكم أيها الأخوة أن تلاحظوا هذا وإذا أمكنكم أن تجمعوا بين الدواءين فهو خير، أي الحسي والشرعي، حتى تصرفوا قلوب المرضى إلى التعلق بالله عزوجل وآياته، وحينئذ أحيلكم إلى الكتب المؤلفة في هذا الشأن، أن تطالعوها وتحفظوها وترشدوا إليها المرضى، لأن تعلق المريض بالله عز وجل له أثر قوي في إزالة المرض أو تخفيف المرض</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Penyakit kejiwaan itu banyak, yang tidak mampu diobati oleh para dokter dengan pengobatan fisik. Akan tetapi, pengobatan dengan ruqyah akan berhasil dan bermanfaat. Begitu juga penyakit akal, terkadang pengobatan syar’i akan bermanfaat, namun pengobatan fisik tidak mendatangkan manfaat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, aku menginginkan kalian saudara-saudaraku (para dokter) untuk memperhatikan hal ini. </span><b>Dan jika memungkinkan bagi kalian untuk menggabungkan kedua jenis pengobatan ini, tentu lebih baik, yaitu pengobatan fisik dan pengobatan syar’i.</b><span style="font-weight: 400;"> Sehingga hal ini akan mendorong kalian untuk mempelajari buku-buku yang membahas ruqyah, menelaah, menghapal, dan mengarahkan orang sakit untuk membaca buku ruqyah. Bergantungnya hati orang sakit kepada Allah Ta’ala memiliki pengaruh yang kuat untuk menghilangkan atau meringankan penyakit.” </span><b>(</b><b><i>Al-Irsyaad li Thabiibil Muslim, </i></b><b>hal. 14)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga dengan penjelasan ini dapat membuka ilmu dan pengetahun saudara-saudara kami yang masih berlebih-lebihan dalam menyikapi </span><i><span style="font-weight: 400;">thibb nabawi.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44001-bentuk-bentuk-ruqyah-dengan-menggunakan-air.html" data-darkreader-inline-color="">Bentuk-Bentuk Ruqyah dengan Menggunakan Air</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43580-meruqyah-perempuan-yang-sedang-haidh.html" data-darkreader-inline-color="">Meruqyah Perempuan yang Sedang Haidh</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Puri Gardenia, 26 Rajab 1440/2 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b> <span style="font-weight: 400;">Hadits ini dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud </span></i><span style="font-weight: 400;">no. 3875.</span></p>
<p><b>[2] </b> <span style="font-weight: 400;">Yang beliau maksud dengan </span><b><i>al-adwiyyah al-hissiyyah</i></b> <span style="font-weight: 400;">di sini pada asalnya mencakup pengobatan medis dan pengobatan tradisional [non-medis].</span></p>
 