
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>5. Terpenuhinya Alasan Hukum (</b><b><i>ta’lil</i></b><b>) Vonis Syirik bagi Pemakai Jimat yang Berkeyakinan Bahwa Jimat Hanya Sebagai Sebab Semata</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ditinjau dari makna dalil-dalil tentang larangan penggunaan jimat atau rajah, maka ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyimpulkan bahwa</span> <span style="font-weight: 400;">walaupun pemakai jimat berkeyakinan jimat itu sekedar sebab saja, tetaplah divonis syirik kecil, karena beberapa alasan hukum berikut ini:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Hati pemakai jimat tergantung kepada jimat tersebut.</span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Pemakai jimat telah menjadikan jimat itu sebagai sebab, padahal itu bukanlah sebab, sehingga pemakainya dinilai telah ikut serta dengan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam menentukan hukum tentang sesuatu itu sebagai sebab, padahal Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak menjadikannya sebagai sebab. </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Hal itu merupakan sarana yang mengantarkan kepada syirik besar (akbar), sehingga kendatipun dalam nash memakai jimat itu divonis syirik, namun hanya dihukumi syirik kecil dan tidak sampai tingkatan syirik besar.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut ini beberapa nukilan ucapan para ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa keyakinan memakai jimat gelang, kalung dan semisalnya yang hanya sekedar sebab menyebabkan hati pemakai jimat bergantung pada jimat tersebut sebagaimana kutipan perkataan beliau berikut.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لابد أن يتعلق قلب متعلقّها بها</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tentulah hati pemakai jimat tersebut bergantung kepadanya”</span></i><span style="font-weight: 400;">[1. <em>Al-Qoulus Sadiid</em>, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di <em>rahimahullah</em>, hal. 37]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Sholeh Alusy- Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">ثمّ لِمَ كان لُبس الحلقة أو الخيط من الشرك الأصغر؟ الجواب: لأنه تعلق قلبه بها، وجعلها سببا لرفع البلاء، أو سببا لدفعه </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kemudian apa alasan</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">memakai sesuatu yang melingkar dan memakai benang (yang dilingkarkan) termasuk bentuk kesyirikan? </span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Jawabannya adalah karena hatinya tergantung kepada jimat tersebut dan karena pemakainya menjadikannya sebagai sebab dengan tujuan untuk menyingkirkan mara bahaya atau menolaknya”</span></i><span style="font-weight: 400;">[2. Lihat <em>At-Tamhid</em>, Syaikh Sholeh Alusy Syaikh <em>hafizhahullah</em>, hal. 93]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu ulama besar, Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika menjelaskan hal yang sama -yaitu kesyirikan pemakai jimat yang jenis syirik kecil- , beliau menjelaskan sebabnya,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لأنه لما اعتقد أن ما ليس بسبب سببًا؛ فقد شارك الله تعالى في الحكم لهذا الشيء بأنه سبب، والله تعالى لم يجعله سببًا‏</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Karena ketika ia meyakini bahwa sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, berarti ia telah ikut serta dengan Allah Ta’ala dalam menentukan hukum tentang sesuatu itu sebagai sebab, padahal Allah Ta’ala tidak menjadikannya sebagai sebab”</span></i><span style="font-weight: 400;">[3. <em>Al-Qaululul Mufiid</em>, hal. 1/162-163]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama besar yang lainnya,</span> <span style="font-weight: 400;">Syaikh Bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">saat menta’liq kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Majid </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan tentang alasan memakai jimat dikatakan sebagai dosa syirik kecil, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">أما إذا اعتقد أنها سبب للسلامة من العين أو الجن ونحو ذلك، فهذا من الشرك الأصغر؛ لأن الله سبحانه لم يجعلها سببا، بل نهى عنها وحذر، وبين أنها شرك على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وما ذاك إلا لما يقوم بقلب صابحها من الالتفات إليها، والتعلق بها </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Adapun jika ia meyakini bahwa tamimah (jimat) itu sebagai sebab selamatnya dari serangan penyakit ‘ain, gangguan jin dan yang semisalnya, maka ini termasuk syirik kecil, karena Allah Subhanahu tidak menjadikan tamimah (jimat) tersebut sebagai sebab, bahkan melarangnya dan memperingatkannya, serta menjelaskan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa memakai tamimah (jimat) tersebut adalah kesyirikan. Hal itu semata-mata disebabkan kecondongan dan ketergantungan hati pemakai tamimah (jimat) kepada tamimah (jimat) tersebut”</span></i><span style="font-weight: 400;">[4. <em>Fathul Majid</em>, hal. 153]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama yang duduk di Komite fatwa KSA (Al-Lajnah Ad-Daimah) menjelaskan definisi syirik kecil, yaitu</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فكل ما نهى عنه الشرع مما هو ذريعة إلى الشرك الأكبر ووسيلة للوقوع فيه، وجاء في النصوص تسميته شركا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Segala yang dilarang dalam Syari’at yang menjadi penghantar dan sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan besar, sedangkan dalam Nash (dalil) disebut dengan nama syirik”</span></i><span style="font-weight: 400;">[5. <em>Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah</em> (<a href="https://Islamqa.info/ar/121553">https://Islamqa.info/ar/121553</a>)]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rojihi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga</span> <span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الحالة الثانية: أن يعلق التميمة ويعتقد أنها سبب، والذي يدفع الضر ويجلب النفع هو الله، لكن هذه سبب. فهذا الشرك الأصغر، وهو وسيلة إلى الشرك الكبر</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Keadaan yang kedua seseorang mengantungkan tamimah (jimat) dan meyakini bahwa jimat tersebut sekedar sebab, sedangkan yang menolak bahaya dan memberi manfaat adalah Allah (semata). Namun jimat ini (diyakini) sebagai sebab saja, maka perbuatan ini adalah syirik kecil dan ini merupakan sarana yang mengantarkan kepada syirik besar”</span></i><span style="font-weight: 400;">[6. Web http://portal.shrajhi.com/Media/ID/8276]</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***<br>
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 