
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>2. Adanya Kabar dari Rasulullah </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></b><b>Bahwa Menggunakan Jimat Itu Syirik, Tanpa Mengecualikan Tipe Pengguna yang Meyakini Jimat Hanya Sebagai Sebab</b></span></h4>
<p><b>Siapakah yang Menyatakan Status Kesyirikan Memakai Jimat?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam-</span></i><span style="font-weight: 400;">lah yang menyatakan bahwa memakai jimat itu merupakan bentuk kesyirikan. Dalam mengungkapkan status kesyirikan memakai jimat, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidaklah menjelaskan bahwa jika jimat itu diyakini hanya sebagai sebab saja, maka itu bukanlah kesyirikan. Riwayat yang ada justru Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyebutkan kalimat yang mengandung keumuman jenis kesyirikan pemakaian jimat, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda :</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ الرُّقَى و التّمَائِمَ والتِّوَلَةَ شِرْكٌ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya (menggunakan) ruqyah (yang mengandung kesyirikan), tamimah[1. Tamimah adalah jimat yang terbuat dari manik-manik berlubang dirangkai yg dikalungkan di leher anak untuk penangkal serangan penyakit ‘ain]</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> dan tiwalah[2. Tiwalah adalah jimat pelet yang dikenakan oleh suami/istri untuk merekatkan cinta keduanya]</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> adalah syirik” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan cakupan syirik yang dimaksud dalam hadits tersebut mencakup syirik besar maupun syirik kecil juga, seperti yang telah dijelaskankan sebelumnya. Seandainya ada dalam ajaran agama Islam sebuah dalil yang menyatakan bahwa memakai jimat itu tidak syirik asalkan pemakainya meyakininya hanya sebagai sebab saja, maka tentunya beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan menjelaskan hal itu untuk umatnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mari kita simak hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berikut ini, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;">مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) dan bergantung hatinya kepadanya[3. Makna ta’allaqa meliputi: menggantungkan dan bergantung, lihat: At-Tamhiid, hal. 102]</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, maka ia telah melakukan kesyirikan”</span></i> <span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad 4/156, shahih).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah melakukan kesyirikan” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Imam Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah menjelaskan bahwa hukum memakai jimat itu pada asalnya masuk kedalam jenis dosa syirik kecil. Mengapa demikian? Karena definisi syirik kecil, yaitu</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فكل ما نهى عنه الشرع مما هو ذريعة إلى الشرك الأكبر ووسيلة للوقوع فيه، وجاء في النصوص تسميته شركا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Segala yang dilarang dalam Syari’at yang menjadi penghantar dan sarana yang menghantarkan kepada kesyirikan besar, sedangkan dalam Nash (dalil) disebut dengan nama syirik[4. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (<a href="https://Islamqa.info/ar/121553">https://Islamqa.info/ar/121553</a>)].</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah Syaikh Bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">saat menta’liq kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Majid </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan tentang alasan memakai jimat dikatakan sebagai dosa syirik kecil, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">أما إذا اعتقد أنها سبب للسلامة من العين أو الجن ونحو ذلك، فهذا من الشرك الأصغر؛ لأن الله سبحانه لم يجعلها سببا، بل نهى عنها وحذر، وبين أنها شرك على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وما ذاك إلا لما يقوم بقلب صابحها من الالتفات إليها، والتعلق بها </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Adapun jika ia meyakini bahwa tamimah (jimat) itu sebagai sebab selamatnya dari serangan penyakit ‘ain, gangguan jin dan yang semisalnya, maka ini termasuk syirik kecil, karena Allah Subhanahu tidak menjadikan tamimah (jimat) tersebut sebagai sebab, bahkan melarangnya dan memperingatkannya, serta menjelaskan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa memakai tamimah (jimat) tersebut adalah kesyirikan. Hal itu semata-mata disebabkan kecondongan dan ketergantungan hati pemakai tamimah (jimat) kepada tamimah (jimat) tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">”[5. <em>Fathul Majid</em>, hal. 153].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikanlah saudaraku, dari beberapa sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hukum memakai jimat itu adalah syirik. Sedangkan secara kemungkinan, orang yang memakai jimat itu ada dua keadaan, yaitu</span></p>
<p><b>1. Keadaan Pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika pemakainya meyakini jimat tersebut sebagai sebab saja, sedangkan Allah-lah yang mentakdirkan sebab itu berpengaruh, dan hatipun bergantung kepada jimat tersebut, maka dihukumi </span><b>syirik kecil dan bukan syirik besar,</b><span style="font-weight: 400;"> karena ketergantungan hatinya tidak sampai pada tingkatan menyembah jimat tersebut. Adapun keadaan ini tetap digolongkan syirik, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sendiri yang menyatakan syirik, tanpa mengecualikan keadaan pemakai jimat yang jenis ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai hamba Allah yang baik, tentu kita tidak berani mengatakan </span><i><span style="font-weight: 400;">bukan syirik</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk sesuatu yang telah dinyatakan syirik oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Hanya saja, karena keadaan pemakai jimat ada dua kemungkinan, sedangkan syirik -ditinjau dari besar kecilnya- juga ada dua macam</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun menjelaskan bahwa hukum memakai jimat itu pada asalnya masuk kedalam jenis dosa syirik kecil, dan bisa berubah menjadi syirik besar, jika pemakainya memiliki keyakinan yang sampai kategori menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya.</span></p>
<p><b>2. Keadaan Kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika pemakainya meyakini jimat tersebut  berpengaruh dengan sendirinya, terlepas dari kehendak Allah -misalnya ia berkeyakinan bahwa jimat itulah yang menyingkirkan mara bahaya dan bukan Allah- maka ini hukumnya </span><b>syirik besar</b><span style="font-weight: 400;">, karena menyakini ada selain Allah yang mampu memberi manfa’at atau menolak bahaya dengan sendirinya, tanpa Allah kehendaki. Ini berarti terpenuhi definisi syirik besar yang disebutkan oleh para ulama, yaitu :</span></p>
<p style="text-align: right;">مساواة غير الله بالله فيما هو من خصائص الله</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“(Syirik besar adalah) menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya (dalam Rububiyyah,Uluhiyyah dan Al-Asma` was Shifat)”.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sisi inilah kesyirikan jimat itu termasuk </span><b>syirik besar dalam Rububiyyah </b><span style="font-weight: 400;">dari satu sisi dan</span><b> syirik besar dalam Uluhiyyah </b><span style="font-weight: 400;">dari sisi lainnya.</span><b> -Syirik besar dalam Rububiyyah </b><span style="font-weight: 400;">dari sisi menyamakan makhluk dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya, yaitu memberi manfaat dan menolak atau menyingkirkan bahaya secara hakiki.</span></p>
<p><b>Dan syirik besar dalam Uluhiyyah </b><span style="font-weight: 400;">ditinjau dari ketergantungan hati pemakai jimat kepada jimat tersebut, maka itu termasuk jenis ketergantungan yang sampai pada tingkatan menyembah jimat, karena ketergantungan tersebut persis sebagaimana ketergantungan seseorang kepada sesembahannya. Pemakainya mengharap manfaat dengan pengharapan ibadah kepada jimat tersebut, dengan keyakinan jimat itu mampu memberikan manfaat atau menolak bahaya dengan sendirinya, tanpa Allah, maka  dari sisi ini hakekatnya termasuk </span><b>syirik dalam ibadah (Uluhiyyah).</b></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>_____</p>
<p> </p>
 