
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/69223-penjabaran-empat-kaidah-utama-bag-4.html" data-darkreader-inline-color="">Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah</em>.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين </span></p>
<p><em>Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya- bahwa Al-Hanifiyyah, yaitu agama Ibrahim, adalah kamu beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama untuk-Nya.</em></p>
<p><strong>Penjelasan :</strong></p>
<p>Sebagaimana kebiasaan beliau, penulis <em>rahimahullah</em> mendoakan kebaikan untuk pembaca risalahnya. Hal ini mengandung sikap kelembutan seorang dai dan pengajar kepada orang yang dia ajari. Demikianlah semestinya profil seorang pendakwah. Kelembutan dan kasih sayang merupakan sifat utama yang harus ada pada seorang <em>da’i ilallah.</em></p>
<p>Di dalam doa ini beliau memohon kepada Allah agar memberikan bimbingan kepada kita dalam hal ilmu dan amalan. Karena yang dimaksud dengan<em> ar-rusyd</em> adalah mengamalkan kebenaran yang telah diketahui. Lawan darinya adalah <em>ghawayah</em>/menyimpang, yaitu tidak mengamalkan ilmu. Oleh sebab itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> disifati oleh Allah sebagai orang yang tidak <em>dholla</em>/sesat dan tidak <em>ghowa</em>/menyimpang. Yang disebut <em>dholla</em> atau <em>dholal</em> adalah tidak berilmu alias bodoh sehingga tersesat dari jalan yang benar. Adapun <em>ghowa</em> atau <em>ghowayah</em> adalah tidak mengamalkan ilmu alias meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. Kedua sifat buruk ini ter<em>nafi</em>kan dari diri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Maka, demikianlah sifat yang dikehendaki ada pada diri setiap muslim. Menggabungkan antara ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh. Saking beratnya dosa tidak mengamalkan ilmu, disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa orang yang berilmu tetapi tidak beramal dengannya maka ia diazab sebelum para pemuja berhala. Semoga Allah melindungi kita darinya.</p>
<p>Di dalam doa ini, penulis mendoakan agar Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan sumber segala kebaikan dan asas kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang mencapai tingkatan tinggi dalam tauhid senantiasa memiliki sifat taat dan patuh kepada Allah. Sebagaimana sifat yang ada pada diri Nabi Ibrahim<em> ‘alaihis salam</em> yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an. Allah menyebut beliau sebagai sosok yang <em>qaanitan lillaah,</em> selalu patuh dan taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan bukti kecintaan seorang hamba.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang arab <em>innal muhibba liman yuhibbu muthii’u</em> yang berarti bahwa orang yang mencintai tentu taat kepada siapa yang dia cintai. Ibadah kepada Allah merupakan kecintaan yang melahirkan ketaatan dan ketundukan. Karena ibadah itu tegak di atas dua pilar utama, perendahan seutuhnya kepada Allah dan kecintaan yang tinggi kepada-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em>.  Dalam <em>Nuniyah</em>-nya beliau berkata,</p>
<p><em>Ibadah kepada Ar-Rahman merupakan puncak kecintaan kepada-Nya</em></p>
<p><em>Beserta perendahan diri sang hamba</em></p>
<p><em>Itulah dua poros agama</em></p>
<p><em>Di atas kedua poros itulah tata surya ibadah beredar</em></p>
<p>Ketaatan kepada Allah mencakup dua bagian utama:</p>
<p>– melaksanakan perintah-Nya</p>
<p>– menjauhi larangan-Nya</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/27464-pelajaran-aqidah-dan-manhaj-dari-surat-al-fatihah-1.html" data-darkreader-inline-color="">Pelajaran Aqidah Dan Manhaj Dari Surat Al-Fatihah (1)</a></span></strong></p>
<h3><strong><em>Millah</em> Ibrahim</strong></h3>
<p>Kemudian, penulis <em>rahimahullah</em> menjelaskan kepada kita tentang makna <em>Al-Hanifiyyah</em> atau <em>millah</em> Ibrahim. Nabi Ibrahim <em>‘alaihis salam</em> mendakwahkan agama Islam, sebagaimana seluruh nabi yang lain. Karena semua nabi mengajarkan Islam. Meskipun demikian, Allah memilih Ibrahim sebagai teladan bagi para nabi sesudahnya. Dan Allah turunkan dari anak cucunya para nabi setelahnya sampai nabi yang terakhir, yaitu nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> yang mana beliau merupakan keturunan dari Nabi Isma’il bin Ibrahim <em>‘alaihimas salam</em>.</p>
<p>Lebih daripada itu, Allah pun memilih Ibrahim sebagai <em>khalil</em>/kekasih-Nya. Tidak lain karena tingkat penghambaan beliau dan nilai ketauhidannya yang sangat mulia. Bagaimana tidak? Begitu banyak ujian dan cobaan yang beliau hadapi dalam memperjuangkan dakwah tauhid ini. Dan beliau pun mendapat taufik dari Allah untuk melalui segala ujian itu dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Oleh sebab itu, <em>masyhur</em> perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, bahwa beliau mengatakan, <em>“Dengan sabar dan keyakinan akan diraih kepemimpinan dalam agama</em>.”</p>
<p>Ibrahim merupakan sosok yang sangat penting dalam dakwah tauhid ini. Bahkan sampai-sampai berbagai penganut agama pun menisbatkan diri sebagai penerus ajarannya. Walaupun pada umumnya, itu hanya klaim semata tanpa bukti. Orang-orang Yahudi mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim, padahal mereka pun telah menyelewengkan ayat-ayat Taurat, kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em>. Mereka pun menolak untuk beriman kepada Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wasallam.</em> Padahal, mereka mengenal dengan baik ciri-ciri beliau -yang telah dijelaskan di dalam Taurat- sebagaimana seorang bapak mengenali anak-anaknya sendiri. Begitu pula, orang Nasrani mengklaim sebagai penerus ajaran Ibrahim karena mereka mengaku sebagai pengikut ajaran Isa <em>‘alaihis salam</em> yang mereka angkat sebagai Tuhan. Sehingga, jatuhlah mereka dalam sikap berlebihan dan mempersekutukan Allah Ar-Rahman. Mereka menisbatkan anak kepada Allah. Sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi Ibrahim, bahkan tidak juga oleh Nabi Isa<em> ‘alaihis salam</em>.</p>
<p>Bukan hanya itu, kaum musyrikin pun tidak mau kalah. Mereka yang sekian lama memenuhi pelataran Ka’bah dengan berhala pun menganggap bahwa merekalah yang paling pantas disebut sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Karena merekalah yang mengagungkan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim bersama Ismail putranya. Padahal, Ibrahim dan Ismail <em>‘alaihimas salam</em> tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah berhala. Demikianlah, setan mengelabui manusia dan menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Maka, siapa pun yang mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim wajib menyadari bahwa agama yang beliau sampaikan kepada manusia adalah Islam. Ajaran yang menuntut setiap hamba untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah.</p>
<h3><strong>Ajaran Kitab Suci dari Langit</strong></h3>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ</span></p>
<p><em>“Dan tidak mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.”</em> (Al-Bayyinah : 5)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam Al-Baghawi <em>rahimahullah</em> dalam tafsirnya <em>Ma’alim At-Tanzil</em>, hal. 1426)</p>
<p>Syekh ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan, bahwa dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya, dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (lihat <em>Syarh Tsalatsah Al-Ushul</em>, hal. 76-77)</p>
<p>Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata, maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid. Sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya, maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syariat disebut ibadah yang <em>syar’iyah</em>, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syariat disebut sebagai ibadah yang <em>bid’ah.</em> (lihat <em>Syarh Risalah Miftah Daris Salam</em> oleh Syekh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushaimi <em>hafizhahullah</em>, hal. 9)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَا كَانَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا</span></p>
<p><em>“Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim.”</em> (Ali ‘Imran : 67)</p>
<p>Syekh Shalih alu Syekh <em>hafizhahullah</em> berkata, “Allah <em>‘Azza Wajalla</em> menjadikan Ibrahim sebagai seorang yang hanif, dalam artian orang yang berpaling dari jalan syirik menuju tauhid yang murni. Adapun <em>A</em><em>l-Hanifiyah</em> adalah <em>millah</em>/ajaran yang berpaling dari segala kebatilan menuju kebenaran dan menjauh dari semua bentuk kebatilan serta condong menuju kebenaran. Itulah <em>millah</em> bapak kita Ibrahim ‘<em>alaihis salam</em>.” (lihat <em>Syarh al-Qawa’id Al-Arba’</em> dengan <em>tahqiq</em> ‘Adil Rifa’i, hal. 13-14)</p>
<p>Syekh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, “Seorang yang <em>hanif</em> itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang <em>hanif</em>. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat, serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat <em>Silsilah Syarh Rasa’il</em>, hal. 328)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ تَهۡتَدُوا۟ۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ</span></p>
<p><em>“Mereka mengatakan ‘Jadilah kalian pengikut Yahudi atau Nasrani niscaya kalian mendapatkan petunjuk!’ Katakanlah, ‘Bahkan millah Ibrahim yang hanif itulah -yang harus diikuti- dan dia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (Al-Baqarah : 135)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">شَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat/teladan yang senantiasa patuh kepada Allah lagi hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.  Dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.”</em> (An-Nahl : 120-121)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya di atas syariat yang diridai.” (lihat<em> Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 4/611)</p>
<p>Syekh Shalih alu Syekh <em>hafizhahullah</em> berkata, “Hakikat <em>millah</em> Ibrahim itu adalah mewujudkan makna <em>laa ilaha illallah</em>, sebagaimana yang difirmankan Allah <em>‘Azza Wajalla</em> dalam surat Az-Zukhruf,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ لِأَبِیهِ وَقَوۡمِهِۦۤ إِنَّنِی بَرَاۤءࣱ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِلَّا ٱلَّذِی فَطَرَنِی فَإِنَّهُۥ سَیَهۡدِینِ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِیَةࣰ فِی عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ</span></p>
<p><em>“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah, kecuali Zat yang telah menciptakanku, maka sesungguhnya Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikannya sebagai kalimat yang tetap di dalam keturunannya, mudah-mudahan mereka kembali kepadanya.”</em> (Az-Zukhruf : 26-28).” (lihat <em>Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’</em>, hal. 14)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Kalimat ini, yaitu beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan mencampakkan segala berhala yang disembah selain-Nya, itulah kalimat <em>laa ilaha illallah</em> yang dijadikan oleh Ibrahim sebagai ketetapan bagi anak keturunannya supaya dengan sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dari keturunan Ibrahim <em>‘alaihis salam</em> tunduk mengikutinya.” (lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 7/225)</p>
<p>Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri <em>hafizhahullah</em> berkata, “Sesungguhnya agama Allah yang dipilih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, agama yang menjadi misi diutusnya para rasul, dan agama yang menjadi muatan kitab-kitab yang diturunkan-Nya ialah <em>Al-Hanifiyah</em>. Itulah agama Ibrahim Al-Khalil <em>‘alaihis salam</em>. Sebagaimana itu menjadi agama para nabi sebelumnya dan para rasul sesudahnya hingga penutup mereka semua yaitu Muhammad, <em>semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semuanya</em>.” (lihat <em>A</em><em>l-Bayan Al-Murashsha’ Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’</em>, hal. 14)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ</span></p>
<p><em>“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim secara hanif.’”</em> (An-Nahl : 123)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلۡ إِنَّنِی هَدَىٰنِی رَبِّیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ دِینࣰا قِیَمࣰا مِّلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ</span></p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah diberikan petunjuk oleh Rabbku menuju jalan yang lurus, agama yang tegak yaitu millah Ibrahim yang hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang musyrik.’”</em> (Al-An’am : 161)</p>
<p>Syekh Shalih bin Abdul Aziz alu Syekh <em>hafizhahullah</em> berkata, “Maka <em>millah</em> Ibrahim <em>‘alaihis salam</em> itu adalah tauhid.” (lihat <em>Syarh Al-Qawa’id Al-Arba</em>‘, hal. 15)</p>
<p>Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri <em>hafizhahullah</em> berkata, “<em>Millah</em> Ibrahim itu adalah syariat dan keyakinan yang dijalani oleh bapaknya para nabi yaitu Ibrahim <em>‘alaihis salam. </em>Dan Ibrahim adalah salah satu nabi yang paling utama dan termasuk jajaran rasul yang digelari sebagai <em>ulul ‘azmi</em>.” (lihat <em>Syarh Mutun Al-‘Aqidah</em>, hal. 224)</p>
<p>Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, “Ibrahim <em>‘alaihis salam</em> mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah <em>‘Azza Wajalla</em> sebagaimana para nabi yang lain. Semua nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.” (lihat <em>Silsilah Syarh Rasa’il</em>, hal. 330)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/22595-menilik-perhatian-para-sahabat-terhadap-masalah-aqidah.html" data-darkreader-inline-color="">Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah Aqidah</a></strong></p>
<h3><strong>Agama Para Nabi</strong></h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, <em>“Para nabi itu adalah saudara-saudara sebapak, sedangkan ibu mereka berbeda-beda. Dan agama mereka itu adalah sama.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ</span></p>
<p><em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.”</em> (Al-Anbiyaa’ : 25)</p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ</span></p>
<p><em>“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” </em>(Huud : 50).</p>
<p>Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul <em>‘alaihimush sholatu wassalam.</em> (lihat<em> Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad</em>, hal. 19)</p>
<p>Abu Qilabah <em>rahimahullah</em> berkata, “Orang yang <em>hanif</em> adalah yang beriman kepada seluruh rasul dari yang pertama hingga yang terakhir.” (lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 1/448)</p>
<p>Qatadah <em>rahimahullah</em> berkata, “<em>Al-Hanifiyah</em> itu adalah syahadat <em>laa ilaha illallah</em>.” (lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 1/448)</p>
<p>Syekh Shalih Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat <em>Silsilah Syarh Rasa’il</em>, hal. 328)</p>
<p>Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi <em>hafizhahullah</em> berkata, “<em>Al-Hanifiyah</em> itu adalah tauhid. Yaitu kamu beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya. Ini merupakan kandungan makna dari <em>laa ilaha illallah</em>. Karena sesungguhnya maknanya adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” (lihat <em>Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’</em>, hal. 11)</p>
<p>Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga bermanfaat. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19334-nabi-isa-alaihissalam-dalam-aqidah-umat-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Nabi Isa ‘Alaihissalam Dalam Aqidah Umat Islam</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18469-fatwa-ulama-adakah-khilafiyah-dalam-masalah-aqidah.html" data-darkreader-inline-color="">Fatwa Ulama: Adakah Khilafiyah Dalam Masalah Aqidah?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>Bersambung insyaAllah.</p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color=""> Ari Wahyudi</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 