
<p class="arab" align="right">الحديث  التاسع عشر: عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنهما قال: كنت خلف النبي صلى  الله عليه وسلم يوماً، فقال لي: “يا غلام، إنّي أعلمك كلماتٍ: احفظ الله  يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل اللهَ، وإذا استعنت فاستعن بالله،  واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك،  وإن اجتمعوا على أن يضرّوك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام  وجفت الصحف”، رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح. وفي رواية غير الترمذي:  “احفظ الله تجده أمامك، تعرّف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة، واعلم أن  ما أخطأك لم يكن ليصيبَك، وما أصابك لم يكن ليخطئَك، واعلم أن النصر مع الصبر، وأن  الفَرَج مع الكرب، وأنّ مع العسر يسراً”.</p>
<p>Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiyallahu  ‘anhu</em> dia berkata: “Suatu hari (ketika) saya (dibonceng Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>) di belakang (hewan tunggangan) Beliau <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>, Beliau bersabda kepadaku: <em>“Wahai anak kecil,  sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka  dengarkanlah baik-baik!): “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka  Allah akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan  mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu  (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah   (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka  mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk  (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat  (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu  (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun  mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya,  kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan  menimpamu, pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya  telah kering.”</em> HR At Tirmidzi (7/228-229 –<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>), hadits  no. 2516), disahihkan oleh Syaikh Al Albani), dan dia berkata: (hadits ini  adalah) hadits hasan sahih.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dan dalam riwayat lain selain At Tirmidzi (Diriwayatkan  oleh ‘Abd bin Humaid dalam Musnadnya dan sanadnya lemah, sebagaimana yang  dikatakan oleh Ibnu Rajab (hal. 460), akan tetapi Imam Ahmad meriwayatkan  hadits ini dalam Musnad beliau (1/307) dengan sanad lain yang sahih): <em>“Jagalah  Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan  menolongmu), kenalkanlah/dekatkanlah (dirimu) pada Allah disaat (kamu dalam  keadaan) lapang (senang), supaya Allah mengenali (menolong)mu disaat (kamu  dalam keadaan) susah (sempit), dan ketahuilah, bahwa segala sesuatu (yang telah  Allah ta’ala tetapkan) tidak akan menimpamu, maka semua itu (pasti) tidak akan  menimpamu, dan segala sesuatu (yang telah Allah ta’ala tetapkan) akan  menimpamu, maka semua itu (pasti) akan menimpamu, dan ketahuilah, sesungguhnya  pertolongan (dari Allah ta’ala) itu selalu menyertai kesabaran,dan jalan keluar  (dari kesulitan) selalu menyertai kesulitan, dan kemudahan selalu menyertai  kesusahan.”</em></p>
<p><strong>Biografi Perawi Hadits</strong></p>
<p>Sahabat yang  meriwayatkan hadits ini adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib bin  Hasyim bin ‘Abdi Manaf, anak paman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  yang lahir tiga tahun sebelum hijrahnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> ke Madinah, dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah berdo’a untuknya agar dipahamkan Al Qur’an dan ilmu agama, dan beliau  digelari “Al bahr” (lautan) karena luasnya ilmu yang beliau miliki,  beliau wafat di Thaif pada tahun 67 atau 68 H. (Lihat biografi beliau dalam <em>Siyar  Al A’lam An Nubala’</em>, (4/409-428))</p>
<p><strong>Kedudukan Hadits</strong></p>
<p>Imam Ibnu Rajab  berkata: “Hadits ini mengandung nasihat-nasihat yang agung dan kaidah-kaidah  (umum yang bersifat) menyeluruh dalam masalah-masalah terpenting dalam agama  ini, sampai-sampai salah seorang ulama (yaitu Imam ‘Abdurrahman ibnul Jauzi  dalam kitab beliau <em>Shaidul Khatir</em>) berkata: “(Ketika) aku  merenungkan dan menghayati (makna) hadits ini, aku tercengang (terpesona) dan  nyaris kehilangan akal, duhai, alangkah ruginya (seorang yang) tidak mengetahui  hadits ini dan kurang memahami maknanya” (<em>Jami’ul ‘Ulum wal Hikam,</em> 462). Dan Imam Ibnu Rajab telah menyusun satu kitab khusus untuk menjelaskan  kandungan dan makna hadits ini, yang berjudul: <em>“Nurul iqtibas fii  misykaati washiyyatin Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam libni ‘Abbas”.</em></p>
<p><strong>Beberapa Masalah  Penting yang Terkandung Dalam Hadits Ini</strong></p>
<p>1. Penjagaan dari Allah <em>ta’ala</em> bagi  seorang hamba yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya, yang dalam hal ini  berlaku ketentuan dari Allah <em>ta’ala</em> yang disebut,</p>
<p class="arab" align="right">الجزاء من جنس العمل</p>
<p>“Balasan  yang sesuai dengan jenis perbuatan.”</p>
<p>seperti yang  juga Allah <em>ta’ala</em> sebutkan dalam firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">فاذكروني أذكركم</p>
<p><em>“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya  Aku ingat (pula) kepadamu.”</em> (QS. Al Baqarah: 152),</p>
<p>dan firman-Nya:</p>
<p class="arab" align="right">يا أيها الذين آمنوا إن تنصر الله ينصركم</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu  menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.”</em> (QS. Muhammad: 7). (<em>Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam</em>,  465)</p>
<p>2. Makna <em>“Penjagaan hamba (terhadap  batasan-batasan syariat Allah)”</em> adalah menjaga hak-hak Allah dengan  menunaikannya, menjaga batasan-batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, dan  menjaga perintah dan larangan-Nya dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan  menjauhi semua larangan-Nya. Dan barang siapa yang melaksanakan hal-hal  tersebut di atas, maka dia termasuk orang-orang yang menjaga batasan-batasan  (syariat) Allah <em>ta’ala</em> yang dipuji oleh Allah <em>ta’ala</em> dalam Al  Qur’an (dan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>), Allah <em>ta’ala</em> berfirman: <strong> </strong></p>
<p class="arab" align="right">هَذَا  مَاتُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ . مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ  وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ</p>
<p><em>“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu)  pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi menjaga (semua  peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha  Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang  bertaubat.”</em> (QS. Qaaf: 33)</p>
<p>Dan <em>“Al  hafiizh”</em> dalam ayat ini ditafsirkan dengan orang yang menjaga  perintah-perintah Allah, dan orang yang menjaga dosa-dosanya dengan (segara)  bertaubat (kepada Allah <em>ta’ala</em>) dari dosa-dosa tersebut. (<em>Jami’ul  ‘Ulum Wal Hikam</em>, 462)</p>
<p>3. Adapun makna <em>“penjagaan Allah ta’ala  terhadap hamba (yang menjaga batasan-batasan syariat-Nya)”</em>, maka hal  ini meliputi dua macam penjagaan:</p>
<ol>
<li>Penjagaan Allah <em>ta’ala</em> terhadap hamba dalam urusan-urusan dunianya, seperti penjagaan Allah terhadap  (kesehatan) badannya, juga terhadap istri, keturunan dan hartanya. Maka  barangsiapa yang menjaga (batasan-batasan syariat)-Nya di masa kecilnya dan di kala  (fisiknya masih) kuat, maka Allah <em>ta’ala</em> akan menjaganya di masa tuanya  dan di kala (fisiknya telah) lemah, dan Allah akan menguatkan pendengaran,  penglihatan, kesehatan dan akalnya. Salah seorang ulama salaf yang telah  mencapai usia lebih dari seratus tahun, akan tetapi kondisi fisik dan akalnya  tetap kuat, maka suatu hari dia melakukan suatu lompatan yang sangat kuat,  sehingga orang-orang menegurnya, maka dia pun berkata: “(Seluruh) anggota  badanku ini sejak kecil (selalu) aku jaga dari perbuatan maksiat, maka Allah <em>ta’ala</em> pun menjaganya ketika aku telah tua.”</li>
<p>Bahkan karena  kesalehan seorang hamba Allah <em>ta’ala</em> akan menjaga keturunannya sepeninggalnya,  sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah <em>ta’ala</em>: <em>“sedang  ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh.”</em> (Al Kahfi: 82), bahwa  kedua anak yatim yang disebutkan dalam ayat ini dijaga (oleh Allah <em>ta’ala</em>)  karena kesalehan ayah mereka berdua. Imam Sa’id bin Musayyib berkata kepada  putranya: “Sungguh aku akan memperbanyak shalat (sunnah)ku karena kamu,  dengan harapan (Allah <em>ta’ala</em> akan) menjagamu (sepeninggalku  nanti)”, kemudian dia membaca ayat tersebut di atas. Dan Imam ‘Umar bin  ‘Abdil ‘Aziz berkata: “Tidak ada seorang mukmin pun yang meninggal dunia,  kecuali Allah <em>ta’ala</em> akan menjaga keturunan dan anak cucunya.”</p>
<p>Dan barangsiapa  yang menjaga (batasan-batasan syariat) Allah <em>ta’ala</em>, maka Allah <em>ta’ala</em> akan menjaganya dari semua gangguan, telah berkata salah seorang ulama salaf:  “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah <em>ta’ala</em>, maka (berarti) dia  telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang berpaling dari ketakwaan kepada  Allah <em>ta’ala</em>, maka (berarti) dia telah menyia-nyiakan dirinya, dan Allah <em>ta’ala</em> tidak butuh kepadanya”.</p>
<li>Penjagaan Allah <em>ta’ala</em> terhadap hamba dalam agama dan keimanannya, dan penjagaan ini adalah penjagaan  yang paling utama. Allah <em>ta’ala</em> menjaga hamba ini dalam kehidupannya  dari fitnah-fitnah <em>syubhat</em> (kerancuan dalam memahami agama/pengaburan  yang benar dan yang batil) yang menyesatkan dan fitnah-fitnah <em>syahwat</em> (memperturutkan nafsu) yang diharamkan oleh Allah <em>ta’ala</em>, dan Allah <em>ta’ala</em> akan selalu menjaga dan meneguhkan imannya sampai di akhir hayatnya dan  mewafatkannya dengan <em>husnul khatimah</em> (meninggal dunia di atas keimanan),  semoga Allah <em>ta’ala</em> menganugrahkan kepada kita semua penjagaan ini. Ibnu  ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika menafsirkan firman Allah <em>ta’ala</em>:</li>
<p class="arab" align="right">واعلموا أن الله يحول بين المرء وقلبه</p>
<p><em>“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah  menghalangi (membatasi) antara manusia dan hatinya.”</em> (QS. Al Anfaal: 24), beliau berkata: “Allah <em>ta’ala</em> menghalangi orang yang beriman dari perbuatan maksiat yang akan  menjerumuskannya ke dalam neraka”, dan Allah <em>ta’ala</em> berfirman  tentang Nabi Yusuf <em> ‘alaihis salam</em>:</p>
<p class="arab" align="right">كذلك لنصرف عنه السوء والفحشاء إنه من عبادنا المخلصين</p>
<p><em>“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya  kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang  terpilih.”</em> (QS.  Yusuf: 24). (<em>Jami’ul ‘ulum wal hikam</em> (hal. 465-470), dengan ringkas dan  sedikit perubahan)</p>
</ol>
<p>4. Dan dipahami dari hadits ini, bahwa  barangsiapa yang tidak menjaga (batasan-batasan syariat) Allah <em>ta’ala</em>,  dengan tidak mengindahkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya, maka Allah <em>ta’ala</em> pun akan menyia-nyiakannya dan menjadikannya lupa akan (kemaslahatan) dirinya  sendiri, Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">نسوا الله فنسيهم</p>
<p><em>“Mereka (orang-orang munafik) lupa kepada  Allah, maka Allah pun melupakan mereka.”</em> (QS. At Taubah: 67),</p>
<p>Dalam ayat lain Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">فلما زاغوا أزاغ الله قلوبهم والله لا يهدي القوم الفاسقين</p>
<p><em>“Maka tatkala mereka berpaling (dari  kebenaran), Allah pun memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk  kepada kaum yang fasik.”</em> (QS. Ash Shaff: 5).</p>
<p>Bahkan  sampai-sampai Allah <em>ta’ala</em> menimpakan padanya gangguan dan perlakuan  buruk melalui orang-orang yang dekat dengannya, dan yang seharusnya berbuat  baik padanya, yaitu keluarga dan kerabatnya. Berkata salah seorang ulama salaf:  “Sungguh (setelah) aku berbuat maksiat kepada Allah, maka aku mengenali  (dampak buruk) perbuatan maksiat itu ada pada tingkah laku pelayan dan hewan  tungganganku.” (Lihat <em>Jami’ul ‘ulum</em>, hal. 468 dan <em>Ad Durarus  saniyyah</em>, hal. 78)</p>
<p>5. Makna sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>: <em>“… Maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu…”</em> adalah: Allah <em>ta’ala</em> akan selalu bersamamu dalam semua keadaan, Dia akan  selalu melindungimu, menolongmu dan menjagamu, dan inilah (yang disebut dengan) <em>“Al Ma’iyyah al khaashshah”</em> (kebersamaan Allah <em>ta’ala</em> dengan hambanya yang bersifat khusus) yang mengandung arti pertolongan,  dukungan, penjagaan dan perlindungan (dari Allah <em>ta’ala</em> bagi hambanya)  (Lihat <em>Bahjatun nazhirin</em>, 1/135), sebagaimana firman Allah <em>ta’ala</em>:</p>
<p class="arab" align="right">إن الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang  bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”</em> (QS. An Nahl: 128),</p>
<p>Qotadah mengatakan: “Barangsiapa yang  bertakwa kepada Allah <em>ta’ala</em>, maka Allah akan selalu bersamanya, dan  barangsiapa yang Allah <em>ta’ala</em> selalu bersamanya, maka bersamanya ada  kelompok yang tidak terkalahkan, penjaga yang tidak pernah tidur dan pemberi petunjuk  yang tidak pernah menyesatkan.” (<em>Jami’ul ‘ulum,</em> hal. 471)</p>
<p>6. Perintah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah <em>ta’ala</em> dalam meminta  (berdoa) dan memohon pertolongan, dan untuk tidak meminta sesuatu pun kepada makhluk,  yang ini sesuai dengan firman Allah <em>ta’ala</em>:</p>
<p class="arab" align="right">إياك نعبد وإياك نستعين</p>
<p><em>“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya  kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”</em> (QS. Al Faatihah: 5)</p>
<p>Dan dalam hal ini ada dua tingkatan:</p>
<p>– tingkatan yang  wajib, yaitu Tauhid, dengan meminta dan memohon pertolongan kepada Allah <em>ta’ala</em> semata-semata dan tidak kepada selain-Nya dalam perkara-perkara yang tidak  mampu dilakukan kecuali oleh Allah <em>ta’ala</em>. Dan inilah yang kita kenal  dalam pelajaran Tauhid, bahwa memalingkan do’a dan <em>isti’anah</em> (memohon  pertolongan) kepada selain Allah <em>ta’ala</em> adalah perbuatan syirik.</p>
<p>– tingkatan yang <em>mustahabb</em> (sunnah/anjuran), yaitu jika seseorang mampu untuk mengerjakan  (sendiri) suatu pekerjaan, maka janganlah dia meminta (pertolongan) kepada siapapun,  dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengambil perjanjian  dari beberapa orang Sahabat <em>radhiyallahu ‘anhu</em> agar mereka tidak meminta  apapun kepada manusia, (sampai-sampai) perawi hadits ini berkata: “maka  salah seorang dari mereka ketika cemetinya terjatuh (dari hewan tunggangannya),  dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkan cemeti tersebut untuknya (yaitu  dia turun dari hewan tunggangannya dan mengambilnya sendiri) (HR. Muslim, no.  1043), dan dalam hal ini kemampuan masing-masing orang untuk menunaikan  tingkatan ini berbeda-beda (sesuai dengan tingkat keimanan mereka) (<em>Syarh Al  Arba’in</em>, Syaikh Shaleh Alu Asy Syaikh hal. 107).</p>
<p>Dan banyak  hadits yang sahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang  menjelaskan larangan meminta (sesuatu) kepada makhluk, di antaranya sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>“Senantiasa seseorang  itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah ta’ala (pada hari  kiamat)  dalam keadaan tidak ada sekerat  daging pun pada wajahnya.”</em> (HR. Al Bukhari, 3/338- <em>Fathul Bari</em> dan Muslim, no. 1040). Hal ini disebabkan karena meminta kepada makhluk  mengharuskan seseorang untuk menunjukkan rasa butuh dan menghinakan  (menundukkan) diri di hadapan makhluk, padahal semua ini tidak pantas ditujukan  kecuali kepada Allah <em>ta’ala</em> semata-mata. Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah berkata:  “Meminta kepada makhluk padanya ada tiga keburukan, keburukan (karena)  menunjukkan rasa butuh kepada selain Allah <em>ta’ala</em> dan ini termasuk satu  jenis kesyirikan, keburukan (karena) menyakiti orang yang kita meminta  kepadanya dan ini termasuk satu jenis  kezaliman terhadap makhluk, dan (keburukan karena) menundukkan diri kepada  selain Allah <em>ta’ala</em> dan ini termasuk satu jenis kezaliman terhadap diri  sendiri.” (<em>Kitabul Iman,</em> hal. 66)</p>
<p>Akan tetapi jika  seseorang benar-benar terpaksa meminta sesuatu yang mampu dilakukan oleh  makhluk, maka (dalam kondisi ini) diperbolehkan baginya, dengan tetap berusaha  menghindarkan diri dari keburukan-keburukan yang tersebut di atas (Lihat <em>Ad  Durarus Saniyyah</em>, hal. 79).</p>
<p>7. Segala sesuatu yang menimpa seorang hamba  dalam kehidupan di dunia, yang baik maupun yang buruk, telah ditakdirkan  (ditetapkan) oleh Allah <em>ta’ala</em>, maka tidak mungkin akan menimpanya  kecuali sesuatu yang telah tetapkan akan menimpanya, dan sesuatu yang telah  Allah <em>ta’ala</em> tetapkan akan menimpanya tidak akan luput darinya, dan  upaya keras semua makhluk untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan  ketentuan Allah <em>ta’ala</em> tidak akan bermanfaat, maka ini semua seharusnya  menjadikan seorang hamba senantiasa mentauhidkan (mengesakan) Allah <em>ta’ala</em> dalam meminta (berdo’a), memohon pertolongan, menghinakan dan merendahkan diri  di hadapan Allah <em>ta’ala</em>, dan mengesakan-Nya dalam beribadah dan  melaksanakan ketaatan kepada-Nya, Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab" align="right">قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا هو مولانا وعلى الله فليتوكل  المؤمنون</p>
<p><em>“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa  kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung  kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal’.”</em> (QS. At Taubah: 51). (Lihat <em>Ad Durarus  Saniyyah</em>, hal. 80-81)</p>
<p>8. Barangsiapa yang mengenal Allah <em>ta’ala</em> sewaktu dalam keadaan lapang dan sehat, dengan bertakwa dalam melaksanakan  ketaatan kepadanya, maka Allah <em>ta’ala</em> akan mengenal (menolong)nya  sewaktu dia dalam keadaan susah, Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang Nabi  Yunus <em>‘alaihis sallam</em>:</p>
<p class="arab" align="right">فلو لا أنه كان من المسبحين، للبث في بطنه إلى يوم يبعثون</p>
<p><em>“Maka kalau sekiranya dia (sebelumnya) tidak  termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal  di perut ikan itu sampai hari berbangkit (kiamat).”</em> (QS. Ash Shaaffaat: 144). Dan Allah <em>ta’ala</em> berfirman tentang Fir’aun:<strong> </strong></p>
<p class="arab" align="right">وَجَاوَزْنَا  بِبَنِي إِسْرَاءِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فَرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا  وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُ لآأِلَهَ  إِلاَّ الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُوا إِسْرَاءِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ .  ءَآلْئَانَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ</p>
<p><em>“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka  diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas  (mereka); hingga ketika Fir’aun telah hampir tenggelam dia berkata:”Saya  percaya bahwa tidak ada Ilah (sembahan yang benar) melainkan (Allah) yang  diimani oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri  (kepada Allah), Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sebelum ini  sungguh kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang  berbuat kerusakan.”</em> (QS. Yunus: 90-91)</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.<br>
Artikel www.muslim.or.id</p>
 