[lanjutan dari artikel <a href="https://muslim.or.id/21431-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-2.html" target="_blank" rel="noopener">Penjelasan Hadits “Innamal A’malu Binniyat” (2)</a>]
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Masalah fiqh yang berkaitan dengan niat [1]</b></span></h4>
<h5><span style="color: #0000ff;">1. Ishtish-haabun niyyah (menempelnya niat)</span></h5>
<p align="JUSTIFY">Apa maksud <em>istish-haabun niyyah</em>? Jawab: “<em>Ishthish-haab</em> secara bahasa artinya menemani (<em>mulaazamah</em>), sedangkan menurut fuqaha adalah, <i>“Menempelnya niat dalam suatu amal dari mulai sampai selesai”.</i><em> Istish-habun niyyah</em> itu terbagi dua: <i><b>Ishthish-hab dzikr</b></i> dan <i><b>Ishthish-hab hukm.</b></i></p>
<p align="JUSTIFY"><i>Ishthish-hab dzikr</i> misalnya seorang yang beribadah tetap terus menghadirkan niatnya dari awal ibadahnya hingga selesai. Lalu apakah hal ini wajib? Jawab: “Tidak, tidak wajib menghadirkan niat dari awal sampai selesai karena akan membuat kesulitan orang yang beribadah, juga karena seseorang tidak mampu untuk tidak memikirkan hal lain ketika beribadah. Oleh karena itu, dianjurkan saja untuk menghadirkan niat dari mulai sampai selesai namun tidak wajib.</p>
<p align="JUSTIFY">Sedangkan <i>ishthish-hab hukm </i>yaitu seseorang berniat untuk memasuki suatu amal ibadah dan tidak memutuskannya (membatalkannya) atau mengerjakan hal yang bertentangan dengan yang diniatkannya, <em>istish-hab</em> hukum ini adalah syarat sahnya amal. Oleh karena itu, ia wajib melakukan hal itu dari mulai sampai selesai (yakni tidak berniat melakukan ibadah yang lain). Misalnya seseorang ingin shalat, ketika ia bertakbir dan masuk ke dalam shalat, ia tidak boleh berniat untuk memutuskan (membatalkan) shalatnya, apabila ia berniat untuk memutuskan shalatnya maka batallah shalatnya itu. Contoh lain adalah seseorang yang berpuasa niatnya untuk beribadah kepada Allah <em>Tabaraka wa Ta’aala</em>, lalu ia niatkan untuk memutuskan puasanya, maka puasanya batal karena putusnya niat (tidak <em>ishthish-hab hukm</em>).</p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Memutuskan niat </span></h5>
<p>Hukum memutuskan niat dirinci dalam ibadah-ibadah berikut :</p>
<ol start="3" type="a">
<li>
<p align="JUSTIFY">Shalat.<br>
Apabila seseorang berniat untuk keluar dari shalat dengan memutuskan niatnya (seperti dengan berniat melakukan hal yang lain) maka shalatnya batal sesuai kesepakatan ulama sebagaimana dinukil oleh As Suyuuthiy dan lain-lain.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Puasa.<br>
Apabila seseorang berniat keluar dari puasa maka batallah puasanya menurut pendapat yang rajih dari pendapat Ahli Ilmu dan pendapat ini dipegang oleh jumhur ulama karena niat itu syarat dalam puasa secara keseluruhan. Oleh karena itu, apabila diputuskan di tengah-tengahnya (dengan berniat buka) sehingga sisa puasanya tidak di atas niat maka maka batal puasanya itu. Jika batal sebagiannya maka seluruhnya (dari terbit fajar sampai tenggelam matahari) ikut batal.</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Nusuk (ibadah haji atau umrah).<br>
Apabila seseorang berniat keluar dari nusuknya setelah memulai maka ia tidak boleh keluar dari nusuknya kecuali setelah ditunaikan nusuknya itu atau dengan ber-<em>tahallul</em> karena <em>ih-shaar</em> (terhalang), inilah yang dipegang jumhur ulama dan sebagai pendapat yang rajih menurut kebanyakan ahli ilmu, berdasarkan dalil “<i>Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah</i>” (artinya: sempurnakan haji dan umrah karena Allah)[2] . Asy Sya’biy dan Ibnu Zaid berkata, “Maksud ‘sempurnakanlah’ adalah sempurnakanlah haji dan umrah setelah memulai masuk ke dalamnya (ihram), karena siapa saja yang sudah berihram untuk nusuk (naik haji atau umrah) ia wajib meneruskan dan tidak boleh dibatalkan.”</p>
</li>
</ol>
<h5><span style="color: #0000ff;">Qalbun niyyah (mengubah niat dari ibadah yang satu ke ibadah yang lain)</span></h5>
<p align="JUSTIFY">Kapankah seseorang boleh <em>qalbun niyyah</em>?</p>
<p align="JUSTIFY">Jawab: Seseorang boleh <em>qalbun niyyah</em> karena ada maslahat syar’i. Misalnya;</p>
<ol type="a">
<li>
<p align="JUSTIFY">Dalam shalat</p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>Seseorang bertakbir dalam shalat fardhu dengan perkiraan bahwa waktunya sudah masuk, lalu ternyata belum masuk, maka ia boleh mengubah niatnya dari shalat fardhu ke shalat sunnah.</li>
<li>Seseorang bertakbir untuk shalat sendiri, kemudian ada shalat jamaah yang ditegakkan, maka menurut pendapat yang shahih dari pendapat ahli ilmu adalah ia mengubah niat shalat fardhu sendiri menjadi shalat sunnah, lalu ia menyempurnakan shalat sunnahnya itu, kemudian ikut shalat berjamaah.</li>
</ul>
<ol start="2" type="a">
<li>
<p align="JUSTIFY">Dalam haji<br>
Seseorang berihram (berniat) haji ifrad (haji saja) atau qiran (menggabung antara hajji dengan umrah) namun tidak membawa <em>hadyu</em> (binatang sembelihan), iapun kemudian mengubah niatnya ke hajji tamattu’ maka ini boleh bahkan mustahab (dianjurkan), karena <em>tamattu</em>’ (mendahulukan umrah baru haji) lebih utama daripada hajji qiran.</p>
</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;">Hukum-hukum yang berkaitan dengan niat menjadi imam dan makmum</span></h4>
<h5><span style="color: #0000ff;">Hukum niat menjadi imam</span></h5>
<p align="JUSTIFY">Pendapat yang rajih dan shahih dari pendapat Ahli Ilmu adalah bahwa niat menjadi imam itu bukanlah syarat sah shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah. Misalnya seorang shalat zhuhur sendiri lalu datang orang lain ikut shalat bersamanya sebagai ma’mum maka shalatnya insya Allah adalah sah. Contoh yang lain adalah seorang shalat sunnah lalu ada orang lain yang ikut shalat bersamanya, maka boleh bagi orang lain untuk berma’mum kepadanya dan ikut shalat bersamanya meskipun ia berniat di awal shalatnya sendiri.</p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Hukum niat menjadi makmum</span></h5>
<p align="JUSTIFY">Lalu <i>apa hukum berniat menjadi ma’mum</i>? Jawab: Imam madzhab yang empat sepakat bahwa bagi seseorang kalau hendak berma’mum harus berniat sebelum memasuki shalat.</p>
<p align="JUSTIFY">Mengapa ma’mum harus berniat berma’mum sebelum memasuki shalat bersama imam? Jawabnya, “Karena berniat untuk mengikuti adalah perbuatan lebih dari niat shalat sendiri, perbuatan lebih itu adalah mutaaba’ah (mengikuti imam), juga karena ma’mum tidak melakukan perbuatan shalat kecuali setelah dipimpin imam, oleh karenanya butuh berniat”.</p>
<h5 align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff;">Bermakmum pada orang yang shalat sunnah</span></h5>
<p align="JUSTIFY">Apa hukum orang yang melakukan shalat fardhu berma’mum kepada orang yang melakukan shalat sunnah? Jawab: Hukumnya adalah boleh, sebagaimana Mu’adz bin Jabal setelah shalat Isya di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia shalat lagi mengimami kaumnya (sebagaimana dalam riwayat Muslim), shalat yang kedua yang dilakukan Mu’adz adalah sunnah sedangkan kaumnya melakukan shalat fardhu di belakangnya.</p>
<h5 align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff;">Bermakmum pada orang yang shalat fardhu</span></h5>
<p align="JUSTIFY">Apabila seorang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat fardhu, maka makmum yang shalat fardhu di belakangnya ada tiga keadaan :</p>
<ol type="a">
<li>Zhahir dan bathin keduanya (imam dan makmum) sama.</li>
<li>Zhahir keduanya sama (seperti gerakannya) sedangkan bathin keduanya berbeda.</li>
<li>Zhahir dan bathinnya berbeda.</li>
</ol>
<p align="JUSTIFY">Zhahir di sini maksudnya adalah <em>hai-ah</em>/sifat (praktek atau gerakan shalat), sedangkan <em>bathin</em> maksudnya adalah niatnya.</p>
<ul>
<li>Contoh no. 1 adalah imam shalat ‘Ashar dan makmum juga shalat ‘Ashar maka keduanya; zhahir dan bathinnya sama.</li>
<li>Contoh no. 2 adalah imam shalat ‘Ashar sedangkan makmum shalat Zhuhur, ini maksud zhahirnya sama namun bathin (niatnya) berbeda.</li>
<li>Contoh no. 3 imam shalat ‘Isya sedangkan makmum shalat Maghrib, inilah yang dimaksud berbeda zhahir dan bathin.</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY">Contoh no. 1 sudah sama-sama kita ketahui hukumnya dengan jelas, lalu <i>bagaimana dengan no. 2 dan 3</i>?</p>
<p align="JUSTIFY">Jawab: No. 2 dan 3 ini ada ikhtilaf di kalangan para ulama, yang shahih dan rajih di antara pendapat itu adalah untuk no. 2 itu boleh dilakukan meskipun imam dan makmum berbeda bathinnya (niatnya) berdasarkan hadits yang lalu. Adapun no. 3 tidak boleh dilakukan karena imam itu dijadikan untuk diikuti.</p>
<p align="JUSTIFY">Namun Syaikh Ibnu Baz dalam masalah ini berpendapat ketika ia ditanya sebagai berikut[3]:</p>
<p align="JUSTIFY">“Terkadang ketika menjama’ antara Maghrib dan ‘Isya karena hujan, ada sebagian jamaah yang hadir (terlambat). Ketika itu imam melakukan shalat ‘Isya, orang-orang itu (yang datang terlambat) langsung masuk ke dalam shalat bersama imam dengan mengira bahwa ia (imam) shalat Maghrib, lalu apa sikap yang harus mereka lakukan?”</p>
<p align="JUSTIFY">Ia menjawab, “Mereka harus duduk setelah rakaat ketiga (tidak bangkit bersama imam), membaca tasyahhud dan doa lalu melakukan salam bersama imam[4]. Kemudian mereka melakukan shalat ‘Isya setelahnya untuk mencapai keutamaan jamaah dan mengerjakan shalat secara tertib dimana hal itu wajib…dst.”.</p>
<h5 align="JUSTIFY"><span style="color: #0000ff;">Shalat sunat dengan niat lebih dari satu</span></h5>
<p>Shalat sunat dengan niat lebih dari satu hukumnya boleh, misalnya seseorang shalat sunat dengan niat shalat sunat wudhu’, shalat tahiyyatul masjid, dan shalat sunat rawatib Zhuhur, maka tidak mengapa, namun lebih utama dipisah. Adapun untuk shalat fardhu, maka tidak bisa sambil berniat shalat sunat.</p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Mukim bermakmum di belakang musafir</span></h5>
<p>Shalat orang yang mukim di belakang musafir, apa hukumnya? Jawab: “Para fuqaha sepakat bolehnya orang yang mukim berma’mum kepada yang musafir sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bila datang ke Makkah, Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> shalat dengan orang-orang sebanyak 2 rak’at (diqashar), setelah selesai Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">يَا أَهْلَ مَكَّةَ أَتِمُّوا صَلَاتَكُمْ فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ * (مالك)</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Wahai penduduk Makkah, sempurnakan shalat kalian karena kami orang yang sedang safar</em>.” (HR. Malik)</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Catatan</b>: Seorang musafir jika sebagai imam mengimami orang-orang yang mukim hendaknya setelah shalat memberitahukan kepada ma’mumnya agar menyempurnakan shalatnya.</p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Musafir bermakmum di belakang mukim</span></h5>
<p>Apa hukum shalat orang musafir di belakang orang yang mukim?</p>
<p align="JUSTIFY">Jawab, “Para fuqaha sepakat bolehnya musafir bermakmum kepada yang mukim, caranya si musafir ikut shalat 4 rakaat dengan yang mukim, karena makmum diperintahkan mengikuti imam.” Hal ini sebagaimana dalam riwayat Ahmad bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya oleh Musa bin Salamah,</p>
<p class="arab">إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ قَالَ تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ(احمد)</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Kami jika bersama kamu melakukan shalat empat rakaat dan apabila kami pulang ke rumah, kami melakukan dua rakaat?” Ibnu Abbas berkata, “Itu adalah Sunnah Abil Qaasim (sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)</em>.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Maraji’:</b></p>
<ul>
<li>
<i>Maktabah Syamilah</i> versi 3.45</li>
<li>
<i>Mausu’ah Haditsiyyah Mushaghgharah</i> (Markaz Nurul Islam Li abhatsil Qur’an was Sunnah)</li>
<li>
<i>Syarhul Arba’in An Nawawiyyah</i> (Sulaiman bin Muhammad Al Luhaimid)</li>
<li>
<i>Mabahits Fin Niyyah</i> (Shalih bin Muhammad Al Ulyawi)</li>
</ul>
<p><strong>Footnote</strong></p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY">[1] Pembahasan ini banyak merujuk kepada kutaib “<em>Mabaahits fin niyyah</em>” oleh Syaikh Shalih bin Muhammad Al ‘Ulyawiy.</p>
[2] QS. Al Baqarah : 196
</div>
<div id="sdfootnote2">
[3] <em>Fatawa muhimmah tata’allaq bish shalaah</em> hal. 96.
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote">[4] Mungkin Syaikh Ibnu Baz meng-qiyas-kan dengan shalat khauf –wallahu a’lam-</p>
<p class="sdfootnote">—</p>
<p class="sdfootnote">Penulis: Ustadz Marwan Hadidi S.Pdi.</p>
<p class="sdfootnote">Artikel <a href="https://muslim.or.id/" target="_blank" rel="noopener">Muslim.or.id</a></p>
</div>
<div id="sdfootnote4"></div>
 