
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>III. Dasar ketiga</b></span></h4>
<h5>
<b>Bersikap</b> <b>melampui batas terhadap orang salih (ghuluw) adalah sebab kesyirikan, bahkan kesyirikan pertama kali terjadi di muka bumi, disebabkan ghuluw ini</b>
</h5>
<p><b>Petikan matan </b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;"> فأولهم نوح – عليه السلام – أرسله الله إلى قومه لما غلوا في الصالحين ودٍّ، وسواع، ويغوث، ونسرٍ. وآخر الرسل محمد صلى الله عليه و سلم وهو الذي كسر صور هؤلاء الصالحين. </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasul yang pertama adalah Nuh ‘alaihis salam, beliau diutus kepada kaumnya tatkala mereka berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shalih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr. Sedangkan Rasul yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliaulah yang telah menghancurkan patung orang-orang shalih tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><b>Penjelasan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasul pertama adalah Nuh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal ini berdasarkan HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">mengutus beliau kepada kaum yang menyekutukan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">sedangkan kesyirikan mereka karena mereka bersikap melampui batas (ghuluw) terhadap orang-orang salih.</span></p>
<h5><b>Sekilas tahapan kesyirikan pertama di muka bumi</b></h5>
<p><b>Tahap Pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kaum Rasul Nuh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> turun temurun berasal dari keturunan Nabi Adam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam, </span></i><span style="font-weight: 400;">sedangkan  keturunan Nabi Adam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">berada di atas Tauhid hingga kehadiran orang-orang salih yang taat kepada Allah</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr. Ketika mereka meninggal dunia, tersebar di tengah-tengah manusia sikap cinta dunia dan jauh dari mengingat akhirat. Sehingga banyak orang pada masa itu pergi ke kuburan orang-orang salih tersebut, merenung dan menangis di sisi kuburan tersebut untuk menambah semnagat ibadah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Suatu saat setan pun datang ke kuburan tersebut dan membisiki mereka agar membuat patung-patung orang salih itu, lalu orang-orang itu pun membuat patung-patung tersebut dan mereka letakkan di kuburan-kuburan mereka. Memang awal mulanya mereka tidak menyembah patung-patung tersebut, mereka sebatas memandang patung-patung itu sehingga mereka mengenang kembali kesalihan orang-orang salih yang dipatungkan tersebut.</span></p>
<p><b>Tahap Kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umur kaum Rasul Nuh </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam </span></i><span style="font-weight: 400;">panjang-panjang, sehingga setan punya banyak kesempatan untuk menyelipkan berbagai tipu muslihat guna menyesatkan mereka. Setan membisikan agar mereka menaruh patung-patung tersebut di rumah mereka agar mereka semakin terdorong untuk beribadah, sebagaimana orang-orang salihtersebut. Saat bisikan setan sudah merasuki mereka, merekapun menempatkan patung-patung itu di rumah mereka, bahkan terkadang mereka membawanya ketika sedang safar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada tahapan awal, patung-patung orang salih tidak disembah, namun sekedar untuk mengenang kesalihan mereka, sehingga diharapkan bisa mendorong semangat mereka dalam beribadah.  </span></p>
<p><b>Tahap Ketiga</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masa panjang pun berlalu, ketika sudah banyak hilang ilmu tauhid disertai hilangnya tujuan awal pembuatan patung orang-orang salih, mulailah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama beranggapan bahwa tidaklah kakek moyang mereka membuat patung-patung itu kecuali untuk disembah dan dikeramatkan. Akhirnya mereka pun berdoa kepada patung-patung tersebut dengan anggapan ruh-ruh orang-orang salih itu bisa menjadi perantara sampainya hajat mereka kepada Allah. Dengan sebab inilah mereka terjatuh dalam syirik akbar[1. </span><span style="font-weight: 400;">Diringkas dari <em>Syarh Kasyf Asy-Syubuhat</em>, Syaikh  salih Alusy Syaikh, hal. 46</span><span style="font-weight: 400;">].</span></p>
<p>***</p>
<p>(bersambung)</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 