
<p><strong>PENUNTUT ILMU DAN SHALAT TAHAJJUD</strong> <a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Oleh<br>
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas<strong> حفظه الله</strong></p>
<p>Semestinya seorang penuntut ilmu memiliki keistimewaan dengan perangai, sifat, kewibawaan, keutamaan, dan semangat dalam beribadah. Semua itu hendaklah ia lakukan ikhlas karena Allah Ta’ala dan dengan tujuan untuk membersihkan segala hal yang diberikan Allah Ta’ala berupa ilmu dan agama agar ia benar-benar menjadi teladan yang shalih bagi orang yang melihatnya, mendengarnya, dan duduk bersamanya.</p>
<p>Ibnu Mas’ud (wafat th. 32 H) <em>radhiyallaahu ‘anhu</em> mengatakan, “Hendaklah seorang pengemban Al-Qur-an mengetahui (apa yang harus dikerjakan) pada waktu malamnya ketika orang lain tidur; siangnya ketika orang lain tidak puasa; wara’nya ketika orang lain bercampur baur; ketawadhu’annya ketika orang lain angkuh; kesedihannya ketika orang lain bersukaria; tangisnya ketika orang lain tertawa; dan diamnya ketika orang lain banyak berbicara.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Demikianlah, seorang penuntut ilmu harus menjadi teladan ketika berada di negerinya, teladan ketika pergi, teladan dalam beribadah, dan teladan dalam segala keadaan.</p>
<p><strong>Pengertian dan Hukum Shalat Tahajjud</strong><br>
Shalat Tahajjud (<em>Qiyaamul Lail</em>) adalah shalat sunnah yang dilakukan seseorang setelah ia bangun dari tidurnya di malam hari meskipun tidurnya hanya sebentar. Sangat ditekankan apabila shalat ini dilakukan pada sepertiga malam yang terakhir karena pada saat itulah waktu dikabulkannya do’a.</p>
<p>Hukum shalat Tahajjud adalah sunnah <em>muakkadah</em> (sunnah yang sangat ditekankan). Shalat sunnah ini telah tetap berdasarkan dalil dari Al-Qur-an, Sunnah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan ijma’ kaum Muslimin.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p><strong>كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ</strong> <strong>﴿١٧﴾</strong> <strong>وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ</strong></p>
<p>“<em>Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)</em>.” [Adz-Dzaariyaat/51: 17-18]</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p><strong>تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ</strong><strong>﴿١٦﴾</strong><strong>فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</strong></p>
<p>“<em>Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.</em>” [As-Sajdah/32: 16-17]</p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla </em>berfirman,</p>
<p><strong>أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ</strong></p>
<p>“<em>(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?..</em>.” [Az-Zumar/39: 9]</p>
<p>Dan Allah <em>Tabaaraka wa Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p><strong>وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ</strong></p>
<p>“<em>Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu</em>….” [Al-Israa’/17: 79]</p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ الصَّلاَةُ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ</strong>.</p>
<p>“<em>Shalat yang paling utama setelah shalat yang </em><em>fardhu adalah shalat di waktu tengah malam</em>.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p><strong>Keistimewaan Shalat Tahajjud</strong><br>
Shalat Tahajjud memiliki sekian banyak keutamaan dan keistimewaan sehingga seorang penuntut ilmu sangat ditekankan untuk mengerjakannya. Di antara keistimewaannya adalah:</p>
<p>1. Shalat Tahajjud adalah sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu.<br>
Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p><strong>أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْـمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ </strong><strong>بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ</strong>.</p>
<p>“<em>Sebaik-baik puasa setelah (puasa) Ramadhan </em><em>adalah puasa di bulan Allah, Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat yang fardhu adalah shalat malam</em>.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>2. Shalat Tahajjud merupakan kemuliaan bagi seorang Mukmin.<br>
Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p><strong>أَتَانِـيْ جِبْـرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُـحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْـمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ</strong>.</p>
<p>“<em>Malaikat Jibril mendatangiku, lalu berkata, ‘Wahai </em><em>Muhammad, hiduplah sekehendakmu karena kamu akan mati, cintailah seseorang sekehendakmu karena kamu akan berpisah dengannya, dan ber-amallah sekehendakmu karena kamu akan diberi balasan, dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mukmin itu ada pada shalat malamnya dan tidak merasa butuh terhadap manusia</em>.”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>3. Kebiasaan orang yang shalih.<br>
4. Pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.<br>
5. Menjauhkan dosa.<br>
6. kesalahan.</p>
<p>Keempat keutamaan ini (poin 3-6) terangkum dalam sabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><strong>عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِـحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الْإِثْمِ</strong>.</p>
<p>“<em>Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena </em><em>ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ia sebagai amal taqarrub bagi kalian kepada Allah, menjauhkan dosa, dan penghapus kesalahan</em>.”<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>7. Shalat malam adalah wasiat yang pertama kali Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> sampaikan kepada penduduk Madinah ketika beliau memasukinya. Beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَام،َ وَصِلُوا اْلأَرْحَامَ، وَصَلُّوا باِللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْـجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.</strong></p>
<p>“<em>Wahai manusia! Sebarkanlah salam, </em><em>berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat</em>.”<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>8. Shalat malam sebagai sebab diangkatnya derajat seseorang. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ketika ditanya tentang tingkatan dalam derajat,</p>
<p><strong>إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَلِيْنُ الْكَلاَمِ وَالصَّلاَةُ باِللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ</strong>.</p>
<p>“<em>Memberi makan, ucapan yang santun, dan shalat </em><em>di malam hari ketika orang lain tidur</em>.”<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p>9. Dapat menguatkan hafalan Al-Qur-an, membantu bangun untuk shalat Shubuh, mencontoh generasi terdahulu, dan lainnya.</p>
<p><strong>Shalat Tahajjud Rasulullah   </strong>    .<br>
Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah meninggalkan shalat Tahajjud, baik ketika beliau sedang mukim maupun sedang safar. ‘Aisyah <em>radhiyaallahu </em><em>‘anha</em> pernah berkata, “Apabila Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan shalat (malam), beliau berdiri hingga telapak kakinya merekah.” Lalu ‘Aisyah <em>radhiyallaahu ‘anha</em> berkata, “Kenapa engkau melakukan semua ini. Padahal Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Lalu beliau menjawab,</p>
<p><strong>يَا عَائِشَةُ، أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا</strong>.</p>
<p>“<em>Wahai ‘Aisyah, apakah tidak </em><em>layak aku menjadi hamba yang banyak bersyukur</em>.”<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p><strong>Shalat Tahajjud Para Salafush Shalih</strong><br>
Diriwayatkan dari Abu Qatadah (wafat th. 54 H) <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi </em><em>wa sallam </em>pernah keluar pada suatu malam, tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar <em>radhiyallaahu ‘anhu</em> yang sedang mengerjakan shalat dengan melirihkan suaranya.” Abu Qatadah berkata, “Kemudian beliau bertemu dengan ‘Umar yang sedang mengerjakan shalat dengan mengeraskan suaranya. “ Abu Qatadah berkata, “Tatkala keduanya berkumpul di sisi Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau berkata kepada keduanya, ‘Wahai Abu Bakar, aku telah melewatimu ketika engkau sedang shalat dan engkau melirihkan suaramu.’ Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya aku telah memperdengarkan kepada Rabb yang aku bermunajat kepada-Nya, wahai Rasulullah.’” Abu Qatadah berkata, “Kemudian beliau bertanya kepada ‘Umar, ‘Aku telah melewatimu, ketika itu engkau sedang mengerjakan shalat dengan mengeraskan suaramu.’” Abu Qatadah berkata, “Lalu  ‘Umar menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku telah membangunkan orang-orang yang sedang tidur terlelap dan mengusir syaitan.’ Lalu Nabi bersabda, ‘Wahai Abu Bakar, keraskan suaramu sedikit.’ Dan berkata kepada ‘Umar, ‘Wahai ‘Umar, lirihkan suaramu sedikit.’”<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a></p>
<p>Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam (wafat th. 136 H) <em>rahimahullaah</em> bahwa ‘Umar <em>radhiyallaahu ‘anhu</em> melakukan shalat malam dalam waktu yang cukup lama hingga di akhir malam beliau membangunkan keluarganya untuk melakukan shalat. Beliau berkata, “Shalatlah kalian! Shalatlah kalian!” Kemudian beliau membaca ayat berikut,</p>
<p><strong>وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا</strong><strong> ۖ</strong><strong> لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا</strong><strong> ۖ</strong><strong> نَحْنُ نَرْزُقُكَ</strong><strong> ۗ</strong><strong> وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ</strong></p>
<p>‘<em>Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang mem-beri rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.</em>‘ [Thaahaa/20: 132]”<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Sirin <em>rahimahullaah</em>, ia berkata, “Isteri ‘Utsman berkata ketika beliau terbunuh, ‘Sungguh kalian telah membunuhnya. Sesungguhnya ia itu (‘Utsman bin ‘Affan, wafat th. 35 H) selalu menghidupkan malamnya dengan Al-Qur-an (dalam shalat malam).’”<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a></p>
<p>Diriwayatkan bahwa Dhirar bin Dhamrah al-Kinani <em>rahimahullaah </em>menyifati ‘Ali bin ‘Abi Thalib <em>radhiyal</em><em>laahu ‘anhu</em> ketika ia dipanggil oleh Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallaahu ‘anhuma</em>, ia mengatakan, “Beliau (‘Ali) tidak merasa gembira dengan dunia dan gemerlapnya dan beliau merasa gembira dengan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi kepada Allah, sesungguhnya aku pernah melihatnya pada beberapa kesempatan ketika malam telah gelap dan bintang telah tenggelam, beliau telah berdiri miring di tempat shalatnya sambil meraba jenggotnya dan menangis seperti orang yang ditimpa kesedihan. Maka seakan-akan aku mendengarnya mengatakan, ‘Wahai Rabb, wahai Rabb,’ dengan penuh permohonan kepada-Nya.”<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<p>Abu ‘Utsman an-Nahdi <em>rahimahullaah</em> mengatakan, “Aku pernah bertamu pada Abu Hurairah <em>radhiyallaahu </em><em>‘anhu</em> selama tujuh hari. Ternyata dia, isterinya, dan pembantunya membagi malam menjadi tiga. Apabila yang satu telah shalat, lalu membangunkan yang lain.”<a href="#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah ber-sabda mengenai diri ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallaahu </em><em>‘anhuma</em>,</p>
<p><strong>نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ</strong>.</p>
<p>“<em>Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah, seandainya ia mau shalat malam</em>.”<a href="#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<p>Sesudah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda demikian, ia tidak banyak tidur di waktu malam. Sebagian besar malamnya ia pergunakan untuk shalat dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Terkadang ia melakukannya hingga menjelang sahur. Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata kepada isteri beliau, Hafshah, “Sesungguhnya saudaramu (Ibnu ‘Umar) seorang yang shalih.”<a href="#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a></p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallaahu ‘anhuma</em> mengatakan, “Aku pernah shalat (malam) di belakang Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> di akhir malam, lalu beliau mengarahkan diriku sejajar dengannya. Tatkala selesai aku berkata, “Apakah pantas bagi seseorang jika ia melakukan shalat sejajar denganmu, padahal engkau adalah utusan Allah.’ Lalu beliau berdo’a kepada Allah agar Dia memberikan kepadaku tambahan pemahaman dan ilmu.”<a href="#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a></p>
<p>Mengenai firman Allah Ta’ala, “<em>Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” </em>Al-Hasan al-Bashri <em>rahimahullaah</em> berkata, “Mereka hanya sebentar tidur di waktu malam.” Dan mengenai firman-Nya, “<em>Dan di akhir malam mereka </em><em>memohon ampun.” </em>(Adz-Dzaariyaat/51: 17-18) Al-Hasan berkata, “Mereka memanjangkan shalat hingga waktu sahur, kemudian mereka berdo’a dan merendahkan diri.”<a href="#_ftn18" name="_ftnref18">[18]</a></p>
<p>‘Ali bin al-Husain bin Syaqiq <em>rahimahullaah</em> mengatakan, “Tidak pernah kulihat orang yang lebih pas bacaanya daripada Ibnul Mubarak. Tidak ada yang lebih baik bacaannya dan lebih banyak shalatnya daripada dia. Dia shalat disepanjang malam, baik dalam perjalanan (safar) maupun yang lainnya. Dia mentartilkan bacaan dan memanjangkannya, dia sengaja meninggalkan tidur agar orang lain tidak mengetahuinya saat ia shalat.”<a href="#_ftn19" name="_ftnref19">[19]</a></p>
<p>Yahya bin Ma’in <em>rahimahullaah</em> mengatakan, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih utama daripada Waki’ bin al-Jarrah <em>rahimahullaah</em>, dia tekun melakukan shalat, menghafalkan banyak hadits, sering shalat malam, dan banyak berpuasa.” Puteranya, Ibrahim, berkata, “Ayahku shalat malam dan semua penghuni rumah, sampai pembantu kami, juga ikut shalat.”<a href="#_ftn20" name="_ftnref20">[20]</a></p>
<p><strong>Kiat Agar Dapat Melakukan Shalat Tahajjud</strong><br>
Ada beberapa kiat yang dapat membantu seseorang untuk bangun di malam hari guna melakukan shalat Tahajjud. Di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dan kedudukan orang yang melakukannya di sisi Allah Ta’ala serta segala apa yang disediakan baginya berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, bagi mereka disediakan Surga.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Allah Ta’ala bersaksi terhadap mereka dengan kesempurnaan iman, dan tidak sama antara mereka dengan orang-orang yang tidak mengetahui. Shalat Tahajjud sebagai sebab masuk ke dalam Surga, ditinggikannya derajat di dalamnya, dan shalat Tahajjud merupakan sifat hamba-hamba Allah yang shalih serta kemuliaan bagi seorang Mukmin.</p>
<ol start="2">
<li>Mengetahui perangkap syaitan dan usahanya agar manusia tidak melakukan shalat malam.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda mengenai seorang laki-laki yang tidur hingga datang waktu fajar,</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>ذَاكَ الشَّيْطَانُ بَالَ فِيْ أُذُنِهِ -أَوْ قَالَ-: فِيْ أُذُنَيْهِ.</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Itulah seseorang yang syaitan telah kencing di telinganya -atau beliau bersabda- di kedua te</em><em>linganya</em>.”<a href="#_ftn21" name="_ftnref21">[21]</a></p>
<p style="padding-left: 40px;">‘Abdullah bin ‘Amr <em>radhiyallaahu ‘anhuma</em> menga-takan, “Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Wahai ‘Abdullah, jangan kamu menjadi seperti si </em><em>fulan, dahulu ia biasa melakukan shalat malam, kemudian meninggalkannya</em>.”<a href="#_ftn22" name="_ftnref22">[22]</a></p>
<ol start="3">
<li>Memendekkan angan-angan dan banyak mengingat</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Hal ini dapat memberi semangat untuk beramal dan dapat menghilangkan rasa malas, berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ</strong>.</p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang </em><em>asing atau orang yang sedang menyeberangi jalan</em>.”</p>
<p style="padding-left: 40px;">Ibnu ‘Umar <em>radhiyallaahu ‘anhuma </em>mengatakan, “Apabila berada di pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu sore. Dan apabila berada di sore hari, janganlah engkau menunggu waktu pagi. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.”<a href="#_ftn23" name="_ftnref23">[23]</a></p>
<ol start="4">
<li>Tidur di awal malam agar memperoleh kekuatan dan semangat yang dapat membantu untuk melakukan shalat Tahajjud dan shalat Shubuh.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Hal ini berdasarkan hadits Abu Barzah <em>radhiyallaahu </em><em>‘anhu,</em></p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَ الْـحَدِيْثَ بَعْدَهَا</strong>.</p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em><em>membenci tidur sebelum shalat ‘Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya</em>.”<a href="#_ftn24" name="_ftnref24">[24]</a></p>
<ol start="5">
<li>Mempergunakan kesehatan dan waktu luang (dengan melakukan amal shalih) agar pahala ke-baikannya tetap ditulis pada saat ia sakit atau sedang safar.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا</strong>.</p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Apabila seorang hamba sakit atau safar, ditulislah </em><em>baginya pahala perbuatan yang biasa ia lakukan ketika mukim dan sehat</em>.”<a href="#_ftn25" name="_ftnref25">[25]</a></p>
<p style="padding-left: 40px;">Maka orang yang berakal hendaklah tidak terluput dari keutamaan yang agung ini. Hendaklah ia melakukan shalat Tahajjud ketika sedang sehat dan memiliki waktu luang serta melakukan berbagai amal shalih sehingga ditulislah pahala baginya apabila ia lemah atau sibuk dari melakukan amal kebaikan yang biasa ia lakukan.</p>
<ol start="6">
<li>Bersungguh-sungguh mengamalkan adab-adab sebelum tidur.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Yaitu, dengan tidur dalam keadaan suci, apabila masih mempunyai hadats hendaklah ia berwudhu’ dan shalat sunnah dua raka’at, membaca dzikir sebelum tidur, mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu ditiupkan serta dibacakan padanya surat al-Ikhlaash, al-Falaaq, dan an-Naas. Kemudian usaplah dengan kedua tangannya itu seluruh anggota badan yang dapat dijangkaunya (lakukan hal ini tiga kali). Jangan lupa juga membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, dan membaca do’a sebelum tidur. Dia juga harus melakukan berbagai sebab yang dapat membangunkannya untuk shalat, seperti meletakkan jam weker di dekat kepalanya atau dengan berpesan kepada keluarganya atau temannya atau tetangganya untuk membangunkannya.</p>
<ol start="7">
<li>Memperhatikan sejumlah sebab yang dapat membantu untuk melakukan shalat Tahajjud.</li>
</ol>
<p style="padding-left: 40px;">Yaitu, dengan tidak terlalu banyak makan, tidak membuat badannya lelah dengan melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat, bahkan seharusnya ia mengatur pekerjaannya yang bermanfaat, tidak meninggalkan tidur siang karena itu dapat membantu bangun di malam hari, dan <strong>menjauhi dosa dan maksiyat</strong>. Disebutkan dari Sufyan ats-Tsauri <em>rahimahullaah</em> beliau berkata, “Selama lima bulan aku terhalang untuk melakukan shalat malam karena dosa yang aku lakukan.”<a href="#_ftn26" name="_ftnref26">[26]</a></p>
<p><strong>Shalat Sunnah Witir</strong><br>
Shalat sunnah Witir adalah shalat sunnah <em>muakkadah</em> (sangat ditekankan), berdasarkan hadits Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam, </em></p>
<p><strong>اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ</strong>.</p>
<p>“<em>Shalat Witir adalah hak </em><em>atas setiap Muslim. Barangsiapa yang ingin berwitir dengan lima raka’at, maka lakukanlah; barangsiapa yang ingin berwitir dengan tiga raka’at, maka lakukanlah; dan barangsiapa yang ingin berwitir dengan satu raka’at, maka lakukanlah</em>.”<a href="#_ftn27" name="_ftnref27">[27]</a></p>
<p>‘Ali <em>radhiyallaahu ‘anhu</em> mengatakan, “Shalat Witir tidaklah wajib seperti shalat fardhu kalian. Akan tetapi ia adalah sunnah yang disunnahkan oleh Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>.”<a href="#_ftn28" name="_ftnref28">[28]</a></p>
<p><strong>Keutamaan Shalat Witir</strong><br>
Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.</strong></p>
<p>“<em>Wahai Ahlul Qur-an</em><em>, shalat Witirlah kalian karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu witir (Maha Esa) dan mencintai orang-orang yang melakukan shalat Witir</em>.”<a href="#_ftn29" name="_ftnref29">[29]</a></p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz (wafat th. 1420 H) <em>rahimahullaah </em>mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa sudah seharusnya bagi ahlul ilmu (ulama) memiliki perhatian yang lebih (terhadap shalat Witir) daripada selainnya, meskipun shalat ini disyari’atkan untuk semua kaum Muslimin. Sehingga, orang-orang yang mengetahui keadaan dan perbuatan mereka mau mengikuti mereka. Jumlah paling sedikit dari shalat Witir adalah satu raka’at, yang dilakukan antara ‘Isya’ sampai fajar. Allah Ta’ala adalah witir (Maha Esa) dan mencintai orang-orang yang melakukan shalat Witir, dan Dia mencintai segala apa yang menyelarasi sifat-sifat-Nya. Allah Ta’ala Mahasabar dan mencintai orang-orang yang sabar, kecuali sifat keagungan dan ke-sombongan (artinya Allah tidak menyukai orang yang sombong). Para hamba mengikuti sifat-sifat-Nya, yaitu pada apa yang selaras dalam diri hamba berupa kedermawanan dan kebaikan.”<a href="#_ftn30" name="_ftnref30">[30]</a></p>
<p><strong>Hukum Orang yang Terus-menerus Meninggalkan Shalat Witir</strong><br>
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullaah</em> berkata, “Shalat Witir adalah sunnah <em>muakkadah</em>, berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkannya, maka persaksiannya ditolak (tidak diterima).”<a href="#_ftn31" name="_ftnref31">[31]</a></p>
<p>Beliau <em>rahimahullaah </em>pernah ditanya tentang orang yang tidak menekuni (biasa meninggalkan) shalat-shalat sunnah rawatib. Maka beliau menjawab, “Barangsiapa terus-menerus meninggalkannya, maka hal itu menunjukkan sedikitnya (pemahaman) agamanya, dan persaksiannya ditolak (tidak diterima), berdasarkan pendapat Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i dan selain keduanya.”<a href="#_ftn32" name="_ftnref32">[32]</a></p>
<p>[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Dinukil dari kitab <em>Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi </em>(hal. 221-224) dengan sedikit perubahan dan tambahan.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Diriwyatkan oleh  Imam al-Ajurri (wafat th. 360 H) dalam kitab <em>Akhlaaq Ahlil Qur-aan </em>(hal. 102), dan <em>Shifatush Shafwah </em>(I/181). Dinukil dari kitab <em>Ma’aalim </em><em>fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi </em>(hal. 222).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1163 (203)), dari Shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallaahu ‘anhu.</em><br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 1163 (203)), dari Shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Hadits hasan: Diriwayatkan oleh al-Hakim (IV/325), dishahihkannya dan disepakati adz-Dzahabi, sanadnya dihasankan oleh al-Mundziri dalam <em>at-Targhiib wat Tarhiib </em>(I/640). Beliau me-nisbatkan hadits ini kepada ath-Thabrani dalam <em>al-Ausath</em>, dan Imam al-Haitsami memberi isyarat tetapnya sanad ini dalam kitabnya <em>Majma’uz Zawaa-id </em>(II/253) dan menisbatkannya ke-pada ath-Thabrani dalam <em>al-Ausath</em>. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Silsilah ash-</em><em>Shahiihah </em>(no. 831) dan beliau menyebutkan tiga jalan periwayatan: dari ‘Ali, Sahl, dan Jabir <em>radhiyallaahu ‘anhum</em>.<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3549), al-Hakim (I/308), dan al-Baihaqi (II/502), lafazh ini milik al-Hakim, dari Shahabat Abu Umamah al-Bahili <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>.<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (V/451), at-Tirmidzi (no. 2485), Ibnu Majah (no. 1334, 3251), al-Hakim (III/13), ad-Darimi (I/340), dan selainnya, dari Shahabat ‘Abdullah bin Salam <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>. Lihat <em>Silsilah ash-Shahiihah</em> (no. 569).<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (V/243), at-Tirmidzi (no. 3235), dan al-Hakim (I/521), dari Shahabat Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>. Lihat <em>Shahiih Sunan at-Tirmidzi </em>(III/99, no. 2582).<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 4837) dan Muslim (no. 2820), lafazh ini milik Muslim.<br>
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1329), at-Tirmidzi (no. 447), dan al-Hakim (I/310), lafazh ini milik Abu Dawud.<br>
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> <em>Muwaththa’ Imam Malik </em>(I/117, no. 5), <em>Tafsiir ath-Thabari</em> (III/840, no. 24461), dan <em>Tafsiir Ibni Katsir</em> (III/189).<br>
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> <em>Kitab az-Zuhd </em>(no. 671), karya Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahima-</em><em>hullaah.</em><br>
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <em>Hilyatul Auliyaa’</em> (I/126, no. 261).<br>
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a>  <em>Al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah </em>(IV/209).<br>
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1122, 1157), Muslim (no. 2479), Ahmad (II/146), dan ad-Darimi (II/127).<br>
<a href="#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2478) dan at-Tirmidzi (no. 3825).<br>
<a href="#_ftnref17" name="_ftn17">[17] </a><em>Siyar A’laamin Nubalaa’ </em>(III/338).<br>
<a href="#_ftnref18" name="_ftn18">[18]</a> <em>Kitab az-Zuhd</em> (no. 1487), karya Imam Ahmad bin Hanbal <em>rahi-mahullaah.</em><br>
<a href="#_ftnref19" name="_ftn19">[19] </a><em>Kitaab Jarh wat Ta’diil</em> (I/266).<br>
<a href="#_ftnref20" name="_ftn20">[20]</a> <em>Shifatush Shafwa</em>h (II/723, no. 453).<br>
<a href="#_ftnref21" name="_ftn21">[21]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1144, 3270) dan Muslim (no. 774), dari Shahabat Ibnu Mas’ud <em>radhiyallaahu </em><em>‘anhu.</em><br>
<a href="#_ftnref22" name="_ftn22">[22]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1152) dan Muslim (no. 1159 (187)).<br>
<a href="#_ftnref23" name="_ftn23">[23]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6416), Ahmad (II/24, 132), at-Tirmidzi (no. 2333), Ibnu Majah (no. 4114), dan al-Baihaqi (III/369).<br>
<a href="#_ftnref24" name="_ftn24">[24]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 568) dan Muslim (no. 461), lafazh ini milik al-Bukhari.<br>
<a href="#_ftnref25" name="_ftn25">[25]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2996), dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari <em>radhiyallaahu ‘anhu.</em><br>
<a href="#_ftnref26" name="_ftn26">[26]</a> Lihat kitab <em>Qiyaamul Lail, Fadhluhu wa Aadaabuhu wal Asbaabul </em><em>Mui’iinatu ‘alaihi fii Dhau-il Kitaabi was Sunnah</em> (hal. 50-58).<br>
<a href="#_ftnref27" name="_ftn27">[27]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1422), an-Nasa-i (III/238-239), dan Ibnu Majah (no. 1190), lafazh ini milik Abu Dawud, dari Shahabat Abu Ayyub al-Anshari <em>radhiyallaahu </em><em>‘anhu. </em>Lihat <em>Shahiih Sunan Abi Dawud </em>(I/267, no. 1260).<br>
<a href="#_ftnref28" name="_ftn28">[28]</a> Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 454), an-Nasa-i (III/229), al-Hakim (I/300), dan Ahmad (I/148). Lihat <em>Shahiih Sunan an-Nasa-i</em> (I/368, no. 1582).<br>
<a href="#_ftnref29" name="_ftn29">[29]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i (III/228-229), at-Tirmidzi (no. 453), Abu Dawud (no. 1416), Ibnu Majah (no. 1169), dan Ahmad (I/86), lafazh ini milik an-Nasa-i, dari Sha-habat ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallaahu ‘anhu.</em><br>
<a href="#_ftnref30" name="_ftn30">[30]</a> Lihat kitab <em>Qiyaamul Lail, Fadhluhu wa Aadaabuhu wal Asbaabul </em><em>Mui’iinatu ‘alaihi fii Dhau-il Kitaabi was Sunnah </em>(hal. 78-82).<br>
<a href="#_ftnref31" name="_ftn31">[31]</a> <em>Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</em> (XXIII/88).<br>
<a href="#_ftnref32" name="_ftn32">[32]</a> Ibid (XXIII/127).</p>
 