
<p><strong>NASIHAT DAN WASIAT UNTUK PARA PENUNTUT ILMU</strong></p>
<p>Oleh<br>
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</p>
<p>Nasihat Ketiga<br>
<strong>TIDAK BOLEH MENYEMBUNYIKAN ILMU</strong><br>
Menyembunyikan ilmu adalah satu sifat tercela yang disandang oleh Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), yaitu mereka menyembunyikan kebenaran risalah Nabi Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> di dalam Kitab suci keduanya: Taurat dan Injil.</p>
<p>Apabila seseorang mengetahui suatu ilmu, kemudian ada orang lain yang bertanya tentang ilmu ter-sebut maka ia harus menyampaikan ilmu tersebut kepadanya. Sebab apabila tidak dilakukan dan ia menyembunyikan ilmunya itu, ia terkena ancaman Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam sabdanya,</p>
<p><strong>مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْـجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ.</strong></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan di-belenggu pada hari Kiamat dengan tali kekang </em><em>dari Neraka</em>.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ </strong><strong>ۙ</strong><strong> أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat</em>.” [Al-Baqarah/2: 159]</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullaah </em>mengatakan, “Seorang penuntut ilmu hendaklah memberikan ilmunya kepada penuntut ilmu selainnya dan tidak menyembunyikan suatu ilmu pun karena ada larangan keras dari Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap perbuatan tersebut.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Selain itu Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>memberikan perumpamaan bagi orang yang menyem-bunyikan ilmu dalam sabda beliau,</p>
<p><strong>مَثَلُ الَّذِيْ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ ثُمَّ لاَ يُـحَدِّثُ بِهِ كَمَثَلِ الَّذِيْ يَكْنِزُ الْكَنْزَ فَلاَ يُنْفِقُ مِنْهُ.</strong></p>
<p>“<em>Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menceritakannya (tidak men</em><em>dakwahkannya), seperti orang yang menyimpan perbendaharaan lalu tidak menginfakkannya</em>.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang berkaitan tentang apa yang wajib diketahui oleh setiap Muslim dari urusan agamanya.</p>
<p>Selain itu, menyampaikan ilmu hanyalah kepada orang yang layak menerimanya. Adapun orang yang tidak layak menerima ilmu itu, maka boleh menyembunyikan ilmu darinya. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Syakir <em>rahimahullaah</em> mengatakan, “Menyampaikan ilmu hukumnya wajib dan tidak boleh menyembunyikannya, namun mereka (para ulama) mengkhususkan hal itu bagi orang yang berkopetensi (layak) menerimanya.</p>
<p>Diperbolehkan menyembunyikan ilmu kepada orang yang belum siap menerimanya, demikian juga kepada orang yang terus-menerus melakukan kesalahan setelah diberikan cara yang benar.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Nasihat Keempat<br>
<strong>PENUNTUT ILMU HARUS TUNDUK PADA KEBENARAN</strong><br>
Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallaahu ‘anhu </em>pernah berkata, “Allah Ta’ala adalah Hakim Yang Mahaadil dalam memberikan hukuman. Dia-lah Dzat yang Nama-Nya Mahatinggi. Dan orang-orang yang meragukan hal itu akan binasa.”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ud <em>rahimahullaah</em> berkata, “Ada seseorang yang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud seraya berkata, ‘Wahai Abu ‘Abdirrahman, beritahukan kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!’ ‘Abdullah menjawab, ‘Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama Al-Qur-an kemana saja engkau pergi. Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan. Dan jika ada kebathilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebathilan itu sangat dekat letaknya dan sangat kausukai.’”<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Imam asy-Syafi’i <em>rahimahullaah</em> mengatakan, “Ketika aku meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah dan aku tidak menggunakannya, maka aku bersaksi pada kalian semua bahwa (sejak itulah) kewarasan akalku telah hilang.”<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>Beliau juga berkata, “Apabila ada seseorang yang mengingkari dan menolak kebenaran berada di hadapanku, maka aku tidak akan menaruh hormat lagi kepadanya. Dan barangsiapa yang menerima kebenaran, maka aku pun akan menghormati dan tanpa ragu akan mencintainya.”<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p>Orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallaahu </em><em>‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><strong>…اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْـحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.</strong></p>
<p>“…Yang dikatakan sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.”<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p>[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), dan Ibnu Majah (no. 266), ini lafazh Ibnu Majah, dari Shahabat Abu Hurairah. Lihat <em>Shahih Sunan Abi </em><em>Dawud </em>(II/441), <em>Shahih Sunan </em><em>at-Tirmidzi</em> (II/336, no. 2135), dan <em>Shahih Sunan Ibni Majah</em> (I/49, no. 213).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2] </a>Lihat <em>al-Baa’itsul Hatsiits </em>(II/440).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam <em>al-Ausath </em>(no. 693), dari Shahabt Abu Hurairah <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>. Lihat <em>Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah</em> (no. 3479).<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Lihat <em>al-Baa’itsul Hatsiits </em>(II/440).<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> <em>Siyar A’laamin Nubalaa’</em> (I/357).<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> S<em>hifatush Shafwah</em> (I/183), cet. II, Maktabah Nazar Musthafa al-Baaz, th. 1418 H.<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> <em>Siyar A’laamin Nubalaa’</em> (X/34).<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Ibid (X/33).<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 91 (147)) dan at-Tirmidzi (no. 1999).</p>
 