
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Beriman Sekaligus Menyekutukan Allah?</strong></span></h2>
<p>Pertanyaan ini mungkin terbetik dalam benak ketika membaca firman Allah <em>Ta’ala</em> dalam al-Quran surat Yusuf ayat 106. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)</em>.” [QS. Yusuf: 106]
</p>
<p>Mengapa Allah <em>Ta’ala</em> menetapkan keberadaan iman pada diri penyembah berhala? Padahal kita tahu bahwa keimanan dan kesyirikan besar (syirik akbar) tidak mungkin bersatu. Jika demikian, apa makna ayat di atas?</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keimanan Penyembah Berhala</strong></span></h2>
<p>Keimanan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah pengakuan (<em>al-iqrar</em>) dan pembenaran (<em>at-tashdiq</em>), yang merupakan hal nyata yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Mereka mengakui <em>rububiyah</em> Allah <em>Ta’ala</em>. Mereka tidak mengingkari bahwa Sang Pencipta, Sang Pemberi rezeki, Sang Penguasa, Sang Pengatur, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan adalah Allah <em>Ta’ala</em>. Namun, bersama dengan pengakuan tersebut, mereka membuat tandingan bagi Allah <em>Ta’ala</em> dalam peribadahan alias melakukan kesyirikan.</p>
<p>Pengakuan inilah keimanan mereka yang diisyaratkan dalam ayat tersebut. Demikian pula dengan kesyirikan mereka dalam peribadahan, pun diisyaratkan dalam ayat itu. Hal itu tercermin dan tampak dalam kalimat talbiyah yang diucapkan kaum musyrikin ketika mereka berhaji,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لبيك لا شريك لك، إلا شريكا هو لك، تملكه وما ملك</span></p>
<p>“<em>Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah; tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau menguasainya dan ia tidak berkuasa</em>.” [HR. Muslim no. 1185]
</p>
<p>Ternyata meski mengakui <em>rububiyah</em> Allah <em>Ta’ala</em> dan beribadah kepada-Nya, mereka juga mempersembahkan peribadahan kepada selain Allah <em>Ta’ala</em>. Tentu hal itu adalah kesyirikan yang nyata.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa keimanan yang selaras dengan ajaran agama dan menafikan kesyirikan besar tidak akan terwujud pada diri seseorang dengan hanya mengakui <em>rububiyah</em> Allah <em>Ta’ala</em>. Akan tetapi, keimanan tersebut harus diiringi dengan perbuatan mengesakan Allah <em>Ta’ala</em> dalam peribadahan. Itulah tauhid <em>uluhiyah</em> yang menjadi inti dakwah para rasul <em>‘alaihim as-salam</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/47865-ternyata-orang-musyrik-zaman-dahulu-lebih-paham-makna-kalimat-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Ternyata Orang Musyrik Zaman Dahulu Lebih Paham Makna Kalimat Tauhid</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Contoh Keimanan Penyembah Berhala di Masa Jahiliyah</strong></span></h2>
<p>Di antara bukti pengakuan kaum musyrikin terhadap rububiyah Allah <em>Ta’ala</em> adalah apa yang disampaikan dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ. قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ. سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ . قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ</span></p>
<p>“<em>Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’</em> [QS. al-Mukminun: 84-89]
</p>
<p>Dalam surat al-Ankabut, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).</em>” [QS. al-‘Ankabut: 61]
</p>
<p>Juga firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah’, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).</em>” [QS. al-‘Ankabut: 63]
</p>
<p>Di antara bukti keimanan mereka adalah pengakuan kaum musyrikin terhadap kehendak (<em>masyi’ah</em>) Allah <em>Ta’ala</em> yang merupakan tuntutan dari <em>rububiyah</em> Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ</span></p>
<p>“<em>Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun’. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.</em>” [QS. al-An’am: 148]
</p>
<p>Dan di antara <em>atsar</em> terkait ayat 106 surat Yusuf tersebut adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma.</em> Beliau <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>menyatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">من إيمانهم، إذا قيل لهم: من خلق السماء؟ ومن خلق الأرض؟ ومن خلق الجبال؟ قالوا: الله، وهم مشركون</span></p>
<p>“<em>Di antara keimanan mereka (kaum musyrikin) adalah jika mereka ditanya siapa yang menciptakan langit, bumi, dan pegunungan? Niscaya mereka akan menjawab bahwa Allah yang menciptakan itu semua. Namun, meski begitu, mereka tetap berbuat kesyirikan.”</em></p>
<p>Ikrimah <em>rahimahullah</em> juga mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">تسألهم من خلقهم؟ ومن خلق السماوات والأرض، فيقولون: الله. فذلك إيمانهم بالله، وهم يعبدون غيره</span></p>
<p>“<em>Tanyalah mereka siapa yang menciptakan diri mereka, serta yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka akan menjawab bahwa Allah yang menciptakan semua itu. Itulah keimanan mereka kepada Allah. Meski demikian, mereka juga tetap menyembah selain-Nya</em>” [lihat <em>Tafsir ath-Thabari</em>, diakses di http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura12-aya106.html]
</p>
<p>Bentuk keimanan yang juga dipraktikkan kaum musyrikin adalah keimanan temporer yang yang dilakukan ketika mereka menghadapi marabahaya. Ketika Allah <em>Ta’ala</em> menyingkirkan marabahaya itu, serta-merta mereka kembali berbuat kesyirikan! Beberapa ayat dalam al-Quran menunjukkannya, di antaranya adalah firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ</span></p>
<p>“<em>Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).</em>” [QS. al-Ankabut: 65]
</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/46734-ketidaksempurnaan-iman-kaum-musyrikin-terhadap-rububiyyah-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Ketidaksempurnaan Iman Kaum Musyrikin Terhadap Rububiyyah Allah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesimpulan</strong></span></h2>
<p>Keimanan yang dimaksud dalam ayat 106 surat Yusuf adalah pengakuan kaum musyrikin terhadap <em>rububiyah</em> Allah <em>Ta’ala</em>. Pengakuan terhadap <em>rububiyah</em> ini boleh jadi masih mencakup kesyirikan seperti kondisi kaum musyrikin di zaman kenabian. Berbeda dengan pengakuan terhadap tauhid <em>uluhiyah</em> yang sama sekali tidak mengandung kesyirikan, dimana keberadaannya akan meniadakan kesyirikan besar.  Oleh karena itu, setiap orang yang hanya mengakui <em>rububiyah</em> Allah <em>Ta’ala</em> belum menjadi orang beriman hingga bertauhid <em>uluhiyah.</em> Karena ia tahu bahwa tauhid <em>rububiyah</em> adalah prasyarat dari tauhid <em>uluhiyah</em>.</p>
<p>Sebagian ulama memperluas <em>mafhum</em> (pemahaman) ayat di atas, di mana mereka memasukkan kesyirikan kecil tercakup dalam kesyirikan yang diisyaratkan dalam ayat tersebut. Dengan demikian, ayat tersebut juga mencakup seorang muslim yang terjangkit dengan kesyirikan kecil seperti terjerumus dalam riya dan semisalnya.  <em>Wallahu Ta’ala a’lam</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24866-allah-taala-tidak-pernah-ridha-dengan-kemusyrikan.html" data-darkreader-inline-color="">Allah Ta’ala Tidak Pernah Ridha dengan Kemusyrikan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/10098-wajibnya-mengkafirkan-orang-kafir-dan-musyrik.html" data-darkreader-inline-color="">Wajibnya Mengkafirkan Orang Kafir Dan Musyrik</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/ichwan" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 