
<p><a href="https://muslim.or.id/40293-dalam-beribadah-hanya-niat-baik-semata-itu-tidak-cukup-bag-1.html">Ibadah</a> merupakan salah satu tujuan penciptaan manusia. Dan untuk merealisasikan tujuan tersebut, diutuslah para rasul dan kitab-kitab diturunkan. Orang yang betul-betul beriman kepada Allah <em>Ta’ala</em> tentu akan berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang pengertian atau jenis-jenis ibadah, sebagian mereka hanya fokus terhadap ibadah tertentu saja, misalnya shalat, zakat, atau puasa. Padahal, jenis-jenis ibadah sangatlah banyak.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/330-bidah-bulan-ramadhan.html"><span style="color: #ff0000;">Macam-Macam Bid’ah di Bulan Ramadhan</span></a></strong></span></p>
<p>Luasnya cakupan <a href="https://muslim.or.id/28752-kaidah-fiqih-hukum-asal-ibadah-adalah-haram.html">ibadah</a> dapat kita lihat dari definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <i>rahimahullahu Ta’ala,</i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة.</span></p>
<p>“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhai, baik ucapan atau perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).” <b>(</b><b><i>Al-‘Ubudiyyah, </i></b><b>hal. 44)</b></p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa secara garis besar, ibadah dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu <b><i>ibadah mahdhah</i></b> dan <b><i>ibadah ghairu mahdhah</i></b><i>. </i>Dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-neraka.html"><span style="color: #ff0000;">Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka</span></a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 23pt;">Perbedaan antara ibadah <i>mahdhah</i> dan ibadah <i>ghairu mahdhah</i></span></h2>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Ibadah <i>mahdhah</i> <b>(العبادت المحضة)</b></span></h3>
<p>Adalah ibadah yang murni ibadah, ditunjukkan oleh tiga ciri berikut ini:</p>
<p><b>Pertama, </b>ibadah <i>mahdhah </i>adalah amal dan ucapan yang merupakan jenis ibadah sejak asal penetapannya dari dalil syariat. Artinya, perkataan atau ucapan tersebut tidaklah bernilai kecuali ibadah. Dengan kata lain, tidak bisa bernilai netral (bisa jadi ibadah atau bukan ibadah). Ibadah <i>mahdhah </i>juga ditunjukkan dengan dalil-dalil yang menunjukkan terlarangnya ditujukan kepada selain Allah <em>Ta’ala,</em> karena hal itu termasuk dalam kemusyrikan.</p>
<p><b>Kedua, </b>ibadah <i>mahdhah </i>juga ditunjukkan dengan maksud pokok orang yang mengerjakannya, yaitu dalam rangka meraih pahala di akhirat.</p>
<p><b>Ketiga, </b>ibadah <i>mahdhah </i>hanya bisa diketahui melalui jalan wahyu, tidak ada jalan yang lainnya, termasuk melalui akal atau budaya.</p>
<p>Contoh sederhana ibadah <i>mahdhah </i>adalah shalat. Shalat adalah ibadah <i>mahdhah </i>karena memang ada perintah (dalil) khusus dari syariat. Sehingga sejak awal mulanya, shalat adalah aktivitas yang diperintahkan (ciri yang pertama). Orang mengerjakan shalat, pastilah berharap pahala akhirat (ciri ke dua). Ciri ketiga, ibadah shalat tidaklah mungkin kita ketahui selain melalui jalur wahyu. Rincian berapa kali shalat, kapan saja, berapa raka’at, gerakan, bacaan, dan seterusnya, hanya bisa kita ketahui melalui penjelasan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>bukan hasil dari kreativitas dan olah pikiran kita sendiri.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/11463-bedakan-bidah-hasanah-dan-bidah-sayyiah.html">Bedakan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah</a></strong></span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Ibadah <i>ghairu mahdhah </i><b>(العبادت غير المحضة)</b></span></h3>
<p>Ibadah yang <b>tidak</b> murni ibadah memiliki pengertian yang berkebalikan dari tiga ciri di atas. Sehingga ibadah <i>ghairu mahdhah </i>dicirikan dengan:</p>
<p><b>Pertama, </b>ibadah (perkataan atau perbuatan) tersebut pada asalnya bukanlah ibadah. Akan tetapi, berubah status menjadi ibadah karena melihat dan menimbang niat pelakunya.</p>
<p><b>Kedua, </b>maksud pokok perbuatan tersebut adalah untuk memenuhi urusan atau kebutuhan yang bersifat duniawi, bukan untuk meraih pahala di akhirat.</p>
<p><b>Ketiga, </b>amal perbuatan tersebut bisa diketahui dan dikenal meskipun tidak ada wahyu dari para rasul.</p>
<p>Contoh sederhana dari ibadah <i>ghairu mahdhah </i>adalah aktivitas makan. Makan pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas mau makan kapan saja, baik ketika lapar ataupun tidak lapar, dan dengan menu apa saja, kecuali yang Allah <em>Ta’ala</em> haramkan. Bisa jadi orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, aktivitas makan tersebut bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk shalat atau berjalan menuju masjid. Ini adalah ciri pertama.</p>
<p>Berdasarkan ciri kedua, kita pun mengetahui bahwa maksud pokok ketika orang makan adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok (primer) dalam hidupnya, sehingga dia bisa menjaga keberlangsungan hidupnya. Selain itu, manusia tidak membutuhkan wahyu untuk bisa mengetahui pentingnya makan dalam hidup ini, ini ciri yang ketiga. Tanpa wahyu, orang sudah mencari makan.</p>
<p>Ini adalah contoh sederhana untuk memahamkan pengertian ibadah <i>ghairu mahdhah, </i>dan akan kami sebutkan lebih rinci lagi jenis-jenis <i>ibadah ghairu mahdhah </i>di serial selanjutnya dari tulisan ini.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, <i>ibadah mahdhah </i>disebut juga dengan <b><i>ad-diin</i></b> (urusan agama), sedangkan <i>ibadah ghairu mahdhah </i>disebut juga dengan <b><i>ad-dunya</i></b> (urusan duniawi). Sebagaimana <i>ibadah mahdhah </i>disebut juga dengan <b><i>al-‘ibadah</i></b> (ibadah), sedangkan <i>ibadah ghairu mahdhah </i>disebut juga dengan <b><i>al-‘aadah</i></b> (adat kebiasaan).</p>
<p>Kemudian untuk lebih memperjelas perbedaan antara ibadah <i>mahdhah </i>dan <i>ghairu mahdhah</i>, berikut kami sebutkan rincian contoh ibadah <i>mahdhah </i>dan ibadah <i>ghairu mahdhah. </i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/1298-14-amalan-yang-keliru-di-bulan-ramadhan.html">14 Amalan yang Keliru di Bulan Ramadhan</a></strong></span></p>
<h2><span style="font-size: 23pt;">Rincian ibadah <i>mahdhah</i></span></h2>
<p>Ibadah <i>mahdhah </i>adalah ibadah yang banyak kita kenal, bahkan sebagian kaum muslimin bisa jadi menyangkan bahwa ibadah itu hanya terbatas pada ibadah <i>mahdhah. </i>Berikut ini beberapa rincian ibadah <i>mahdhah,</i></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Ibadah hati <i>(al-‘ibadah al-qalbiyyah)</i> (العبادت القلبية), bisa dirinci dalam dua jenis ibadah:</span></h3>
<p><b>Pertama, ucapan hati </b><b><i>(qaulul qalbi)</i></b> <b>(قول القلب)</b><b>, </b>yaitu berbagai perkara aqidah yang wajib untuk diyakini, misalnya keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah <em>Ta’ala</em> (keimanan terhadap rububiyyah Allah <em>Ta’ala);</em> tidak ada yang berhak disembah selain Allah <em>Ta’ala</em> (keimanan terhadap uluhiyyah Allah <em>Ta’ala);</em> beriman terhadap semua nama dan sifat yang Allah <em>Ta’ala</em> tetapkan; beriman terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan juga beriman terhadap taqdir</p>
<p><b>Kedua, perbuatan (amal) hati </b><b><i>(‘amalul qalbi) </i></b><b>(عمل القلب)</b><b><i>, </i></b>misalnya ikhlas; mencintai Allah <em>Ta’ala;</em> berharap pahala dan ampunan Allah <em>Ta’ala</em> <i>(raja’); </i>takut akan siksa dan hukuman-Nya <i>(khauf); </i>tawakkal hanya kepada Allah <em>Ta’ala;</em> sabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; dan yang lainnya.</p>
<ul>
<li>Ibadah dalam bentuk ucapan lisan <i>(al-‘ibadah al-qauliyyah) </i>(العبادت القولية)<i>, </i>misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan; membaca Al-Qur’an; berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan tasbih, tahmid, dan takbir; mengajarkan ilmu agama; dan ibadah lisan lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibadah anggota badan <i>(al-‘ibadah al-badaniyyah)</i> (العبادت البدنية)<i>, </i>misalnya shalat; sujud; puasa; haji; thawaf di baitullah (Ka’bah); jihad; belajar ilmu agama; dan yang lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Ibadah harta <i>(al-‘ibadah al-maaliyyah) </i>(العبادت المالية)<i>, </i>misalnya zakat; sedekah; menyembelih hewan kurban; dan yang lainnya.</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Perkara-perkara tersebut hanya mengandung dua kemungkinan: jika ditujukan hanya untuk Allah <em>Ta’ala,</em> maka itulah tauhid. Namun jika ditujukan kepada selain Allah <em>Ta’ala,</em> itulah kemusyrikan.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li>
<div><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43999-keutamaan-keutamaan-ibadah-shalat.html">Keutamaan-Keutamaan Ibadah Shalat</a></span></strong></div>
</li>
<li>
<div><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40773-hukum-asal-ibadah-adalah-terlarang-sampai-ada-dalil-dari-syariat.html">Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang, sampai Ada Dalil dari Syariat</a></span></strong></div>
</li>
</ul>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p>@Rumah Lendah, 19 Rajab 1440/26 Maret 2019</p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id"><strong><span style="color: #ff0000;">Muslim.or.id</span></strong></a></span></p>
 