
<p>Apa perbedaan najis dan <em>hadats</em>? Apakah jika terkena najis, maka wudhu menjadi batal? Apakah setiap yang kotor itu najis? Masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami perihal ini. Semoga tulisan ringkas ini dapat memberi pencerahan.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Najasah</b></span></h4>
<p><em>Najasah</em> atau najis secara bahasa artinya kotoran. <i>Najasah </i>atau najis dalam istilah syariat adalah segala sesuatu yang dianggap kotor oleh syariat.</p>
<p>Dalam <i>Ar Raudhatun Nadiyyah </i>(1/12) disebutkan,</p>
<p align="right"><span lang="hi-IN">النجاسات جمع نجاسة</span>, <span lang="hi-IN">و هي كل شيئ يستقذره أهل الطبائع السليمة و يتحفظون عنه و يغسلون الثياب إذا أصابهم كالعذرة و البول</span></p>
<p>“<em>Najasat</em> adalah bentuk jamak dari <em>najasah</em>, ia adalah segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang memiliki fitrah yang bersih dan mereka akan berusaha menjauhinya dan membersihkan pakaiannya jika terkena olehnya semisal kotoran manusia dan air seni”[1. Dinukil dari <i>Al Wajiz fi Fiqhissunnah wal Kitabil Aziz </i>(23)].</p>
<p>Dalam <i>Al Fiqhul Muyassar fi Dhau’il Kitab was Sunnah </i>(1/35)<i> </i>disebutkan,</p>
<p align="right"><span lang="hi-IN">النجاسة</span>: <span lang="hi-IN">هي كل عين مستقذرة أمر الشارع باجتنابها</span></p>
<p>“<i>Najasah</i> adalah setiap hal yang dianggap kotor yang diperintahkan oleh syariat untuk menjauhinya”</p>
<p>Dari penyataan “dianggap kotor oleh syariat” dalam definisi-definisi yang disebutkan para ulama menunjukkan bahwa tidak semua yang kotor menurut manusia itu adalah najis dalam istilah syar’i, dan juga menunjukkan bahwa menentukan najis atau tidaknya sesuatu itu harus dilandasi dalil. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya sesuatu tersebut, maka ia suci. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">يجب أن يعلم أن الأصل في جميع الأشياء الطهارة فلا تنجس و لا ينجس منها إلا ما دل عليه الشرع</span></p>
<p>“wajib diketahui bahwa hukum asal dari segala sesuatu itu suci, maka tidak boleh mengatakan ia sesuatu itu najis atau menajiskan kecuali ada dalil dari syariat”[2. <em>Irsyad Ulil Bashair wa Albab li Nailil Fiqhi</em> (19-21)].</p>
<p>Maka najis tidak bisa ditentukan dengan akal atau perasaan seseorang bahwa sesuatu itu najis, melainkan harus berdasarkan dalil. Dan yang dituntut dari kita terhadap najis adalah kita diperintahkan untuk menjauhinya dan membersihkan diri darinya jika terkena najis.</p>
<p>Agar lebih menyempurnakan pemahaman, perlu diketahui bahwa najis dibagi menjadi tiga[3. Lihat <i>Al Fiqhul Muyassar fi Dhau’il Kitab was Sunnah</i>, <i>Irsyad Ulil Bashair wa Albab li Nailil Fiqhi </i>(19-21)]:</p>
<ol>
<li>
<i>Najasah mughallazhah </i>(berat)<i> </i>atau <i>najasah tsaqilah</i>, yaitu najis dari anjing dan babi.</li>
<li>
<i>Najasah mukhaffafah</i> (ringan), misalnya yaitu air kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan dan muntahnya, madzi juga termasuk jenis ini</li>
<li>
<i>Najasah mutawashitah </i>(pertengahan), adalah yang bukan termasuk kedua jenis di atas, misalnya air kencing secara umum, kotoran manusia (<i>feces</i>), bangkai, dll.</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Hadats</b></span></h4>
<p><em>Hadats</em> secara bahasa artinya: terjadinya sesuatu. Sedangkan secara istilah, <em>hadats</em> adalah keadaan yang mewajibkan wudhu atau mandi jika seseorang hendak shalat. Imam An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">الْحَدَثُ يُطْلَقُ عَلَى مَا يُوجِبُ الْوُضُوءَ، وَعَلَى مَا يُوجِبُ الْغُسْلَ</span>. <span lang="hi-IN">فَيُقَالُ</span>: <span lang="hi-IN">حَدَثٌ أَكْبَرُ، وَحَدَثٌ أَصْغَرُ، وَإِذَا أُطْلِقَ، كَانَ الْمُرَادُ الْأَصْغَرَ غَالِبًا</span></p>
<p>“<em>Hadats</em> dimutlakkan kepada makna: segala keadaan yang mewajibkan wudhu dan dan mandi. Disebutkan oleh para ulama bahwa <em>hadats</em> itu terbagi menjadi: <em>hadats akbar</em> dan <em>hadats ashghar</em>. Dan jika dimutlakkan, yang dimaksud adalah <em>hadats asghar</em>“[4. <em>Raudhatut Thalibin</em>, 1/72].</p>
<p>Dalam <i>Mausu’ah Fiqhiyyah Durar As Saniyyah</i> disebutkan:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">الحدَثُ اصطلاحًا</span>: <span lang="hi-IN">وصفٌ قائمٌ بالبَدَنِ يمنَعُ مِنَ الصلاةِ ونحوِها، ممَّا تُشترَطُ له الطَّهارةُ</span></p>
<p>“<em>Hadats</em> secara istilah maknanya suatu keadaan yang terjadi pada badan yang membuat seseorang terlarang untuk melakukan shalat dan ibadah lainnya yang disyaratkan harus dalam keadaan suci”[5. Sumber : <a href="http://www.dorar.net/enc/feqhia/3">http://www.dorar.net/enc/feqhia/3</a>].</p>
<p>Para ulama membagi hadats menjadi 2 macam: <em>hadats akbar</em> (besar) dan <em>hadats asghar</em> (kecil):</p>
<p dir="rtl"><span lang="hi-IN">ينقسِمُ الحدَثُ إلى نَوعينِ</span>:<br>
<span lang="hi-IN">النَّوع الأوَّل</span>: <span lang="hi-IN">الحدَث الأصغرُ، وهو ما يجِبُ به الوضوءُ؛ كالبولِ، والغائطِ، وخروجِ الرِّيحِ</span>.<br>
<span lang="hi-IN">والنَّوع الثَّاني</span>: <span lang="hi-IN">الحدَث الأكبر، وهو ما يجِبُ به الغُسلُ؛ كمَن جامَعَ أو أنزَلَ</span></p>
<p>“Hadats terbagi menjadi 2 macam:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: <em>hadats asghar</em>. Yaitu segala yang mewajibkan wudhu, seperti: buang air kecil, buang air besar dan buang angin.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: <em>hadats akbar</em>. Yaitu yang mewajibkan mandi, seperti: <em>jima</em>‘ (bersenggama) atau keluar mani”[6. Idem].</p>
<p>Dari sini bisa kita ketahui bahwa istilah <i>hadats </i>adalah suatu <span style="text-decoration: underline;">keadaan</span> bukan suatu <span style="text-decoration: underline;">benda atau zat</span>. Berbeda dengan najis yang merupakan benda atau zat.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Nawaqidhul wudhu</b></span></h4>
<p><i>Nawaqidh </i>adalah bentuk jamak dari <i>naqid</i>, yang secara bahasa artinya: perusak. Sedangkan <i>nawaqidhul wudhu </i>secara istilah artinya hal-hal yang membatalkan dan merusak wudhu.</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">نواقِضُ الوضوءِ اصطلاحًا</span>: <span lang="hi-IN">مفسِداتُ الوُضوءِ، التي إذا طرَأَت عليه أفسَدَتْه</span></p>
<p>“<em>Nawaqidhul wudhu</em> secara istilah artinya hal-hal yang merusak wudhu yang jika dilakukan maka batal wudhunya”[7. Lihat: <a href="http://www.dorar.net/enc/feqhia/394">http://www.dorar.net/enc/feqhia/394</a>].</p>
<p>Pembatal-pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil syar’i bukan akal atau perasaan. Dan jika seseorang sudah dalam keadaan suci setelah berwudhu, maka ia tetap dalam keadaan suci hingga melakukan suatu hal yang berdasarkan dalil ia adalah pembatal wudhu. Sebagaimana kaidah <em>ushuliyyah</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">الأصل بقاء ما كان على ما كان</span></p>
<p>“keadaan sesuatu yang ditetapkan sebelumnya, tetap berlaku sebagai hukum asal”</p>
<p>Maka orang yang dalam keadaan suci, tetap berlaku kesuciannya sebagai hukum asal, hingga terdapat dalil yang menyatakan ia sudah tidak suci lagi.</p>
<p>Dalam <i>Mausu’ah Fiqhiyyah Al Muyassarah </i>(1/117-126)<i>, </i>Syaikh Husain Al Awaisyah<i> hafizhahullah </i>menyebutkan bahwa pembatal wudhu ada lima:</p>
<ol>
<li>
<i>Al kharij min sabilain </i>(keluar sesuatu dari qubul dan dubur), baik berupa air seni, air besar (feces), mani, madzi, darah istihadhah, atau kentut.</li>
<li>Hilangnya akal.</li>
<li>Menyentuh <i>farji</i> (kemaluan) dengan syahwat</li>
<li>Makan daging unta</li>
<li>Tidur</li>
</ol>
<p>Dan semua <i>nawaqidhul wudhu</i> itu termasuk <i>hadats asghar</i>. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">أما الحدث الأصغر؛ فهو ما يوجب الوضوء؛ كالبول، والغائط، وسائر نواقض الوضوء</span></p>
<p>“adapun <em>hadats asghar</em>, adalah semua yang mewajibkan wudhu, seperti buang air kecil, buang air besar, dan seluruh pembatal wudhu”[8. Sumber: <a href="http://ar.islamway.net/fatwa/6155">http://ar.islamway.net/fatwa/6155</a>].</p>
<p>Dari sini juga kita ketahui bahwa pembatal wudhu berbeda dengan najis. Dan jika seseorang terkena najis, wudhunya tidak menjadi batal, namun ia wajib membersihkan najis tersebut. Berbeda dengan <em>hadats</em>, karena diantara yang termasuk <em>hadats</em> adalah semua pembatal wudhu.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Qadzarah</b></span></h4>
<p><i>Qadzarah</i> artinya kotoran, yaitu semua yang dianggap kotor atau tidak bersih oleh manusia; lawan kata dari bersih. Secara bahasa, <i>qadzarah </i>artinya sama dengan <i>najasah </i>(najis). Kami sengaja sebutkan di sini agar pembaca memahami bahwa kotoran itu berbeda dengan najis, hadats dan pembatal wudhu <u>dalam </u><u>istilah</u><u> syariat</u>. Tidak semua yang dianggap kotor oleh manusia itu adalah najis, hadats dan membatalkan wudhu.</p>
<p>Dewan Fatwa Islamweb.net menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">فالقذر اسم لما تعافه النفس وتكرهه نجساً كان أو غير نجس، فالقذر إذن أعم من النجس مطلقاً</span>.</p>
<p>“<i>Al Qadzar </i>adalah istilah untuk semua yang tidak disukai oleh jiwa, baik itu berupa najis ataupun bukan najis. Maka <i>qadzar </i>itu lebih umum dari najis”[9. Sumber: <a href="http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=132530">http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=132530</a>].</p>
<p>Najis, <em>hadats</em> dan pembatal wudhu ditentukan berdasarkan dalil-dalil. Adapun kotoran secara umum, statusnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu adalah suci dalam pandangan syariat. Kaidah fiqih mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">والأصل في أشيائنا الطهارة </span>*** <span lang="hi-IN">والأرض والثياب والحجارة</span></p>
<p>“hukum asal segala benda yang ada di (bumi) kita adalah suci, demikian juga tanah, pakaian dan batu”[10. <em>Manzhumah Qawaid Fiqhiyyah As Sa’diyah</em>].</p>
<p>Maka kotoran dibagi menjadi dua:</p>
<ol>
<li>Kotoran yang bukan najis, semisal tanah, debu, noda makanan, noda cat, dan semisalnya. Statusnya asalnya suci dalam pandangan syariat, kecuali sudah tercampur dan didominasi oleh zat lain yang termasuk najis.<br>
Demikian juga terkena benda-benda tersebut bukan pembatal wudhu karena tidak terdapat dalil bahwa mereka dapat membatalkan wudhu. Maka tidak benar sikap sebagian orang yang merasa wudhunya batal karena ia menginjak tanah.</li>
<li>Kotoran yang merupakan najis, yaitu kotoran yang ditetapkan syariat sebagai najis, seperti kotoran manusia (<em>feces</em>), air seni, madzi, bangkai, air liur anjing, babi, dll.</li>
</ol>
<p>Meski demikian, kotoran yang statusnya suci bukan najis dalam syariat, bukan berarti seorang Muslim bermudah-mudahan terhadapnya. Diantara adab yang baik bagi seorang Muslim adalah senantiasa menjaga kebersihan dan berpenampilan yang bagus. Bukan adab yang baik jika seorang Muslim berpenampilan kumal, kotor, pakaiannya penuh noda, rumahnya pun kotor, sampah berceceran, walaupun tidak terdapat najis. Ini bukan adab yang baik. Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam </i>bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span lang="hi-IN">إنَّ اللهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ </span></p>
<p>“<i>sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan</i>” (HR. Muslim).</p>
<p><i>Wallahu a’lam.</i></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 