
<p>Inilah perintah Nabi agar kita memelihara jenggot.</p>
<p>Kalau sudah melihat orang yang berjenggot, pasti sebagian orang merasa aneh dan selalu mengait-ngaitkan dengan Amrozi, cs. Jadi, seolah-olah orang yang berjenggota adalah orang yang sesat yang harus dijauhi dan disingkarkan dari masyarakat. Itulah salah satu ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang terzholimi. Berikut kami akan membahas mengenai hukum memelihara jenggot dan pada posting berikutnya kami akan menyanggah <a href="https://rumaysho.com/623-menjawab-sedikit-kerancuan-seputar-jenggot-2.html">beberapa kerancuan mengenai masalah jenggot</a>. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Jenggot (<em>lihyah</em>) adalah <span style="text-decoration: underline;">rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu</span>. Jadi, semua rambut yang tumbuh pada dagu, di bawah dua tulang rahang bawah, pipi, dan sisi-sisi pipi disebut <em>lihyah</em> (jenggot) kecuali kumis. (Lihat <em>Minal Hadin Nabawi I’faul Liha</em>, ‘Abdullah bin Abdul Hamid dengan edisi terjemahan ‘<em>Jenggot Yes, Isbal No</em>’, hal. 17)</p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Nabi </strong><strong>Saja Berjenggot</strong></span></h2>
<p>Memelihara dan membiarkan jenggot merupakan syari’at Islam dan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Marilah kita lihat bagaimana bentuk fisik Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang berjenggot.</p>
<p>Dari Anas bin Malik –pembantu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>– mengatakan,</p>
<p>”<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. <span style="text-decoration: underline;">Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih</span>.</em>” (Lihat <em>Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah</em>, Muhammad Nashirudin Al Albani, hal. 13, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Lihatlah saudaraku, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam riwayat di atas dengan sangat jelas terlihat memiliki jenggot. Lalu pantaskah orang berjenggot dicela?!</p>
<h2><span style="color: #ff0000;"><strong>Perintah Nabi Agar Memelihara Jenggot</strong></span></h2>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits pertama</span>, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى</span></p>
<p>“<em>Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot</em>.” (HR. Muslim no. 623)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits kedua</span>, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى</span></p>
<p>“<em>Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.</em>” (HR. Muslim no. 625)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits ketiga</span>, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ.</span></p>
<p>“<em>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot.</em>” (HR. Muslim no. 624)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits keempat</span>, dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ</span></p>
<p>“<em>Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.</em>” (HR. Muslim no. 626)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits kelima</span>, dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى</span></p>
<p>“<em>Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.</em>” (HR. Bukhari no. 5893)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Hadits keenam</span>, dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu <em>‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ</span></p>
<p>“<em>Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis</em>.” (HR. Bukhari no. 5892)</p>
<p>Ulama besar Syafi’iyyah, An Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, ”Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا</span></p>
<p>Semua lafazh tersebut bermakna <span style="text-decoration: underline;">membiarkan jenggot tersebut sebagaimana adanya</span>.” (Lihat <em>Syarh An Nawawi ‘alam Muslim</em>, 1/416, Mawqi’ Al Islam-Maktabah Syamilah 5)</p>
<p>Di samping hadits-hadits yang menggunakan kata perintah di atas, memelihara jenggot juga merupakan sunnah fithroh. Dari Ummul Mukminin, Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ</span></p>
<p>“<em>Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, <span style="text-decoration: underline;">memelihara jenggot</span>, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.”</em> (HR. Muslim no. 627)</p>
<p>Jika seseorang mencukur jenggot, berarti dia telah keluar dari fitroh yang telah Allah fitrohkan bagi manusia. Allah <em>Ta’ala </em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ</span></p>
<p>“<em>Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada penggantian pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.</em>” (QS. Ar Ruum [30] : 30)</p>
<p>Selain dalil-dalil di atas, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga sangat tidak suka melihat orang yang jenggotnya dalam keadaan tercukur.</p>
<p>Ketika Kisro (penguasa Persia) mengutus dua orang untuk menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Mereka menemui beliau dalam keadaan jenggot yang tercukur dan kumis yang lebat. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak suka melihat keduanya. Beliau bertanya,”Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kalian seperti ini?” Keduanya berkata, ”Tuan kami (yaitu Kisra) memerintahkan kami seperti ini.” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ”Akan tetapi, Rabb-ku memerintahkanku untuk memelihara jenggotku dan menggunting kumisku.” (HR. Thabrani, <em>Hasan</em>. Dinukil dari <em>Minal Hadin Nabawi I’faul Liha</em>)</p>
<p>Lihatlah saudaraku, dalam hadits yang telah kami bawakan di atas menunjukkan bahwa memelihara jenggot adalah suatu perintah. Memangkasnya dicela oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Menurut kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqh, ”<em>Al Amru lil wujub</em>” yaitu setiap perintah menunjukkan suatu kewajiban.  Sehingga memelihara jenggot yang tepat <span style="text-decoration: underline;">bukan hanya sekedar anjuran, namun suatu kewajiban</span>. Di samping itu, maksud memelihara jenggot adalah untuk menyelisihi orang-orang musyrik dan Majusi serta perbuatan ini adalah fithroh manusia yang dilarang untuk diubah.</p>
<p>Berdasar hadits-hadits di atas, memelihara jenggot tidak selalu Nabi kaitkan dengan menyelisihi orang kafir. Hanya dalam beberapa hadits namun tidak semua, Nabi kaitkan dengan menyelisihi Musyrikin dan Majusi. Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa perintah memelihara jenggot dikaitkan dengan menyelisihi Yahudi.</p>
<p>Maka sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan perintah Nabi dan celaan beliau terhadap orang-orang yang memangkas jenggotnya. Jadi yang lebih tepat dilakukan adalah memelihara jenggot dan memendekkan kumis.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Namun, apakah kumis harus dipotong habis ataukah cukup dipendekkan saja? Berikut ini adalah intisari dari perkataan Al Qodhi Iyadh yang dinukil oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim, 1/416.</p>
<p>Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa kumis harus dicukur habis karena hal ini berdasarkan makna tekstual (zhohir) dari hadits yang menggunakan lafazh ahfuu dan ilhakuu. Inilah pendapat ulama-ulama Kufah. Ulama lainnya melarang untuk mencukur habis kumis. Ulama-ulama yang berpendapat demikian menganggap bahwa lafazh ihfa’, jazzu, dan qossu adalah bermakna sama yaitu memotong kumis tersebut hingga nampak ujung bibir. Sebagian ulama lainnya memilih antara dua cara ini, boleh yang pertama, boleh juga yang kedua.</p>
<p>Pendapat yang dipilih oleh An Nawawi dan insya Allah inilah pendapat yang kuat dan lebih hati-hati adalah memendekkan kumis hingga nampak ujung bibir. <em>Wallahu a’lam bish showab.</em></p>
<p>Pembahasan ini masih akan dilengkapi pembahasan selanjutnya yang akan menjawab beberapa kerancuan tentang jenggot. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Hanya Allah yang senantiasa memberi taufik.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/1742-ulama-syafiiyah-mengharamkan-memangkas-jenggot.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ulama Syafi’iyah Mengharamkan Memangkas Jenggot</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/9119-istri-menyuruh-memotong-jenggot.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Istri Menyuruh Memotong Jenggot</strong></span></a></li>
</ul>
<p> </p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel https://rumaysho.com<em><br>
</em></p>
 