
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Mencari Petunjuk Syariat dalam Masalah Persalinan</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Melahirkan secara normal, tanpa robekan, tanpa jahitan, tanpa rasa sakit (nyeri) yang berlebihan, dan tanpa operasi merupakan dambaan setiap ibu hamil menjelang persalinan. Sehingga banyak di antara kita yang kemudian mengusahakan bagaimanakah cara agar kita bisa mendapatkannya saat persalinan nantinya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian kalangan kemudian “mencari petunjuk dari Al-Qur’an dan hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam” </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk mengetahui adakah petunjuk syariat dalam masalah persalinan. Lalu sampailah mereka ke surat Maryam yang menceritakan bagaimanakah kisah ibunda Maryam melahirkan Nabi ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dari kisah bunda Maryam tersebut, kemudian diberilah label (istilah) “persalinan syar’i”, “persalinan Maryam”, atau “persalinan Qur’ani” sehingga seolah-olah yang selain itu dikesankan tidak syar’i.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27916-boleh-operasi-caesar-dengan-adanya-indikasi-medis.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Operasi Caesar Dengan Adanya Indikasi Medis?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tafsir Surat Maryam Ayat 22-26</span></strong></h2>
<h3><b>Bagaimanakah tafsir ulama tentang ayat tersebut?</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Proses persalinan Nabi ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan oleh Allah <em>Ta’ala</em> dalam Al-Qur’an surat Maryam 22-26. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa dia (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, Maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” </span><b>(QS. Maryam [19]: 22-26)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/11314-polemik-khitan-wanita.html" data-darkreader-inline-color="">Polemik Khitan Wanita</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Klaim Metode Persalinan Sesuai Al Qur’an</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Membaca kisah di atas, sebagian kalangan kemudian meng-klaim bahwa inilah metode persalinan yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Kami kutip sebagian pernyataan mereka berikut ini:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagai seorang muslim yang taat maka sebelum mencari solusi dari tempat lain, maka kita cari dulu di Al Qur’an dan Hadist Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>. Bila kita mencari solusi bagaimana cara melahirkan yang yang tepat, maka tanyalah kepada Pencipta Manusia. karena dialah Dzat yang paling mengenal Manusia. Al Qur’an adalah kalam Allah, kitab yang telah sempurna ini, menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa sampai hari kiamat. Untuk proses persalinan, dengan sangat jelas Allah memberikan petunjuk kepada kita di surah Maryam. Di situ Allah menjelaskan, bagaimana seorang perawan (bunda Maryam) bisa melahirkan sendiri, secara normal, tanpa operasi, hanya dengan mengikuti panduan petunjuk dari Allah. Dan yang luar biasa petunjuk yang diturunkan Allah kepada bunda Maryam, Allah wahyukan kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, agar menjadi petunjuk bagi kita semua. Inilah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya, Dia ingin hamba-Nya selamat. maka diturunkanlah petunjuk yang nyata, yaitu Al Qur’an. </span><b>Maka, bila para ibu ingin melahirkan normal, tanpa operasi, maka ikutilah petunjuk yang sama yang Allah berikan kepada bunda Maryam.” [1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/7073-pro-kontra-hukum-imunisasi-dan-vaksinasi.html" data-darkreader-inline-color="">Pro Kontra Hukum Imunisasi dan Vaksinasi</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Bagaimana Teknik Persalinan Maryam?</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Inti dari perkataan mereka adalah </span><b>“posisi melahirkan dalam posisi berdiri dengan berendam di air setinggi lutut.”</b><span style="font-weight: 400;"> Posisi berdiri mereka ambil dari gerakan Maryam menggoyang pohon kurma. Sedangkan melahirkan di kolam air setinggi lutut mereka ambil dari perkataan Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mengabarkan bahwa ada sungai di bawah bunda Maryam. Entah, darimana diambil kesimpulan “setinggi lutut” ini (??). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami sampaikan, kalau kita menganggap kisah ini sebagai “petunjuk Allah <em>Ta’ala”</em> untuk melahirkan, maka konsekuensinya -kalau mau konsisten- seorang ibu hamil tidak boleh ditemani siapa pun ketika melahirkan, harus menjauh dari keluarganya dan juga orang-orang di sekitarnya. Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Jalalain </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan ketika menjelaskan tafsir ayat ke-22 surat Maryam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">{بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا{ بَعِيدًا من أهلها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Maksud firman Allah Ta’ala) </span><i><span style="font-weight: 400;">“ke tempat yang jauh”, </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">“jauh dari keluarganya</span></i><span style="font-weight: 400;">”.” </span><b>(</b><b><i>Tafsir Jalalain, </i></b><b>hal. 398)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, ternyata mereka tidak konsisten dalam masalah ini. Hal ini karena persalinan syar’i menurut penjelasan mereka masih dibantu oleh orang lain. Berikut kami kutipkan deskripsi persalinan Maryam,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jibril menyeru dari tempat yang lebih rendah adalah sebuah petunjuk dari Allah, agar para suami, atau bidan yang membersamai persalinan, memberikan support dari posisi yang lebih rendah dari ibu yang akan melahirkan. Ini akan memberikan efek psikologi yang menenangkan bagi sang ibu. sehingga ibu bisa rileks dalam menyambut kehadiran sang buah hati.” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan penting untuk diperhatikan adalah bahwa di antara ciri kekeliruan dalam sebuah konsep pemikiran adalah tidak konsisten dalam bertindak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibunda Maryam menjauhkan diri dari manusia ke tempat yang jauh adalah karena tuduhan bahwa dia hamil sebagai hasil dari zina. Sehingga ibunda Maryam memilih menjauh dari masyarakat (kaum) yang telah menuduhnya berzina dan memilih berusaha melahirkan sendirian. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لما حملت بعيسى عليه السلام، خافت من الفضيحة، فتباعدت عن الناس</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketika Maryam mengandung ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dia khawatir akan diketahui banyak orang. Maka Maryam mengucilkan diri ke tempat yang jauh.”</span><span style="font-weight: 400;"> </span><b>(</b><b><i>Taisiir Karimir Rahman, </i></b><b>hal. 491)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, Maryam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihas salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengucilkan diri ke tempat yang jauh dan sendirian bukan karena itulah petunjuk atau syariat dari Allah <em>Ta’ala</em> bahwa Maryam bisa melahirkan sendirian tanpa bantuan siapa pun. Lalu sekarang pun kita diminta menirunya dengan cara melahirkan sendirian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, gerakan Maryam menggoyang pohon kurma bukanlah maksudnya bahwa itu adalah posisi terbaik ketika melahirkan. Tidak ada satu pun kitab tafsir terkemuka yang menjelaskan demikian. Akan tetapi, faidah yang disampaikan oleh para ulama adalah hendaknya kita berusaha seminimal mungkin (baca: “mengambil sebab”) untuk bisa meraih hasil (tujuan) yang kita inginkan. Meskipun kalau memakai logika biasa, usaha kita tersebut tidak ada artinya. Pohon kurma adalah pohon yang besar dan kokoh, yang dengan goyangan biasa tidaklah mungkin buahnya bisa jatuh. Apalagi, Maryam menggoyang pohon kurma itu dengan goyangan yang sangat lemah pada bagian pangkal pohon karena sambil menahan sakit menjelang melahirkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">والعادة أن الشيء إذا هز من جذعه لا يتحرك، إذا هز من فوق يتحرك لكن الجذع لا يتحرك، هنا هزت من الجذع؛ لأنها لا تستطيع أن تصعد.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menurut kebiasaan, jika sesuatu (pohon) itu digoyang pada pangkalnya, dia tidak akan bergerak, berbeda jika digoyang dari atas baru akan bergerak. Akan tetapi, jika digoyang bagian pangkal tidak akan bergerak. Ketika itu, Maryam menggoyang pangkal pohon kurma karena memang dia tidak mampu memanjat ke atas.” </span><b>(</b><b><i>Al-Liqaa’ Asy-Syahriyyah, </i></b><b>6: 1)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20915-hukum-memakai-kondom-untuk-mencegah-kehamilan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Memakai Kondom Untuk Mencegah Kehamilan</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Faidah dari Ulama Tentang Persalinan Maryam</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga faidah yang disebutkan oleh para ulama adalah agar manusia tidak pasrah atau menyandarkan hati kepada Allah <em>Ta’ala</em> secara totalitas, tidak melakukan usaha lahiriyah sedikit pun ketika menginginkan sesuatu. Hal ini karena sekecil apa pun usaha, akan ada nilainya di sisi Allah <em>Ta’ala.</em> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وكذلك لو جلس في البيت أو في المسجد يتحرى الصدقات لم يكن ذلك مشروعا ولا توكلا بل يجب عليه أن يسعى في طلب الرزق ويعمل ويجتهد مع القدرة على ذلك ومريم رحمة الله عليها لم تدع الأسباب ومن قال ذلك فقد غلط وقد قال الله لها : { وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا } (1) الآية , وهذا أمر لها بالأسباب وقد هزت النخلة وتعاطت الأسباب , حتى وقع الرطب فليس في سيرتها ترك الأسباب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demikian pula ketika seseorang itu hanya duduk di rumah atau di masjid sambil berharap akan ada yang memberi sedekah, tentu hal ini tidak disyariatkan dan juga bukan tawakkal. Akan tetapi, wajib baginya untuk mencari rizki, berbuat sesuatu, dan bersungguh-sungguh sesuai kemampuannya. Bunda Maryam tidaklah meninggalkan sebab (usaha). Siapa saja yang mengatakan demikian (pasrah saja tanpa usaha apapun), dia telah keliru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> mengatakan (yang artinya), “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini (jatuhnya kurma) adalah perkara yang memiliki sebab. </span><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Maryam menggoyang pohon kurma, sehingga dia telah mengambil sebab (berusaha) sehingga kurma bisa jatuh. Tidak ada dalam riwayat hidup Maryam bahwa beliau meninggalkan usaha.” </span><b>(</b><b><i>Majmu’ Al-Fataawa Ibnu Baaz, </i></b><b>4: 427)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa kejadian ini adalah karena karamah yang dimiliki oleh Maryam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihas salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هذا من آيات الله وهو من كرامة مريم عليها السلام.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kejadian ini adalah tanda (kekuasaan) Allah dan juga merupakan karamah yang dimiliki oleh Maryam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihas salaam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Fataawa Nuur ‘ala Darb, </i></b><b>3: 396)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tujuan Maryam menggerakkan pohon kurma adalah agar kurmanya jatuh sebagai sumber makanan, bukan dimaksudkan “itulah gerakan yang memudahkan proses persalinan”. Bukan pula bahwa gerakan itu dimaksudkan untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’abbud</span></i><span style="font-weight: 400;"> (beribadah) kepada Allah <em>Ta’ala</em> secara khusus sehingga berpahala. Oleh karena itu, dalam ayat tersebut Allah <em>Ta’ala</em> katakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apalagi kita dapati penjelasan sebagian ulama tafsir yang menyebutkan bahwa gerakan tersebut dilakukan setelah Nabi ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam</span></i> <span style="font-weight: 400;">dilahirkan, bukan ketika proses melahirkan Nabi ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">meskipun pendapat ini kurang kuat</span><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><b>[3]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقَالَ مُجَاهِدٌ: فَناداها مِنْ تَحْتِها قَالَ: عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَكَذَا قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ الْحَسَنُ: هُوَ ابْنُهَا، وَهُوَ إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ سَعِيدِ بن جبير أنه ابنها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mujahid berkata bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">“yang menyeru dari arah bawah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah ‘Isa bin Maryam. Demikian juga pendapat ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Qatadah dari Al-Hasan bahwa yang menyeru demikian adalah anaknya Maryam (Nabi Isa). Dan pendapat ini adalah salah satu dari dua riwayat dari Sa’id bin Jubair yang juga menegaskan bahwa seruan itu berasal dari anak Maryam (yaitu, Nabi Isa).” </span><b>(</b><b><i>Tafsir Ibnu Katsir</i></b><b>, 5: 198)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini dipahami bahwa gerakan menggoyang pohon kurma itu dilakukan oleh Maryam setelah Nabi ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">lahir, bukan ketika proses persalinan. Sehingga mengatakan bahwa gerakan yang mirip dengan gerakan menggoyang pohon kurma adalah posisi atau gerakan terbaik untuk memudahkan persalinan adalah perkataan yang tidak sesuai dengan tafsir sebagian ulama dalam masalah ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, kita dapati penjelasan ulama bahwa kurma adalah makanan pilihan ketika masa nifas (masa setelah melahirkan). Al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengutip perkataan Ar-Rabi’ bin Khutsaim,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَا لِلنُّفَسَاءِ عِنْدِي خَيْرٌ مِنَ الرُّطَبِ، وَلَا لِلْمَرِيضِ خَيْرٌ مِنَ الْعَسَلِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menurutku, makanan terbaik bagi wanita nifas adalah kurma dan makanan terbaik bagi orang sakit adalah madu.” </span><b>(Lihat </b><b><i>Tafsir Al-Baghawi, </i></b><b>5: 227)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Buah kurma mengandung zat yang memiliki efek memperkuat kontraksi rahim, sehingga dalam beberapa penelitian dikatakan bisa mengurangi jumlah darah yang keluar setelah persalinan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bandingkan antara penjelasan para ulama di atas dengan apa yang diklaim oleh mereka yang menyerukan “persalian syar’i” atau “persalinan Maryam” yaitu,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menggoyangkan pangkal pohon kurma ke arahmu, adalah sebuah petunjuk dari Allah yang sangat luar biasa dalam membantu proses persalinan.” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga klaim berikut ini,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Insya Allah bila gerakan ini di lakukan, berdiri dengan kaki membuka, di atas air, sambil melakukan gerakan menarik, sambil melakukan gerakan berdiri jongkok. maka atas ijin Allah, sang buah hati akan keluar dengan mudah, tanpa sobekan, tanpa jahitan, tanpa operasi.” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula berkaitan dengan masalah sungai. Ini bukan maksudnya agar ketika melahirkan dengan cara berendam di kolam air setinggi lutut. Akan tetapi, sungai di sini adalah sumber air minum untuk Maryam agar bisa melepaskan dahaga. Sekali lagi, kami bingung dengan klaim mereka bahwa kolam airnya itu “harus” setinggi lutut, padahal umumnya sungai adalah lebar dan dalam. Mengapa tidak dikatakan agar teknik persalinan Maryam itu dengan cara melahirkan di sungai sekalian? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika menjelaskan tafsir ayat ke-26,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">والسري : هو النهر الذي تشرب منه ولهذا قال : { فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا }</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Yang dimaksud dengan) </span><i><span style="font-weight: 400;">“sariyya” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah sungai yang bisa diminum airnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengatakan (yang artinya), “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” </span><b>(</b><b><i>Al-Muntaqa min Fataawa Al-Fauzan, </i></b><b>34: 21)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga menjelaskan bahwa sungai ini adalah untuk melepaskan dahaga. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata ketika menjelaskan makna kata </span><i><span style="font-weight: 400;">“sariyya”</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أي: نهرا تشربين منه.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yaitu sungai yang bisa dimanfaatkan untuk minum.” </span><b>(</b><b><i>Taisiir Karimir Rahman, </i></b><b>hal. 491)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20857-nasehat-ulama-bagi-yang-gelisah-tak-kunjung-hamil.html" data-darkreader-inline-color="">Nasehat Ulama Bagi yang Gelisah Tak Kunjung Hamil</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/4478-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html" data-darkreader-inline-color="">Perselisihan Ulama Mengenai Puasa Wanita Hamil dan Menyusui</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 22 Shafar 1441/21 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b> <span style="font-weight: 400;">https://pazindonesia.com/gerakan-maryam/</span><span style="font-weight: 400;"> (diakses tanggal 20 Oktober 2019)</span></p>
<p><b>[2]</b> <span style="font-weight: 400;">Maksudnya, tidak tiba-tiba jatuh tanpa diusahakan bagaimana caranya agar jatuh terlebih dahulu.</span></p>
<p><b>[3</b><span style="font-weight: 400;">] </span> <span style="font-weight: 400;">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><b>المنادي قيل : إنه جبريل عليه السلام نادى مريم من تحتها وسمعت صوته، وقيل : إن المنادي هو عيسى عليه السلام ولكن الراجح الأول أنه جبريل عليه السلام</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dikatakan bahwa yang menyeru itu adalah Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menyeru Maryam dari arah bawah dan Maryam pun mendengar suaranya. Dikatakan pula, yang menyeru adalah ‘Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama, bahwa yang menyeru adalah Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(</b><b><i>Al-Muntaqa min Fataawa Al-Fauzan, </i></b><b>34: 21)</b></p>
 