
<p><strong>Pertanyaan:<br>
</strong><br>
Ayah saya menikah lagi dengan seorang perempuan dan menghasilkan beberapa anak laki-laki, sementara itu saya mempunyai seorang bibi (saudara ibu saya) yang pernah menyusui saya dan menyusui saudara-saudara saya seibu sebapak. Bibi saya tersebut mempunyai beberapa anak laki-laki dan perempuan. Bolehkah anak laki-laki dari ibu tiri saya (saudara saya sebapak) duduk-duduk dan bercakap-cakap bersama anak-anak perempuan dari bibi saya tanpa memakai <em>hijab</em>? Perlu diketahui bahwa saudara-saudara saya sebapak pernah menyusu juga kepada bibi saya tersebut tapi tidak sempurna susuannya. Apakah dengan demikian anak-anak bibi saya menjadi saudara (<em>mahram</em>) dengan saya dan seluruh saudara-saudara saya?<br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Saudara-saudara Anda yang belum sempurna menyusu kepada bibi Anda tidak boleh dianggap sebagai mahram dari anak-anak perempuan bibi Anda. Yang dianggap sebagai mahram dari anak-anak bibi Anda adalah orang-orang yang pernah menyusu kepada bibi Anda dengan susuan yang sempurna, yaitu minimal lima kali susuan (yang dianggap sama seperti 2 tahun). Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br>
</em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">
لاَ رَضَاعَ إِلاَّ فِي الْحَوْلَيْنِ
</p>
<p>“<em>Tidak ada persusuan kecuali dalam waktu dua tahun.</em>”</p>
<p>Juga berdasarkan perkataan Aisyah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">
كَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُوْمَاتٍ فَتُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ
</p>
<p>“<em>Yang pernah diturunkan dalam Al-Quran adalah bahwa sepuluh kali persusuan menyebabkan adanya hubungan mahram, kemudian hal itu dihapus menjadi lima kali persusuan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan keadaan masih seperti itu.</em>” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi dan kitab <em>Jami’</em>-nya, dan lafal hadits ini diambil dari beliau)</p>
<p>Hal ini juga berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">
يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَايَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ
</p>
<p>“<em>Persusuan itu menyebabkan adanya hubungan mahram, sama seperti keturuanan.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sumber: <em>Fatawa Syaikh Bin Baaz</em>, Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz.<br>
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)</p>
 