
<h1>Puasa Apa yang Diwajibkan kepada Kaum Terdahulu?</h1>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Allah telah mewajibkan puasa kepada kaum terdahulu. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Puasa apakah yang “diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” dalam ayat ini? Yang jelas ini bukanlah puasa Ramadhan. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di tahun ke-2 setelah hijrah. An Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">صام رسول الله ﷺ رمضان تسع سنين ، لأنه فرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وتوفي النبي ﷺ في شهر ربيع الأول سنة إحدى عشرة من الهجرة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berpuasa Ramadhan selama 9 tahun. Karena puasa Ramadhan baru diwajibkan di bulan Sya’ban pada tahun ke-2 setelah hijrah (ke Madinah). Dan beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke-11 setelah hijrah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Majmu’</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/250).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ath Thabari dalam Tafsir-nya membawakan riwayat dari sebagian sahabat dan tabi’in, bahwa yang dimaksud adalah puasa tiga hari di setiap bulan. Karena dahulu puasa tiga hari di setiap bulan hukumnya wajib, kemudian </span><i><span style="font-weight: 400;">mansukh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dihapus) setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Di antaranya riwayat dari ‘Atha </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">عن عطاء , قال : كان عليهم الصيام ثلاثة أيام من كل شهر , ولم يسم الشهر أياما معدودات , قال : وكان هذا صيام الناس قبل ثم فرض الله عز وجل على الناس شهر رمضان</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dari ‘Atha, ia berkata: “Dahulu wajib bagi manusia untuk puasa tiga hari di setiap bulan. Dan puasa sebulan penuh tidaklah disebut dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">ayyaman ma’dudat</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hari-hari yang tertentu)”. Atha’ juga berkata: “Dahulu puasa tiga hari setiap bulan wajib bagi orang-orang. Sampai Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ‘azza wa jalla</span></i><span style="font-weight: 400;"> wajibkan puasa Ramadhan bagi manusia” (HR. Ath Thabari dalam Tafsir-nya, 3/4130).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun riwayat ini </span><i><span style="font-weight: 400;">dha’if</span></i><span style="font-weight: 400;">, karena terdapat Abu Hudzaifah Musa bin Mas’ud An Nahdi. Imam Ahmad berkata: “ia adalah orang yang paling banyak kekeliruannya”. Bundar mengatakan, “ia </span><i><span style="font-weight: 400;">dha’if</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Abu Hatim berkata, “ia banyak melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tas-hif</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Riwayat yang semisal juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Mu’adz bin Jabal </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">dan Qatadah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Namun semuanya tidak lepas dari kelemahan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, terdapat riwayat-riwayat yang shahih bahwa dahulu kaum muslimin diwajibkan untuk puasa Asyura di hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Kemudian ketika turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa Asyura tidak lagi menjadi wajib melainkan </span><i><span style="font-weight: 400;">mustahab</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sunnah). Sebagaimana perkataan ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أمَرَ بصِيَامِ يَومِ عَاشُورَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كانَ مَن شَاءَ صَامَ ومَن شَاءَ أفْطَرَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk puasa hari Asyura. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, maka siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan yang ingin berbuka juga dipersilahkan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.2001, 4502, Muslim no.1125).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mulai ada pelonggaran terhadap kewajiban puasa Asyura. Sampai akhirnya turun ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan. Dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ : ( مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ )</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun melakukannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau juga puasa Asyura dan memerintahkan (mewajibkan) para sahabat untuk melakukannya. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau bersabda: ‘barangsiapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau juga silakan‘”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 1794, Muslim no. 1125).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abul Abbas Al Qurthubi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan: “Perkataan Aisyah [orang-orang Quraisy dahulu puasa Asyura di zaman Jahiliyah] menunjukkan bahwa puasa Asyura ini sudah diketahui pensyariatannya. Mereka juga mengetahui kedudukannya. Bisa jadi ini dikarenakan mereka bersandar pada syariat Nabi Ibrahim dan Ismail </span><i><span style="font-weight: 400;">shalawatullah ‘alaihima</span></i><span style="font-weight: 400;">. Karena orang-orang jahiliyah bersandar pada syariat keduanya. Demikian juga mereka bersandar pada keduanya dalam hukum-hukum haji dan perkara lainnya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Mufhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 3/190-191).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulannya, puasa yang diwajibkan kepada kaum muslimin sebelum puasa Ramadhan adalah puasa Asyura. Bukan puasa tiga hari di setiap bulan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.</span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 