
<p>Saat ini Rumaysho.Com akan mengulas tentang puasa dari kitab Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin dengan mengambil dari berbagai kitab syarah (penjelas) lainnya.</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كتاب الصيام يجب صوم رمضان</p>
<p>“Kitab Shiyam, puasa Ramadhan itu wajib.”</p>
<p>Secara bahasa <em>shiyam</em> berasal dari kata <em>al-imsak</em>, artinya menahan diri. Ketika Allah menceritakan tentang Maryam,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah</em>” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا</p>
<p>“<em>Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini</em>” (QS. Maryam: 26).</p>
<p>Secara istilah, shiyam adalah menahan diri dari berbagai pembatal puasa, dengan cara yang khusus.</p>
<p>Dalil akan wajibnya puasa sebelum adanya ijma’ atau kesepakatan para ulama adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa</em><em>.</em>” (QS. Al-Baqarah: 183).</p>
<p>Dalil wajibnya lagi adalah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ</p>
<p>“<em>Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.</em>” (HR. Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16).</p>
<p>Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijriyah.</p>
<p>Wajibnya puasa juga sudah sangat dimaklumi (ma’lum minad diini bid-dharurah)</p>
<p>Siapa yang menentang kewajiban puasa, maka ia kafir kecuali kalau ia baru saja masuk Islam sehingga belum mengetahui kewajiban ini atau ia hidup jauh dari seorang alim (ulama).</p>
<p> </p>
<p>Adapun rukunnya ada tiga, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syarbini yaitu berkaitan dengan orang yang berpuasa, berkaitan dengan niat dan berkaitan dengan menahan diri dari berbagai pembatal puasa.</p>
<p> </p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Minhaj Ath-Thalibin</em>. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah.</p>
<p><em>Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj</em>. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. I’tana bihi: Muhammad Khalil ‘Itaani. Penerbit Darul Ma’rifah.</p>
<p>—</p>
<p>Menjelang Zhuhur di <a href="https://darushsholihin.com/">Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a>, 2 Sya’ban 1437 H</p>
<p>Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
 