
<p>Penentuan awal Ramadhan untuk wajibnya puasa adalah dengan rukyatul hilal, atau dengan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.</p>
<p>Imam Nawawi dalam Minhaj Ath-Thalibin menyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِإِكْمَالِ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ، أَوْ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ</p>
<p>“Wajibnya puasa Ramadhan dengan disempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari atau dengan rukyatul hilal.”</p>
<p>Kalau kita melihat perkataan Imam Nawawi menunjukkan bahwa penentuan awal bulan Ramadhan ada dengan dua cara:</p>
<ol>
<li>Rukyatul hilal lewat seorang yang shalih terpercaya.</li>
<li>Menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari bila tidak terlihat hilal pada malam ke-29 Sya’ban.</li>
</ol>
<p>Dalilnya, dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ</p>
<p>“<em>Berpuasalah karena melihat hilal (rukyatul hilal). Berhari rayalah karena melihatnya pula. Jika tidak nampak bagi kalian, maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.</em>”  (HR. Bukhari, no. 1909)</p>
<p>Mengenai hasil hisab disebutkan oleh Imam Asy-Syarbini,</p>
<p>“Perkataan Imam Nawawi memahamkan bahwa perkataan ahli hisab tidaklah dijadikan rujukan utama. Adapun ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ</p>
<p>“<em>Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk</em>.” (QS. An-Nahl: 16). Yang dimaksud dengan ayat ini adalah bintang digunakan sebagai petunjuk kiblat saat safar. Namun hasil dari hisab masih boleh digunakan untuk shalat.”</p>
<p>Baca hisab mengenai jadwal shalat <a href="https://rumaysho.com/11991-hisab-untuk-jadwal-shalat-bolehkah.html">di sini</a>.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Minhaj Ath-Thalibin</em>. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Tahqiq: Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Haddad. Penerbit Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah.</p>
<p><em>Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj</em>. Cetakan keempat, tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syarbini. I’tana bihi: Muhammad Khalil ‘Itaani. Penerbit Darul Ma’rifah.</p>
<p>—</p>
<p>Bada Isya di <a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a>, malam 5 Sya’ban 1437 H</p>
<p>Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
 