
<p>Berbahagialah  Anda bila selama ini Anda dianugerahi Allah dengan daya kreativitas yang  tinggi sebab “kreativitas” menjadi variabel penting bagi proses  perjalanan suatu <a href="http://www.pengusahamuslim.com/kategori/strategi-bisnis">bisnis</a>. Adakalanya, dengan bekal jiwa kreatif, Anda tak  akan kesulitan bila menghadapi keadaan sesulit apa pun.</p>
<p>Dengan  kreativitas, Anda akan mudah menemukan peluang bisnis yang bisa  dikerjakan. Seperti halnya yang dilakukan Burhan Gatot dengan kreasi  <a href="http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/1136/ratusan-ribu-dari-kiloan-koran">koran</a> bekasnya. Dia mampu menyulap koran bekas menjadi satu kerajinan  yang memiliki potensi bisnis.</p>
<p>Siapa yang mengira, di tangan  Burhan, koran bekas bisa dijadikan peluang bisnis yang lumayan  menguntungkan. Padahal, selama ini banyak di antara kita yang menjual  koran bekas secara kiloan. Bila tidak begitu, dimanfaatkan untuk  membungkus makanan, malah dibakar.</p>
<p>Kreativitas Burhan bermula  ketika dia yang bekerja di sebuah media massa yang hampir setiap hari  harus dihadapkan dengan bertumpuk-tumpuk koran, sedangkan di rumahnya  pun, kertas koran berserakan dan hanya dibiarkan begitu saja ketika  selesai dibaca. Hatinya pun merasa eman (sayang, <em><strong>ed.</strong></em>). “Sangat sayang bila koran bekas tersebut hanya dibiarkan begitu saja,” katanya.</p>
<p>Suatu  ketika, muncul ide–melinting per bagian halaman koran–oleh pria  berusia 37 tahun itu. Dia bereksperimen dengan menyusunnya menjadi  sebuah bentuk. Akhirnya, kerajinan kertas koran berhasil diciptakannya.  Kepiawaian Burhan dalam memanfaatkan koran bekas bukan melulu  mengandalkan hasil otodidak. Namun, dia juga belajar dari berbagai  sumber.</p>
<p>Memang, sesekali, Burhan searching di internet untuk  melihat model-model suatu produk sebagai bahan untuk menciptakan atau  memodifikasi bentuk baru. Hasilnya? Telah banyak produk yang diciptakan  Burhan. Misalnya: tas, mangkuk buah, dudukan kursi, lampu meja, dan  tempat tisu.</p>
<p>Dilihat dari sifat bisnis ini, selain ramah  lingkungan, kerajinan kertas ini sangat ekonomis dalam penyediaan bahan  baku dan pendukungnya. Kertas koran bekas jumlahnya melimpah. Malah,  kabarnya, koran bekas menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah  rumah tangga. Praktis, hal ini akan mempermudah setiap orang untuk  mendapatkan bahan baku. Dengan demikian, sebenarnya tanpa, modal pun  bisa untuk mendapatkan bahan baku. Ditambah lagi, belum banyak pesaing  di bisnis berbasis koran bekas ini.</p>
<p>Burhan sendiri seringkali  mendapatkan koran bekas secara gratis. Teman maupun tetangganya, banyak  yang menyuruh unruk mengambil koran bekas di tempat mereka. Hanya  sesekali dia membeli koran bekas dari pedegang. Namun, untuk membuat  kerajinan ini, tidak boleh sembarangan memilih kertas koran. Kertas yang  dipakai harus dalam keadaan bersih. Kadang kala, koran bekas dipakai  untuk tempat gorengan atau kena air. “Pada koran yang bersih,  kekuatannya lebih bagus,” kata Burhan yang memulai usaha sampingannya  ini sejak Maret 2007.</p>
<p>Prosesnya sederhana: Kertas koran diambil  satu lembar, tanpa dibagi dua halaman, lalu dilinting melawan arah  serat. Untuk mengetahui arah serat, bisa dilakukan uji penyobekan. Serat  koran biasanya berarah vertikal, atas ke bawah, saat membaca koran.  Jika disobek secara vertikal, akan mudah didapatkan sobekan yang lurus.  Bila disobek ke arah horisontal, kiri ke kanan, atau berlawanan arah  serat maka hasil sobekan akan melenceng; koran tidak mudah disobek  dengan cara ini. Hasil lintingan nantinya lebih kuat saat disusun  melawan serat.</p>
<p>Gelondongan lintingan koran bisa dibentuk  menggunakan bantuan lidi. Tangan, sekaligus berfungsi merapatkan  lintingan agar didapat gelondongan yang keras. Selesai dilinting, ujung  terakhir dilem dengan lem kayu.</p>
<p>Teknik awal ini bermacam-macam  sesuai objek kerajinan yang akan dibuat. Gelondongan keras dipakai pada  kebanyakan kerajinan dengan model yang kokoh. Gelondongan akan  dipipihkan bila dipakai untuk membuat tas karena pada pembuatan tas,  pipihan tadi akan dianyam. Ada lagi bentuk tali tampar. Kertas koran  tadi cukup dipelintir. Bentuk pelintiran ini dipakai untuk alas kursi  atau papan catur.</p>
<p>Bila proses awal ini selesai, selanjutnya  merangkai gelondongan, pipihan, maupun pelintiran koran menjadi bentuk  yang diinginkan. Misalnya, gelondongan disusun beberapa batang dengan  lem. Selanjutnya, dipotong-potong menurut ukuran dan bentuk objek.  Begitu pula dengan pipihan dan pelintiran, disusun menurut keinginan.  Tidak ada yang baku dalam menyusun objek. Semua terserah kreativitas  pembuat.</p>
<p>Akan tetapi, Burhan belum mendapatkan pembeli yang benar-benar “<em>buyer</em>” (pembeli, <em><strong>ed.</strong></em>). Artinya, selama ini, pembeli yang melakukan order banyak diperkirakan masih menjual kerajinan itu ke <em>buyer</em> lain. Burhan mempunyai target membidik <em>buyer-buyer</em> langsung, minimal di dalam negeri.</p>
<p>Setelah  objek mentah jadi, objek mentah itu lantas dicelup ke dalam lem kayu.  Fungsinya untuk menutup pori-pori serat koran. Lem kayu dicampur dengan  air untuk menghemat pemakaian. Kerajinan lalu dijemur. Pada cuaca panas,  biasanya sekitar 15 sampai 20 menit sudah kering.</p>
<p>Langkah  selanjutnya adalah pengecatan dan dalam hal ini Burhan memadukan  pelitur, spiritus, dan sirlak. Kadang juga dicampurkan pewarna pelitur  untuk mendapatkan corak tertentu. Komposisi pencampuran adalah: satu  liter spiritus, satu ons pelitur, dan satu ons sirlak. “Pengecatan bisa  dicelup atau dikuas, tapi biasanya saya memakai kuas agar tidak boros,”  ucap Burhan. Kerajinan dijemur kembali sampai mengering dan selesai  proses produksi.</p>
<p>Lamanya produksi, untuk kerajinan bentuk kecil,  bisa diselesaikan dalam sehari. Namun untuk ukuran besar, seperti rak  dinding atau lampu meja, bisa selesai dalam dua atau tiga hari dengan  tingkat kesulitan masing-masing.</p>
<p>Burhan mematok harga kerajinannya  antara tujuh ribu sampai 200 ribu rupiah. Harga paling murah ini,  contohnya, mangkuk buah yang digemari ibu-ibu. Kadang, harga tersebut  masih ditawar. Lampu meja dijual 200 ribu rupiah. “Orang Solo masih  belum terlalu menghargai nilai kreativitas. Jadi, beli barang hanya  dilihat dari nilai intrinsik bahannya saja,” ujar lulusan jurusan Ilmu  Komunikasi, UNS ini.</p>
<p>Oleh karena itu, Burhan turut memasarkan  barangnya lewat internet. Di samping masih punya pekerjaan utama sebagai  tenaga IT, dunia maya lebih mudah dijangkau semua orang dalam  pemasaran. Tidak heran, bila selama ini dia lebih banyak menerima order  dari luar kota. Sebulan, dia bisa mendapatkan tiga sampai lima pembeli  dengan jumlah pemesanan barang yang langsung banyak.</p>
<p>Untuk lebih  memperkenalkan produknya kepada pembeli, Burhan sesekali mengikuti  pameran. Ternyata, saat mengikuti pameran, produknya banyak digemari.  “Pertama kali ikut pameran di Pasar Seni Ancol, Jakarta,” kata Burhan.  Malah, ketika pameran di acara SIEM, Solo, beberapa waktu lalu, per hari  dia bisa meraup keuntungan satu juta rupiah.</p>
<p>Lantas, bagaimana  prospek bisnis yang bisa dikategorikan bisnis rumahan ini? “Sebenarnya,  prospek kerajinan ini cukup besar. Hanya saja, terkendala soal SDM,”  ujar Burhan. Memang, untuk bisa ambil bagian dari bisnis ini, diperlukan  kemahiran dan ketelatenan. Saat ini, dalam menjalankan bisnis sampingan  koran bekas, Burhan dibantu dua karyawan <em>freelance</em>. Jumlah tersebut akan bertambah seiring dengan jumlah order yang ada.</p>
<p>Lantaran  itu pula, Burhan mengajari tetangganya, bahkan siswa sekolah, untuk  bersama-sama belajar teknik membuat kerajinan kertas koran. Rencananya,  selain mendapat ilmu, mereka akan direkrut untuk bergabung bersama. “Ini  misi sosial saya. Tidak semata-mata untuk mencari nilai ekonomis,” kata  Burhan yang tinggal di Baluwarti, Solo. <em><strong>(Ilham)</strong></em></p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 