
<p>Jangan kita seperti Bani Israil yang pandai baca kitab sucinya namun tak memahami maknanya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ</p>
<p>“<em>Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali hanya sekedar membacanya saja dan mereka hanya menduga-duga</em>.” (QS. Al-Baqarah: 79)</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Faedah dari ayat di atas:</span></h4>
<p>1- Jangan seperti Bani Israil hanya pandai membaca kitab suci mereka (Taurat) namun tidak mengetahui maknanya. Inilah kenapa sampai mereka disebut <em>ummiyyuna</em>.</p>
<p>2- Disebut <em>ummi</em> yang asalnya berarti ibu, dikarenakan orang yang lahir dari perut ibunya tak mengetahui apa-apa. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</p>
<p>“<em>Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.</em>” (QS. An-Nahl: 78)</p>
<p>3- Bani Israil itu punya sifat ummi dikarenakan mereka pandai membaca kitab suci mereka, namun tidak memahami maknanya. Mereka hanya mencukupkan dengan lafazh saja tanpa mau merenungkan maknanya.</p>
<p>4- Ayat ini menunjukkan celaan bagi orang yang enggak memahami makna Kitabullah.</p>
<p>5- Hendaknya kita lebih konsen juga mempelajari makna Al-Qur’an sehingga tidak jadi seperti Bani Israil. Lihatlah para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, mereka tidaklah melewati sepuluh ayat sampai mereka menguasai maknanya dan sampai mereka amalkan.</p>
<p>6- Orang yang membaca kitab Allah (Al-Qur’an) tanpa mengetahui maknanya akan terjatuh pada <em>wahm</em> dan <em>zhan</em> (salah paham dan menduga-duga).</p>
<p>7- Berusaha memiliki kitab tafsir yang sudah terkenal dan masyhur di kalangan para ulama (seperti Tafsir Ibnu Katsir yang super lengkap disertai dengan riwayat-riwayat dan Tafsir As-Sa’di yang ringkas namun syarat makna) lalu mengkajinya secara lebih mendalam.</p>
<p>Semoga di bulan Ramadhan ini, kita bisa terus menggali faedah ilmu dari ayat demi ayat dari Al-Qur’an. Semoga istiqamah.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi: </span></h4>
<p><em>Ahkam Al-Qur’an Al-Karim.</em> Cetakan pertama, tahun 1428 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan Al-Islami. 1: 305-307</p>
<p>—</p>
<p><a href="http://DarushSholihin.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">@ DS, Panggang</a>, 1 Ramadhan 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
 