
<p>Dari kisah-kisah pesugihan yang telah dituturkan di muka, terlihat bahwa ada beberapa ritual yang tiada tuntunan. Di antara ritual tersebut adalah semedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau pembacaan wirid yang tiada tuntunan. Sebagian amalan yang ada telah dibahas pula pada bahasan sebelumnya, seperti ada tawassul dan tabarruk (ngalap berkah) yang jauh dari ajaran Islam. Perkara semacam ini dinamakan bid’ah. Dan kadang mengantarkan pada kesyirikan seperti yang dijelaskan pada masalah tawassul.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Memahami bid’ah</span></strong></p>
<p>Ada tiga syarat disebut bid’ah:</p>
<ol start="1">
<li>Sesuatu yang baru (dibuat-buat).</li>
<li>Sesuatu yang baru dalam agama.</li>
<li>Tidak disandarkan pada dalil syar’i.</li>
</ol>
<p>Dalilnya adalah:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dalam hadits tersebut disebutkan sabda Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></span></p>
<p>“<em>Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat</em>.”( HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Hadits Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dalam hadits tersebut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></span></p>
<p>“<em>Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat</em>.”( HR. Muslim no. 867).</p>
<p>Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ</span></span></p>
<p>“<em>Setiap kesesatan tempatnya di neraka</em>.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak</em>.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>: Dalam riwayat lain, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak</em>.” (HR. Muslim no. 1718)</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .</span></span></p>
<p>“<em>Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin</em>.” (<em>Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, 2: 128)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">والمراد بالبدعة : ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً</span></span></p>
<p>“<em>Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun jika didukung oleh dalil syar’i, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa</em>.” (<em>Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</em>, 2: 127)</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Bahaya Bid’ah</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #800080;">1. Amalan yang tercampuri bid’ah tidak akan diterima oleh Allah</span></strong></p>
<p>Beberapa bid’ah memang sangat buruk dampaknya, seperti bid’ahnya faham qadariyyah. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa salah seorang tabi’in yang bernama Yahya bin Ya’mar menceritakan, bahwa yang pertama kali menyoal masalah takdir di Basrah ialah Ma’bad Al Juhany. Ia menuturkan: Ketika itu, aku bersama Humeid bin Abdirrahman Al Himyari hendak berangkat menunaikan haji atau umrah. Maka kukatakan kepadanya: “Andai saja kita berjumpa dengan salah seorang sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, kemudian kita tanyai dia tentang orang-orang qadariyyah itu…”. Lalu tiba-tiba kami berpapasan dengan Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, maka segeralah kami mengapitnya dari sebelah kiri dan kanan. Saat itu nampaknya temanku ingin agar aku yang memulai pembicaraan, maka kukatakan kepada Ibnu ‘Umar:</p>
<p>“Hai Abu Abdirrahman, sesungguhnya di daerah kami muncul sekelompok orang yang pandai membaca Al Qur’an, dan mendalami berbagai ilmu … akan tetapi mereka mendakwakan bahwa takdir Allah itu tidak ada, dan bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya (tanpa ada ketentuan terlebih dahulu -pen)”</p>
<p>Setelah mendengar uraian tadi, Ibnu Umar menjawab, “Kalau kamu bertemu dengan mereka, sampaikan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku… kabarkan bahwa Ibnu Umar bersumpah kalau pun ada di antara mereka yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya Allah tak akan menerima infaknya sampai ia beriman kepada takdir…”</p>
<p>Kemudian Ibnu Umar mengutip hadits dari ayahnya yang bercerita tentang kedatangan Malaikat Jibril dalam sosok orang yang tak dikenal, lalu menanyakan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang makna Islam, Iman dan Ihsan. (HR. Muslim no. 8).</p>
<p>Lihatlah bagaimana sampai dikatakan amalannya tidak tertolak? Itu karena amalannya buruk dan tercampur bid’ah. Dampak ini pun sudah tercakup dalam hadits,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak</em>.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak</em>.” (HR. Muslim no. 1718)</p>
<p>Orang yang berbuat bid’ah inilah yang amalannya merugi. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;"><strong>قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</strong> </span></span></p>
<p>“<em>Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya</em>.” (QS. Al Kahfi: 103-104).</p>
<p>Kalau amalannya benar-benar tertolak dan merugi, bagaimana bisa dikatakan benar?! Dan perlu diingat bahwa sesuatu yang terbukti mujarab, tidak bisa menjadi pembenar hal yang keliru.</p>
<p><strong><span style="color: #800080;">2. Pelaku bid’ah adalah di antara orang yang dilaknat dalam Islam</span></strong></p>
<p>Disebutkan dalam hadits dari ‘Ali bin Abi Tholib dan Anas bin Malik, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa berbuat bid’ah di dalamnya (Madinah), atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya</em>.” (HR. Bukhari no. 1870, 7306 dan Muslim no. 1366). Yang dimaksud dilaknat oleh malaikat dan manusia adalah bentuk hiperbolis yang berarti jauh dari rahmat Allah. Namun laknat di sini bukan berarti seperti laknat pada orang kafir. Demikian kata Al Qodhi ‘Iyadh (Lihat <em>Fathul Bari</em>, 4: 84).</p>
<p><strong><span style="color: #800080;">3. Bid’ah semakin menjauhkan pelakunya dari Allah Ta’ala</span></strong></p>
<p>Ayyub As Sikhtiyani -salah seorang tokoh tabi’in- berkata,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong><span style="color: #800000;">مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً </span></strong></span></p>
<p>“<em>Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah.</em>” (<em>Hilyatul Auliya’</em>, 1: 392)</p>
<p>Apa yang dikatakan oleh tokoh tabi’in di atas, kebenarannya didukung oleh hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika menyifati orang-orang Khawarij,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ </span></span></p>
<p>“<em>Akan muncul di antara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian (para sahabat), puasa kalian, dan amal  kalian di samping shalat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca Al Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya.</em>” (HR. Bukhari no. 5058, 6931, dan Muslim no. 1064)</p>
<p>Perhatikan, bagaimana mulanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyifati mereka sebagai kaum yang amat giat beribadah, lalu menjelaskan betapa jauhnya mereka dari Allah.</p>
<p><strong><span style="color: #800080;">4. Pelaku Bid’ah akan Sulit Bertaubat</span></strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ</span></span></p>
<p>“<em>Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya</em>.” (HR. Thabrani dalam Al Mu’jam Al Awsath. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 54)</p>
<p><strong><strong><span style="color: #800080;">5. Pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></span></strong> </strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ</span></span></p>
<p>“<em>Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.</em>’ ” (HR. Bukhari no. 7049, dari Abu Wail, dari ‘Abdullah)</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى</span></span></p>
<p>“<em>(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku</em>.” (HR. Bukhari no. 7051)</p>
<p>Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan berbuat bid’ah.</p>
<p>Ibnu Baththol berkata, “Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (<em>al haq</em>). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat <em>Syarh Al Bukhari</em>, 19: 2)</p>
<p>Jika kita mengetahui bahaya bid’ah semacam ini, seharusnya membuat kita semakin khawatir dan menjauh dari berbagai bid’ah, bukan malah menganggap segala amalan baru itu hasanah (baik).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bid’ah dalam Ritual Pesugihan</strong></span></p>
<p>Dari tiga syarat di atas, tidak setiap perkara yang baru termasuk bid’ah tercela. Tidak setiap yang baru dalam agama pun digolongkan bid’ah yang dilaknat, namun harus ditambahkan syarat ketiga. Termasuk bid’ah jika termasuk perkara baru, dalam agama dan tidak ada tuntunan dari dalil baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah. Sehingga apa yang dilakukan dari ritual pesugihan seperti dengan bersemedi, dengan tawassul yang tidak ada dalil pendukung, maka termasuk bid’ah yang tercela. Namun pelanggaran ini bisa mengandung hal haram lainnya, seperti harus menempuh safar dalam rangka ibadah di suatu tempat. Ini tambahan dosa tersendiri.</p>
<p>Demikian delapan penyimpangan dalam ritual pesugihan yang bisa kami ungkapkan. Masih tersisa satu bahasan tentang solusi agar terhindar dari ritual pesugihan. Moga bisa segera dikaji dalam tulisan berikutnya.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</em></p>
<p>—</p>
<p>Riyadh-KSA, 25 Rabi’ul Akhir 1434 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/"><span style="color: #0000ff;">www.rumaysho.com</span></a></p>
 