
<p><strong>RUKUN-RUKUN PUASA, DASAR POKOK DISYARI’ATKANNYA PUASA DAN KEPADA SIAPA PUASA ITU DIWAJIBKAN ?</strong></p>
<p>Pembahasan 1<br>
<strong>RUKUN-RUKUN PUASA</strong><br>
Rukun puasa itu ada empat, yaitu:</p>
<ol>
<li>Niat</li>
<li>Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa</li>
<li>Waktu dan</li>
<li>Orang yang berpuasa.</li>
</ol>
<p>Berikut ini penjelasan secara rinci mengenai masing-masing rukun.</p>
<p><strong>Rukun Pertama: Niat</strong><br>
Niat ini sudah harus ada pada malam sebelum berpuasa. Niat ini merupakan suatu keharusan dalam berpuasa. Juga wajib di-tetapkan pada setiap ibadah dan amalan. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah Ta’ala:</p>
<p><strong>وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ</strong></p>
<p><em>“Padahal mereka tidak diperintah melainkan agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.”</em> [Al-Bayyinah/98: 5)</p>
<p>Juga didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:</p>
<p><strong>“إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّياَّتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى.”</strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya.</em><em> Dan sesungguhnya (balasan) bagi setiap amal (sesuai dengan) apa yang ia niatkan</em>.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p><strong>Rukun Kedua:</strong><strong> Menahan Diri dari Hal-Hal yang Membatalkan Puasa</strong><br>
Orang yang berpuasa harus menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasanya, baik itu berupa makan, minum, hubungan badan, dan hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p><strong>Rukun Ketiga:</strong><strong> Waktu</strong><br>
Orang yang berpuasa harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa itu semenjak terbit fajar shadiq (Shubuh) sampai matahari tenggelam. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala:</p>
<p><strong>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</strong><strong> ۖ</strong><strong> ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</strong></p>
<p><em>“Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang pu-tih dari benang hitam, yaitu fajar. </em><em>Kemudian sempurnakan</em><em>lah puasa itu sampai malam.”</em> [Al-Baqarah/2: 187]</p>
<p><strong>Rukun Keempat:</strong><strong> Orang yang Berpuasa</strong><br>
Yaitu orang Muslim yang sudah baligh, berakal, mampu untuk mengerjakan puasa dan terlepas dari halangan puasa.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>[Disalin dari buku<strong> “Meraih Puasa Sempurna”</strong>,  Diterjemahkan dari kitab <strong><em>“Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-</em></strong><strong><em>daab”</em></strong>, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].<br>
______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (<em>Shahiih al-Bukhari </em>(I/22) dan <em>Shahiih Muslim </em>(VI/48))<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Penjelasan rinci mengenai hal ini akan diberikan lebih lanjut dalam pembahasan tentang hal-hal yang membatalkan puasa.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Penjelasan rinci mengenai masalah ini akan diberikan pada pembahasan tentang kepada siapa puasa itu diwajibkan. Lihat kitab <em>Bidaayatul Mujtahid</em> (I/274) dan <em>Nihaayatul</em><em> Muhtaaj</em> (III/158).</p>
 