
<p>Bid’ah adalah hal yang baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em>. Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa salam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">من أحدث في أمرِنا هذا ما ليس فيه فهو ردٌ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mengadakan hal baru dalam islam maka amalannya tertolak</em>” (HR. Bukhari).</p>
<p>Banyak orang menganggap apa yang ia lakukan sebagai suatu ibadah yang disyariatkan, namun kenyataanya tidak seperti yang mereka inginkan, karena keshahihan ibadah bukan ditimbang dengan penglihatan manusia, namun ditimbang dengan dua syarat:</p>
<ol>
<li>Ikhlas.</li>
<li>Sesuai dengan petunjuk Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.</em>
</li>
</ol>
<p>Di zaman ini telah banyak dari kaum muslimin tidak lagi memperdulikan dua syarat ini, maka tak jarang banyak kita temui ibadah yang kosong dari dua syarat ini, terutama syarat ke dua.</p>
<p>Ibadah yang tidak sesuai dengan petunjukan Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em> adalah sia-sia bahkan berdosa, karena ini sama saja menganggap syariat yang Allah turunkan tidak sempurna perlu tambahan.  Padahal Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: right;">﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإسْلامَ دِينًا ﴾ [المائدة: 3</p>
<p>“<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu</em>” (QS. Al Maidah: 3).</p>
<p>Maka perbuatan bid’ah bukanlah perkara yang enteng, Rasulullah<em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">إِيَّاكُمْ ومُحدَثاتِ الأمورِ ، فإنَّ كُلَّ مُحدَثَةٍ بِدعَةٌ ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ</p>
<p>“<em>Hindarilah kalian hal hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah ada sesat</em>” (HR. Ahmad no.1625).</p>
<p>Sebagian para ulama memberikan sebuah rumus untuk mengetahui amalan amalan tersebut bidah atau tidak, rumus tersebut sebagai berikut:</p>
<p>Jika kita menemui sebuah amalan maka timbanglah:</p>
<ul>
<li>Apakah Rasulullah mampu mengerjakan amalan tersebut atau tidak?</li>
<li>Apakah Rasulullah melewati momen atau waktu saat ibadah tersebut dilakukan atau tidak?</li>
<li>Apakah ada <em>khabar</em> yang shahih bahwa Rasulullah melakukannya atau tidak?</li>
</ul>
<p><strong>Contoh:</strong></p>
<p>Maulid Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em> atau perayaan hari ulang tahun Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em>.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, apakah Nabi <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam </em>mampu melakukan amalan yang dikerjakan orang orang saat hari maulid di zaman ini? Tentu jawabannya: sangat mampu.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, apakah Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em> dalam hidupnya pernah melewati hari ulang tahunnya? Jawabannya: tentu melewatinya, namun beliau tidak mengadakan peringatan tersebut.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, adakah <em>khabar</em> yang shahih bahwa Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em> melakukanya? Jawabanny: tidak.</p>
<p>Maka jadilah amalan maulid Nabi tersebut adalah bidah. Kalau memang amalan tersebut baik dan bermanfaat tentu Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em> akan melakukannya karena Rasulullah <em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam</em> tidak mempunyai halangan apapun untuk melakukannya.</p>
<p>Namun jika telah datang khabar yang shahih bahwa Rasululah<em>Shallahu ‘Alaihi wa Salam </em>melakukannya maka amalan tersebut sudah sesuai petunjuk nabi, maka perlu keikhlasan untuk diterimanya amalan kita.</p>
<p>***</p>
<p>23 Safar 1436<br>
5 Desember 2015</p>
<p>Penulis: Muhamad Chalid Syari</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 