
<p>Para <a href="https://muslimah.or.id/11123-safar-bagi-wanita-bag-1-larangan-safar-tanpa-mahram.html">artikel sebelumnya</a> telah disebutkan dalil-dalil wajibnya wanita melakukan safar dibersamai dengan mahramnya. Orang yang bisa menjadi mahram dalam safar bagi seorang wanita syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:</p>



<p><strong>1. Orang tersebut adalah mahram bagi
Muslimah yang bersafar</strong></p>



<p>Orang yang boleh menemani safar haruslah merupakan
mahram bagi Muslimah yang bersafar. Ini jelas dalam hadits di atas.
Para ulama mendefinisikan mahram:</p>



<p style="text-align:right">المَحرَم
هو
الزوج
وكل
من
يحرم
عليه
الزواج
من
المرأة
على
التأبيد
بنسب
أو
رضاع
أو
مصاهرة</p>



<p>“Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi
selamanya, baik karena hubungan nasab, persusuan maupun <em>mushaharah</em>
(hubungan pernikahan)”</p>



<p>Dan yang dimaksud mahram bagi wanita dalam hal ini
adalah dari kalangan laki-lakinya, semisal: ayahnya, saudara
laki-lakinya, anaknya, kakeknya, pamannya dan semisalnya.</p>



<p>Adapun safar bersama wanita yang lain tanpa mahram
dari kalangan laki-laki, atau wanita safar bersama teman-temannya
sesama wanita, maka ini tidak diperbolehkan. Syaikh Abdul Aziz bin
Baz mengatakan:</p>



<p style="text-align:right">ليس
للمرأة
السفر
بدون
محرم،
ولو
تعدد
وجود
النساء،
فليس
لهن
السفر
إلا
بمحرم
ولو
كن
جماعة</p>



<p>“Tidak boleh wanita bersafar tanpa mahram,
walaupun jumlah wanita yang safar tersebut banyak. Tidak boleh bagi
mereka bersafar kecuali dengan mahram, walaupun bersama-sama.
Berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>: “<em>Tidak
boleh wanita bersafar kecuali dengan mahramnya</em>“. Maka tidak
boleh para wanita tersebut bersafar tanpa mahram” (Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/6206).</p>



<p><strong>2, 3. Baligh dan berakal</strong></p>



<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:</p>



<p style="text-align:right">أدنى
سن
يكون
به
الرجل
محرماً
للمرأة
هو
البلوغ
، وهو
إكمال
خمسة
عشر
سنة ،
أو
إنزال
المني
بشهوة
، أو
إنبات
الشعر
الخشن
حول
الفرج
ويسمى
العانة
. ومتى
وجدت
واحدة
من هذه
العلامات
الثلاث
صار
الذكر
بها
مكلفاً
، وجاز
له أن
يكون
محرماً
للمرأة
، وهكذا
وجود
واحدة
من
الثلاث
تكون
بها
المرأة
مكلفة
وتزيد
المرأة
علامة
رابعة
وهي
الحيض
، والله
ولي
التوفيق</p>



<p>“Usia minimal seorang lelaki agar bisa dianggap
sebagai mahram bagi seorang wanita adalah usia baligh. Yaitu usia 15
tahun atau ketika sudah keluar air mani karena syahwat. Atau dengan
tumbuhnya bulu kemaluan yang dinamakan dengan al aanah. Jika terdapat
salah satu dari tiga tanda tersebut maka ia menjadi lelaki yang
mukallaf dan boleh menjadi mahram bagi si wanita. Demikian juga pada
wanita, jika ditemukan salah satu dari tiga tanda tersebut, maka ia
menjadi wanita yang mukallaf. Namum bagi wanita ada tambahan satu
tanda yaitu haid. <em>Wallahu waliyyut taufiq</em>” (Sumber:
http://www.binbaz.org.sa/fatawa/672).</p>



<p>Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “ada sekolah di
Mesir yang memfatwakan kepada murid-muridnya bahwa jika seorang
lelaki menikah dengan wanita sedangkan lelaki ini memiliki anak-anak
dari istri pertama, maka tidak boleh berhaji dengan istri ayahnya
yang kedua tersebut. Apakah ini benar?”. Mereka menjawab:</p>



<p style="text-align:right">يصلح
أولاد
الزوج
البالغين
العاقلين
أن
يكونوا
محرمًا
لزوجة
أبيهم
في
السفر
للحج
وغيره،
سواء
كانت
أمًّا
لهم
أم ضرة
لأمهم</p>



<p>“Anak-anak dari suami yang sah, yang baligh dan
berakal, boleh menjadi mahram bagi sang istri untuk bersafar dalam
rangka haji atau yang lainnya. Baik wanita tersebut ibu kandung
mereka, ataupun ibu tiri” (<em>Fatwa Al Lajnah Ad Daimah </em>no.
8663 juz 17 hal. 318).</p>



<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:</p>



<p style="text-align:right">ويشترط
أن
يكون
المحرم
بالغاً
عاقلاً،
فالصغير
والمجنون
لا
يكفيان
لجواز
السفر
معهما. وعلى
هذا
فإذا
لم تجد
المرأة
محرما
لم يجب
عليها
الحج؛
لأنها
لا
تستطيع
إليه
سبيلا</p>



<p>“Disyaratkan mahram itu harus baligh dan
berakal. Anak kecil dan orang gila tidak cukup untuk membolehkan
safarnya seorang wanita bersama mereka. Oleh karena itu jika seorang
wanita tidak bisa mendapatkan mahram baginya maka ia tidak wajib
berhaji. Karena ia tidak termasuk orang yang mampu menempuh
perjalanan ke baitullah” (<em>Majmu’ Fatawa war Rasail</em>,
no.24/422)</p>



<p><strong>4,5. Muslim dan terpercaya</strong></p>



<p>Disyaratkan yang menjadi mahram dalam safar adalah
orang yang terpercaya dan amanah. Disebutkan dalam <em>Mausu’ah
Fiqhiyyah Durarus Saniyyah</em>:</p>



<p style="text-align:right">مَحْرَم
المرأة
هو
زوجها
أو من
يحرم
عليها
بالتأبيد
بسبب
قرابة،
أو
رضاع،
أو
صهرية،
ويكون
مسلماً
بالغاً
عاقلاً
ثقة
مأموناً؛
فإن
المقصود
من
المحرم
حماية
المرأة
وصيانتها
والقيام
بشأنها</p>



<p>“Mahram (safar) bagi seorang wanita adalah
suaminya atau orang yang diharamkan untuk menikahinya selamanya
karena sebab hubungan rahim, atau persusuan atau <em>shahriyyah</em>
(hubungan pernikahan). Dan ia harus Muslim, baligh, berakal
terpercaya dan amanah. Karena maksud dipersyaratkannya mahram adalah
agar dapat menjaga dan melindungi wanita serta membantu
urusan-urusannya” (Sumber: http://www.dorar.net/enc/feqhia/2784).</p>



<h3>Safarnya wanita untuk haji atau umrah</h3>



<p>Jika wanita dilarang untuk safar tanpa mahram,
lalu bagaimana dengan perjalanan wanita untuk haji yang tentunya
termasuk safar, apakah wajib bersama mahramnya? Dalam hal ini para
ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:</p>



<p><strong>Pendapat pertama</strong>, tidak boleh
safar haji tanpa mahram dan adanya mahram adalah <em>syarat wujub</em>
haji. Jika tidak ada mahram, maka tidak wajib haji walaupun harta
yang dimiliki wanita sudah mencukupi untuk berhaji. Ini adalah
pendapat Hanabilah dan Hanafiyah.</p>



<p>Diantaara dalilnya adalah hadits Ibnu Abbas <em>radhiallahu’ahu</em>, Nabi <em>Shallallahu’alaihi</em> <em>Wasallam</em> bersabda:</p>



<p style="text-align:right">لا
تُسَافِرِ
المَرْأَةُ
إلَّا
مع ذِي
مَحْرَمٍ،
ولَا
يَدْخُلُ
عَلَيْهَا
رَجُلٌ
إلَّا
ومعهَا
مَحْرَمٌ،
فَقالَ
رَجُلٌ: يا
رَسولَ
اللَّهِ
إنِّي
أُرِيدُ
أنْ
أخْرُجَ
في
جَيْشِ
كَذَا
وكَذَا،
وامْرَأَتي
تُرِيدُ
الحَجَّ،
فَقالَ: اخْرُجْ
معهَا</p>



<p>“<em>Seorang wanita tidak boleh melakukan
safar kecuali bersama mahramnya. Dan lelaki tidak boleh masuk ke
rumahnya kecuali ada mahramnya”. Maka seorang sahabat berkata:
“wahai Rasulullah, aku berniat untuk berangkat (jihad) perang
ini dan itu, sedangkan istriku ingin berhaji”. Nabi bersabda:
“temanilah istrimu berhaji</em>” (HR. Bukhari no. 1862,
Muslim no. 1341).</p>



<p>Dalam hadits ini, Nabi mengurungkan seorang
sahabat Nabi yang ingin berjihad demi untuk menemani istrinya yang
akan berhaji. Dan hukum jihad tidak lepas dari wajib atau sunnah. Dan
tidak mungkin perkara yang wajib digugurkan dengan sesuatu yang
mubah. Dan jika jihad tersebut sunnah, maka juga tidak mungkin jihad
yang merupakan ibadah yang agung dan paling utama digugurkan demi
perkara mubah. Ini menunjukkan wajibnya wanita ditemani mahramnya
ketika berhaji.</p>



<p><strong>Pendapat kedua</strong>, boleh wanita
bersafar untuk haji tanpa mahram dan tidak disyaratkan adanya mahram.
Dengan syarat dia ditemani oleh orang-orang yang terpercaya dan aman
dari fitnah. Ini adalah pendapat ulama Syafi’iyyah.</p>



<p><strong>Pendapat kedua</strong>, wanita wajib
ditemani mahram ketika safar untuk berhaji. Namun jika tidak ada
mahram, atau mahram yang ada tidak memungkinkan untuk menemani, maka
boleh bersafar tanpa mahram selama ditemani oleh orang-orang yang
terpercaya dan aman dari fitnah. Ini adalah pendapat ulama Malikiyyah
dan juga pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</p>



<p>Dalil ulama yang memboleh diantaranya hadits Adi
bin Hatim <em>radhiallahu’anhu</em>, ia berkata:</p>



<p style="text-align:right">بينا
أنا
عند
النبي
صلى
الله
عليه
وسلم
إذ
أتاه
رجل
فشكا
إليه
الفاقة
ثم
أتاه
آخر
فشكا
قطع
السبيل
فقال
: يا
عدي
هل
رأيت
الحيرة
؟ قلت
: لم
أرها
وقد
أنبئت
عنها
. قال
: فإن
طالت
بك
حياة
لترين
الظعينة
ترتحل
من
الحيرة
حتى
تطوف
بالكعبة
لا
تخاف
أحدا
إلا
الله
، قال
عدي :
فرأيت
الظعينة
ترتحل
من
الحيرة
حتى
تطوف
بالكعبة
لا
تخاف
إلا
الله</p>



<p>“<em>Ketika aku berada bersama Rasulullah
</em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>, tiba-tiba
datang seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah tentang
kefakirannya, dan seorang lagi mengadu bahwa ia kehabisan bekal.
Beliau lalu bersabda: “Wahai Adi, apakah kamu melihat Al Hairah?
Aku berkata: “aku tidak melihatnya padahal telah aku cari”.
Beliau lalu bersabda: “Apabila kamu panjang umur, maka kamu akan
melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari Al Hairah sampai ia
thawaf di Ka’bah , ia tidak takut apapun kecuali Allah”. ‘Adi
bin Hatim berkata: “Lalu saya melihat seorang wanita berangkat
dari Al Hairah sampai ia thawaf di Ka’bah, dan ia tidak takut
kecuali kepada Allah</em>” (HR. Bukhari no. 3400).</p>



<p>Sanggahan untuk hadits ini adalah bahwa kandungan
hadits ini adalah sekedar berita dari Rasulullah <em>shallallahu
‘alaihi wa sallam</em> bahwasanya kejadian tersebut akan terjadi,
tidak menunjukkan hukum halal atau haram. An Nawawi <em>rahimahullah
</em>berkata:</p>



<p style="text-align:right">لَيْسَ
كُلّ
مَا
أَخْبَرَ
صَلَّى
اللَّه
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
بِكَوْنِهِ
مِنْ
عَلامَات
السَّاعَة
يَكُون
مُحَرَّمًا
أَوْ
مَذْمُومًا
, فَإِنَّ
تَطَاوُلَ
الرِّعَاءِ
فِي
الْبُنْيَان
. وَفُشُوَّ
الْمَالِ
, وَكَوْنَ
خَمْسِينَ
اِمْرَأَةً
لَهُنَّ
قَيِّمٌ
وَاحِدٌ
لَيْسَ
بِحَرَامٍ
بِلا
شَكٍّ
, وَإِنَّمَا
هَذِهِ
عَلامَات
وَالْعَلامَة
لا
يُشْتَرَط
فِيهَا
شَيْءٌ
مِنْ
ذَلِكَ
; بَلْ
تَكُون
بِالْخَيْرِ
وَالشَّرّ
وَالْمُبَاح
وَالْمُحَرَّم
وَالْوَاجِب
وَغَيْره
وَاَللَّه
أَعْلَمُ</p>



<p>“Tidak semua apa yang dikabarkan oleh
Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang
tanda-tanda hari kiamat itu menghasilkan hukum haram dan tercela.
Seperti para pengembala yang berlomba meninggikan bangunan,
melimpahnya harta, lima puluh wanita memiliki satu tuan, ini semua
tidak ragu lagi bukan perkara haram. Akan tetapi semua ini
tanda-tanda saja, dan tanda itu terkadang baik, buruk, mubah, haram,
wajib, dan lain-lain. Wallahu a’lam” (<em>Al Minhaj</em>,
1/159).</p>



<p>Sehingga ini pendalilan yang tidak <em>sharih</em>.
Maka yang rajih, <em>wallahu a’lam</em>, adalah pendapat pertama
yaitu wanita tidak boleh bersafar tanpa mahramnya walaupun untuk
berhaji. Dan ia tidak dianggap sebagai “orang yang mampu”
ketika tidak ada yang mahram untuk menemaninya safar, sehingga gugur
kewajiban haji darinya.</p>



<p>Dan khilaf ulama di atas berlaku untuk haji yang
wajib atau umrah yang wajib. Adapun haji yang sunnah atau umrah yang
sunnah, maka berlaku keumuman larangan bersafar tanpa mahram.</p>



<h3>Safarnya wanita dengan pesawat terbang tanpa
mahram</h3>



<p>Bagaimana dengan wanita yang safar dengan pesawat
terbang tanpa mahram? Syaikh Abdul Aziz bin Baz menulis fatwa tentang
hal ini:</p>



<p>Dari Abdul Aziz bin Baz kepada Al Akh Al Mukarram
Al Ustadz A.S.A (inisial), semoga Allah memberi taufiq kepada anda.
Amiin.</p>



<p><em>Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh</em>,
setelah membaca surat anda tertanggal 15 Muharram 1394 yang telah
sampai atas hidayah dari Allah, yang berisikan bahwa anda telah
berselisih pendapat dengan sahabat-sahabat anda mengenai safarnya
seorang wanita Muslimah dengan menggunakan pesawat terbang tanpa
mahram. Dengan catatan bahwa wali dari si wanita tersebut
mengantarkan sampai bandara hingga ia menaiki pesawat, dan mahramnya
yang lain sudah menunggu untuk menjemputnya di tempat yang dituju.
Dan anda meminta fatwa atas hal ini.</p>



<p><strong>Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Baz:</strong></p>



<p>Tidak diperbolehkan seorang wanita bersafar
menggunakan pesawat ataupun kendaraan yang lain tanpa mahram yang
menemaninya sepanjang perjalanan. Berdasarkan keumuman sabda Nabi
<em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>



<p style="text-align:right">لا
تسافر
المرأة
إلا
مع ذي
محرم</p>



<p>“<em>tidak boleh wanita bersafar kecuali bersama
mahram</em>” (HR. Al Bukhari no.1862, Muslim no.1339).</p>



<p>hadits ini disepakati keshahihannya.</p>



<p>Karena adanya kemungkinan terjadinya gangguan pada
si wanita tersebut selama perjalanan di atas pesawat dengan berbagai
bentuk sebab gangguan, dalam keadaan tidak ada yang menjaganya.
Selain itu juga, terkadang pesawat mengalami kerusakan sehingga
mendarat (darurat) bukan pada bandara yang semestinya. Lalu para
penumpangnya diinapkan di hotel atau tempat yang lain untuk menunggu
perbaikan pesawat atau menunggu hingga pesawat dalam keadaan aman
untuk terbang kembali, atau kejadian yang semisalnya. Dan terkadang
para penumpang harus tinggal dan menunggu hal itu untuk waktu yang
lama, bisa jadi satu hari atau lebih. Sehingga ini menyebabkan sang
wanita tersebut berhadapan dengan hal yang berbahaya baginya seorang
diri.</p>



<p>Dan secara umum, rahasia-rahasia dari hukum-hukum
syariat Islam dan keagungan yang ada di baliknya itu sangatlah
banyak. Terkadang sebagiannya tidak kita ketahui. Maka wajib
berpegang teguh pada dalil-dalil dan menjauhkan diri dari sikap
menyelisihi dalil tanpa ada izin dari syariat.</p>



<p>Semoga Allah memberi taufiq kepada anda semua
untuk mengilmui agama dengan benar dan istiqamah menjalankannya.
Karena sungguh itu lebih baik dan itu akan dimintai tanggung-jawab
kelak. <em>Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.</em></p>



<p>(Sumber: <a href="https://www.binbaz.org.sa/fatawa/673">https://www.binbaz.org.sa/fatawa/673)</a>.</p>



<h3>Sebaik-baik tempat bagi wanita</h3>



<p>Tidak lupa kami mengingatkan kepada para kaum
Muslimah, bahwa Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em> berfirman,</p>



<p style="text-align:right">وَقَرْنَ
فِي
بُيُوتِكُنَّ</p>



<p>“<em>Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di
rumah-rumah kalian</em>” (QS. Al Ahzab [33]: 33)</p>



<p>Ibnu Katsir menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan
bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan”
(Tafsir Al Quran Al Adzim 6/408).</p>



<p>Jadi tempat terbaik bagi wanita adalah di
rumahnya, dengan demikian ia lebih terjaga dan aman dari fitnah dan
gangguan. Hendaknya tidak bermudah-mudah untuk keluar dari rumahnya
baik safar atau pun bukan, tanpa kebutuhan.</p>



<p>Dan yakinlah bahwa semua ajaran Islam mendatangkan
maslahah yang besar bagi manusia. Sebagaimana diungkapkan dalam
kaidah fiqhiyyah:</p>



<p style="text-align:right">الشَارِعُ
لَا
يَـأْمُرُ
إِلاَّ
ِبمَا
مَصْلَحَتُهُ
خَالِصَةً
اَوْ
رَاجِحَةً
وَلاَ
يَنْهَى
اِلاَّ
عَمَّا
مَفْسَدَتُهُ
خَالِصَةً
اَوْ
رَاجِحَةً</p>



<p>“Islam tidak memerintahkan sesuatu kecuali
mengandung 100% kebaikan, atau kebaikan-nya lebih dominan. Dan Islam
tidak melarang sesuatu kecuali mengandung 100% keburukan, atau
keburukannya lebih dominan”.</p>



<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di
berkata, “Kaidah ini meliputi seluruh ajaran Islam, tanpa
terkecuali. Sama saja, baik hal-hal ushul (pokok) maupun furu’
(cabang), baik yang berupa hubungan terhadap Allah maupun terhadap
sesama manusia. Allah Ta’ala berfirman,</p>



<p style="text-align:right">إِنَّ
اللَّهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ
ذِي
الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ</p>



<p>“<em>Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah
melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran</em>” (QS.
An Nahl: 90)</p>



<p>Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap keadilan,
kebaikan, silaturahim pasti diperintahkan oleh syariat. Setiap
kekejian dan kemungkaran terhadap Allah, setiap gangguan terhadap
manusia baik berupa gangguan terhadap jiwa, harta, kehormatan, pasti
dilarang oleh syariat. Allah juga senantiasa mengingatkan hamba-Nya
tentang kebaikan perintah-perintah syariat, manfaatnya dan
memerintahkan menjalankannya. Allah juga senantiasa mengingatkan
tentang keburukan hal-hal dilarang agama, kejelekannya, bahayanya dan
melarang mereka terhadapnya” (<em>Qawaid Wal Ushul Al Jami’ah</em>,
hal.27).</p>



<p><em>Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>



<p>***</p>



<p>Penulis: Yulian Purnama</p>



<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 