
<p><strong>SALAFIYAH, PENISBATAN YANG BENAR</strong></p>
<p>Di tengah arus pemikiran dan pergerakan Islam, maka kembali ke pemahaman Salaf adalah keharusan. Ironisnya, dakwah untuk kembali kepada pemahaman Salaf, yaitu sebagaimana para salafush-shalih memahami Islam, ternyata mendapat tantangan. Anehnya, penentangan ini datang dari kalangan elit “aktivis dakwah” yang juga menyatakan dirinya sebagai pembawa bendera syari’at. Namun tatkala ditunjukkan kepada pemahaman yang benar, ternyata justru merasa dirinya terganjal. Sehingga lontaran-lontaran syubhat, akhirnya didoktrinkan kepada ummat kebanyakan. Doktrin yang menyesatkan ini, sedikit banyak telah mempengaruhi, bahkan menghalangi ummat untuk mempelajari Islam yang benar, sebagaimana para shalafush-shalih telah memahaminya.</p>
<p>Di antaranya doktrin mereka, misalnya, Salafiyah adalah gerakan baru yang lahir dalam hitungan tahun terakhir ini, bersikap taklid, gerakan sekuler, meniadakan jihad, konon tak memiliki kepedulian kepada ummat, dan anggapan miring lainnya.</p>
<p>Anggapan yang keliru ini menunjukkan ketidakpahaman –jika tidak disebut tak mengetahui hakikat Salaf-, atau jika mengerti, bisa jadi asumsi-asumsi ini didasarkan oleh hawa nafsu. Dengan sendirinya, asumsi keliru ini tertolak, jika kita mengerti tentang dakwah Salaf.</p>
<p>Bahwasanya, dakwah Salaf bukanlah dakwah yang baru. Penisbatan kata Salaf atau <em>as-Salafiyyun</em> bukanlah termasuk perkara yang baru atau <em>bid’ah</em>. Akan tetapi, penisbatan ini adalah <em>syar’i</em>, karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para sahabat, <em>tabi’in</em> dan <em>tabi’ut tabi’in</em></p>
<p>Secara istilah, kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini. Mereka adalah para sahabat, <em>tabi’in, tabi’ut tabi’in</em> dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><strong>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.</strong></p>
<p><em>Sebaik-baik manusia adalah generasiku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa <strong>tabi’in</strong>), kemudian yang sesudahnya (masa <strong>tabi’ut-tabi’in</strong>)</em>. [<em>Muttafaqun ‘alaih</em>].</p>
<p>Al Qalsyani menyatakan bahwa, Salafush-Shalih adalah generasi pertama dari ummat ini, yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan agama-Nya.</p>
<p>Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji di dalam kitab <em>al ‘Aqidatul-Islamiyyah Bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah</em>, mengatakan: “Penetapan istilah <strong>Salaf</strong> tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan al Qur`an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush-Shalih (tentang ‘<em>aqidah, manhaj, akhlaq </em>dan<em> suluk</em>, Pent.). Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan al-Qur`an dan as-Sunnah mengenai ‘<em>aqidah</em>, hukum dan <em>suluknya</em> (perilaku) menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut <strong><em>Salafi</em></strong>, meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi al-Qur`an dan as-Sunnah, maka ia bukan seorang <em>Salafi</em> meskipun ia hidup pada zaman sahabat, <em>ta-bi’in</em> dan <em>tabi’ut tabi’in</em>“. [<em>Al</em><em> Mufassirun Bainat-Ta’wiil wal Itsbat fi Aayatish-Shifat</em>, I/13-14].</p>
<p>Begitu pula Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali menyatakan, Salafiyah merupakan penisbatan kepada Salaf, dan ini merupakan penisbatan terpuji kepada <em>manhaj</em> (metoda pemahaman terhadap al Qur`an dan Sunnah) yang benar, bukan merupakan madzhab baru yang diada-adakan secara <em>bid’ah</em>. [Lihat<em> Basha’ir Dzawi asy-Syaraf bi Syarhi Marwiyyat Manhaji as-Salaf</em>. Maktabah al Furqan, Cet. II , Th. 1421 H/2000 M, hlm. 21].</p>
<p>Maka kata Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali pula, sebagaimana beliau menukil perkataan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa, tidak ada cela bagi orang yang menampakkan, serta menisbatkan diri dan menyandarkan diri kepada <em>madzhab</em> Salaf. Bahkan wajib hukumnya menerima penyandaran dirinya kepada <em>manhaj</em> Salaf itu menurut kesepakatan ulama. Karena sesungguhnya <em>madzhab</em> Salaf, tidak lain kecuali kebenaran.</p>
<p>Jadi, kita jangan keliru menilai Salafiyyun.</p>
<p><em>Alhamdulillahi Rabbil-‘Alamin</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun X/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]</p>
 