
<p><span style="color: #000000;">Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, dia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Dahulu,  ada seorang lelaki berjalan sembari menunggangi seekor sapi miliknya  [dan dia pun memukuli/mencambukinya]. Maka sapi itu pun menoleh  kepadanya dan berkata, ‘Aku diciptakan bukan untuk diperlakukan seperti  ini. Akan tetapi aku diciptakan untuk bercocok tanam.’.”</em> Maka orang-orang pun berkomentar, <em><!--more-->“Subhanallah -dengan perasaan heran dan kaget-, sapi bisa berbicara?.”</em></span><span style="color: #000000;"> Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya aku mengimani -meyakini kebenaran- hal itu, demikian juga Abu Bakar dan Umar.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/12] tambahan dalam tanda kurung dari riwayat Bukhari)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hadits yang agung ini memberikan pelajaran-pelajaran penting, antara lain:</span></p>
<p><span style="color: #000000;">1.      Boleh menggunakan sapi untuk keperluan bercocok tanam, seperti membajak sawah dan semacamnya (lihat <em>Shahih Bukhari</em>, <em>Kitab al-Harts wal Muzara’ah</em>, hal. 477 cet. Maktabah al-Iman).</span></p>
<p><span style="color: #000000;">2.      Hadits ini menunjukkan keutamaan sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab <em>radhiyallahu’anhuma</em> (lihat <em>Shahih Bukhari,</em> <em>Kitab Fadha’il Ash-habin Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, hal. 764 dan 770, <em>Syarh Muslim</em> [8/12])</span></p>
<p><span style="color: #000000;">3.      Hadits ini menunjukkan wajibnya membenarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  meskipun secara sepintas terdengar aneh atau di luar jangkauan akal.  Hal itu dikarenakan beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya,  namun sekedar menyampaikan wahyu dari Rabbnya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dengan berdasarkan hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.”</em> (QS. an-Najm: 3-4). Oleh sebab itu upaya sebagian kalangan yang tidak  bertanggung jawab untuk menimbulkan keragu-raguan di dalam hati umat  Islam akan kebenaran hadits-hadits Nabi adalah sebuah gerakan untuk  meruntuhkan akidah Islam [!!], maka waspadalah wahai saudaraku!</span></p>
<p><span style="color: #000000;">4.      Ucapan <em>‘subhanallah’</em> ketika mendengar atau melihat sesuatu yang mengherankan</span></p>
<p><span style="color: #000000;">5.       Hadits ini menunjukkan bolehnya menyebutkan nama sebagian orang yang  memiliki keutamaan di hadapan orang-orang untuk menunjukkan keutamaan  mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">6.      Hadits ini tidak bisa diartikan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak percaya diri dalam menyampaikan wahyu. Ada hikmah yang  tersembunyi di balik sikap beliau membawa-bawa nama Abu Bakar dan Umar.  Di antara hikmahnya –<em>wallahu a’lam</em>– adalah untuk menunjukkan keutamaan mereka berdua dan kekuatan iman mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">7.      Semestinya memakai sesuatu sesuai dengan tujuan atau maksud pembuatannya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">8.      Hadits ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah <em>ta’ala</em>, sehingga Allah pun mampu membuat binatang bisa berbicara. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya Allah itu Maha berkuasa atas segala sesuatu.”</em> (QS. al-Baqarah: 20). Jangankan binatang -yang memiliki mulut-,  sedangkan kulit saja -yang tidak punya mulut- kelak pada hari kiamat  bisa berbicara dengan kuasa Allah <em>ta’ala</em>!</span></p>
<p><span style="color: #000000;">9.       Menyampaikan kisah -yang sahih- merupakan salah satu bagian dari metode  dakwah Nabi, tentu saja dengan tujuan untuk mengambil pelajaran darinya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">10.   Sapi -demikian juga kerbau- adalah salah satu makhluk Allah. Oleh sebab  itu manusia -yang telah dimuliakan Allah- tidak layak menghinakan diri  di hadapan binatang, apalagi berebut mengambil kotorannya demi  mendapatkan berkah [?!], <em>na’udzu billahi min dzalik</em>… Memang, bukan mata yang buta, akan tetapi sesuatu yang berada di dalam dada… itulah yang buta!</span></p>
<p><span style="color: #000000;">11.   Akal manusia tidak bisa dijadikan sebagai standar/tolok ukur kebenaran.  Namun yang bisa dijadikan standar adalah wahyu dari Allah ta’ala  (al-Qur’an dan as-Sunnah)</span></p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/" target="_blank">Ustadz Abu Mushlih</a><br>
Artikel <a href="www.KisahMuslim.com" target="_self">www.KisahMuslim.com</a></p>
 