
<p>Bagaimana bila seekor hewan <a href="http://pedulimuslim.com/tag/qurban/">qurban</a> diniatkan untuk satu keluarga?</p>
<p>Syekh Abdulmuhsin Al-‘Abbad kemarin malam menjelaskan bahwa hal itu boleh dilakukan. Misal see<span class="text_exposed_show">kor kambing atau sapi <a href="http://pedulimuslim.com/tag/qurban/">diqurbankan</a> dengan niat untuk satu kekuarga. Akan tetapi dengan catatan, keluarga tersebut satu dapur; artinya kebutuhan makannya berasal dari dapur yang sama, tidak sendiri-sendiri. Adapun bila sudah punya dapur sendiri-sendiri, maka masing-masing dibebani untuk berqurban sendiri-sendiri.</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Allahu ta’ala a’lam. (Status <a href="https://www.facebook.com/achmed.anshorie/posts/784362334956942?fref=nf" target="_blank" rel="noopener">Ahmad Anshori </a>di Facebook: 25 September 2014)</p>
<p>—</p>
<p>Satu <a href="http://pedulimuslim.com/tag/qurban/">qurban</a> boleh diniatkan untuk satu keluarga, dalilnya adalah dari ‘Atho’ bin Yasar, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ</p>
<p>“<em>Aku pernah bertanya pada Ayyub Al Anshori, bagaimana <a href="http://pedulimuslim.com/tag/qurban/">qurban</a> di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) <span style="text-decoration: underline;">untuk dirinya dan satu keluarganya</span>. Lalu mereka memakan <a href="http://pedulimuslim.com/tag/qurban/">qurban</a> tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.</em>” (HR. Tirmidzi no. 1505, <em>shahih</em>)</p>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: Ahmad Anshori</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id" target="_blank" rel="noopener">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
 