
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><span lang=""><b><span style="color: #ff0000;">Sebab ke dua: Meremehkan (Menganggap kecil) perbuatan dosa</span> </b></span></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Sebab ke dua yang menjadikan sebuah dosa kecil dapat dihukumi sebagai dosa besar adalah meremehkan atau menganggap “enteng” dosa kecil. Sehingga dia pun tidak merasa bersedih hati atas perbuatan dosa yang dia lakukakn. Hal ini pada akhirnya menyebabkan orang tersebut mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dia lakukan dan lama-lama akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Al-Ghazali </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">berkata, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”</i>Di antara sebab dosa kecil menjadi besar adalah seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut dan tidak bersedih karena dosa (yang pernah dia lakukan).” </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Al-Arba’in fii Ushuulid Diin, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">hal. 226)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Beliau </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimhaullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">juga mengatakan, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”</i>Sesungguhnya dosa, selama seorang hamba menganggap perbuatan dosa tersebut sebagai sesuatu yang besar dari dalam dirinya, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di sisi Allah Ta’ala. Ketika dia menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang besar, hal itu berasal dari larinya hatinya dari dosa tersebut dan kebencian hatinya terhadap dosa. Semua itu menyebabkan tercegahnya seorang hamba dari konsekuensi perbuatan dosa. Adapun ketika dia menganggap remeh perbuatan dosa, hal itu bersumber dari kegemarannya berbuat dosa. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat kuat di dalam hati.” </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Ihya’ ‘Ulumuddin, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">4/32)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Inilah seharusnya yang dilakukan oleh seorang yang beriman. Yaitu, dia senantiasa takut dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, menganggap besar dosa (kecil) yang dia lakukan dan lari (menjauh) darinya.</span></span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">bersabda,</span></span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i><b>Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(HR. Bukhari no. 6308).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Demikianlah para sahabat Nabi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">mereka adalah orang-orang yang paling menjauh dari perbuatan dosa, sekecil atau sebesar apa pun perbuatan dosa tersebut.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Dari Anas </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">beliau berkata,</span></span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المُوبِقَاتِ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>Sesungguhnya kalian melakukan suatu perbuatan yang lebih halus di mata kalian dibandingkan sehelai rambut, namun kami menilainya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam dosa yang membinasakan.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(HR. Bukhari no. 6492).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Ibnu Hajar </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">berkata, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”</i>Kalian melakukan perbuatan yang kalian anggap remeh, padahal (perbuatan dosa tersebut) besar atau dapat dihukumi sebagai dosa besar” </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Fathul Baari, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">11/330).</span></span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Sebab ke tiga: Bergembira (senang) atas perbuatan dosa yang dilakukan </b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Bergembira atau merasa senang atas perbuatan dosa yang dilakukan menyebabkan dosa kecil tertentu dihukumi sebagai dosa besar. Seseorang yang terjatuh dalam perbuatan dosa, ketika dia merasa senang atau gembira dengan dosa yang dia lakukan, maka dia akan terus-menerus mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut. Bahagianya seseorang atas perbuatan yang dilakukan akan memalingkan orang tersebut dari merenungi dan memikirkan hukuman dan kemurkaan Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Sehingga dia pun tidak malu lagi ketika melakukan dosa tersebut, yang pada akhirnya dia pun melakukan perbuatan dosa tersebut secara terang-terangan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>(al-mujaaharah). </i></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Dalil sebab ke tiga ini adalah hadits Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">tentang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>al-mujaharah. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Karena di antara konsekuensi dari </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>al-mujaharah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">adalah seseorang merasa gembira dengan dosa kecil yang dilakukan. Adanya rasa gembira ini pada akhirnya akan menyebabkan seseorang terjatuh dalam perbuatan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>ishraar. </i></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Adapun pembahasan tentang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>al-mujaaharah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">akan disampaikan dalam edisi berikutnya.</span></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Baca artikel sebelumnya : <a href="https://muslim.or.id/25403-sebab-sebab-yang-menjadikan-dosa-kecil-dihukumi-sebagai-dosa-besar-1.html" target="_blank" rel="noopener">Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa Besar (1)</a></p>
<p style="text-align: left;">Lanjutkan baca : <a href="https://muslim.or.id/25438-sebab-sebab-yang-menjadikan-dosa-kecil-dihukumi-sebagai-dosa-besar-3.html" target="_blank" rel="noopener">Sebab-Sebab Yang Menjadikan Dosa Kecil Dihukumi Sebagai Dosa Besar (3)</a></p>
</blockquote>
<p lang="" align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Selesai disusun ba’da subuh, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 8 Rajab 1436</span></p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><span lang=""><b> M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">[1] Disarikan dari kitab </span><span lang=""><i>At-Taubah, fii Dhau’il Qur’anil Kariim, </i></span><span lang="">Dr. Amaal binti Shalih Naashir, Daar Andalus Khadhra’,</span><i> </i><span lang="">cetakan pertama, tahun 1419, hal. 138-140.</span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 