
<h4 align="JUSTIFY">
<span style="color: #ff0000;"><span lang="id-ID"><b>Sebab ke empat: Melakukan dosa secara terang-terangan </b></span></span><span style="color: #ff0000;"><span lang="id-ID"><i><b>(al-mujaharah)</b></i></span></span>
</h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Terang-terangan dalam melakukan perbuatan dosa akan menyebabkan dosa kecil bisa dihukumi sebagai dosa besar. Orang yang terang-terangan berbuat dosa, maka dia akan menyebabkan orang lain untuk ikut-ikutan dan men</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">dorong</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> mereka untuk meniru perbuatan dosa tersebut. Selain itu, orang tersebut juga akan menghias-hiasi perbuatan dosa </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">tersebut </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(sehingga tampak indah dan menyenangkan di mata manusia) dan pada akhirnya mereka menganggap dosa tersebut sebagai perbuatan yang baik. Oleh karena itu, orang yang melakukan dosa secara terang-terangan akan mendapatkan hukuman dan adzab yang pedih dari Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">berfirman,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang="id-ID"><i>Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(QS. An-Nisa [4]: 148).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Dalam ayat di atas, tidak adanya kecintaan dari Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">menunjukkan adanya murka Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Kemurkaan Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">atas orang-orang yang melakukan perbuatan buruk secara terang-terangan menunjukkan besarnya perbuatan dosa yang dilakukan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Dari Abu Hurairah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">bersabda,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i><b>Seluruh umatku akan dimaafkan, kecuali yang berbuat dosa secara terang-terangan.</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> Sesungguhnya</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> yang termasuk dalam berbuat dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian pada pagi harinya Allah tutupi </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>dosa tersebut </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>(Allah tidak tampakkan pada pandangan manusia, pen.). Orang tersebut kemudian berkata, ‘Wahai fulan, semalam aku berbuat demikian dan demikian.’ </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Padahal sungguh d</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>i malam hari</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>nya,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> Rabb-nya </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>telah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>menutupi dosa yang dia lakukan, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>namun </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>di pagi harinya dia sendiri </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>yang </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>membuka tutup Allah tersebut.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(HR. Bukhari no. 6069).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Hadits ini menunjukkan tidak adanya ampunan Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">bagi orang yang berbuat dosa secara terang-terangan. Dan juga menunjukkan besarnya dosa yang menyebabkan datangnya hukuman yang sangat keras tersebut.</span></span></p>
<h4 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Sebab ke lima: Tertipu ketika Allah Ta’ala menutupi dosa yang dilakukan</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Ketika seseorang merasa tertipu ketika Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">menutupi dosa yang kita lakukan dan juga tertipu dengan kasih sayang Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">kepada hamba-Nya, maka hal ini akan mendatangkan hukuman yang besar. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Az-Zubaidi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">berkata,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>”Tertipu ketika Allah menutup dosa (seorang hamba) dan meremehkan kasih sayang Allah Ta’ala, meskipun dia (melakukan) dosa kecil, akan tetapi bisa menjadi (dosa) besar. Hal ini karena akan menyebabkan seseorang merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ittihaf As-Saddah Al-Muttaqin, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">8/572).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Dan sungguh Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">telah mengancam adanya kerugian bagi orang-orang yang merasa aman dari makar (tipu daya) Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">berfirman,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang="id-ID"><i>Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">(QS. Al-A’raf [7]: 99).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Kasih sayang atau berbagai nikmat yang diberikan kepada pelaku maksiat inilah yang disebut dengan </span><span lang="id-ID"><i>istidroj. </i></span><span lang="id-ID">Bentuknya, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">membukakan pintu-pintu kenikmatan duniawi kepada orang yang banyak mengerjakan maksiat. </span><span lang="">Akhirnya, d</span><span lang="id-ID">ia pun tertipu dan terperdaya. Orang tersebut merasa bahwa dia </span><span lang="">tidak berbuat dosa</span><span lang="id-ID">, sehingga dia </span><span lang="">pun </span><span lang="id-ID">terus tenggelam dalam kemaksiatannya. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER">إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ …</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>maka sesungguhnya itu adalah istidroj</b></i></span><span lang="id-ID"><i> …”</i></span><i> </i><span lang="id-ID">(HR. Ahmad dalam </span><span lang="id-ID"><i>Al-Musnad </i></span><span lang="id-ID">(IV/145) no. 17349. Dinilai </span><span lang="id-ID"><i>shahih </i></span><span lang="id-ID">oleh Syaikh Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i>Silsilah Ash-Shahihah</i></span><i><b> </b></i><span lang="id-ID">no. 413).</span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><i> </i><span lang="">berfirman</span><span lang="id-ID"><i>,</i></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER">فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i><b>Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka,</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID"><i><b>Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-An’am [6]: 44).</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><span lang=""><b>Sebab ke enam: Dosa kecil yang dilakukan oleh ulama atau ustadz yang dijadikan sebagai teladan</b></span></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Seorang ulama, jika berbuat dosa kecil, maka dosa tersebut bisa dihukumi sebagaimana dosa besar. Hal ini karena ulama tersebut memiliki kedudukan di masyarakat sebagai teladan atau dijadikan sebagai panutan dalam praktek beramal dalam rangka mengikuti perintah Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Ta’ala. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Jika perbuatan tersebut diikuti oleh orang-orang awam, maka dosa kecil tersebut bisa dihukumi sebagaimana dosa besar. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Al-Ghazali </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">berkata,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Jika dosa kecil muncul dari seorang ulama yang diteladani (amalnya), maka hal itu adalah perkara yang besar, karena akan kekal setelah kematiannya.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>Al-Arba’in fi Ushuulid Diin, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">hal. 226). </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Tidak hanya dihukumi sebagai dosar setelah ulama tersebut meninggal saja, namun juga ketika ulama tersebut masih hidup. Karena ketika itu, perbuatan dosa tersebut akan diikuti oleh orang-orang awam dan menjadi tersebar luas di masyarakat.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><b>[</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><b>Selesai</b></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><b>]</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Selesai disusun </span><span lang="">di pagi hari yang cerah</span><span lang="id-ID">, Sint-Jobskade Rotterdam NL, 8 Rajab 1436</span></p>
<p lang="id-ID" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Penulis:</span><span lang="id-ID"><b> M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5 lang="id-ID" align="JUSTIFY"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">[1] Disarikan </span><span lang="">dengan beberapa penambahan seperlunya </span><span lang="id-ID">dari kitab </span><span lang="id-ID"><i>At-Taubah, fii Dhau’il Qur’anil Kariim, </i></span><span lang="id-ID">Dr. Amaal binti Shalih Naashir, Daar Andalus Khadhra’,</span><i> </i><span lang="id-ID">cetakan pertama, tahun 1419, hal. 1</span><span lang="">40</span><span lang="id-ID">–</span><span lang="">142</span><span lang="id-ID">.</span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 