
<h4>
<b>Jadilah Orang Tua </b><b><i>Betulan, </i></b><b>Bukan Kebetulan Jadi Orang Tua</b>
</h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap orang yang berpikir sehat tentunya sepakat bahwa mendidik anak itu perlu ilmu. Jangankan mendidik anak, hanya sekedar masak nasi pun butuh ilmu kan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apalagi mendidik anak yang diposisikan dalam jalur ibadah ini dan diharapkan menghasilkan amal-amal jariyah. Benarlah kata Imam Al-Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">al-’ilmu qoblal qaul wal ‘amal.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila kita telah sama-sama tahu bahwa mendidik anak itu sangat butuh ilmu, marilah kita bandingkan antara dua aktifitas keseharian kita, yaitu mendidik anak dan bekerja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak orang yang sangat antusias mempersiapkan diri untuk menjadi pegawai atau profesi tertentu yang menjadi cita-citanya semenjak duduk di SD. Tidak hanya sekedar kegiatan utama KBM di kelas, namun juga les privat dan kursus pun dijalani untuk sebuah persiapan itu, bahkan sampai kuliah gelar S3 bukan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal itu berarti untuk urusan pekerjaan bagi banyak orang harus benar-benar menjadi ‘profesionalis betulan’ dan bukan ‘kebetulan profesional’ kan?</span></p>
<p><b>Namun…</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk urusan menjadi orang tua, sang pendidik anak, apakah banyak orang mempersiapkan diri seperti persiapan mereka untuk menjadi profesionalis? Bukankah urusan pekerjaan itu pada umumnya ada jam kerja yang terbatas beberapa jam saja? Adapun tugas menjadi orang tua dan mendidik anak tak terbatasi dengan ‘jam kerja’ bukan?</span></p>
<p><b>Tapi…</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah kenyataannya antara dua urusan tersebut, sungguh jauh berbeda. Banyak lho, lelaki yang menyandang gelar ‘bapak’, hanya karena istrinya melahirkan anak. Dan gak kalah banyaknya, wanita yang dijuluki ibu, hanya karena baru saja melahirkan sang jabang bayi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang laki-laki adalah bapak </span><i><span style="font-weight: 400;">‘kebetulan’ , </span></i><span style="font-weight: 400;">nah yang wanita adalah ibu </span><i><span style="font-weight: 400;">‘tak diprogram’.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Kalau urusan pekerjaan, sampai harus melakukan standarisasi dan sertifikasi, namun jika urusan menjadi orang tua sang pendidik anak, cukuplah </span><i><span style="font-weight: 400;">belajar sambil langsung magang </span></i><span style="font-weight: 400;">atau</span><i><span style="font-weight: 400;"> learning by doing.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini mirip dengan prinsip </span><i><span style="font-weight: 400;">muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga!</span></i><span style="font-weight: 400;"> Urusan mendidik anak, bukan asal punya uang sehingga bisa memasukkan sang anak ke sekolah unggulan. Boleh jadi, sekolahnya yang unggulan, namun lulusannya bisa saja bukan manusia unggulan. Terlalu banyak perkara yang tidak bisa dibeli dengan uang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ustadzuna Abdullah Zaen, MA </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Dinukil dan diolah dari : <a href="http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/">http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/</a>).</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 