
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Definisi Kasih Sayang (rahmah)</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Mufrodaatul Quraan </span></i><span style="font-weight: 400;">yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dikisahkan sebagai berikut.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Ighaatsatul Lahfan,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Ighaatsatul Lahfan, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 491).</span></p>
<p><b>Definisi Cinta</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ar-Rogib Al-Ashfahani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta,</span> <span style="font-weight: 400;">beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Madarijus Salikin </span></i><span style="font-weight: 400;">: 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah </span><b>cinta itu ya cinta</b><span style="font-weight: 400;">, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 