
<p><b>7. Ciuman cinta </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;">قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ<span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau bersabda, ‘<em>Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan dirahmati</em>’”</span><b> (</b><span style="font-weight: 400;">HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318).</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;">جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki? Kami tidak mencium mereka.’ Maka Nabi s</em></span><em><span style="font-weight: 400;">hallallahu ‘alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: 400;"><em> bersabda, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu</em>’” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Baththol <em>rahimahullah</em> berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, tidak seorang pun yang pernah ia cium, maka Nabi pun berkata kepada Al-Aqro’ bahwa siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah[1. Dari <a href="https://firanda.com/494-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-allah.html" target="_blank" rel="noopener">https://firanda.com/494-ternyata-mencium-anak-anak-mendatangkan-rahmat-allah.html</a>].</span></p>
<p><b>8. Candaan Cinta</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Mahmud bin Ar-Robi’ berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;">عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Saya teringat sebuah semburan (air dari mulut) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau semburkan di wajahku, air itu diambil dari timba, sedangkan ketika itu saya (masih) seorang anak berumur lima tahun” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al-Bukhari).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada sebuah riwayat Imam Ahmad, tentang kisah Abu Umair yang telah disebutkan sebelum ini, terdapat keterangan, “Dan beliau (Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">) dahulu banyak mencandainya (Abu Umair). Suatu saat beliau mengunjunginya, lalu beliau melihatnya dalam keadaan sedih, kemudian beliau bertanya,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">مالي أرى أبا عمير حزيناً ؟</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Saya melihat Abu Umair bersedih, ada apa gerangan?”</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Kemudian orang-orangpun menjawab, “Telah mati burung kecilnya yang dahulu ia bermain dengannya!</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Imam Ahmad, shahih)</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 