
<p>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/44414-sepuluh-kaidah-dalam-menyucikan-jiwa-bag-9.html"> 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 9) : Memilih Teman dalam Bergaul</a></span></p>
<p><b>Kaidah kesembilan: Waspada dari sikap ujub dan tertipu dengan diri sendiri</b></p>
<p>Sebagaimana firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى</span></strong></p>
<p><em>“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.“</em> <b>(QS. An-Najm [53]: 32)</b></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> melarang memuji diri sendiri dengan sesuatu yang menunjukkan jiwa ini baik dan bersih. Karena ketakwaan itu letaknya di hati. Sedangkan Allah <em>Ta’ala</em> lebih mengetahui siapa yang mencapai ketakwaan. Dan juga, memuji diri sendiri itu adalah sebab masuknya <i>‘ujub</i> dan sebab munculnya <i>riya’</i> yang akan menghapuskan amal.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35035-sombong-kepada-orang-sombong-adalah-sedekah.html">Sombong Kepada Orang Sombong Adalah Sedekah?</a></span></p>
<p>Seorang mukmin, bagaimana pun dia bersungguh-sungguh dalam beramal <em>shalih</em> dan menjauhi hal-hal yang diharamkan, dia akan tetap memiliki kekurangan dan menzalimi diri sendiri. Ketika Abu Bakr Ash-Shiddiq <i>radhiyallahu Ta’ala ‘anhu</i>, pribadi yang paling jujur dalam keimanan di umat ini dan manusia terbaik setelah Nabi, bertanya kepada Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>untuk mengajarkannya doa ketika salat, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>malah mengajarkannya untuk berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ</b></span></p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak. Tidak ada yang mengampuni dosaku kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu. Rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> <b>(HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27448-kesombongan-menghalangi-hidayah.html">Kesombongan Menghalangi Hidayah</a></span></p>
<p>Lalu bagaimana lagi dengan keadaan orang-orang yang kedudukannya di bawah beliau <i>radhiyallahu ‘anhu?</i></p>
<p>Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah <em>r</em><i>adhiyallahu Ta’ala ‘Anha </i>bertanya tentang firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ</span></p>
<p><em>“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.“</em> <b>(QS. Al-Mu’minuun [23]: 60)</b></p>
<p>Ibunda ‘Aisyah berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟</span></strong></p>
<p><em>“Apakah mereka itu orang yang minum khamr dan mencuri?”</em></p>
<p>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ</span></strong></p>
<p><em>“Bukan wahai binti Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka itu adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah. Dan mereka takut jika amal mereka tidak diterima.”</em> <b>(HR. Tirmidzi no. 3175 dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Ash-Shahihah </i></b><b>no. 162)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19778-isbal-tanpa-bermaksud-sombong-tetap-diingkari-oleh-nabi.html">Isbal Tanpa Bermaksud Sombong, Tetap Diingkari Oleh Nabi</a></span></p>
<p>‘Abdullah bin Abu Mulaikah <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ</span></strong></p>
<p><em>“Aku berjumpa dengan lebih dari tiga puluh orang shahabat, dan mereka semua takut kemunafikan ada dalam diri mereka.”</em> <b>[Diriwayatkan oleh Bukhari secara </b><b><i>mu’allaq </i></b><b>(tanpa sanad) dengan </b><b><i>shigat jazm </i></b><b>(ungkapan tegas) sebelum nomor 834]</b></p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا</span></strong></p>
<p><em>“Seorang mukmin mengumpulkan antara berbuat baik dan sikap hati-hati, sedangkan orang munafik mengumpulkan antara perbuatan buruk dan rasa aman.”</em></p>
<p>Kemudian beliau membaca ayat,</p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ</span></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,“</em> <b>(QS. Al-Mu’minun [23]: 57) (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 28)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28973-ujub-tak-terasa-bisa-membatalkan-amalan.html">Ujub, Tak Terasa Bisa Membatalkan Amalan</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24181-perbedaan-antara-menyebutkan-nikmat-allah-dengan-ujub.html">Perbedaan Antara Menyebutkan Nikmat Allah Dengan Ujub</a></span></li>
</ul>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018</p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></span></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p>Diterjemahkan dari kitab <b><i>‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, </i></b>hal. 35-36, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <i>hafidzahullahu Ta’ala. </i></p>
 