
<p> </p>
<p> </p>
<p>Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Islam</li>
<li>Merdeka</li>
<li>Berakal dan baligh</li>
<li>Memiliki <em>nishab</em>
</li>
</ol>
<p>Makna nishab  di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh  syar’i (agama) untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan  zakat bagi yang memilikinya, jika telah sampai ukuran tersebut. Orang  yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan  mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah,</p>
<p><em>“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.  Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan  ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.”</em> (Qs. Al Baqarah: 219)</p>
<p>Makna <em>al afwu</em> (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang  telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab  sebagai ukuran kekayaan seseorang.</p>
<p>Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang,  seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang  dipergunakan untuk mata pencaharian.</p>
<p>2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul)  terhitung dari hari kepemilikan nishab dengan dalil hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><em>“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).”</em> (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani)</p>
<p>Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan.  Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian  juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.</p>
<p>Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak  diwajibkan zakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika  kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka  kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.</p>
<p><strong>Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya</strong></p>
<p>1. Nishab emas</p>
<p>Nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud adalah dinar Islam.<br> 1 dinar = 4,25 gr emas<br> Jadi, 20 dinar = 85gr emas murni.</p>
<p>Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><em>“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas –  sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu  satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ dinar. Selebihnya dihitung  sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah  satu haul.”</em> (HR. Abu Daud, Tirmidzi)</p>
<p>Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari  nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan  diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling  kuat.</p>
<p>Contoh:<br> Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka, jika telah sampai  haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr =  2,175 gr atau uang seharga tersebut.</p>
<p>2. Nishab perak</p>
<p>Nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gr, sebagaimana  hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104  dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.</p>
<p>3. Nishab binatang ternak</p>
<p>Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu  syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang  rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.</p>
<p><em>“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>a. Onta<br> Nishab onta adalah 5 ekor.<br> Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak onta, maka 	nishab onta tidak kami jabarkan secara rinci -red.</p>
<p>b. Sapi<br> Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.</p>
<p>Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:</p>
<table style="width: 404px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="140" valign="top"><strong>Jumlah Sapi</strong></td>
<td width="247" valign="top"><strong>Jumlah yang dikeluarkan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">30-39 ekor</td>
<td width="247" valign="top">1 ekor tabi’ atau tabi’ah</td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">40-59 ekor</td>
<td width="247" valign="top">1 ekor musinah</td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">60 ekor</td>
<td width="247" valign="top">2 ekor   tabi’ atau 2 ekor tabi’ah</td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">70 ekor</td>
<td width="247" valign="top">1 ekor tabi   dan 1 ekor musinnah</td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">80 ekor</td>
<td width="247" valign="top">2 ekor musinnah</td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">90 ekor</td>
<td width="247" valign="top">3 ekor tabi’</td>
</tr>
<tr>
<td width="140" valign="top">100 ekor</td>
<td width="247" valign="top">2 ekor   tabi’ dan 1 ekor musinnah</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Keterangan:</p>
<ol>
<li>Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.</li>
<li>Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.</li>
<li>Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.</li>
</ol>
<p>c. Kambing</p>
<p>Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="170" valign="top"><strong>Jumlah Kambing</strong></td>
<td width="236" valign="top"><strong>Jumlah yang dikeluarkan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">40 ekor</td>
<td width="236" valign="top">1 ekor kambing</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">120 ekor</td>
<td width="236" valign="top">2 ekor kambing</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">201 – 300 ekor</td>
<td width="236" valign="top">3 ekor kambing</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">&gt; 300 ekor</td>
<td width="236" valign="top">setiap 100, 1 ekor kambing</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>4. Nishab hasil pertanian</p>
<p>Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyari’atkan dalam Islam dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, <em>“Dan  Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak  berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,  zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama  (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia  berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan  dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya  Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”</em> (Qs. Al-An’am: 141)</p>
<p>Adapun nishabnya ialah 5 wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p><em>“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 wasaq.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Satu wasaq setara dengan 60 sha’ (menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> 3/364). Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian  menurut takaaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah  (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan  fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab  zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran  yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan  (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20  (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka  zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p><em>“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh  (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh  (1/20).”</em> (HR. Muslim 2/673)</p>
<p>Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000  kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat  siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak  1000 x 1/10 = 100 kg</p>
<p>5. Nishab barang dagangan</p>
<p>Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama.  Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran  zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.</p>
<p>Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan  syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan 3  syarat lainnya:</p>
<p>1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.<br> 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.<br> 3) Nilainya telah sampai nishab.</p>
<p>Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan  harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah  dipotong hutang.</p>
<p>Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir  tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih  sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki hutang sebanyak Rp.  100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:</p>
<p>Modal – Hutang:</p>
<p>Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000</p>
<p>Jadi jumlah harta zakat adalah:</p>
<p>Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000</p>
<p>Zakat yang harus dibayarkan:</p>
<p>Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000</p>
<p>6. Nishab harta karun</p>
<p>Harta karun yang ditemukan, wajib dizakati secara langsung tanpa  mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p><em>“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.”</em> (HR. Muttafaqun alaihi)</p>
<p><strong>Cara Menghitung Nishab</strong></p>
<p>Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada  masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun ataukah hanya dilihat  pada awal dan akhir tahun saja?</p>
<p>Imam Nawawi berkata, “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik,  Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan  zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan  haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada  semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang  pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau  sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika  sempurna nishab tersebut.” (Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya  dalam <em>Fiqh as-Sunnah</em> 1/468). Inilah pendapat yang rajih (paling  kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada bulan Muharram  1423 H, lalu bulan Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari  nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan  Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai  nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan  tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu  dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan  bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br> Dipublikasi ulang dari www.ekonomisyariat.com</p>
 