
<p><strong>SETIAP KEBAIKAN ADALAH SEDEKAH</strong></p>
<p>Oleh<br>
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas <strong>حفظه الله</strong></p>
<p><strong>عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ ؛ يُصَلُّوْنَ كَمَـا نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِـهِمْ. قَالَ : «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللّٰـهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَـحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً ، وَأَمْرٌ بِالْـمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ ، وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوْا :  يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! أَيَأْتِـيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : «أَرَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِـي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِـي الْـحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا» </strong></p>
<p><em>Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa beberapa orang dari Sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : <strong>“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian</strong><strong> sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.”</strong> Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?” Beliau menjawab : <strong>“Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya</strong><strong> pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.”</strong> </em>[HR. Muslim]</p>
<p><strong>TAKHRIJ HADITS</strong><br>
Hadits ini <strong><em>sha<u>h</u></em></strong><strong><em>î</em></strong><strong><em><u>h</u></em></strong>, diriwayatkan oleh:</p>
<ol>
<li>Muslim (no. 720, 1006).</li>
<li>Al-Bukhâri dalam <em>Al-Ad</em><em>â</em><em>bul Mufrad</em> (no. 227)</li>
<li>Ahmad (V/167, 168).</li>
<li>Abu Dâwud (no. 5243, 5244).</li>
<li>Al-Bazzâr dalam <em>Musnad-</em>nya (no. 3917, 3918)</li>
<li>Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 4155 <em>At-Ta’l</em><em>î</em><em>q</em><em>â</em><em>tul <u>H</u>is</em><em>â</em><em>n</em>).</li>
<li>Al-Baihaqi (IV/188).</li>
<li>Al-Baghawi dalam <em>Syar<u>h</u>us Sunnah</em> (no. 1644).</li>
</ol>
<p><strong>SYARAH HADITS</strong><br>
Hadits yang mulia ini mencakup perkara-perkara penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Diperbolehkannya <em>qiy</em><em>â</em><em>s</em>.</li>
<li>Amal-amal yang <em>mub</em><em>â</em><em>h </em>bisa menjadi amal <em>taqarrub </em>dengan niat yang benar.</li>
<li>Medan-medan perlombaan dalam kebaikan.</li>
<li>Banyaknya jalan-jalan kebaikan di mana jika seorang hamba tidak mampu melakukan satu kebaikan maka ia mampu melakukan kebaikan yang lainnya dan selain dari itu.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>
</li>
</ol>
<p><strong>1. Berlomba-lomba dalam kebaikan</strong><br>
Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa para Sahabat Radhiyallahu anhum berlomba-lomba dalam kebaikan karena kuatnya semangat mereka dalam melakukan amal-amal shalih dan kebaikan; mereka sedih jika tidak dapat mengerjakan kebaikan yang dikerjakan oleh orang lain. Orang-orang miskin dari mereka sedih, sebab tidak dapat bersedekah dengan harta seperti yang dilakukan orang-orang kaya. Mereka sedih tidak bisa berangkat ke medan jihad karena tidak mempunyai bekal. Keadaan mereka ini dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur`ân.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong>وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ</strong></p>
<p><em>Dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata : ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).</em> [at-Taubah/9:92]</p>
<p><em>Salafush Sh</em><em>â</em><em>lih</em> adalah orang-orang  yang berlomba-lomba dalam kebaikan karena mengharapkan surga, dan kita diperintahkan mengikuti jejak mereka yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah Azza wa Jalla  berfirman:</p>
<p><strong>وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ</strong></p>
<p>“…<em>Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.</em>” [al-Muthaffifîn/83:26]</p>
<p>Mereka mendapatkan pujian dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya sebab keberuntungan mereka dan kemuliaan mereka di dunia dan akhirat. Ada di antara mereka yang memiliki <em>udzur</em> dari mengerjakan suatu amalan dan diberikan keringanan kepadanya, lalu ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menangis karena ia tidak mampu melakukan amalan tersebut. Sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla , ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk berjihad. Allah Azza wa Jalla  berfirman:</p>
<p><strong>تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ</strong></p>
<p><em> </em><em>“…Lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).”</em> [at-Taubah/9:92]</p>
<p>Di dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa orang-orang miskin ingin seperti orang-orang kaya dalam mendapatkan pahala sedekah dengan harta. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepada orang-orang miskin tentang sedekah-sedekah yang mampu mereka kerjakan.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Dalam  hadits lain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang fakir kaum Muhajirin mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Orang-orang yang kaya telah pergi dengan membawa derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal.” Beliau bertanya: “Apa itu?” Mereka menjawab: “Mereka shalat seperti kami shalat, mereka berpuasa seperti kami berpuasa, mereka bisa bersedekah sedang kami tidak bisa, dan mereka memerdekakan hamba sahaya sedang kami tidak bisa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>«أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُوْنَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ ، وَتَسْبِقُوْنَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ ، وَلاَ يَكُوْنَ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ ؟» قَالُوْا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ. قَالَ : «تُسَبِّحُوْنَ ، وَتُكَبِّرُوْنَ ، وَتَـحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ مَرَّةً». قَالَ أَبُوْ صَالِحٍ : فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْـمُهَاجِرِيْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا : سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ اْلأَمْوَالِ بِمَـا فَعَلْنَا ؛ فَفَعَلُوْا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :</strong> <strong>ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ</strong>   <strong> </strong></p>
<p><em>Maukah kalian kuajari sesuatu yang dapat menyusul orang yang telah mendahului kalian itu, kalian juga bisa mendahului orang-orang setelah kalian, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada kalian kecuali orang yang melakukan seperti  yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda :  “Hendaklah kalian mengucapkan tasbîh (subhânallâh), takbîr (Allâhu akbar), dan tahmîd (al<u>h</u>amdulillâh) di akhir setiap shalat (fardhu) sebanyak 33 kali.”Abu Shâlih (perawi hadits ini) berkata : “Maka orang-orang fakir kaum Muhijirin itu pun kembali menemui Rasulullah lalu berkata : “Saudara kami yang kaya telah mendengar apa yang kami kerjakan, lalu mereka pun mengerjakan hal yang sama.” Maka Rasulullah bersabda :  “Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.”</em> [al-Mâidah/5:54] <a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Hadits semakna juga diriwayatkan dari sejumlah Sahabat di antaranya ‘Ali, Abu Dzar, Abu Darda’, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhum dan selain mereka.</p>
<p>Ini artinya bahwa orang-orang fakir kaum Muhajirin mengira bahwa tidak ada sedekah kecuali dengan harta dan mereka tidak mampu melakukan hal itu, maka <strong>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar kepada mereka bahwa semua amal kebajikan dan berbuat  baik dengan segala jenisnya adalah sedekah.</strong><a href="#_ftn5" name="_ftnref5"><strong>[5]</strong></a></p>
<p>Adapun berlomba-lomba dalam meraih kenikmatan duniawi maka ini sangat tercela. Jika seorang hamba melampaui batas, maka itu adalah sebab kebinasaan dan kelemahannya.<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a> Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>…فَوَاللّٰـهِ ، مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ. وَلَكِنِّي أَخْشَىٰ عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَـا بُسِطَتْ عَلَىٰ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ. فَتَنَافَسُوهَا كَمَـا تَنَافَسُوهَا. وَتُـهْلِكَكُمْ كَمَـا أَهْلَكَتْهُمْ</strong></p>
<p><em>“…Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia di bentangkan (diluaskan) atas kalian seperti telah diluaskan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya. Kemudian dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka</em>.”<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p><strong>2. Dzikir kepada Allah Azza wa Jalla adalah sebaik-sebaik sedekah untuk diri sendiri</strong><br>
Sedekah selain dari harta yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya sendiri, misalnya :</p>
<p><em>Takb</em><em>î</em><em>r</em> yaitu ucapan: <em>All</em><em>â</em><em>hu akbar</em> (<strong>اَللهُ أَكْبَرُ</strong>),<br>
<em>Tasb</em><em>î</em><em><u>h</u></em> yaitu ucapan: <em>Sub<u>h</u></em><em>â</em><em>nall</em><em>â</em><em>h</em> ( <strong>سُبْحَانَ اللهِ</strong>),<br>
<em>Ta<u>h</u>m</em><em>î</em><em>d</em> yaitu ucapan: <em>Al<u>h</u>amdulill</em><em>â</em><em>h</em> (<strong>اَلْـحَمْدُ  لِلّٰـهِ</strong>),<br>
<em>Tahl</em><em>î</em><em>l</em> yaitu ucapan: <em>l</em><em>â</em><em> il</em><em>â</em><em>ha illall</em><em>â</em><em>h</em> (<strong>لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰـهُ</strong>),<br>
<em>Hauqalah</em> yaitu ucapan: <em>l</em><em>â</em><em> haula wal</em><em>â</em><em> quwwata ill</em><em>â</em><em> bill</em><em>â</em><em>h</em> (<strong>لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللٰـهِ</strong>)<br>
<em>Istighf</em><em>â</em><em>r </em>yaitu ucapan: <em>astaghfirull</em><em>â</em><em>h</em> (<strong>أَسْتَغْفِرُ اللّٰـهَ</strong>).</p>
<p>Begitu juga dzikir sesudah shalat wajib yang lima waktu, yaitu membaca <em>istighf</em><em>â</em><em>r</em> 3 kali:</p>
<p><strong>أَسْتَغْفِرُ اللّٰـهَ</strong> <strong>، أَسْتَغْفِرُ اللّٰـهَ ، أَسْتَغْفِرُ اللّٰـهَ</strong></p>
<p>lalu membaca:</p>
<p><strong>اَللّٰـهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَـلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ</strong></p>
<p>Membaca: <em>sub<u>h</u></em><em>â</em><em>nall</em><em>â</em><em>h</em> 33 kali, <em>al<u>h</u>amdulill</em><em>â</em><em>h</em> 33 kali, <em>All</em><em>â</em><em>hu</em> <em>akbar</em> 33 kali, dan ditutup dengan membaca:</p>
<p><strong> لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰـهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْـمُلْكُ وَلَهُ الْـحَمْدُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ </strong></p>
<p>Demikian pula dzikir pagi dan petang. Dzikir ini di samping bernilai sedekah, juga menghapuskan dosa-dosa dan sebagai penjagaan diri dari setan.<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p>Begitu juga berjalan ke masjid untuk ibadah adalah sedekah. Dan <strong>tidak disebutkan</strong> dalam satu hadits pun tentang shalat, puasa, haji, dan jihad sebagai sedekah. Kebanyakan perbuatan-perbuatan tersebut lebih baik daripada sedekah-sedekah dengan harta, sebab hadits-hadits di atas disebutkan sebagai jawaban pertanyaan orang-orang miskin yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sesuatu yang bisa mereka pakai untuk mengalahkan ibadah-ibadah sunnah orang-orang kaya dengan harta. Sedang dalam ibadah-ibadah wajib, orang-orang miskin kaum Muhajirin sama dengan orang-orang kaya di antara mereka.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>«أَلاَ أَنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَـالِكُمْ ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ ، وَأَرْفَعِهَا فِـيْ دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ». قَالُوْا : بَلَـى يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : «ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» </strong></p>
<p><em>Maukah kalian aku jelaskan perbuatan-perbuatan kalian yang paling baik, paling bersih di sisi raja kalian, paling meninggikan derajat-derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada infak emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada kalian berjumpa dengan musuh kalian kemudian kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” Para Sahabat berkata : “Mau, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda :  “Yaitu dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.</em>”<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  “Barangsiapa mengucapkan,</p>
<p><strong>لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْـمُلْكُ ، وَلَهُ الْـحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَـىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</strong></p>
<p><em>‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.’</em></p>
<p>D<strong>alam sehari sebanyak seratus kali </strong>maka itu sama dengan memerdekakan sepuluh budak, seratus kebaikan ditulis baginya, seratus kesalahan dihapus darinya, kalimat itu adalah benteng baginya dari setan sejak siangnya hingga sore hari, dan tidak ada seorang pun yang datang dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang ia bawa kecuali orang yang mengerjakan yang lebih banyak darinya.”<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :</p>
<p><strong>«مَنْ قَالَ: لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْـمُلْكُ ، وَلَهُ الْـحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَـىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، </strong><strong>عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَـنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَـاعِيْلَ».</strong></p>
<p><em>Barangsiapa mengucapkan kalimat Lâ ilâha illallâh wa<u>h</u>dahu lâ syarîkalah lahul mulku walahul <u>h</u>amdu wa huwa ‘alâ kulli syai-in qadîr sebanyak sepuluh kali, ia seperti orang yang memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Isma’il.”</em><a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<p>Hal yang sama juga dikatakan oleh Salmân al-Fârisi, para Sahabat yang lain dan Tabi’in bahwa <strong>dzikir lebih baik daripada bersedekah dengan sejumlah uang</strong>.<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a></p>
<p><strong>3. Sedekah dimutlakkan untuk setiap kebaikan</strong><br>
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ</strong></p>
<p><em>Setiap kebaikan adalah sedekah.</em><a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<p>Imam an-Nawawi rahimahullah berkata : “Maksudnya, setiap kebaikan itu memiliki hukum yang sama dengan sedekah dalam hal pahala.”<a href="#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a>.<a href="#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang meng<em>qashar</em> (meringkas) shalat ketika <em>safar</em>,</p>
<p><strong>«صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِـهَا عَلَيْكُمْ ؛ فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ»</strong></p>
<p><em>Ia adalah sedekah yang diberikan Allah kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya</em>.<a href="#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a></p>
<p>Sedekah dengan selain harta yang kebaikannya dirasakan manusia merupakan sedekah kepada mereka. Bisa jadi, sedekah selain harta ini lebih baik daripada sedekah dengan harta. Sedekah seperti ini, misalnya <em>amar ma’r</em><em>û</em><em>f dan nahi munkar</em>; kedua perbuatan itu adalah ajakan taat kepada Allah Azza wa Jalla dan melarang bermaksiat kepada-Nya. Hal ini jelas lebih baik daripada sedekah dengan harta. Termasuk di antaranya mengajarkan ilmu yang bermanfaat, membacakan al-Qur`ân (<em>meruqyah</em>), menghilangkan gangguan dari jalan, berusaha memberikan manfaat kepada orang lain, menolak bahaya dari mereka, mendoakan kaum Muslimin, dan memintakan ampunan untuk mereka.<a href="#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a></p>
<p><em>Dari Abu Dzar </em><em>Radhiyallahu anhu</em><em> , ia bertanya : “Wahai Rasulullah! Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “‘Iman dan jihad di jalan Allah.” Aku bertanya : “Memerdekakan budak apakah yang paling baik?” Beliau menjawab : “Memerdekakan budak yang paling bernilai menurut pemiliknya dan paling mahal harganya.” Aku bertanya : “Jika aku tidak dapat melakukannya?” Beliau menjawab : “Engkau membantu orang yang terampil dan berbuat untuk orang yang tidak terampil.” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah!  Bagaimana pendapatmu jika aku tidak dapat mengerjakan sebagian pekerjaan?” Beliau menjawab : “Engkau menahan keburukanmu dari manusia, karena itu adalah sedekah.</em>””<a href="#_ftn18" name="_ftnref18">[18]</a></p>
<p>Diriwayatkan juga penambahan-penambahan yang lain dalam hadits Abu Dzar Radhiyallahu anhu ini, di antaranya  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>«تَبَسُّمُكَ فِـيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرُكَ بِالْـمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْـمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِـيْ أَرْضِ الضَّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيْءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَإ ِمَاطَتُكَ الْـحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ صَدَقَةٌ ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِـيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ»</strong></p>
<p><em>Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, engkau menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran adalah sedekah, engkau memberi petunjuk kepada orang di tempat ia tersesat adalah sedekah, engkau menuntun /menunjuki orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah, engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah.”</em><a href="#_ftn19" name="_ftnref19">[19]</a></p>
<p>Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>«لَيْسَ مِنْ نَفْسِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ فِـيْ كُلِّ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيْهِ الشَّمْسُ» . قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ !</strong><strong> وَمِنْ أَيْنَ لَنَا صَدَقَةٌ نَتَصَدَّقُ بِهَا ؟ فَقَالَ : «إِنَّ أَبْوَابَ الْـخَيْرِ لَكَثِيْرَةٌ ، التَّسْبِيْحُ ، وَالتَّحْمِيْدُ ،</strong><strong> وَالتَّكْبِيْرُ ، وَاْلأَمْرُ بَالْـمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْـمُنْكَرِ ، وَتُـمِيْطُ اْلأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَتُسْمِعُ اْلأَصَمَّ ، وَتَهْدِي اْلأَعْمَـى ، وَتَدُلُّ  الْـمُسْتَدِلَّ  عَلَـىٰ حَاجَتِهِ ، وَتَسْعَىٰ بِشِدَّةِ سَاقَيْكَ  مَعَ اللَّهَفَانِ الْـمُسْتَغِيْثِ ، وَتَـحْمِلُ بِشِدَّةِ ذِرَاعَيْكَ مَعَ الضَّعِيْفِ ، فَهٰذَا كُلُّهُ  صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَىٰ نَفْسِكَ»</strong></p>
<p><em>Tidak ada satu pun jiwa anak keturunan Adam melainkan ia wajib bersedekah setiap hari dari mulai matahari terbit sampai terbit kembali.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah! Dari mana kami mempunyai harta untuk kami sedekahkan?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak. Tasb</em><em>î</em><em>h, tahm</em><em>î</em><em>d, takb</em><em>î</em><em>r, amar ma’r</em><em>û</em><em>f nahi munkar, engkau menyingkirkan gangguan dari jalan, engkau memperdengarkan kepada orang yang tuli, engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta, memberi petunjuk jalan kepada orang yang meminta petunjuk untuk memenuhi kebutuhannya, berjalan dengan kekuatan kedua betismu untuk orang kelaparan dan minta bantuan, dan memikul dengan kekuatan kedua lenganmu untuk orang lemah. Semua itu adalah sedekah darimu untuk dirimu</em>.”<a href="#_ftn20" name="_ftnref20">[20]</a><strong><em>”</em></strong><a href="#_ftn21" name="_ftnref21"><strong>[21]</strong></a></p>
<p><strong>4. Amar ma’rûf nahi munkar adalah sedekah</strong><br>
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “<em>menyuruh kepada yang ma’r</em><em>û</em><em>f adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah.”</em></p>
<p><em>Amar ma’r</em><em>û</em><em>f nahi munkar</em> adalah salah satu jenis sedekah yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang miskin kaum Muhajirin. <em>Amar ma’r</em><em>û</em><em>f nahi munkar</em> merupakan pemberikan kebaikan kepada orang lain sebagai sedekah kepada mereka yang bisa jadi lebih baik daripada sedekah harta. Bagaimana <em>amar ma’r</em><em>û</em><em>f</em> tidak bisa dikatakan lebih baik daripada sedekah harta, sedangkan Allah Azza wa Jalla telah berfirman:</p>
<p><strong>كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ</strong></p>
<p><em>Kamu (ummat Islam) adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan kamu beriman kepada Allah…”</em> [Ali ‘Imrân/3:110]</p>
<p>Amar ma’rûf nahi munkar memiliki kaidah-kaidah dan batasan-batasan yang telah ditetapkan syariat.<a href="#_ftn22" name="_ftnref22">[22]</a></p>
<p><strong>5. Seorang ber<em>jim</em><em>â</em><em>’ </em>(bersetubuh) dengan istrinya adalah sedekah</strong><br>
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :</p>
<p><strong>«…وَلَكَ فِـيْ جِمَاعِكَ زَوْجَتَكَ أَجْرٌ». قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ : كَيْفَ يَكُوْنُ لِـيْ أَجْرٌ فِـيْ شَهْوَتِـيْ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «أَرَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ وَلَدٌ ، فَأَدْرَكَ ، وَرَجَوْتَ خَيْرَهُ  فَمَـاتَ ، أَكُنْتَ تَـحْتَسِبُ بِهِ ؟» قُلْتُ : نَعَمْ. قَالَ : «فَأَنْتَ خَلَقْتَهُ ؟». قَالَ : بَلِ اللّٰـهُ  خَلَقَهُ. قَالَ : «فَأَنْتَ هَدَيْتَهُ ؟». قَالَ : بَلِ اللّٰـهُ هَدَاهُ. قَالَ : «فَأَنْتَ تَرْزُقُهُ ؟». قَالَ : بَلِ اللهُ كَانَ يَرْزُقُهُ. قَالَ : «كَذٰلِكَ فَضَعْهُ فِـيْ حَلاَلِهِ ، وَجَنِّبْهُ حَرَامَهُ ، فَإِنْ شَاءَ اللّٰـهُ أَحْيَاهُ ، وَإِنْ شَاءَ أَمَاتَهُ ، وَلَكَ أَجْرٌ»</strong></p>
<p>“…<em>Engkau berjimâ’ (bersetubuh) dengan istrimu mendapatkan pahala.” Aku bertanya : “Bagaimana bisa aku mendapatkan pahala dengan melampiaskan syahwatku?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  “Bagaimana pendapatmu, jika engkau memiliki seorang anak kemudian ia mencapai usia baligh dan engkau mengharapkan kebaikannya, tetapi ia meninggal dunia, apakah engkau mengharapkan pahala karenanya?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda :  “Apakah engkau yang menciptakannya?” Abu Dzar menjawab : “Bahkan Allah-lah yang menciptakannya.” Beliau  bertanya :  “Apakah engkau yang memberikannya petunjuk?” Abu Dzar menjawab: “Bahkan Allah-lah yang memberinya petunjuk.” Beliau bertanya :  “Apakah engkau yang memberikan rezeki kepadanya?” Abu Dzar menjawab, “Bahkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” Beliau bersabda :  “Begitulah, karena itu, letakkanlah spermamu di tempat yang halal dan jauhkan dari tempat haram. Jika Allah menghendaki, Dia menghidupkannya dan jika Allah menghendaki, Dia mematikannya, sedang engkau mendapat pahala.”</em><a href="#_ftn23" name="_ftnref23">[23]</a></p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Di dalam hadits ini ada dalil bahwasanya perkara yang <em>mub</em><em>â</em><em>h</em> dapat menjadi ketaatan dengan niat yang benar. <strong><em>Jim</em></strong><strong><em>â</em></strong><strong><em>’</em></strong><strong> (bersetubuh) bisa menjadi ibadah apabila ia niatkan untuk memenuhi hak istrinya, bergaul dengan cara yang baik yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla atau untuk menjaga dirinya dan istrinya agar tidak terjatuh kepada perbuatan yang haram, atau memikirkan (mengkhayal) hal yang haram, atau berkeinginan untuk itu, atau yang lainnya.</strong>”<a href="#_ftn24" name="_ftnref24">[24]</a></p>
<p><strong>6. Nafkah seorang suami kepada istrinya adalah sedekah</strong><br>
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>«نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَـىٰ أَهْلِهِ صَدَقَةٌ»</strong></p>
<p><em>Nafkah seorang suami kepada keluarganya (istrinya) adalah sedekah.</em></p>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan,</p>
<p><strong>«وَهُوَ يَـحْتَسِبُهَا»</strong></p>
<p><em>Dan ia mengharapkan pahalanya dari Allah</em>.</p>
<p>Sedang dalam salah satu riwayat al-Bukhâri disebutkan,</p>
<p><strong>«إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَىٰ أَهْلِهِ يَـحْتَسِبُهَـا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ»</strong></p>
<p><em>Jika seorang suami memberi nafkah kepada keluarganya dalam keadaan mengharapkan pahala dari Allah, maka itu sedekah baginya.”</em><a href="#_ftn25" name="_ftnref25">[25]</a></p>
<p>Hadits tersebut menunjukkan bahwa seorang suami diberi pahala atas nafkahnya kepada istrinya jika ia mengharapkan pahalanya dari Allah Azza wa Jalla , sebagaimana terdapat dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqâsh  Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>«… وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِيْ بِـهَا وَجْهَ اللّٰـهِ ، إِلاَّ أُجِرْتَ بِـهَا ، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَـجْعَلُهَا فِـيْ فِـي امْرَأ َتِكَ»</strong></p>
<p>“…<em>Dan tidaklah engkau berinfak dengan satu infak karena mengharapkan wajah Allah dengannya, melainkan engkau diberi pahala dengannya hingga sesuap makanan yang engkau angkat ke mulut istrimu</em>.”<a href="#_ftn26" name="_ftnref26">[26]</a></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>أَفْضَلُ دِيْنَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ : دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَىٰ عِيَالِهِ ، وَ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَىٰ دَابَّتِهِ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ ، وَ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَىٰ أَصْحَابِهِ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. </strong></p>
<p><em>Sebaik-baik dinar yang diinfakkan seseorang adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya. Dinar yang dinafkahkan seseorang untuk kendaraannya f</em><em>î</em><em> sab</em><em>î</em><em>lill</em><em>â</em><em>h. Dan dinar yang dinafkahkannya seseorang untuk sahabat-sahabatnya</em> <em>f</em><em>î</em><em> sab</em><em>î</em><em>lill</em><em>â</em><em>h ’Azza wa Jalla</em>.<a href="#_ftn27" name="_ftnref27">[27]</a></p>
<p>Abu Qilâbah rahimahullah berkata ketika meriwayatkan hadits tersebut, “Mulailah dengan orang-orang yang berada dalam tanggunganmu. Adakah orang yang lebih besar pahalanya daripada orang yang berinfak kepada orang-orang yang ditanggungnya yang masih kecil dimana Allah Azza wa Jalla menjaga kehormatan mereka (dari mengemis) dengannya dan mengayakan mereka dengannya?”</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p><strong>«…وَإِنَّ نَفَقَتَكَ عَلَـىٰ عِيَالِكَ صَدَقَةٌ ، وَإِنَّ مَا تَأْكُلُ امْرَأَتُكَ مِنْ مَالِكَ صَدَقَةٌ»</strong></p>
<p>“…<em>Dan sesungguhnya nafkahmu kepada orang-orang yang berada dalam tanggunganmu adalah sedekah dan apa yang dimakan istrimu dari hartamu adalah sedekah</em>.”<a href="#_ftn28" name="_ftnref28">[28]</a></p>
<p>Dalam riwayat lain, nafkah tersebut disyaratkan dengan maksud mencari wajah Allah Azza wa Jalla .</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>«دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِـيْ سَبِيْلِ اللّٰـهِ ، وَ دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِـيْ رَقَبَةٍ ، وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَـىٰ مِسْكِيْنٍ ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَـىٰ أَهْلِكَ ؛ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ عَلَـىٰ أَهْلِكَ»</strong></p>
<p><em>Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, dinar yang engkau sedekahkan untuk orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, yang paling besar ganjarannya adalah dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu.”</em><a href="#_ftn29" name="_ftnref29">[29]</a></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :</p>
<p><strong>« مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا ، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا ، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ</strong> <strong>، أَوْ إِنْسَانٌ ، أَوْ بَهِيْمَةٌ ؛ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ»</strong></p>
<p><em>Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman</em><em> dan menabur benih kemudian dimakan burung, atau manusia, atau hewan, melainkan dengan itu menjadi sedekah baginya</em>.”<a href="#_ftn30" name="_ftnref30">[30]</a></p>
<p>Semua hadits di atas menunjukkan bahwa semua itu sedekah dimana penanam dan penabur benih diberi pahala kendati tanpa niat sekalipun. Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bagaimana pendapatmu, jika ia meletakkannya di tempat haram, apakah ia berdosa? Begitu juga, jika ia meletakkannya di tempat halal, maka ia mendapat pahala,” juga menunjukkan bahwa suami diberi pahala atas hubungan seksualnya dengan istrinya kendati tanpa niat, karena orang  yang menggauli istrinya adalah seperti penanam benih di tanah dan mengelolanya. Pendapat ini dipegang sejumlah Ulama. Sebagian Ulama berpendapat dikaitkan dengan niat yang ikhlas, karena setiap amal akan diberikan ganjaran dengan niat ikhlas. <em>Wall</em><em>â</em><em>hu a’lam.</em></p>
<p>Penyertaan niat ini juga diperkuat oleh firman Allah Azza wa Jalla:</p>
<p><strong>لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ</strong><strong> ۚ</strong><strong> وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا</strong></p>
<p><em>Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”</em> [an-Nisâ’/4:114]</p>
<p>Semua perbuatan dalam ayat di atas disebut sebagai kebaikan dan tidak mendapatkan pahala kecuali dengan niat yang ikhlas.</p>
<p><strong>7. Bolehnya menggunakan <em>qiy</em><em>â</em><em>s </em>(analogi)</strong><br>
Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apa pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, itu menjadi pahala baginya.”</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya menggunakan <em>qiy</em><em>â</em><em>s</em>, dan itu merupakan pendapat seluruh Ulama dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali penganut paham <em>zhahiriyah</em>.”<a href="#_ftn31" name="_ftnref31">[31]</a></p>
<p>Menurut Ulama <em>ush</em><em>û</em><em>l</em>, <em>qiy</em><em>â</em><em>s</em> ialah menyamakan hukum suatu kejadian yang tidak ada <em>nash</em> (dalil)dengan hukum kejadian lain yang ada <em>nash</em>nya karena ada kesamaan <em>illat</em> (sebab) hukum dalam dua kejadian itu.</p>
<p><em>Qiy</em><em>â</em><em>s</em> menempati kedudukan keempat dalam hujjah-hujjah syari’at setelah al-Qur`ân, Sunnah, dan <em>ijm</em><em>â</em>’. <em>Qiy</em><em>â</em><em>s</em> yang terdapat dalam nash hadits yang sedang kita bahas ini menurut Ulama <em>ush</em><em>û</em><em>l fiqih</em> ini dinamakan <em>qiy</em><em>â</em><em>s</em> berlawanan. Maksudnya, menetapkan lawan hukum dari sesuatu karena <em>illat</em>-nya saling berlawanan.<a href="#_ftn32" name="_ftnref32">[32]</a></p>
<p>Telah <em>sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em> dalam <em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Muslim</em>,<a href="#_ftn33" name="_ftnref33">[33]</a> dari Waqi’, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Dan Ibnu Numair berkata : ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللّٰـهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ</strong></p>
<p><em>Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan mempersekutukan Allah maka ia masuk neraka</em>.</p>
<p>Dan aku berkata : “Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah Azza wa Jalla maka ia masuk surga.”</p>
<p><strong>FAWAID HADITS</strong></p>
<ol>
<li>Para Sahabat senantiasa bersegera dan berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shalih.</li>
<li>Para Sahabat menggunakan harta mereka pada setiap perkara yang di dalamnya terdapat kebaikan di dunia dan akhirat, yaitu mereka bersedekah dengannya.</li>
<li>Amal-amal shalih yang dilakukan dengan tubuh seperti shalat, puasa, dapat dikerjakan oleh orang-orang fakir dan orang-orang kaya.</li>
<li>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang-orang miskin.</li>
<li>Amal shalih dalam hadits ini adalah sedekah, akan tetapi sedekah ini ada yang wajib dan ada yang sunnah, ada yang bermanfaat untuk orang lain dan ada yang bermanfaatnya hanya untuk diri sendiri.</li>
<li>Sebaik-sebaik sedekah yang dikerjakan seseorang untuk dirinya sendiri adalah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla .</li>
<li>Bahwa para Sahabat apabila mendapati suatu perkara yang <em>musykil,</em> maka mereka langsung bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .</li>
<li>Menyertakan pendapat dengan dalil ketika menyebarkan ilmu, karena hal ini dapat membantu diterimanya kebenaran dan lebih dapat mengakar dalam hati orang yang telah terkena kewajiban. Oleh karena itu, para Ulama tidak boleh merasa sempit hati ketika mereka ditanya tentang dalil.</li>
<li>Luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla dan banyaknya pintu-pintu kebaikan.</li>
<li>Islam adalah agama yang mudah.</li>
<li>Keutamaan orang kaya yang bersyukur dan bersedekah dan keutamaan orang miskin yang sabar dan mengharapkan pahala.</li>
<li>Orang kaya dan orang miskin sama-sama diperintahkan untuk mengerjakan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang dilarang syari’at.</li>
<li>Keutamaan masyarakat para Sahabat yang sangat bersemangat untuk melakukan apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</li>
<li>Wajibnya <em>amar ma’r</em><em>û</em><em>f nahi munkar</em>. Hukumnya <em>fardhu kif</em><em>â</em><em>yah</em>.</li>
<li>Perkara adat dan hal-hal yang <em>mub</em><em>â</em><em><u>h</u></em> bisa menjadi ketaatan dan ibadah apabila disertai niat yang benar.</li>
<li>Bergaul dan berbuat baik kepada istri termasuk amal-amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla .</li>
<li>Seorang <em>jim</em><em>â</em><em>’ </em>(bersetubuh) dengan istrinya termasuk sedekah dan mendapat ganjaran.</li>
<li>Seorang suami menafkahi istri, anak, dan orang yang di bawah tanggungannya mendapatkan ganjaran yang besar.</li>
<li>Hadits ini menetapkan bolehnya <em>qiy</em><em>â</em><em>s</em>.</li>
<li>Baiknya cara pengajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .</li>
</ol>
<p><strong>MARAJI’</strong></p>
<ol>
<li>
<em>Al-Qur`</em><em>â</em><em>n dan terjemahnya.</em>
</li>
<li>
<em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em>hul Bukh</em><em>â</em>
</li>
<li>
<em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Muslim </em>
</li>
<li><em>Musnad Imam A<u>h</u>mad</em></li>
<li>
<em>Sunan Abu D</em><em>â</em><em>wud</em>
</li>
<li><em>Sunan at-Tirmidzi</em></li>
<li>
<em>Sunan an-Nas</em><em>â</em><em>i</em>
</li>
<li>
<em>Sunan Ibnu M</em><em>â</em><em>jah</em>
</li>
<li><em>Al-Adabul Mufrad</em></li>
<li>
<em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Ibnu <u>H</u>ibb</em><em>â</em><em>n (at-Ta’l</em><em>î</em><em>q</em><em>â</em><em>tul <u>H</u>is</em><em>â</em><em>n).</em>
</li>
<li><em>Sunan al-Baihaqi.</em></li>
<li>
<em>Musnad al-Bazz</em><em>â</em>
</li>
<li><em>Syarhus Sunnah lil Baghawi.</em></li>
<li>
<em>Syarah Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Muslim lin Nawawi.</em>
</li>
<li>
<em>J</em><em>â</em><em>mi’ul ‘Ul</em><em>û</em><em>m wal <u>H</u>ikam</em>, karya Ibnu Rajab al-<u>H</u> <em>Ta<u>h</u>q</em><em>î</em><em>q:</em> Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bâjis.</li>
<li>
<em>Silsilah al-Ah</em><em>â</em><em>d</em><em>î</em><em>ts ash-Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em>
</li>
<li>
<em>Qaw</em><em>â</em><em>’id wa Faw</em><em>â</em><em>-id minal ‘Arba’</em><em>î</em><em>n an-Nawawiyyah</em>, karya Nâzhim Mu<u>h</u>ammad Sulthâ</li>
<li>
<em>Al-W</em><em>â</em><em>fi f</em><em>î</em><em> Syarhil Arba’</em><em>î</em><em>n an-Nawawiyyah</em>, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Mu<u>h</u>yidin Mustha.</li>
<li>
<em>Syarhul Arba’</em><em>î</em><em>n an-Nawawiyyah</em>, karya Syaikh Mu<u>h</u>ammad bin Shâlih al-‘Utsaimî</li>
<li>
<em>Bahjatun N</em><em>â</em><em>zhir</em><em>î</em><em>n Syarh Riy</em><em>â</em><em>dhish Sh</em><em>â</em><em>lih</em><em>î</em>
</li>
</ol>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Lihat <em>Qawâ’id wa Fawâid</em> (hlm. 222).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal <u>H</u>ikam (II/56-57).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal <u>H</u>ikam (II/57).<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no. 843, 6329) dan Muslim (no. 595).<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal <u>H</u>ikam (II/58).<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Lihat <em>Qawâ’id wa Fawâid</em> (hlm. 223-224).<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em></strong>: HR. al-Bukhâri (no. 4015,  6425) dan Muslim (no. 2961) dari ‘Urwah bin az-Zubair Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik Muslim.<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Lihat buku penulis “<strong><em>Do’a &amp; Wirid</em></strong>” dan “<strong><em>Dzikir Pagi Petang</em></strong>”, penerbit Pustaka Imam asy-Syâfi’i-Jakarta.<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Ahmad (V/195 ; VI/447), at-Tirmidzi (no. 3377), Ibnu Majah (no. 3790), dan al-Baghawi dalam <em>Syar<u>h</u>us Sunnah</em> (no. 1244) dari Abu Darda’ Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no. 3293, 6403), Muslim (no. 2691), Ahmad (II/302, 375), Mâlik  dalam <em>al-Muwaththa’</em> (I/184), at-Tirmidzi (no. 3468), Ibnu Mâjah (no. 3798), dan Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 846-<em>at-Ta’lîqâtul <u>h</u>isân</em>) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no.  6404) dan Muslim (no. 2693) dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> Lihat <em>Jâmi’ul ‘Ulûm wal <u>H</u>ikam</em> (II/69).<br>
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Muslim (no. 1005) dari <u>H</u>udzaifah Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> <em>Syarah Sha<u>h</u>î<u>h</u> Muslim</em> (VII/91).<br>
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Lihat <em>Jâmi’ul ‘Ulûm wal <u>H</u>ikam</em> (II/58).<br>
<a href="#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Muslim (no. 686), A<u>h</u>mad (I/25), Abu Dâwud (no. 1199), an-Nasâi (III/116-117), Ibnu Mâjah (no. 1065), dan Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 2728, 2730-<em>at-Ta’lîqâtul <u>H</u>isân</em>) dari ‘Umar Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref17" name="_ftn17">[17]</a> Lihat <em>Jâmi’ul ‘Ulûm wal <u>H</u>ikam</em> (II/59).<br>
<a href="#_ftnref18" name="_ftn18">[18]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no. 2518), Muslim (no. 84), A<u>h</u>mad (V/150), Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 4577-<em>at-Ta’lîqâtul <u>H</u>isân</em>)<br>
<a href="#_ftnref19" name="_ftn19">[19]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. At-Tirmidzi (no. 1956), al-Bukhâri dalam <em>al-Adâbul Mufrad</em> (no. 891), dan Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 530-<em>at-Ta’lîqâtul <u>H</u>isân</em>).<br>
<a href="#_ftnref20" name="_ftn20">[20]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 3368-<em>at-Ta’lîqâtul <u>H</u>isân</em>).<br>
<a href="#_ftnref21" name="_ftn21">[21]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. A<u>h</u>mad (V/154) dan al-Baihaqi (VI/82).<br>
<a href="#_ftnref22" name="_ftn22">[22]</a> Lihat buku penulis “<em>Amar Ma’rûf Nahi Munkar Menurut Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah</em>” cet. II Pustaka at-Taqwa-Bogor.<br>
<a href="#_ftnref23" name="_ftn23">[23]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. A<u>h</u>mad (V/168-169) dari Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref24" name="_ftn24">[24]</a> Syarah Sha<u>h</u>î<u>h</u> Muslim (VII/92).<br>
<a href="#_ftnref25" name="_ftn25">[25]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no. 55, 4006, 5351) dan dalam <em>al-Adâbul Mufrad</em> (no. 749), Muslim (no. 1002), at-Tirmidzi (no. 1965), Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 4224, 4225-<em>at-Ta’lîqâtul <u>h</u>isân</em>) dari Abu Mas’ûd al-Anshâri Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref26" name="_ftn26">[26]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no. 1295, 5354) dan Muslim (no. 1628) lafazh ini milik Muslim.<br>
<a href="#_ftnref27" name="_ftn27">[27]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Muslim (no. 994), al-Bukhâri dalam <em>al-Adâbul Mufrad</em> (no. 748), A<u>h</u>mad (V/279), Ibnu Mâjah (no. 2760), Ibnu <u>H</u>ibbân (no. 4228-<em>at-Ta‘lîqâtul <u>H</u>isân</em>) dari Tsaubân Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik Muslim.<br>
<a href="#_ftnref28" name="_ftn28">[28]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Muslim (no. 1628 (8)) dari Sa’d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref29" name="_ftn29">[29]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. Muslim (no. 995) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref30" name="_ftn30">[30]</a> <strong><em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em>:</strong> HR. al-Bukhâri (no. 2320, 6012), Muslim (no. 1553), dan at-Tirmidzi (no. 1382) dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref31" name="_ftn31">[31]</a> <em>Syarah Sha<u>h</u>î<u>h</u> Muslim</em> (VII/92).<br>
<a href="#_ftnref32" name="_ftn32">[32]</a> Lihat <em>Qawâ’id wa Fawâid</em> (hlm. 227-228).<br>
<a href="#_ftnref33" name="_ftn33">[33]</a> <em>Sha<u>h</u>î<u>h</u></em><em> Muslim</em> (no. 92).</p>
 