
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Akhir hidup Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melihat sahabat mendirikan salat berjamaah</strong></span></h2>
<p>Musibah paling besar yang menimpa umat ini adalah musibah wafatnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Allah <em>Ta’ala</em> memberikan nikmat kepada umat ini dengan mengutus beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>yang memberikan petunjuk jalan menuju surga dan menuntun umat ini menuju kemuliaan. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah imam (pemimpin) dalam semua kebaikan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً</strong></span></p>
<p>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” <strong>(QS. Al-Ahzab [33]: 21)</strong></p>
<p>Dalam ungkapan tersebut, terdapat banyak nasihat dan pelajaran yang selayaknya untuk diperhatikan. Di antara yang paling penting adalah yang berkaitan dengan masalah salat dan kedudukannya dalam Islam.</p>
<p>Salat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersama para sahabat adalah salat Zuhur pada hari Kamis. Setelah itu, sakit beliau bertambah parah dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk salat berjamaah, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam salat bagi kaum muslimin adalah sahabat Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhu. </em></p>
<p>Di waktu fajar hari Senin, hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu. Dari sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلاَةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ وَأَرْخَى السِّتْرَ فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ</strong></span></p>
<p>“Abu Bakar pernah mengimami mereka salat di saat sakitnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang membawanya pada kewafatannya. Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (saf) salat, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas. Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan saf karena menduga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akan keluar untuk salat. Namun Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi isyarat kepada kami agar, “Teruskanlah salat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.” <strong>(HR. Bukhari no. 680 dan Muslim no. 419)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/43223-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Keutamaan dan Kewajiban Salat Berjamaah</strong></a></p>
<p>Renungkanlah hal ini, ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memandang para sahabatnya di masjid dengan tatapan mata perpisahan. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memandang para sahabatnya dengan pandangan yang menyejukkan dan menyenangkan hati karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan salat. Memang, salat adalah <em>qurrota a’yun </em>(penyenang hati) di sisi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Allah <em>Ta’ala</em> telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan salat jamaah. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tersenyum dengan penuh kebahagiaan melihat umatnya mendirikan salat jamaah, yang merupakan pemandangan yang menyejukkan dan menggembirakan hati beliau.</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Salat, di antara wasiat terakhir Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></h2>
<p>Salat juga menjadi wasiat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di akhir kehidupannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ</strong></span></p>
<p>“Ucapan terakhir Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” <strong>(HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jami’ </em>no. 4616)</strong></p>
<p>Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadis dari sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ</strong><strong>:</strong><strong> الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ</strong></span></p>
<p>“Wasiat umum Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelang wafat, ketika beliau <em>sakaratul maut</em> yaitu, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” <strong>(HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam <em>Al-Irwa’ </em>no. 2178)</strong></p>
<p>Demikian pula dari Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha, </em>salah seorang istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ</strong><strong>،</strong><strong> حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ</strong></span></p>
<p>“Sesungguhnya wasiat terakhir Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelang wafat adalah, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’” Beliau terus-menerus mengulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.” <strong>(HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam <em>Sunan Al-Kubra </em>no. 7060. Sanadnya dinilai sahih oleh Al-Albani dalam <em>Al-Irwa’ </em>7: 238)</strong></p>
<p>Hal ini, tanpa diragukan lagi menunjukkan tingginya kedudukan salat dalam Islam dan betapa besar perhatian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam masalah salat. <strong>[1]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/40771-shalat-sambil-membaca-mushaf-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Salat Sambil Membaca Mushaf Al-Qur’an</a></strong></p>
<p>Ironisnya, banyak di tengah-tengah kaum muslimin yang menjadikan malam <em>isra’ mi’raj</em> sebagai malam perayaan, namun di saat yang sama mereka meninggalkan dan menyia-nyiakan salat <em>jama’ah</em>! Betapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak melewatkan perayaan malam <em>isra’</em> dan <em>mi’raj</em> ini, namun di saat yang sama mereka meremehkan salat? Lalu, di manakah sisi <em>ittiba’ </em>kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan juga menjadikan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sebagai teladan dalam salat?</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Jangan tinggalkan salat</strong></span></h2>
<p>Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menyebutkan tentang salat dan bersabda<em>,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، </strong><strong>وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ</strong></span></p>
<p>“Siapa saja yang menjaga ibadah salat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang tidak menjaga ibadah salat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” <strong>(HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam <em>Majmu’ Fataawa </em>(10: 278), “Sanadnya hasan.”)</strong></p>
<p>Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan salat dan tidak mau menjaga salat, mereka akan dikumpulkan bersama-sama dengan pembesar orang kafir. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> melindungi kita dari hal itu.</p>
<p>Dari sahabat Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ</strong></span></p>
<p>“Sungguh, yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” <strong>(HR. Muslim no. 82)</strong></p>
<p>Dari sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ</strong></span></p>
<p>“Perjanjian antara kita dan mereka adalah salat. Siapa saja yang meninggalkan salat, sungguh dia telah kafir.” <strong>(HR. Ahmad no. 22937, At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam <em>Shahih Al-Jaami’ </em>no. 4143)</strong></p>
<p>Dari sahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ</strong></span></p>
<p>“Barangsiapa salat seperti salat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim. Dia memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” <strong>(HR. Bukhari no. 391)</strong></p>
<p>Hadis-hadis tentang masalah ini sangatlah banyak.</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan menjaga dan melaksanakan wasiat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tersebut. <strong>[2]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40369-tidak-shalat-selama-bertahun-tahun-apakah-harus-mengganti.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Salat Selama Bertahun-tahun, Apakah Harus Mengganti?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/37763-tata-cara-shalat-orang-yang-sakit.html" data-darkreader-inline-color="">Tata Cara Salat Orang Yang Sakit</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 21 Rabi’ul awwal 1442/ 7 November 2020</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong> Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Silakan dibaca kembali tulisan-tulisan sebelumnya yang membahas hal ini:</p>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="QzGDLtPkGR"><p><a href="https://muslim.or.id/59159-keistimewaan-ibadah-shalat.html">Keistimewaan Ibadah Shalat</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Keistimewaan Ibadah Shalat” — Muslim.Or.Id" src="https://muslim.or.id/59159-keistimewaan-ibadah-shalat.html/embed#?secret=QzGDLtPkGR" data-secret="QzGDLtPkGR" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p><strong>[2] </strong>Disarikan dari kitab <strong><em>Ta’zhiim Ash-Shalaat </em></strong>hal. 17-22, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu </em><em>Ta’ala</em>, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 