
<p align="JUSTIFY">Shalat ‘Id (hari raya) adalah salah satu <i>syi’ar</i> (simbol keagungan dan kemuliaan)<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a> Islam yang sangat agung<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a> dan melambangkan ketinggian agama Allah <i>Ta’ala</i> yang mulia ini.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> selalu melaksanakannya di tanah lapang di luar masjid, bahkan tidak ada satu riwayatpun yang shahih bahwa Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> pernah melaksanakannya di masjid. Kemudian para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i> sepeninggal Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> juga mempraktetakkan sunnah ini dengan baik<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Haajj al-Maliki berkata: “Sunnah yang telah berlangsung (sejak dulu) dalam (pelaksanaan) shalat ‘Ied (hari raya) adalah dilaksanakan di <i>mushalla</i> (tanah lapang), karena Nabi Muhammad <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bersabda: “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain kecuali (shalat) di al-Masjidil Haram”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Kemudian bersamaan dengan keutamaan yang agung ini Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang dan tidak melaksanakannya di Masjid Nabawi. Maka ini merupakan <i>dalil</i> (argumentasi) yang jelas tentang ditekankannya pensyariatan shalat ‘Ied di tanah lapang.</p>
<p align="JUSTIFY">Ini adalah Sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> <b>dan melaksanakannya di masjid</b>, menurut madzhab Imam Malik – semoga Allah <i>Ta’ala</i> merahmatinya – <b>adalah (perbuatan) </b><i><b>bid’ah</b></i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a>, kecuali jika ada alasan <i>darurat </i>(mendesak) untuk melaksanakannya di masjid, maka ini bukan perbuatan <i>bid’ah</i>. Karena Nabi Muhammad <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tidak pernah melakukannya (shalai ‘Ied di masjid) dan juga para <i>al-Khulafaa’ ur-raasyidiin </i>(para Khalifah yang lurus, yaitu Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali <i>Radhiallahu’anhum</i>) sepeninggal beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>.</p>
<p align="JUSTIFY">Juga dikarenakan Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> memerintahkan kaum perempuan (seluruhnya) untuk keluar menuju (tempat) shalat ‘Ied, bahkan beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> memerintahkan para wanita yang sedang haidh dan gadis pingitan untuk keluar ke (tempat) shalat ‘Ied…<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Maka ketika Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> memerintahkan (semua) kaum perempuan untuk keluar (ke tempat shalat ‘Ied) berarti beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> mensyariatkan shalat ‘Ied di tanah lapang untuk menampakkan <i>syi’ar</i> Islam”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Dalil-dalil dari Sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> </b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> adalah melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang, adalah sebagai berikut:</p>
<p align="JUSTIFY"><b>1- </b>Dari Abu Sa’id al-Khudri <em>radhiallahu’anhu</em> dia berkata: “Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> keluar (untuk melaksanakan shalat) pada hari raya ‘Iedul fithr dan ‘Iedul adha <b>menuju tanah lapang</b>, maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat ’Ied, kamudian setelah selesai beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> berdiri (untuk berkhutbah) di hadapan kaum muslimin dan mereka (tetap) duduk di shaf-shaf mereka…Abu Sa’id al-Khudri berkata: Kemudian sunnah itu terus dilakukan kaum muslimin sampai di Jaman (pemerintahan) Marwan bin al-Hakam…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini merupakan dalil bagi ulama yang mengatakan bahwa <b>dianjurkan keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat ‘Ied dan bahwa melaksanakannya di tanah lapang lebih utama daripada melaksanakannya di masjid</b>. Pendapat inilah yang diamalkan oleh kaum muslimin di hampir semua kota, kecuali penduduk Mekkah…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote9sym" name="sdfootnote9anc"><sup>9</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Hadits ini dijadikan sebagai argumentasi bahwa <b>dianjurkan keluar menuju </b><i><b>shahra’ </b></i><b>(tanah lapang) untuk melaksanakan shalat ‘Ied dan bahwa itu lebih utama daripada melaksanakannya di masjid,</b> karena Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> senantiasa melaksanakannya di tanah lapang, padahal keutamaan (shalat) di masjid beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> (sangat besar)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote10sym" name="sdfootnote10anc"><sup>10</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>2-</b> Dari ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiallahu’anhu</em> dia berkata: “Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> <b>selalu keluar ke tanah lapang</b> (untuk melaksanakan shalat) pada hari raya dan sebuah tombak kecil dibawa di hadapan beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>. Setelah beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> sampai di tanah lapang tersebut maka tombak kecil itu ditancapkan di hadapan beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>, lalu beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> pun shalat di hadapannya (sebagai <i>sutrah</i>/pembatas shalat)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote11sym" name="sdfootnote11anc"><sup>11</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>3-</b> Dari al-Bara’ bin ‘Azib <em>radhiallahu’anhu</em> dia berkata: “Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> ketika hari raya ‘Iedul adha <b>keluar menuju tanah lapang</b> di <i>al-Baqi’</i>, lalu beliau shalat dua rakaat, kemudian menghadapkan wajahnya kepada kami…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote12sym" name="sdfootnote12anc"><sup>12</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Pernyataan dan penegasan para ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><b>Imam Malik</b> berkata: “Tidak boleh melaksanakan shalat ‘Ied di masjid, akan tetapi kaum muslimin hendaknya keluar (ke tanah lapang) sebagaimana dulunya Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> selalu keluar (ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat ‘Ied)… Kemudian sunnah ini selalu dipraktekkan oleh kaum muslimin di seluruh negeri”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote13sym" name="sdfootnote13anc"><sup>13</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Imam asy-Syafi’i</b> berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> senantiasa keluar menuju tanah lapang di Madinah untuk melaksanakan shalat ‘Ied, demikian pula para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i> setelah beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>. Dan (inilah yang diamalkan oleh) oleh mayoritas kaum muslimin di (hampir) semua kota, kecuali penduduk Mekkah…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote14sym" name="sdfootnote14anc"><sup>14</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi </b>berkata: “Yang sesuai dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> adalah melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang, ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu’anhu</em> memerintahkannya, al-Auza’i dan <i>ahli ra’yu</i> menganjurkannya, dan ini adalah pendapat Ibnul Mundzir…</p>
<p align="JUSTIFY">Sungguh Nabi Muhammad <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> selalu keluar menuju tanah lapang (untuk melasanakan shalat ‘Ied) dan meninggalkan Masjid Nabawi (padahal keutamaannya sangat besar), demikian pula para <i>al-Khulafaa’ ur-raasyidiin </i>(para Khalifah yang lurus, yaitu Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali <i>Radhiallahu’anhum</i>) setelah beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>…</p>
<p align="JUSTIFY">Tidak pernah dinukil (satu haditspun) dari Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bahwa beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> pernah melaksanakan shalat ‘Ied di Masjid Nabawi, kecuali jika ada ‘udzur (alasan yang dibenarkan dalam Islam, seperti hujan, angin kencang dan lain-lain).</p>
<p align="JUSTIFY">Dan juga karena ini adalah <i><b>ijma’</b></i><b> (kesepakatan) kaum muslimin</b>, kapan dan di manapun kaum muslimin selalu keluar ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat ‘Ied, meskipun (mereka memiliki) masjid yang luas atau sempit”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote15sym" name="sdfootnote15anc"><sup>15</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Imam Ibnul Qayyim</b> berkata: “Petunjuk Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> adalah selalu melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote16sym" name="sdfootnote16anc"><sup>16</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Imam al-Bagawi</b> berkata: “Yang sesuai dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> (dalam hal ini yaitu) bahwa seorang imam keluar (menuju tanah lapang) untuk melaksanakan shalat ‘Ied, kecuali jika ada ‘udzur maka dilaksanakan di masjid”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote17sym" name="sdfootnote17anc"><sup>17</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Imam al-Qurthubi berkata: </b>“Imam Malik dan seluruh ulama (Ahlus Sunnah) bersepakat (menyatakan) bahwa shalat dua hari raya di semua kota dilaksanakan di tempat terbuka (tanah lapang), kecuali di Mekkah yang dilaksanakan di Masjidil haram”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote18sym" name="sdfootnote18anc"><sup>18</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani</b> berkata: “hadits-hadits di atas merupakan argumentasi yang tegas menyatakan bahwa yang sesuai dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dalam (pelaksanaan) shalat ‘Ied adalah dilaksanakan di tanah lapang, dan ini merupakan pernyataan mayoritas ulama Ahlus Sunnah”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote19sym" name="sdfootnote19anc"><sup>19</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Beliau juga berkata: “Sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> selalu melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang di luar kota. Kemudian sunnah ini terus diamalkan oleh generasi pertama umat ini (para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i>), mereka tidak pernah melaksanakan shalat ‘Ied di masjid, kecuali dalam keadaan darurat, seperti hujan dan lain-lain. Inilah pendapat Imam mazhab yang empat (Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i dan Ahmad) dan selain mereka dari para imam dan ulama Ahlus sunnah”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote20sym" name="sdfootnote20anc"><sup>20</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin</b> berkata: “Disunnahkan (dianjurkan) untuk melaksanakan shalat ‘Ied di <i>shahra’ </i>(tanah lapang) di luar kota, dan hendaknya (di pilih) tempat shalat ‘Ied yang dekat supaya tidak menyusahkan bagi kaum Muslimin.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalilnya adalah perbuatan Nabi Muhammad <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan para <i>al-Khulafaa’ ur-raasyidiin </i>(para Khalifah yang lurus, yaitu Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali <i>Radhiallahu’anhum</i>), mereka selalu melaksanakan shalat ‘Ied di <i>shahra’ </i>(tanah lapang)…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote21sym" name="sdfootnote21anc"><sup>21</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdir Rahman al-Bassam</b> berkata: “Dalam hadits di atas terdapat argumentasi tentang disyariatkannya (diutamakannya) shalat ‘Ied di <i>shahra’ </i>(tanah lapang) di luar pemukiman, meskipun di kota Madinah an-Nabawiyyah”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote22sym" name="sdfootnote22anc"><sup>22</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Mengapa penduduk Mekkah dikecualikan dalam masalah ini?</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Adapun <b>pengecualian ‘penduduk kota Mekkah’</b> yang disebutkan dalam ucapan Imam asy-Syafi’I, Imam an-Nawawi dan Imam al-Qurthubi di atas, maka hal ini telah dijelaskan alasannya oleh para ulama Ahlus Sunnah.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam asy-Syaukani berkata: “Ada kemungkinan shalat ‘Ied (di Mekkah) tidak dilaksanakan di tanah lapang karena sempitnya sudut-sudut kota Mekkah (sulit mencari tempat yang luas)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote23sym" name="sdfootnote23anc"><sup>23</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Adapun (pelaksanaan shalat ‘Ied) di Mekkah, maka aku tidak mengetahui bahwa Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> atau salah seorang yang pernah menjadi penguasa di Mekkah keluar (menuju tanah lapang dan) meninggalkan Masjidil haram…Barangkali hikmah (alasan) mereka tetap shalat ‘Ied di Masjidil haram – Allah yang lebih mengetahuinya – adalah karena keberadaan Ka’bah di dalam Masjidil haram, yang mana shalat di Masjidil haram lebih baik daripada seratus ribu shalat di masjid lain. Juga karena sulitnya menemukan <i>shahra’ </i>(tanah lapang) di Mekkah, disebabkan tanahnya banyak perbukitan dan lembah, sehingga menyulitkan penduduknya untuk keluar (mencari tanah lapang). Oleh karena itulah shalat ‘Ied di Mekkah tetap dilaksanakan di Masjidil haram”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote24sym" name="sdfootnote24anc"><sup>24</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun ‘<b>penduduk kota Madinah’</b> maka hukumnya seperti kota-kota lainnya, sebagaimana ucapan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote25sym" name="sdfootnote25anc"><sup>25</sup></a> dan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdir Rahman al-Bassam yang telah dinukil sebelumnya, karena tanah lapang yang luas banyak ditemukan di sana.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Kota Madinah (dalam hal ini) sama dengan kota-kota lainnya, dianjurkan bagi penduduknya untuk keluar ke <i>shahra’ </i>(tanah lapang) untuk melaksanakan shalat ‘Ied, inilah yang lebih utama. Dan dimakruhkan (tidak disukai dalam Syariat Islam) bagi mereka untuk melaksanakannya di Masjid nabawi, kecuali jika ada alasan (yang dibenarkan dalam syariat Islam)…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote26sym" name="sdfootnote26anc"><sup>26</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Apakah ada pendapat lain dalam masalah ini?</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Ada pendapat lain dalam masalah ini yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi’i. Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata: “Dinukil dari Imam asy-Syafi’i (bahwa beliau berkata): Kalau masjid di dalam kota luas (bisa menampung semua penduduk muslim) maka shalat di masjid tersebut lebih utama, karena masjid adalah tempat yang paling utama dan paling suci. Oleh karena itulah, penduduk Mekkah melaksanakan shalat ‘Ied di Masjidil haram”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote27sym" name="sdfootnote27anc"><sup>27</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam asy-Syafi’i juga mengisyaratkan bahwa sebab disunnahkannya shalat di tanah lapang dan bukan di masjid adalah karena sempitnya masjid sehingga digunakanlah tanah lapang yang luas. Beliau berkata: “Seandainya suatu kota makmur sehingga masjidnya bisa menampung kaum muslimin di kota tersebut dalam shalat ‘Ied, maka aku memandang mereka tidak boleh meninggalkan masjid (untuk menuju ke tanah lapang), tapi kalaupun mereka keluar (menuju ke tanah lapang) maka itu tidak mengapa (boleh). <b>Akan tetapi kalau masjidnya (sempit sehingga) tidak bisa menampung mereka, maka aku tidak menyukai mereka shalat ‘Ied di masjid tersebut</b>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote28sym" name="sdfootnote28anc"><sup>28</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Ucapan Imam asy-Syafi’i menunjukkan bahwa jika masjid di dalam kota sempit maka lebih utama shalat ‘Ied dilaksanakan di tanah lapang<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote29sym" name="sdfootnote29anc"><sup>29</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Pendapat ini berargumentasi dengan sebuah <i>atsar/riwayat</i> dari ‘Umar bin al-Khaththab <em>radhiallahu’anhu</em> ketika terjadi hujan turun di hari raya pada jaman kekhalifahan beliau <em>radhiallahu’anhu</em>. Lalu ‘Umar mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat ‘Ied di masjid, kemudian setelah shalat beliau <em>radhiallahu’anhu</em> berkhutbah di atas mimbar dan berkata: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dulu keluar menuju tanah lapang bersama kaum muslimin dan shalat ‘Ied bersama mereka, karena tanah lapang lebih kondusif dan lebih luas bagi mereka, sedangkan Masjid nabawi tidak cukup untuk menampung mereka. Maka ketika turun hujan (seperti sekarang) ini (shalat) di masjid adalah lebih kondusif”.</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Atsar</i> ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “as-Sunan al-Kubra” (3/310), tapi <b>derajatnya sangat lemah</b><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote30sym" name="sdfootnote30anc"><sup>30</sup></a><b>,</b> karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang bernama Muhammad bin ‘Abdil ‘Aziz bin ‘Umar bin ‘Abdir Rahman bin ‘Auf al-Qadhi, Imam al-Bukhari berkata tentangnya: “haditsnya diingkari (karena kelemahannya yang fatal)”. Imam an-Nasa-i berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang parah)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote31sym" name="sdfootnote31anc"><sup>31</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Atsar</i> ini juga dikeluarkan oleh Imam asy-Syafi’i dalam kitab “al-Umm” (1/389) dari jalur lain dari ‘Umar bin al-Khaththab . <i>Atsar</i> ini juga <b>derajatnya sangat lemah</b>, karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang bernama Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya al-Aslami, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqlani berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahan-nya yang parah)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote32sym" name="sdfootnote32anc"><sup>32</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Karena <i>Atsar</i> ini derajatnya sangat lemah, sehingga tentu tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi untuk mendukung pendapat Imam asy-Syafi’i di atas, bahwa sebab disunnahkannya shalat ‘Ied di tanah lapang dan bukan di masjid adalah karena tidak adanya masjid yang luas yang bisa menampung kaum muslimin.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam asy-Syaukani menyanggah pendapat ini, beliau berekata: “(pendapat yang mengatakan bahwa sebab (disunnahkannya shalat ‘Ied di tanah lapang dan bukan di masjid) adalah (karena) sempitnya (masjid) dan luasnya (tanah lapang) ini hanyalah dugaan semata dan tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan contoh teladan dari Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> yang selalu keluar menuju tanah lapang (untuk melaksanakan shalat ‘Ied), (apalagi) setelah mereka juga mengakui bahwa Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> terus-menerus melakukan hal itu.</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun berargumentasi dengan pelaksanaan shalat ‘Ied di Mekkah di Masjidil haram, maka itu (bisa) dijawab dengan adanya kemungkinan mereka tidak melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang karena sempitnya sudut-sudut kota Mekkah dan bukan karena luasnya Masjidil haram”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote33sym" name="sdfootnote33anc"><sup>33</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">syaikh al-Albani berkata: “Dari penjelasan yang lalu, nyatalah kebatilan (kesalahan) pendapat yang menyebutkan sebab (disunnahkannya shalat ‘Ied di tanah lapang) adalah karena sempitnya masjid, dan yang kuat adalah pernyataan para ulama (Ahlus sunnah) yang menegaskan bahwa shalat ‘Ied di tanah lapang adalah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan ini disyariatkan di setiap jaman dan tempat, kecuali karena alasan darurat. <b>Dan aku tidak mengetahui seorangpun dari ulama </b><i><b>mujtahid</b></i><b> yang diperhitungkan ucapannya menyelisihi dalam masalah ini</b>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote34sym" name="sdfootnote34anc"><sup>34</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Kemudian kalaupun pendapat dan alasan ini bisa diterima, maka tetap saja kondisi masjid-masjid kaum muslimin saat ini tidak memenuhi syarat yang disebutkan oleh Imam asy-Syafi’i di atas, selain Masjidil haram, karena masjid-masjid tersebut rata-rata tidak terlalu luas dan tidak ada satu masjidpun yang cukup untuk menampung semua kaum muslimin di suatu kota tertentu.</p>
<p align="JUSTIFY">Maka berdasarkan penjelasan ini, pelaksanakan shalat ‘Ied di masjid-masjid kaum muslimin di jaman ini, sungguh pada hakikatnya tidak sesuai dengan pendapat Imam asy-Syafi’i sendiri, sebagaimana yang kami jelskan di atas. Sehingga bisa dikatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukan hanya bertentangan dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan para <i>al-Khulafaa’ ur-raasyidiin</i>, bahkan juga menyelisihi petunjuk semua ulama dan Imam Ahlus sunnah yang ucapan mereka diperhitungkan<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote35sym" name="sdfootnote35anc"><sup>35</sup></a>, <i>wallahul musta’an</i>.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, syaikh al-Albani berkata: “… Semua itu menunjukkan bahwa <b>(pelaksanaan) shalat ‘Ied di masjid-masjid di jaman ini (tanpa adanya </b><i><b>‘udzur syar’i</b></i><b>) adalah (perbuatan) bid’ah, meskipun menurut pendapat Imam asy-Syafi’i, </b>karena tidak dijumpai satu masjidpun di negeri kami (juga di negeri-negeri kaum muslimin) yang bisa menampung kaum muslimin di negeri tersebut”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote36sym" name="sdfootnote36anc"><sup>36</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY">
<span style="color: #ff0000;"><b>Hukum melaksanakan shalat ‘Ied di masjid tanpa adanya </b><i><b>‘udzur syar’i</b></i> </span><b><span style="color: #ff0000;">(alasan yang dibenarkan)</span> </b>
</h4>
<p align="JUSTIFY">Telah kami nukilkan ucapan beberapa ulama Ahlus sunnah yang menyatakan bahwa yang sesuai dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> adalah melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang dan bukan di masjid, kecuali jika <i>ada ‘udzur syar’i</i>.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itulah, melaksanakan shalat ‘Ied di masjid tanpa adanya <i>‘udzur syar’i</i> jelas bertentangan dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>, sehingga sebagian dari para ulama Ahlus sunnah ada yang menyatakan ketidakbolehannya, ada juga yang mengatakan bahwa hal itu <i>makruh</i> (dibenci dalam Islam).</p>
<p align="JUSTIFY">Penulis kitab “<i>Zaadul mustaqni</i>’” Syaikh Syarafuddin Musa bin Ahmad al-Hijawi berkata: “<b>Di</b><i><b>makruh</b></i><b>kan (dibenci dalam Islam) melaksanakan shalat ‘Ied di masjid </b><i><b>jami’ </b></i><b>tanpa adanya </b><i><b>‘udzur syar’i</b></i>”. Ucapan beliau ini disetujui dan dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin ketika menjelaskan kandungan kitab ini, bahkan kemudian Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menambahkan: “Ucapan penulis ini memberikan pengertian bahwa melaksanakannya di masjid <i>jami’</i> karena adanya <i>‘udzur syar’i</i> tidaklah di<i>makruh</i>kan”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote37sym" name="sdfootnote37anc"><sup>37</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdir Rahman al-Bassam berkata: “Sesungguhnya shalat ‘Ied tidak boleh dilaksanakan di masjid, kecuali jika ada hajat (<i>‘udzur syar’i</i>) seperti hujan dan lain-lain”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote38sym" name="sdfootnote38anc"><sup>38</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Sebagian ulama Ahlus sunnah menyatakan bahwa ini termasuk perbuatan </b><i><b>bid’ah</b></i></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Telah kami nukilkan sebelum ini ucapan Imam Ibnul Haajj al-Maliki, beliau berkata: “Ini adalah Sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> <b>dan melaksanakannya di masjid</b>, menurut madzhab Imam Malik – semoga Allah <i>Ta’ala</i> merahmatinya – <b>adalah (perbuatan) </b><i><b>bid’ah</b></i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote39sym" name="sdfootnote39anc"><sup>39</sup></a>, kecuali jika ada alasan <i>darurat </i>(mendesak) untuk melaksanakannya di masjid, maka ini bukan perbuatan <i>bid’ah</i>. Karena Nabi Muhammad <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tidak pernah melakukannya (shalai ‘Ied di masjid) dan juga para <i>al-Khulafaa’ ur-raasyidiin </i>(para Khalifah yang lurus, yaitu Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali <i>Radhiallahu’anhum</i>) sepeninggal beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote40sym" name="sdfootnote40anc"><sup>40</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Pendapat ini didukung dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albani, beliau berkata: “Hadits-hadits shahih (yang telah kami nukilkan sebelumnya) dan selainnya, kemudian perbuatan generasi pertama (umat ini yaitu para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i>) yang selalu ( melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang), lalu pernyataan para ulama (Ahlus sunnah), semua itu menunjukkan bahwa <b>(pelaksanaan) shalat ‘Ied di masjid-masjid saat ini (tanpa adanya </b><i><b>‘udzur syar’i</b></i><b>) adalah (perbuatan) bid’ah</b>…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote41sym" name="sdfootnote41anc"><sup>41</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun <b>sebab dan alasan yang menjadikan hal ini dibenci dalam Islam</b>, maka para ulama telah menjelaskannya</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Melaksanakan shalat ‘Ied di masjid tanpa <i>‘udzur syar’i</i> di<i>makruh</i>kan (dibenci dalam Islam) karena perbuatan ini menjadikan luputnya tujuan besar (disyariatkannya shalaat ‘Ied), yaitu memperlihatkan dan menampakkan <i>syi’ar</i> Islam (yang agung) ini dan ini adalah tujuan yang dituntut dalam syariat Islam. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya bahwa Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> memerintahkan (semua kaum muslimin) untuk keluar menuju tanah lapang meskipun (dalam kondisi) sulit. Maka ini menunjukkan perhatian besar (Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> untuk menampakkan <i>syi’ar</i> Islam ini) dengan keluarnya kaum muslimin (menuju tanah lapang)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote42sym" name="sdfootnote42anc"><sup>42</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Inilah pendapat para ulama yang didukung dengan dalil-dalil yang shahih, adapun pendapat yang membolehkan shalat ‘Ied di masjid tanpa <i>‘udzur syar’i </i>secara mutlak maka tidak diketahui argumentasi yang menjadi sandarannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Memang benar para ulama mengatakan bahwa shalat ‘Ied tersebut tetap sah<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote43sym" name="sdfootnote43anc"><sup>43</sup></a>, akan tetapi tidak lepas dari ke<i>makruh</i>an, sebagaimana penjelasan yang lalu, <i>wallahu a’lam</i>.</p>
<p align="JUSTIFY">Kemudian <b>contoh-contoh </b><i><b>‘udzur syar’i</b></i><i> </i>(alasan yang dibenarkan dalam syariat Islam), sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama adalah: hujan, angin kencang, atau adanya sesuatu yang ditakutkan (misalnya serangan musuh) sehingga menghalangi keluar menuju tanah lapang. Demikian pula ‘<i>udzur</i> yang ada pada orang-orang tertentu, seperti sakit, cacat, lanjut usia dan lain-lain<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote44sym" name="sdfootnote44anc"><sup>44</sup></a>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Hikmah disyariatkannya shalat ‘Ied di tanah lapang</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Para ulama Ahlus sunnah menjelaskan beberapa hikmah agung disyariatkannya shalat ‘Ied di tanah lapang:</p>
<p align="JUSTIFY"><b>1.</b> Untuk <b>menampakkan </b><i><b>syi’ar</b></i><b> Islam yang agung</b> dan lambang ketinggian agama Allah <i>Ta’ala</i> yang mulia.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Shalat ‘Ied termasuk <i>syi’ar-syi’ar</i> Islam yang paling agung”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote45sym" name="sdfootnote45anc"><sup>45</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Haajj al-Maliki berkata: “…Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> mensyariatkan shalat ‘Ied di tanah lapang untuk menampakkan <i>syi’ar</i> Islam”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote46sym" name="sdfootnote46anc"><sup>46</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>2. </b>Sebagai sebab untuk menyatukan hati kaum muslimin dan menghimpun kalimat mereka, dengan mereka shalat bersama di tanah lapang yang luas di belakang satu imam.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Kemudian sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> ini, yaitu melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang, memiliki hikmah yang sangat agung dan tinggi (yaitu) agar kaum muslimin mempunyai dua hari dalam setahun (hari raya ‘Idul fithr dan ‘Iedul adha) untuk semua penduduk kota berkumpul pada hari itu, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Mereka semua menghadapkan diri kepada Allah dengan hati mereka, dengan satu kalimat dan shalat (bersama) di belakang imam yang satu.</p>
<p align="JUSTIFY">Mereka ber<i>takbir</i> (mengucapkan <i>‘Allahu akbar’</i>/Allah maha besar), ber<i>tahlil</i> (mengucapkan ‘<i>laa ilaha illallah</i>’/Tidak ada sembahan yang benar selain Allah) dan berdo’a kepada-Nya dengan ikhlas, seakan-akan mereka memiliki hati yang satu.</p>
<p align="JUSTIFY">Mereka berbahagia dan bergembira dengan limpahan nikmat Allah bagi mereka, sehingga hari ‘Ied benar-benar menjadi hari raya bagi mereka…</p>
<p align="JUSTIFY">Maka semoga kaum muslimin mau mengikuti seruan untuk mengikuti sunnah Nabi mereka <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> ini dan menghidupkan <i>syi’ar-syi’ar</i> agama mereka, yang ini merupakan penentu kemuliaan dan kesuksesan mereka. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p dir="RTL" style="text-align: right;" align="LEFT">{<span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: large;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ</span></span></span>}</p>
<p align="LEFT">“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan)<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote47sym" name="sdfootnote47anc"><sup>47</sup></a> hidup bagimu” (QS al-Anfaal:24)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote48sym" name="sdfootnote48anc"><sup>48</sup></a>.</p>
<p align="LEFT">Penjelasan yang semakna juga dinyatakan oleh Syaikh Abdullah bin ‘Abdir Rahman al-Bassam dalam kitab “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” (3/55).</p>
<p align="LEFT"><b>Juga perlu diingatkan kepada kaum muslimin di sini</b> bahwa tujuan disyariatkannya shalat ‘Ied di tanah lapang adalah untuk menytukan kaum muslimin di setiap kota di satu tempat, maka tidak semestinya terjadi banyak didakan tempat pelaksanaan shalat ‘Ied, baik di tanah lapang maupun masjid, apalagi yang jaraknya berdekatan, karena ini akan memecah belah persatuan kaum muslimin dan jelas bertentangan dengan hikamh agung disyariatkannya shalat ‘Ied, <i>wallahul musta’aan</i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote49sym" name="sdfootnote49anc"><sup>49</sup></a><i>.</i></p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><b>Nasehat dan penutup</b></span></h4>
<p align="LEFT">Inilah sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>, para <i>al-Khulafaa’ ur-raasyidiin</i> dan bahkan para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i> secara keseluruhan dalam melaksanakan shalat ‘Ied, apakah seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan mengikuti petunjuk para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i> masih ragu-ragu untuk mengikuti dan mengamalkannya?</p>
<p align="LEFT">Yang sungguh sangat mengherankan, ketika sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> yang agung ini demikian mudah untuk diamalkan tanpa ada halangan yang berarti, tapi sebagian dari kaum muslimin, bahkan di antara mereka ada yang mengaku sebagai pengikut sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>, tetap bersikeras menyelisihinya, dengan melaksanakan shalat ‘Ied di masjid, <i>wallahul musta’an</i>.</p>
<p align="LEFT">Sebagai contoh, misalnya di beberapa daerah di Indonesia, <i>alhamdulillah</i> pelaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang sudah dikenal dan terbiasa di kalangan masyarakat muslim Indonesia, bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa hal ini lebih dikenal di kalangan masyarakat awam daripada shalat ‘Ied yang dikerjakan di masjid-masjid.</p>
<p align="LEFT">Lantas alasan dan halangan apakah yang menjadikan sebagian dari kaum muslimin tetap menyelisihi sunnah yang agung ini? Kalaulah hal ini belum dikenal di masyarakat, mungkin kita bisa memberikan <i>‘udzur</i> dengan mengatakan bahwa dalam rangka menjinakkan hati masyarakat awam maka untuk sementara dilakukan dulu hal-hal yang mereka tidak ingkari, sampai pemahaman yang benar mereka kenal dengan baik. Tapi kenyataan yang terjadi malah terbalik, justru masyarakat awam yang lebih mengenal dan semangat mempraktekkan sunnah ini daripada mereka yang mengaku dekat dengan sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>.</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: large;">{</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: large;">فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ</span></span></span><span style="font-family: Traditional Arabic,serif;"><span style="font-size: large;">}</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat</em>” (QS al-Hasyr: 2).</p>
<p align="LEFT"><b>Sebagai penutup</b>, di sini kami nukilkan ucapan dari Syaikh al-Albani yang mengandung nasehat dan kesimpulan dari pembahasan ini.</p>
<p align="LEFT">Beliau berkata: “Dari penjelasan yang lalu maka kita ketahui bahwa melaksanakan <b>shalat ‘Ied di tanah lapang inilah yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan ini merupakan hal yang disepakati oleh para imam Ahlus sunnah</b> dari tinjauan ilmiyah. Di samping itu, melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang mengandung banyak faedah dan hikmah yang tidak akan terwujud mayoritasnya dengan dilaksanakan di satu atau banyak masjid.</p>
<p align="LEFT">Oleh karena itu, semestinya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada sunnah Nabi mereka <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan ikut serta (memberikan dukungan) kepada orang-orang yang bersemangat ingin menghidupkan sunnah ini di negeri-negeri kaum muslimin. Sesunguhnya tangan Allah di atas jama’ah kaum muslimin, yaitu jama’ah (yang selalu menetapi) sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan bukan yang menyelisihinya”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote50sym" name="sdfootnote50anc"><sup>50</sup></a>.</p>
<p align="LEFT">Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat sebagai nasehat kebaikan bagi kita semua dan motivasi untuk selalu bersiap merubah diri kita mengikuti kebenaran yang telah jelas argumentasinya di hadapan kita, <i>wallahu waliyyut taufiq</i>.</p>
<p align="CENTER"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: large;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY">Kota Kendari, 11 Ramadhan al-Mubarak 1436 H</p>
<p align="JUSTIFY">****</p>
<h5 align="JUSTIFY">Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> <span lang="en-US"><i>Syi’ar</i></span><span lang="en-US"> adalah tanda atau lambang keagungan Islam yang diperintahkan oleh Allah <i>Ta’ala</i> untuk ditegakkan dan ditampakkan (lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” 2/1169 dan “Tafsir as-Sa’di” hlmn. 76). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Majmuu’ul fataawa” (24/183).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/384). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a> <span lang="en-US">HSR al-Bukhari (no. 1133) dan Muslim (no. 1394).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p lang="id-ID" align="LEFT"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> <span lang="en-US">P</span>erbuatan <span lang="en-US">dalam agama </span>yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a> <span lang="en-US">HSR al-Bukhari (no. 344) dan Muslim (no. 890).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a> Kitab “al-Madkhal” (2/283).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a> <span lang="en-US">HSR al-Bukhari (no. 913) dan Muslim (no. 889).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote9anc" name="sdfootnote9sym">9</a> <span lang="en-US">Kitab “Syarh shahih Muslim” (6/177).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote10anc" name="sdfootnote10sym">10</a> <span lang="en-US">Kitab “Fathul Baari” (2/450).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote11anc" name="sdfootnote11sym">11</a> <span lang="en-US">HSR al-Bukhari (no. 930), Muslim (no. 501), Ibnu Majah (no. 1304) dan lain-lain.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote12anc" name="sdfootnote12sym">12</a> <span lang="en-US">HSR al-Bukhari (no. 933) dan Ahmad (4/282).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote13anc" name="sdfootnote13sym">13</a> <span lang="en-US">Kitab “al-Mudawwanah al-kubra” (1/245).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote14anc" name="sdfootnote14sym">14</a> <span lang="en-US">Kitab “al-Umm” (1/267).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote15anc" name="sdfootnote15sym">15</a> <span lang="en-US">Kitab “al-Mugni (2/229).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote16anc" name="sdfootnote16sym">16</a> <span lang="en-US">Kitab “Zaadul ma’aad” (1/441).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote17anc" name="sdfootnote17sym">17</a> <span lang="en-US">Dinukil oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 20).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote18anc" name="sdfootnote18sym">18</a> <span lang="en-US">Kitab “Tafsir al-Qurthubi” (9/314).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote19anc" name="sdfootnote19sym">19</a> <span lang="en-US">Kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 20).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote20anc" name="sdfootnote20sym">20</a> <span lang="en-US">Kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 35).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote21">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote21anc" name="sdfootnote21sym">21</a> <span lang="en-US">Kitab “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/384). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote22">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote22anc" name="sdfootnote22sym">22</a> <span lang="en-US">Kitab “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” (3/42).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote23">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote23anc" name="sdfootnote23sym">23</a> <span lang="en-US">Kitab “Nailul authaar” (2/587).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote24">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote24anc" name="sdfootnote24sym">24</a> <span lang="en-US">Kitab “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/387). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote25">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote25anc" name="sdfootnote25sym">25</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Fathu Dzil jalaali wal ikraam bisyarhi buluugil maraam” (2/392). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote26">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote26anc" name="sdfootnote26sym">26</a> <span lang="en-US">Kitab “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/387). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote27">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;">27 <span lang="en-US">Kitab “al-Mugni (2/229).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote28">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote28anc" name="sdfootnote28sym">28</a> <span lang="en-US">Kitab “al-Umm” (1/268).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote29">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote29anc" name="sdfootnote29sym">29</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 35-36) dan “Taudhiihul ahkaam” (3/56).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote30">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote30anc" name="sdfootnote30sym">30</a> <span lang="en-US">Sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh al-Albani dalam “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn 27)</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote31">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote31anc" name="sdfootnote31sym">31</a> <span lang="en-US">Keduanya dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab “Miizaanul i’tidaal” (3/628).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote32">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote32anc" name="sdfootnote32sym">32</a> <span lang="en-US">Kitab “Taqriibut tahdziib” (hlmn. 93).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote33">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote33anc" name="sdfootnote33sym">33</a> <span lang="en-US">Kitab “Nailul authaar” (3/359).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote34">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote34anc" name="sdfootnote34sym">34</a> <span lang="en-US">Kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 28).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote35">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote35anc" name="sdfootnote35sym">35</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 28).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote36">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote36anc" name="sdfootnote36sym">36</a> <span lang="en-US">Kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 36).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote37">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote37anc" name="sdfootnote37sym">37</a> <span lang="en-US">Lihat ucapan </span>al-Hijawi<span lang="en-US"> dan Syaikh al-‘Utsaimin dalam “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/387). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote38">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote38anc" name="sdfootnote38sym">38</a> <span lang="en-US">Kitab “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” (3/42).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote39">
<p lang="id-ID" align="LEFT"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote39anc" name="sdfootnote39sym">39</a> <span lang="en-US">P</span>erbuatan <span lang="en-US">dalam agama </span>yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote40">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote40anc" name="sdfootnote40sym">40</a> <span lang="en-US">HSR al-Bukhari (no. 344) dan Muslim (no. 890).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote41">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote41anc" name="sdfootnote41sym">41</a> <span lang="en-US">Kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 36).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote42">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote42anc" name="sdfootnote42sym">42</a> <span lang="en-US">Kitab “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/387). </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote43">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote43anc" name="sdfootnote43sym">43</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 14).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote44">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote44anc" name="sdfootnote44sym">44</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “asy-Syarhul mumti’ ‘ala zaadil mustaqni’” (2/387) dan Shahiihu fiqhis sunnah” (1/601).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote45">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote45anc" name="sdfootnote45sym">45</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Majmuu’ul fataawa” (24/183).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote46">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote46anc" name="sdfootnote46sym">46</a> Kitab “al-Madkhal” (2/283).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote47">
<p lang="id-ID" align="LEFT"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote47anc" name="sdfootnote47sym">47</a> Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/34).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote48">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote48anc" name="sdfootnote48sym">48</a> <span lang="en-US">Dinukil oleh Syaikh al-Albani dalam “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 39).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote49">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote49anc" name="sdfootnote49sym">49</a> <span lang="en-US">Lihat kitab “Shahiihu fiqhis sunnah” (1/601).</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote50">
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote50anc" name="sdfootnote50sym">50</a> <span lang="en-US">Kitab “Shalaatul ‘iedaini fil mushalla hiyas sunnah” (hlmn. 43).</span></span></p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">—</p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Penulis: Ust. Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.</p>
<p lang="id-ID" align="JUSTIFY">Artikel Muslim.or.id</p>
</div>
 