
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Shalat hendaklah dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan dengan hati yang sepenuhnya hadir menghadap Rabb-nya. Syariat Islam yang mulia pun menganjurkan untuk menghilangkan semua sebab yang dapat mengganggu ke-khusyu’-an shalat kita, di antaranya adalah adanya nafsu dan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Sehingga hati dan pikiran kita pun disibukkan dengannya ketika mendirikan shalat. Oleh karena itu, Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">menganjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan yang sudah terhidangkan meskipun shalat hampir ditegakkan. </span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">bersabda,</span></span></p>
<p align="CENTER">إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>Jika shalat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan, pen.), sedangkan makan malam telah dihidangkan, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i><b>maka dahulukanlah makan malam</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Sebagian orang salah sangka dengan hadits di atas. Mereka menyangka bahwa kalau mendahulukan makanan, maka hal ini berarti kita lebih mendahulukan hak makhluk di atas hak Allah <em>Ta’ala</em>. Padahal hakikatnya, jika seseorang mendahulukan shalat dibandingkan makanan, maka hatinya akan disibukkan untuk memikirkan makanan ketika sedang shalat, sehingga berakibat mengurangi kesempurnaan shalatnya di hadapan Allah <em>Ta’ala</em>. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan demi menjaga hak Allah Ta’ala ketika shalat. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><b>[1]</b></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Yang menjadi permasalahan adalah apakah hadits di atas bisa diamalkan secara mutlak, artinya kita mendahulukan menyantap makanan dalam semua kondisi? Terdapat beberapa persyaratan yang disebutkan oleh para ulama sehingga kita bisa mengamalkan hadits di atas.</span></span></p>
<ol>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Ketika seseorang memang membutuhkan untuk makan dan minum, misalnya dalam kondisi perut yang sangat lapar. Adapun jika tidak dalam kondisi lapar, maka tetap mendahulukan shalat.</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Jika waktu shalat masih longgar. Sehingga ketika seseorang makan minum terlebih dahulu, dia masih bisa melaksanakan shalat pada waktunya. Apabila waktu shalat hampir habis, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah mengerjakan shalat pada waktunya, dalam kondisi apa pun. Karena anjuran (untuk meningkatkan ke-khusyu’-an) tidaklah dapat menggugurkan kewajiban (melaksanakan shalat pada waktunya). </span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Seseorang tidak bersengaja menjadikan waktu makan dan minum bertepatan dengan waktu shalat sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Oleh karena itu, di antara kebiasaan generasi awal dahulu adalah menyantap makan malam sebelum waktu shalat maghrib tiba atau di akhir waktu shalat ashar.</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Makanan yang ada mungkin bisa dikonsumsi secara syar’i ataupun secara realita. Secara syar’i misalnya orang tersebut tidak sedang berpuasa wajib, seperti puasa Ramadhan. Jika tiba waktu ashar dan makanan untuk berbuka puasa sudah siap, maka tidak boleh menunda shalat ashar demi menunggu makan. Karena secara syar’i memang belum waktunya berbuka puasa, meskipun perut mungkin sudah sangat lapar. Demikian juga secara realita, misalnya makanan masih sangat panas dan perlu menunggu beberapa saat untuk bisa disantap, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah melaksanakan shalat. Juga misalnya makanan itu bukan miliknya, dan dia tidak diperbolehkan untuk menyantapnya karena sebab tertentu.</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Makanan tersebut sudah siap disantap, bukan masih diracik atau masih dimasak. Oleh karena itu, ketika makanan belum siap disantap, maka tetap mendahulukan shalat, meskipun dia dalam kondisi lapar. Karena sibuknya hati seseorang untuk memikirkan makanan yang sudah siap disantap itu lebih besar daripada jika makanan belum siap disantap. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><b>[2, 3].</b></span></span></p>
</li>
</ol>
<p lang="" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.</span></p>
<p lang="" align="LEFT">***</p>
<p lang="" align="LEFT">Selesai disusun di pagi hari, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 29 Jumadil Ula 1436</p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[1]</b></span><span lang=""> Lihat </span><span lang=""><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam,</i></span><span lang=""> 1/131.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[2]</b></span><span lang=""> Lihat </span><span lang=""><i>Taisiirul ‘Allaam, </i></span><span lang="">hal. 71.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[3] </b></span><span lang="">Lihat </span><span lang=""><i>Fathu Dzil Jalali wal Ikraam, </i></span><span lang="">1/480-483; 1/511-518.</span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Referensi:</b></h5>
<ul>
<li>
<em><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Fathu Dzil Jalali wal Ikr</span></span></em><em><span style="color: #000000;"><span lang="">aa</span></span></em><em><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">m</span></span></em><em><span style="color: #000000;"><span lang=""> bi Syarhi Buluughil Maraam</span></span></em><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, Syaikh Muhammad bin Sh</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">a</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">l</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">i</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">h Al ‘Utsaimin, Madarul Wathon</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""> Riyadh KSA</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, cetakan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">ke dua</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, tahun 14</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">34</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">.</span></span>
</li>
<li>
<span lang=""><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></span><span lang="">Syaikh Dr. Sa’ad bin Naashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri, Kunuuz Isbiliya Riyadh KSA, cetakan pertama, tahun 1429.</span>
</li>
<li>
<span lang=""><i>Taisiirul ‘Allaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></span><span lang="">Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Bassaam, Maktabah Al-Asadiyyah Makkah KSA, cetakan pertama, tahun 1433.</span>
</li>
</ul>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 