
<p>Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi <em>‘alaihimush shalaatu was salaam. </em>Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Yunus <em>‘alahis salaam</em></strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman ketika beliau dimakan ikan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ</strong></span></p>
<p><em>“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”</em> <strong>(QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)</strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>beliau mengatakan,</p>
<p>“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”</p>
<p>Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. <strong>(<em>Tafsir Ath-Thabari, </em>21: 109)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/56676-keutamaan-bersegera-menuju-ke-masjid-dan-menunggu-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Ibrahim dan Isma’il <em>‘alaihimus salaam</em></strong></span></h2>
<p>Ketika beliau meninggalkan Isma’il <em>‘alaihis salaam </em>di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ</strong></span></p>
<p><em>“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.”</em> <strong>(QS. Ibrahim [14]: 37)</strong></p>
<p>Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih <em>afdhal</em> dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ</strong></span></p>
<p><em>“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’”</em> <strong>(QS. Al-Hajj [22]: 26)</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء</strong></span></p>
<p><em>“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”</em> <strong>(QS. Ibrahim [14]: 40)</strong></p>
<p>Adapun Nabi Isma’il <em>‘alaihis salaam, </em>Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً</strong> <strong>وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً</strong></span></p>
<p><em>“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.”</em> <strong>(QS. Maryam [19]: 54-55)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/55737-memakai-pakaian-terbaik-ketika-shalat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Memakai Pakaian Terbaik ketika Shalat</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Ishaq <em>‘alaihis salaam </em>dan keturunannya</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ</strong> <strong>وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ</strong></span></p>
<p><em>“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”</em> <strong>(QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Syu’aib <em>‘alaihis salaam</em></strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> menceritakan kisah Nabi Syu’aib <em>‘alaihis salaam, </em>ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah <em>Ta’ala</em> dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ</strong></span></p>
<p><em>“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’”</em> <strong>(QS. Huud [11]: 87)</strong></p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di <em>rahimahullah </em>berkata ketika menafsirkan ayat ini,</p>
<p>“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/55302-bolehkah-ada-beberapa-shalat-jamaah-dalam-satu-masjid.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu Masjid</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kisah Nabi Musa <em>‘alaihis salaam</em></strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah <em>Ta’ala</em> berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي</strong></span></p>
<p><em>“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”</em> <strong>(QS. Thaaha [20]: 13-14)</strong></p>
<p>Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah <em>Ta’ala</em> tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.</p>
<p>Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa <em>‘alaihis salaam </em>kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ</strong></span></p>
<p><em>“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’”</em> <strong>(QS. Yunus [10]: 87)</strong></p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca artikel selanjutnya di <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/59070-shalat-kewajiban-seluruh-nabi-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)</a></span></strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/54167-jika-suci-dari-haidh-di-akhir-waktu-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Jika Suci dari Haidh di Akhir Waktu Shalat </a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/54009-kapankah-seseorang-dikatakan-mendapati-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Kapankah Seseorang Dikatakan Mendapati Shalat Jama’ah?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <strong><em>Ta’zhiim Ash-Shalaat </em></strong><em> </em>hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu Ta’ala, </em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 