
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/59904-shalat-menjadi-kesenangan-hati-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<p>Salat bisa menjadi <em>qurratul ‘ain</em> (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut bisa menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah <em>Ta’ala</em>, dan (6) merasa kurang dalam amal.</p>
<p>Empat poin pertama telah kami jelaskan pada artikel <a href="https://muslim.or.id/59904-shalat-menjadi-kesenangan-hati-bag-1.html"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Shalat menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)</strong></span></a>. Pada artikel ini akan kami jelaskan dua poin terakhir.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Menyadari anugerah dari Allah</strong></span></h2>
<p>Seorang hamba haruslah senantiasa menyadari dan mengingat bahwa semua anugerah hanya milik Allah <em>Ta’ala. </em>Dia mampu untuk mendirikan salat dengan baik disebabkan karena anugerah dari Allah <em>Ta’ala</em>. Sahabat <em>radhiyallaahu ‘anhum </em>berkata di hadapan Rasulullaah <em>shalallaahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاللهِ لَـوْلَا اللهُ مَـا اهْتَـدَيْنَـا</span></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تَصَـدَّقْنَـا وَلَا صَلَّيْنَـا</span></p>
<p>“<em>Demi Allah, j</em><em>ikalau bukan karena Allah, maka kami tidak akan mendapat petunjuk</em></p>
<p><em>Tidak bisa bersedekah, tidak bisa pula shalat”</em></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ</span></p>
<p><em>“</em>Mereka<em> merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” </em><strong>(QS. Al Hujurat: 17)</strong></p>
<p>Jadi, Allah <em>Ta’ala </em>lah yang menjadikan seseorang menjadi muslim dan mampu mendirikan shalat. Ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim <em>‘alaihis salaam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ</span></p>
<p><em>“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.” </em><strong>(QS. Al Baqarah: 128)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ</span></p>
<p><em>“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” </em><strong>(QS. Ibarhim: 40)</strong></p>
<p>Anugerah hanyalah milik Allah <em>Ta’ala</em> dalam menjadikan seorang hamba melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Ketaatan ini merupakan nikmat paling agung bagi seorang hamba. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ</span></p>
<p><em>“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” </em><strong>(QS. An Nahl: 53)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَه فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَۙ</span></p>
<p><em>“Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengahmu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan)mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” </em><strong>(QS. Al Hujurat: 7)</strong></p>
<p>Kesadaran seseorang terhadap anugerah yang Allah <em>Ta’ala </em>berikan ini akan berbanding lurus dengan kadar kesempurnaan tauhid seseorang. Semakin dia sempurna tauhidnya maka semakin tinggi pula kesadarannya akan anugerah yang telah Allah <em>Ta’ala </em>berikan kepada Nya.</p>
<p>Apabila hamba menyadari bahwa ketaatan yang bisa dia laksanakan itu semata-mata adalah anugerah dari Allah <em>Ta’ala, </em>maka dia akan lebih terjaga dari sifat berbangga diri dengan amalannya. Hal ini disebabkan karena dia menyadari bahwa semua itu adalah anugerah dan nikmat yang Allah <em>Ta’ala </em> berikan kepada Nya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/111-tata-cara-shalat-malam-dan-witir-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html" data-darkreader-inline-color="">Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Merasa kurang dalam amalannya</strong></span></h2>
<p>Sebesar apapun usaha seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, tetap saja dia dikatakan sebagai orang yang kurang. Hal ini disebabkan karena hak Allah <em>Ta’ala </em>yang harus ditunaikan jauh lebih besar daripada amalan yang telah dilaksanakan hamba. Oleh karena itu, setiap hamba hendaknya menyadari akan kekurangannya tersebut dan memperbanyak istighfar.</p>
<p>Empat hal yang menjadi pokok permasalahan di atas adalah niat yang benar, semangat yang tinggi, <em>raghbah</em> (rasa berharap yang khusus) dan <em>rahbah</em> (rasa takut yang khusus). Empat hal ini merupakan kaidah-kaidah dalam permasalahan tersebut. Apabila terdapat kekurangan di dalam kondisi keimanan seseorang, maka ada kekurangan di dalam keempat hal tersebut atau kekurangan di sebagiannya. Oleh karena itu, orang yang cerdas akan merenungkan keempat hal ini dan akan bersungguh-sungguh menjadikannya sebagai jalan hidupnya.</p>
<p>Allah Ta’ala tempat meminta pertolongan, kita bertawakal kepada-Nya, memohon taufik kepada-Nya, cukuplah Dia menjadi penolong kita dan Dia lah sebaik-baik Pelindung.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59673-hubungan-shalat-seseorang-dengan-keadaannya-di-hari-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Hubungan Shalat Seseorang dengan Keadaannya di Hari Kiamat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59439-larangan-mendahului-imam-ketika-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Mendahului Imam ketika Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Ta’zhiim Ash-Shalaat  </em>hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu Ta’ala, </em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.</p>
<p> </p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Apt. Pridiyanto</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
 